Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 87


__ADS_3

"Sayang, Sofi kapan pulang nya?" Tanya Susan kepada Tian saat mereka sedang makan malam bersama.


"Tumben kamu tanyain Sofi. Bukan nya kamu senang jika Sofi gak ada di rumah ini?" Jawab Tian dengan sikap dingin nya.


"Kok gitu sih ngomong nya Tian?"


"Sudah lah San, jangan kamu munafik jadi orang. Di depan ku kamu seolah-olah sayang banget sama Sofi, tapi di belakang ku kamu sakitin dia"


"Sakitin gimana maksud kamu? Aku gak pernah nyakitin Sofi" Bela Susan.


"Iya kamu menang gak pernah sakitin Sofi di fisik nya. Tapi selalu sakitin dia di batin nya" Ujar Tian.


"Sudah tiga kali kamu membuat putri ku itu tertekan batin nya"


"Tian maksud kamu apa sih? Aku benar-benar gak ngerti dengan ucapan kamu barusan"


"Oke aku jelasin apa maksud dari perkataan ku barusan ya. Pertama, kamu sudah membuat Sofi sedih dengan mengatakan bahwa kita sudah menikah waktu itu dan ada adik bayi di dalam kandunganmu. Kedua, kamu telah mengatakan kepada Sofi bahwa aku dan Fitri sudah berpisah sehingga membuat putri kecilku itu kembali sedih. Dan yang terakhir, kamu tega membentak Sofi putri kecilku hanya karena dia tidak sengaja memecahkan parfum yang kamu beli tadi. Sebenar nya kamu ini sayang atau tidak sih sama Sofi?" Tanya Tian dengan emosi. Nafsu makan yang tadi nya ada kini telah hilang seketika.


"Jelas dong aku sayang sama Sofi. Walau bagaimana pun, Sofi itu juga keponakan ku dan masih ada sangkut darah nya dengan ku" Ujar Susan.


"Jika seperti itu kenapa kamu membuat nya terus-terusan sedih?"


"Aku minta maaf dengan apa yang terjadi. Aku tidak sengaja membentak nya kemaren. Kamu tahu sendiri jika aku sedang hamil dan sulit untuk ku untuk mengontrol emosi ku Tian. Maaf kan aku. Aku janji aku tidak akan mengulangi nya lagi" Ujar Susan mencoba merayu Tian.


Tian hanya bisa menghela napas berat nya.


"Ingat ya Susan, ini terakhir kali nya aku memperingati mu. Aku tidak mau putri ku sedih lagi dan dia tidak betah di rumah seperti ini" Ujar Tian.


"Iya aku akan berusaha untuk mengambil hati Sofi lagi agar dia kembali seperti dulu kepada ku" Jawab Susan penuh keyakinan.


"Kurang ajar, apa Sofi yang mengadu kepada Tian tentang semua ini? Jika tidak, dari mana Susan tahu bahwa aku membentak nya tadi?" Batin Susan menjadi geram karena Tian mengetahui sifat aslinya malahan dia di ancam seperti itu oleh suami siri nya itu meski pun kesal terhadap Sofi yang di pikirnya telah mengadu kepada papa nya, tetap saja Susan tidak bisa membenci sepenuh nya kepada gadis kecil itu karena dia merupakan keponakan nya.


"Gak, ini gak boleh terjadi. Secara aku belum di nikahi secara hukum oleh Tian, bukan nya aku di nikahi secara resmi, malah bisa-bisa aku di ceriakan nanti. Gak, aku gak mau ini terjadi. Aku harus bisa mengambil hati Sofi kembali" Ujar nya dalam hati.

__ADS_1


Lama mereka terdiam dan kembali menyantap makanan mereka masing-masing.


"Oh ya Tian, apa boleh aku meminta uang dua puluh juta sama kamu?" Tanya Susan.


"Dua puluh juta? Untuk apa?"


