
Susan tersenyum senang mendapati aku yang akan berpisah dari Tian. Dia merasa di atas awan saat ini karena telah berhasil membuat ku mundur dari kehidupan Tian.
Proses persidangan di mulai. Di mana pada proses sidang ini di awali dengan mediasi. Aku dan Tian di tanyai beberapa pertanyaan yang harus kami jawab.
"Dengan ibu Fitri dan pak Tian?" Tanya salah satu petugas mediasi kepada kami.
"Iya benar" Jawab kami serentak.
"Apa penyebab anda menggugat suami anda buk?"
"Suami saya ini telah berselingkuh pak, dia telah menikah secara siri diam-diam tampa sepengetahuan saya dengan wanita lain Bahkan wanita itu sekarang sedang mengandung anak nya. Awal nya saya memaafkan kesalahan dia saat dia bilang mau berubah dan meninggalkan wanita itu demi saya. Namun, hingga sekarang mereka masih bersama" Jelas ku kepada petugas mediasi itu.
"Apa masalah ini tidak bisa di selesaikan dengan baik-baik buk? Memang perceraian itu di boleh kan. Tapi jika masih bisa bertahan, tolong di pertahan kan dulu pernikahan kalian. Tolong di pertimbangkan lagi dengan keputusan nya buk"
"Saya sudah mempertimbang kan semua nya pak. Saya hanya manusia biasa, saya hanya wanita lemah, saya tidak mau hidup di madu. Selama satu bulan saya menunggu dan memberi kesempatan kepada suami saya untuk memilih. Tapi nyata nya dia tidak bisa juga memilih pak. Bagaimana bisa saya bertahan saat hati ini terus tersakiti" Jelas ku lagi.
Sedang kan Tian hanya bisa diam tidak bisa memberikan penjelasan apa pun. Karena dia tahu bahwa dia memang salah.
"Sayang tolong jangan lakukan ini. Tolong pikirkan baik-baik" Ujar Tian terdengar memohon.
"Aku sudah memikirkan nya baik-baik Tian. Keputusan ku sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat lagi" Ucap ku tampa melihat dan menatap Tian.
"Apa tidak ada kesan atas pernikahan kita selama hampir tiga tahun ini sayang?"
"Ada, memang ada. Tapi rasa kesan itu sudah hilang karena penghianatan mu. Bagaimana aku bisa bertahan jika terus di hianati sama kamu. Aku masih bisa terima ketika kamu terjerat narkoba waktu itu. Tapi aku tidak bisa terima saat kamu menghianati ku" Ujar ku dengan deraian air mata. Hati ku terasa sakit dan perih membayangkan penghianatan yang di lakukan suami ku.
"Sayang, tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua nya"
"Baik aku akan memberikan mu kesempatan jika kamu bisa mengatakan di depan bapak ini sebagai saksi siapa yang kamu pilih? Aku atau istri siri mu itu?" Tanya ku dengan emosi.
Tian hanya bisa diam tidak bisa menjawab pertanyaan yang aku tanyakan kepada nya.
"Lihat pak, dia sama sekali tidak bisa memilih. Jadi untuk apa aku pertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat ini. Lagian selama ini dia tidak bisa berlaku adil kepada ku. Pulang dari kantor dia pergi ke rumah istri muda nya. Dan pulang nya hingga larut malam terkadang aku sampai tertidur menunggu nya. Waktu untuk ngobrol bersama ku tidak ada sama sekali. Bahkan dengan anak nya sediri pun ia kecewakan. Waktu itu dia berjanji untuk menghabiskan waktu bersama seharian. Tapi ketika dia mendapat telfon dari istri muda nya, dia langsung meninggalkan kami begitu saja pak" Jelas ku lagi menangis mengingat kejadian itu.
"Maaf kan aku sayang. Aku... "
"Sudah Tian" Potong ku.
