Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 111


__ADS_3

Aku dan Rendi ngobrol ringan malam itu. Yah sambil menikmati buah-buahan di atas meja yang telah di sedia kan oleh pihak hotel. Yah Rendi memang pintar membuat ku nyaman di saat ini karena sudah lama aku tidak berhubungan jadi terasa agak canggung terlebih aku akan berhubungan dengan orang baru. Jelas ini semakin membuat ku canggung.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Fit, sudah waktu nya tidur. Kita tidur ya" Ajak Rendi kepada ku.


Sontak jantung ku berdetak begitu cepat. Aku juga bukan wanita yang munafik. Aku juga sangat membutuhkan hubungan itu karena aku wanita normal. Wajar jika aku ingin juga melakukan nya. Hanya saja aku bingung mau memulai dari mana. Terlebih Rendi yang kali pertama melakukan hal ini. Jelas dia juga canggung dan bingung mau memulai dari mana.


"Ayo kita tidur" Ajak Tian lagi.


Aku hanya mengikuti keinginan suami ku itu. Aku duduk di samping nya dengan jantung yang berdebar cepat. Sungguh aku tidak bisa mengontrol perasaan ini. Rasa nya jantung ku ingin copot karena menahan debar di dada. Aku yakin Rendi pun merasakan hal yang sama.


Rendi memegang tangan ku, aku merasa ada getaran yang sulit untuk ku jelas kan saat itu. Dan aku yakin Rendi juga merasakan hal yang sama.


"Ya Allah kenapa hati ini begitu bergetar dengan cepat? Seperti aku tidak pernah melakukan nya. Apa karena sudah lama. Aku tidak melakukan nya karena itu aku jadi seperti ini?" Batin ku.


"Fit, sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri. Apa kamu keberatan jika aku meminta nya dari mu?" Ucap nya meminta izin kepada ku. Yah jelas Rendi mau meminta izin terlebih dahulu karena dia tidak mau aku merasa tidak nyaman saat berhubungan dengan nya. Jika aku sudah tidak nyaman, pasti tidak nyaman juga untuk nya.


Aku hanya bisa mengangguk memberikan izin kepada suami ku itu. Yah tentu itu sudah menjadi hak nya dan aku tidak boleh melarang nya.


Dengan perasaan berdebar di dada Rendi mulai mendapatkan wajahnya kepadaku. Aku hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata ku untuk menantikan ciuman pertama dari suami ku itu.


Tak begitu lama, bibir Rendi yang tebal itu menempel di bibir ku yang tipis. Yah karena aku pernah melakukan nya terdahulu bersama Tian, maka kini aku mulai ******* bibir suami ku yang baru itu. Semakin lama, ciuman itu semakin dalam dan panas hingga akhir nya napas kami memburu. Seperti hewan buas kelaparan.. Sebagai wanita normal aku kembali bergairah melakukan hal itu. Maklum sudah lama berpuasa jelas ini akan menjadi malam yang sepesial kembali untuk ku dan juga Rendi. Kami pun melewati malam pertama kami dengan sukses di malam itu. Hingga membuat kami terlelap karena kelelahan lembur di malam pertama kami.


***


"Sayang, sudah subuh ayo bangun. Kita solat subuh berjamaah ya" Ajak Rendi yang entah sejak kapan dia bangun aku pun tidak tahu. Secara saat ini suami ku itu sudah mandi dan bersiap untuk melakukan solat subuh berjamaah.


Aku mau masak mataku yang masih terasa berat dan jujur rasa lelah tadi malam belum hilang di tubuhku. namun aku harus bangun karena harus melakukan tugasku sebagai seorang muslim. Terlebih ini juga permintaan dari suamiku yang harus aku penuhi karena dia sebagai Imamku yang kelak aku menuntunku ke surganya Allah.


"Sebentar ya bang aku mandi dulu. Abang kenapa gak bangunin aku dari tadi sih?" Ujar ku dengan manja.