"Mama mau pergi jalan-jalan keluar kota bersama teman-teman nya"


"Ya sudah besok aku transfer ke rekening mama. Kirimkan saja aku nomor rekening nya" Jawab Tian masih sibuk mengunyah makanan yang ada di dalam mulut nya.


"Terima kasih ya sayang. Mama pasti senang mendapati kamu mau memberikan mama uang" Ujar Susan.


Tian hanya tersenyum kecut.


***


"Buk, pak ada yang mau saya bicarakan sama kalian" Ujar pak Rendi duduk menghadap kedua orang tua nya. Saat itu orang tua nya sedang duduk bersantai di teras samping rumah mereka sambil menikmati secangkir teh hangat sambil menikmati keheningan malam dengan ditiup angin yang sepoi-sepoi menambah kenyamanan dan ketenangan di malam itu.


"Ada apa nak?" Tanya mama pak Rendi.


"Begini ma, Aku mempunyai maksud untuk meminta mama dan papa melamar seorang wanita yang sudah lama aku kenal. Meskipun kami dekat hanya beberapa bulan ini tapi aku sudah merasa nyaman kepadanya aku ingin mempersuntingnya menjadi istriku. Aku ingin jalani hubungan taaruf bersamanya" Ujar pak Rendi.


Kembali kedua pasangan paruh baya yang berlainan jenis kelamin itu saling menatap.


"Kok mendadak sih Ren? Mama sama papa jadi kaget lo mendengar nya. Mama juga bersyukur kamu pada akhirnya sudah menemukan calon istri mu"


"Kapan kamu mau melamar nya?"


"Secepat nya pa"


"Siapa wanita itu nak?" Tanya papa nya.


"Dia mengajar di sekolah yang sama dengan ku. Tapi dulu nya dia sudah pernah menikah ma, pa. Tapi kerena suami nya berselingkuh, mereka pun akhir nya bercerai"

__ADS_1


"Mama, sama papa tidak pernah memilih soal jodoh mu. Jika kamu merasa cocok, maka ya jalani saja dan kami akan merestui mu" Ujar papa nya Rendi.


"Ya sudah, kapan waktu yang kamu ingin kan untuk melamar wanita mu itu?"


"Minggu depan pa"


"Oke mama dan papa akan mempersiapkan segala keperluan untuk melamar calon bini mu itu"


"Terima kasih banyak pa, ma"


***


"Sofi, mama minta maaf dengan sikap mama selama ini terhadap mu. Mama janji, mama akan selalu menyayangi mu sepenuh hati mama" Ujar Susan saat Sofi kembali pulang di rumah megah nya itu.


"Sofi, mau kan maafin mama?" Tanya Susan.


Gadis kecil itu terdiam tidak bisa memberikan jawaban apa pun. Dia tampak berpikir. Sungguh gadis itu masih trauma dengan sikap Susan kepada nya.


"Sayang, kamu gak perlu menjawab nya sekarang. Jika kamu masih mempunyai waktu, maka mama akan memberikan kamu waktu untuk memikirkan semuanya. Tapi tolong ya nak. Berikan mama kesempatan untuk memperbaiki semua nya" Pinta wanita hamil itu kepada putri sambung nya.


Lagi-lagi Sofi hanya diam dan menunduk mendengar ucapan dari mama sambung nya itu.


"Sayang, tolong berikan mama Susan kesempatan ya untuk memperbaiki keadaan ini" Pinta Tian lagi kepada putri nya.


Sofi menatap bola mata Susan untuk melihat apakah benar ada penyesalan di sana. Dan bisa dia lihat memang mama sambung nya itu menyesali perbuatan nya dan ingin memperbaiki segala nya.


Dengan berat hati, gadis kecil itu pun mengangguk setuju.


"Terima kasih sayang" Ujar Susan memeluk Sofi.


Tian yang melihat hal itu pun mengukir senyuman di wajah nya.


"Ya sudah sekarang ayo kita makan" Ajak Tian karena memang makan malam sudah di sajikan di atas meja makan di rumah megah itu oleh bik Ina.

__ADS_1


__ADS_2