"Aku tidak mau mendengarkan apa pun dari mulut kamu. Aku tidak bisa bertahan lagi. Tolong mengerti" Ujar ku memohon agar bisa terlepas dari suami yang dulu nya cinta pertama ku itu.
"Baik lah, seperti nya mediasi ini tidak berjalan dengan lancar. Maka akan di lanjutkan dengan sidang pertama nanti nya yang akan kita lakukan minggu depan" Jelas petugas tadi lagi.
"Baik pak, terima kasih atas pengertian nya" Ujar ku langsung keluar dari ruangan itu.
"Sayang" Tian mengejar ku. Laki-laki itu nahan ku dengan menarik lengan ku.
"Ada apa lagi sih?"
"Apa cinta mu sudah musnah terhadap ku?"
"Harus berapa kali sih Tian aku katakan kepada mu. Aku lelah Tian. Aku capek seperti ini. Aku capek mempertahan kan kamu. Namun kamu tidak pernah mau berjuang untuk ku. Tolong lepas kan aku" Ujar ku dengan memohon.
Melihat aku seperti itu, Tian merasa iba dan bersalah. Dia melepaskan tangan ku.
__ADS_1
Aku pun pergi meninggalkan Tian dalam keadaan hati yang terluka.
"Ya Allah, semoga jalan yang ku pilih ini benar ada nya. Maaf kan jika aku salah ya Allah" Doa ku dalam hati.
***
"Tian, bagaimana hasil mediasi nya?" Tanya mama Tian.
Tian hanya menggeleng kepala nya.
"Fitri tetap tidak mau terima ku lagi ma. Dia memutuskan ikatan ini ma. Dia tetap ingin berpisah" Ucap Tian dengan wajah yang sedih.
"Kamu sih, buat masalah aja. Ngapain juga terpikat sama wanita seperti ini. Seperti gak ada wanita lain saja, sudah tahu Susan itu mantan adik ipar mu. Masih juga kamu hembat" Celoteh mama Tian.
"Nama nya juga cinta tante. Cinta gak pandang bulu. Dengan siapa pun akan muncul rasa cinta itu" Jawab Susan.
"Diam kamu, ngapain ikut campur urusan keluarga ku. Semua ini gara-gara kamu rumah tangga keluarga ku jadi berantakan. Harus nya aku tendang kamu dari rumah Tian waktu itu. Dasar wanita penggoda" Maki mama mertua ku itu dengan menantu siri nya.
"Tante jangan salahkan aku begitu aja dong. Harus nya tante itu juga salah kan anak tante. Dia juga salah lo tante, jika hanya aku yang merayu tapi dia nya gak mau, gak mungkin semua ini terjadi" Jawab Susan lagi.
"Kamu ini ya bener-benar" Mama Tian mau menampar Susan, namun di tahan oleh suami nya.
"Sudah ma, jangan ribut-ribut di sini. Kita masih di kantor pengadilan lo, gak enak di lihat orang" Ujar papa Tian menasehati.
"Untung saja ada suami saya, jika tidak aku pastikan kamu sudah mendapatkan hadiah tanda merah di pipi mu itu. Tian, ajari istri kamu sopan santun sana. Wanita kayak gini di jadikan istri" Ujar mama Tian lagi
"San, sebaik nya kamu minta, maaf sama mama" Kata Tian dengan nada memalas.
"Aku minta maaf, enggak lah. Ngapain juga minta maaf toh aku gak salah di sini" Ujar Susan keras kepala.
"Ma, pa" Teriak Tian memanggil mama dan papa nya agar tidak pergi begitu saja meninggalkan nya seperti ini.
Namun pasangan paruh baya itu tidak menghiraukan panggilan dari putranya. Mereka terus saja berjalan menjauh dari Tian. Tian hanya bisa menghela nafas berat mendapati papa dan mamanya kecewa kepadanya saat itu. Terlebih melihat sikap Susan yang seenaknya seperti itu.