"Habis nya kamu kelihatan sangat capek. Gak tega abang membangunin kamu" Ucap Rendi kepada ku.


"Abang sudah lama bangun nya? Secara sudah mandi dan rapi aja dengan baju koko nya" Ujar ku lagi.


"Abang bangun sudah dari jam tiga subuh tadi. Terus abang mandi dan abang melakukan salat sunnah serta membaca Alquran. Dan ketika suara Adzan berkumandang baru abang bangunin kamu agar kita bisa melakukan salat jamaah subuh bersama-sama.


Deg...


Rasa nya aku sangat malu mendengar ucapan dari suami ku itu. Yah secara suami ku yang bangun terdahulu dan melakukan salat-salat sunah nya. Sedang kan aku malah enak-enakan tidur.


"Kenapa gak bangunin aku juga sih bang?"


"Kan sudah abang bilang tadi, kamu kelihatan capek. Jadi nya abang gak tega untuk bangunin kamu" Ujar Rendi lagi kepada ku.


Ya sudah aku mandi dulu ya bang" Ujar ku langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah" Ucap salam ketika selesai melakukan solat subuh berjamaah.


"Ya Allah, hari ini adalah hari pertama kami sebagai suami istri. Semoga kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah dan semoga kami di titipkan anak-anak yang soleh dan juga solehah. Jadi kan pondasi keimanan untuk keluarga kami ya Allah agar kami saling menghargai dan juga saling melengkapi satu sama lain. Jauh kan kami dari orang ketika dan hal-hal lain yang dapat merusak hubungan rumah tangga kami nanti. Aamiin" Doa Rendi dan juga aku.


Aku mencium punggung tangan Rendi. Dan Rendi mengecup puncak kepala ku dengan penuh kasih sayang. Yah sungguh indah rasa hubungan ini bila di cintai karena Allah. Mendapat kan laki-laki yang bisa menjadi imam yang baik untuk kita itu lebih menyenangkan.


"Kita pesan sarapan nya ya. Kita makan sarapan nya di kamar saja" Saran dari Rendi. Aku mengangguk setuju dengan ucapan suami ku itu.

__ADS_1


Rendi pun memesan sarapan untuk kami berdua. Sedangkan aku sibuk mengemasi barang-barang kami karena hari ini kami akan kembali ke rumah.


"Kamu mau kita pergi berbulan madu ke mana?" Tanya Rendi kepada ku.


"Hmm.... Aku yang memilih tempat honeymoon nya?" Tanya ku kepada Rendi.


"Iya, kamu yang milih. Aku akan mengikuti kemana pun kamu mau" Ujar nya lagi.


"Hmmm.... " Aku berpikir di mana tempat yang bagus untuk kami pergi berbulan madu.


"Bang apa boleh kita pergi ke kampung halaman ku. Aku sudah lama tidak pergi ke sana. Jadi kita liburan bulan madu nya di sana saja" Ujar ku kepada suami ku itu.


"Kampung halaman mu?"


"Iya, kampung halaman ku. Karena semua keluarga ku di sini dah hanya abang tertua ku di sana, kami jarang untuk pulang ke sana. Bahkan saat lebaran pun kami jarang pulang ke sana. Aku kangen dengan suasana kampung halaman ku. Banyak kenangan di masa kecil ku di sana" Ujar ku kepada suami ku itu.


"Ya sudah, kalau itu sudah menjadi keputusan mu, aku akan ikut saja. Kita akan pergi ke kampung halaman mu nanti" Ujar Rendi kepada ku.


"Terima kasih ya bang karena abang sudah mau pergi ke kampung halaman ku"


"Iya sama-sama. Aku juga ingin melihat kampung mu dan melihat tempat bermain mu sewaktu kecil" Ujar Rendi lagi.