"Susan kamu kenapa seperti itu sih sama mama? Harusnya kamu itu bisa menghormati mama sebagai mertua kamu jangan seperti tadi. Jika kamu terus-terusan seperti ini itu akan semakin membuat mama membenci kamu" Ujar Tian kepada istri siri nya.
"Maaf kan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk kurang ajar sama mama kamu. Hanya saja kata-kata mamamu itu membuat aku sakit hati dan kamu tahu sendiri kan saat ini aku sedang hamil. Jadi aku nggak bisa mengontrol emosiku. Aku minta maaf ya sayang. Aku janji aku akan memperbaiki sikapku dan aku akan menahan emosiku agar tidak seperti tadi lagi" Ujar Susan dengan manja nya.
"Waduh, sepertinya Tian marah kepadaku. Aku nggak boleh seperti itu lagi. Bisa-bisa nantinya aku diceraikan oleh Tian. Aku nggak mau hidup miskin seperti dulu lagi. Secara aku belum mendapatkan apapun saat ini aku juga tidak mau kehilangan Tian karena aku sangat mencintainya. Aku harus berubah, aku harus lebih sabar menghadapi si tua bangka itu" Batin Susan.
***
"Bagaimana Fitri? Apakah kamu suka dengan tempat ini? Tanya papa ku memperlihat kan sebuah gedung yang di jual dengan harga murah yang terletak tidak jauh dari salah satu Universitas terkenal di kota itu.
Hari itu aku dan papa ku memutuskan untuk mencari lokasi yang tepat untuk ku jadikan tempat buka usaha ku. Yah karena hari ini adalah hari minggu, jadi nya kami memutuskan untuk pergi mencari lokasi yang tepat untuk di jadikan cafe ku.
Sudah seminggu lebih Sofi ikut bersama ku. Aku juga tidak tahu entah kenapa Tian tidak mau menjemput putri semata wayang nya. Mungkin karena dia tidak mau melihat Sofi sedih harus berpisah dengan ku.
"Bagus kok pa, tinggal kita renovasi aja biar lebih bagus dan membuat para pelanggan tertarik dengan tempat kita" Ujar ku lagi.
"Ya, papa setuju dengan saran mu. Besok papa akan mencoba menghubungi orang kepercayaan papa untuk merenovasi cafe mu agar lebih bagus lagi. Papa rasa bulan depan cafe mu sudah bisa di buka"
Aku mengangguk mendengar perkataan papa ku. Lebih cepat cafe nya di buka, akan lebih baik.
__ADS_1
***
"Sayang kok kamu malah melamun seperti itu sih? Lagi mikirin apa sih? Bukan nya hari ini weekend lebih baik kita habiskan waktu berdua untuk bersenang-senang. Entah itu jalan, nonton atau apa gitu biar gak bosan di rumah terus" Celoteh Susan menghampiri Tian yang sedari tadi hanya duduk melamun di teras belakang rumah nya.
"Jika kamu bosan di rumah dan ingin jalan-jalan kamu pergi saja sendiri" Ucap nya.
"Lo kok kamu minta nya aku pergi sendiri sih. Aku mau ajak kamu lo sayang, kamu lupa aku sedang hamil dan sakit seperti ini. Nanti jika terjadi sesuatu yang buruk kepada ku bagaimana?" Tanya Susan dengan nada manja nya.
"Cukup ya Susan, saat ini aku sedang pusing memikirkan masalah ku. Jadi tolong jangan kamu membuatku bertambah pusing dengan tingkah mu" Bentak Tian kepada Susan.
Sontak hal itu membuat Susan kaget karena dibentak oleh suaminya. Sudah lama Tian tidak membentak Susan seperti ini. Dan ia sudah mulai berubah dengan memanjakan Susan dan mengikuti semua kemauannya. Namun untuk hari ini Tian kembali membentak wanita hamil itu.
"Tian, kamu membentak ku?" Tanya Susan.
"Iya, aku capek dengan semua tingkah kamu yang selalu ingin di perhatikan tampa memikirkan posisi ku saat ini. Aku sedang pusing dengan masalah ku kamu malah membuat aku bertambah pusing dengan semua rencana-rencana mu itu" Ujar Tian lagi.
"Maaf Tian, aku tidak bermaksud. Aku hanya ingin membantu mu untuk menghilangkan semua beban pikiranmu saat ini dengan mengajakmu untuk jalan-jalan sebagai refreshing agar tidak membuat otakmu stress. Tapi jika maksud ku salah, aku minta maaf" Ucap Susan mulai mengeluarkan air mata buaya nya.
"Aku tahu aku bukan wanita yang kamu harapkan untuk menemanimu. Aku tahu aku banyak kekurangan. Jika kamu merasa aku ini hanya lah beban dalam hidup mu, biarlah aku pergi. Aku bisa menghidupi anak ini sendiri" Ujar Susan mulai berakting agar membuat Tian simpati kepadanya dan merasa bersalah.
Tian menghela nafas beratnya. Laki-laki itu tampak bersalah karena telah membentak istri sirinya seperti tadi.
"Maaf kan aku Susan aku tidak bermaksud untuk membuat hatimu terluka. Hanya saja saat ini aku sedang pusing dan aku mohon kamu bisa mengerti dengan keadaanku saat ini" Ujar Tian dengan mulai melembutkan nada bicara nya.
"Gak apa-apa kok Tian. Aku minta maaf telah menganggu mu. Aku akan pergi dari sini. Jika kamu tidak menginginkan aku untuk menemanimu di sini" Ucap Susan lagi.
"Jangan, jangan Susan aku sudah kehilangan Fitri dan aku tidak mau kehilangan kamu juga. Tetaplah berada di sini bersamaku" Ujar Tian.
Susan terus mengeluarkan air mata buaya nya agar Tian semakin merasa bersalah.
"Gak Tian, aku sadar aku ini siapa. Benar apa yang di katakan mama mu. Biar lah aku pergi"
"Jangan Susan, jika kamu pergi bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungan kamu? Dan saat ini kamu juga sedang sakit. Tidak mungkin akan aku biarkan kamu pergi. Aku tidak mau menyesal nanti nya" Ucap Tian kepada Susan.
"Tapi Tian... "
"Sudah lah Susan. Maaf kan aku jika telah menyakiti hati mu" Ujar Tian lagi memeluk istri siri nya agar berhenti menangis.
"Bagus, ini lah yang aku harap kan ternyata kamu bisa di tipu Tian. Tidak mungkin aku pergi begitu saja. Secara apa yang aku inginkan belum aku dapatkan darimu. aku akan tetap bertahan Apapun yang terjadi untuk mendapatkan keinginanku yang telah lama aku pendam selama ini" Batin Susan tersenyum senang karena Tian kembali jatuh ke dalam perangkap nya.
***
"Fitri" Tegur mama ku saat aku sibuk berselancar dengan ponsel ku di sosial media.
"Iya ma"
"Apa Tian ada menghubungi mu?"
"Gak ma, emang nya kenapa?" Tanya ku heran.
"Mama heran deh sama Tian, dia sama sekali tidak ada menghubungimu selama ini"
"Lo, bukannya malah bagus jika dia tidak menghubungiku. Itu artinya aku semakin yakin untuk berpisah dengannya ma"
__ADS_1
"Bukan itu sih maksud mama. Itu lo si Sofi, apa dia sama sekali tidak khawatir dengan keadaan putri nya itu? Yah setidak nya hanya sekedar bertanya kabar gitu kepada putri nya. Bukan malah menghilang begitu saja"
"Ya aku juga gak tahu sih ma. Mungkin dia sedang sibuk sama istri baru nya sampai-sampai lupa dengan darah daging nya sendiri. Sudahlah ma, biarin aja. Lagian Sofi juga betah bersama kita di sini" Ujar ku lagi.