"Iya nanti akan aku perlihatkan tempat-tempat ku bermain di masa kecil ku"


***


"Ma, Inshaallah lusa aku dan bang Rendi akan ke Pakning untuk liburan bulan madu" Ujar ku kepada mama dan papa ku saat kami sedang makan bersama. Yah aku dan bang Rendi kembali ke rumah ku.


"Iya ya sudah lama juga kita gak pulang ke sana. Bahkan lebaran pun kita gak pulang ke kampung halaman kita. Gimana ya perubahan kampung kita itu" Ujar mama ku.


"Benar kah? Kok mama baru tahu ya"


"Iya ma, belum lama juga di resmikan danau buatan itu"


"Wah, jadi pengen juga deh ikut ke sana. Sekalian kita berkunjung ke rumah abang mu di sana"


"Iya sudah kalau begitu papa dan mama ikut saja kami ke sana"


"Iya pa kita ikut mereka ke sana?" Tanya mama ku kepada suami nya.


"Boleh juga ma. Papa juga mau jalan-jalan ke rumah kerabat kita di sana"


"Oke deal ya kita pergi nya lusa" Ujar ku.


"Iya deal" Jawab papa ku.


***


Hari yang kami tunggu telah tiba. Aku, mama, papa dan juga Rendi memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ku. Kami menggunakan satu mobil saja. Yah karena masih kuat kami berempat pergi ke sana.. Awalnya kakak ku juga ingin ikut, tapi karena suami nya kerja dan anak-anak nya juga sekolah, jadi nya dia tidak bisa ikut bareng kami.


Yah, aku dan Rendi mengambil cuti pernikahan kami selama seminggu. Jadi nya kami bisa menikmati bulan madu kami saat ini.


Sedang kan urusan cafe ku serah kan kepada pak Rusli sebagai orang kepercayaan ku.


Yah. beliau juga masih mempunyai ikatan saudara dengan ku meski jauh. Jadi nya aku mengangkat nya sebagai manajer di cafe ku untuk menangani semua masalah yang ada di cafe kunanti selama aku tidak ada di tempat.

__ADS_1


Selama kurang lebih empat jam kami menempuh perjalanan menuju kota kelahiranku Sungai Pakning. Tepat nya di desa Sejangat.


Sebelum tiba di Sungai Pakning, kami singgah dulu ke kota Siak Sri indrapura untuk melihat monumen-monumen bersejarah di sana. Seperti Istana Siak, tempat persidangan pada masa zaman kerajaan, tangsi belanda, taman singapure dan lain-lain. Yah sengaja kami menikmati monumen-monumen bersejarah tersebut untuk mengenang sejarah-sejarah yang terjadi di kota Siak Sri Indrapura itu.


"Wah, ternyata tempat persidangan dan istana kerajaan jaraknya cukup jauh juga ya" Ujar Rendi.


Yah ini kali pertamanya ia tiba di istana tersebut. Jadi ya begitu heran karena jarak antara istana dan juga persidangan itu cukup jauh.


"Yah begitulah bang" Jawab ku.


Di istana tersebut hanya terdapat patung yang duduk di singgah sana dan para pembesar istana lain nya. Yah kursi istana tersebut pun sudah bukan yang aslinya lagi. Karena kursi singgasana nya mulai lapuk hal itu dikarenakan kursi tersebut sudah berusia cukup lama sehingga kursi tersebut dimasukkan ke dalam lemari kaca.


"Ini bukan kursi yang aslinya bang, berada di dalam lemari kaca itu kan aku sih itu sudah lumayan lapuk" Ujar ku menjelaskan kepada suami ku itu.


Yah Istana Siak ini terdiri dari dua lantai dan berdenah segi empat silang. Gaya arsitektur bangunannya tampak menggabungkan gaya Melayu, Arab, dan Eropa. Setiap sudut bangunan terdapat pilar bulat dengan ujung puncaknya ada hiasan burung garuda. Pindu dan jendela istana dirancang dengan bentuk kubah serta dihiasi mozaik kaca. Ada 15 ruangan dari dua lantai Istana Siak. Lantai satu terdiri dari enam ruangan. Sementara lantai dua terdiri dari sembilan ruangan. Adapun enam ruangan di lantai satu berfungsi sebagai tempat sidang dan ruangan untuk menerima tamu. Sedangkan sembilan ruangan pada lantai dua berfungsi sebagai tempat peristirahatan Sultan dan tamu-tamu kerajaan. Saat ini Istana Siak Sri Indrapura berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah di Provinsi Riau. Istana ini menjadi museum tempat menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Siak.


Kami pun mengelilingi istana tersebut dan di halaman belakang terdapat sebuah rumah-rumah yang menjual aksesoris khas dari Siak. dan para wisatawan yang ingin membeli hadiah atau oleh-oleh untuk sanak saudaranya bisa langsung pergi ke halaman belakang tempat penjualan aksesoris tersebut.


"Ya sudah kita mencari tempat makan dulu Yuk sudah siang juga dan perutku mulai keroncong" Ajak ku kepada keluarga ku itu. setelah selesai menyantap makan siang kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota kelahiranku Sungai Pakning.


***


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga" Ujarku setelah kami tiba di rumah abang tertuaku.


"Ma, pa" Ujar abang dan juga kakak ipar ku mencium punggung tangan kedua orang tua ku. Aku serta Rendi pun mencium punggung tangan abang dan kakak ipar ku pula.


"Kok jam segini baru tiba nya. Bukan kah kalian berangkatnya tadi pagi" Tanya kakak iparku.


Ya seharusnya kami sudah tiba di kota kelahiranku itu pukul sebelas siang tadi malah tiba nya sore hari tepat nya pukul empat sore. Bagaimana tidak, secara kami tadi mengelilingi kota Siak terlebih dahulu karena sudah lama tidak pergi ke sana. Yah semenjak kami pindah ke kota Pekanbaru sewaktu aku kuliah, kami sama sekali tidak pernah lagi ke kota itu lagi karena itu lah sekalian lewat di sana, yah jadi nya kami singgah lah untuk menikmati monumen sejarah di sana.


"Kami tadi keliling di kota Siak dulu sebelum ke sini. Yah sudah lama gak ke sana" Jelas ku kepada kakak ipar ku itu.


"Oh ya sudah kita makan dulu ya. Aku sudah masakin makanan banyak tadi siang. Ku kira kalian tiba nya tepat pada saat makan siang, ternyata malah sore seperti ini" Ujar kakak ku lagi.


Kami masuk ke rumah abang ku itu untuk menyantap hidangan yang telah di buat oleh kakak ipar ku. Yah ku akui kakak ipar ku ini jago dalam memasak. Terbukti dia membuka warung makan di kota kelahiran ku itu. Dan sekarang warung makan nya memiliki tiga cabang.


"Ayo silahkan di nikmati makanan nya" Ujar kakak ku kepada kami.


"Ini masakan kakak ipar mu?" Bisik Rendi kepada ku.


"Iya, kenapa emang nya?"


"Masyaallah enak sekali" Puji nya lagi.


"Kakak ipar ku memang pintar memasak. Saat ini dia juga sudah mempunyai tiga cabang warung makan di kota ini"


"Wah hebat juga ya dia"


"Iya, aku dulu sering belajar masak sama dia. Yah tapi aku gak sejago dia sih"


"Masakan kamu tetap yang terenak kok sayang" Puji Rendi.


"Ah kamu bang bisa aja" Ujar ku tersipu malu.


Yah kedua anak abang ku itu sedang melanjutkan pendidikan nya di salah satu pesantren yang ada di pulau Jawa. Karena itu lah mereka hanya tinggal berdua di rumah yang cukup mewah itu.

__ADS_1


__ADS_2