Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 63


__ADS_3

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Susan tega mengatakan yang sebenar nya kepada Sofi. Entah mengapa dia bisa melakukan hal itu tampa memikirkan perasaan Sofi sedikit pun yang jelas akan membuat nya terpukul.


***


"Tian, bagaimana keadaan Susan?" Tanya ku kepada. Tian saat kami tiba di rumah sakit.


"Sudah masuk ke ruang inap. Dan besok akan di lakukan pemeriksaan ulang" Jawab Tian.


"Syukur lah jika begitu"


Ting...


Ponsel ku memberikan notifikasi tanda pesan masuk di WA. Aku merogoh tas yang ku bawa tadi untuk mengambil ponsel ku.


"Assalamuakaikum" Pesan ustad Rendi masuk.


"Waalaikumsalam" Jawab ku.


"Maaf jika menganggu. Hanya sekedar memberikan informasi bahwa besok siang akan ada pengajian. Nanti akan saya informasikan lebih lanjut di grup wa ya" Ujar nya lagi.


"Baik ustad Rendi. Terima kasih atas informasi nya. Insha allah saya usahakan untuk datang ke sana" Ujar ku lagi.


"Ya sama-sama"


"Ada apa sayang?" Tanya Tian penasaran.


"Besok ada pengajian dengan ustad Rendi"


"Ustad Rendi? Siapa?"


"Aku baru mengenal nya saat kemarin aku menginap di hotel. Ketika aku menginap di sana, kebetulan di hotel itu ada tausiah bersama ustad Rendi. Jadi nya yah karena dia juga ada pengajian setiap minggu nya. Aku pikir apa salah nya jika aku ikut juga untuk mencari kesibukan ku" Jelas ku.


"Oh begitu, Jadi ini pengajian pertama mu?"


"Iya, besok merupakan pengajian pertama ku. Tapi.... "


"Tapi kenapa sayang?"

__ADS_1


"Apa gak apa-apa aku pergi dalam keadaan seperti ini? Terlebih Susan sedang sakit seperti ini" Kata ku tidak enak hati.


"Gak masalah kok sayang. Lagian kata dokter sakit Susan gak terlalu parah juga kan" Ujar Tian memberikan izin kepada ku.


***


"Susan, kamu makan dulu ya. Kasihan anak kita. Aku suapin" Ujar Tian menawarkan jasa untuk menyuapi istri siri nya itu. Tian mengambil makanan yang ada di nakas samping tempat tidur Susan. Makanan dari rumah sakit yang di berikan oleh Suster tadi.


Tian menyodorkan sesendok makanan ke dalam mulut Susan.


"Maaf kan aku ya Susan. Aku tidak adil kepada mu sebagai suami. Aku selalu memikirkan Fitri tampa memikirkan perasaan mu. Bagaimana pun, kamu juga istri ku dan sedang mengandung anak ku. Harus nya aku juga memberikan perhatian lebih kepada mu" Ujar Tian lagi


Mata Susan berkaca-kaca mendengar ucapan Tian barusan. Sungguh dia tidak menyangka bahwa Tian kini mulai perhatian kepadanya. Inilah hikmah dibalik penyakit yang ia derita saat ini di mana ia mendapatkan perhatian dari suaminya.


"Terima kasih ya Tian. Terima kasih karena sudah memberikan perhatian kepadaku. Inilah yang aku harapkan selama ini" Ucap Susan dengan menitikkan air matanya penuh keharuan.


"Jangan kamu berterima kasih kepadaku Susan. Karena ini memang sudah menjadi tanggung jawab sebagai seorang suamimu" Jawab Tian lagi mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipi istri siri nya itu.


"Tian, tolong jangan pergi tinggalkan aku. Aku sangat mencintai mu dan aku tidak mau kehilangan mu" Ujar Susan memohon.


"Iya Susan, aku tidak akan meninggalkan mu. Aku sadar bahwa aku sudah mulai mencintai mu. Maaf kan aku yang selalu mengabaikan mu" Ujar Tian mencium punggung tangan Susan dengan penuh perasaan.


Hati ku sangat perih menyaksikan adegan yang penuh haru itu. Meski aku tahu saat ini Susan sedang sakit dan membutuhkan perhatian lebih dari Tian. Tapi tetap saja hatiku tidak bisa menerima untuk berbagi suami bersama Susan.


Terlebih aku mendengar sendiri bahwa Tian tidak akan meninggalkan Susan dalam keadaan apapun. Itu berarti apa yang dikatakan Tian untuk menjatuhkan talak kepada Susan saat anak itu telah lahir juga tidak akan terlaksana. Karena Tian sudah mulai mencintai istri sirinya itu.


Aku yang sedari tadi menyaksikan adegan itu dari balik celah pintu menitikkan air mata.


Betapa kecewa nya dan sakit hati nya diri ku mendengar kenyataan yang kembali menyayat kan hati ku. Aku tidak bisa menerima semua ini.


Aku mengurungkan niat ku untuk masuk ke ruangan Susan. Aku lebih memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu dari pada membuat hati ku semakin sakit.


Aku kembali ke kantin untuk menjemput Sofi yang sedang bersama dengan nenek nya.


"Sayang, ayo kita pulang" Ajak ku.


"Pulang? Apa mama sudah melihat keadaan tante Susan?"

__ADS_1


"Sudah kok sayang. Ayo kita pulang. Tidak baik juga anak seusia mu berlama-lama di tempat ini" Ujar ku lagi.


"Tante, tolong sampaikan kepada Tian dan Susan bahwa aku dan Sofi pulang dulu ya" Pesan ku kepada mama Susan itu.


"Iya, nanti tante sampai kan"


"Terima kasih ya tante. Ayo sayang"


***


"Sayang, sekarang Sofi masuk ke kamar dan ganti baju nya ya. Oh ya Sofi masih lapar?"


Gadis kecil ku itu menggelengkan kepala nya.


"Tadi Sofi sudah makan di kantin rumah sakit bersama nenek ma"


"Oh gitu, ya sudah Sofi ganti aja seragam sekolahnya setelah itu istirahat ya sayang. Sofi tidur siang" Ujar ku.


"Iya mama" Gadis kecil itu langsung berlari ke dalam kamar nya.


Aku menghempas kan diri di sofa yang berada di ruang tamu rumah megah itu.


"Aku tidak akan meninggalkan mu dalam keadaan apa pun. Kini baru kusadari bahwa aku sudah mulai mencintaimu" Kata-kata Tian itu masih jelas di telingaku.


"Ya Allah, aku harus bagaimana saat ini. Aku tidak mau kehilangan suami ku. Tapi aku juga tidak mau hidup di madu" Ujar ku menitikkan air mata. Sungguh rasa hati ini kembali perih membayang kan kejadian tadi di rumah sakit.


"Seperti nya aku memang harus pergi ke pengajian yang di adakan oleh ustad Rendi. Aku harus menenangkan hati ku saat ini. Aku gak bisa terus-terusan seperti ini" Batin ku.


"Buk, apa ibu mau makan siang sekarang" Tanya bik Ina membuat lamunan ku buyar.


Aku bangkit dari rebahan ku. Dan duduk di sofa. Aku menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi ku.


"Iya bik? Ada apa?" Ulang ku yah aku tidak begitu dengar apa yang di katakan buk Ina tadi karena kurang fokus.


"Apa ibu mau makan siang sekarang? Jika iya mau bibi hidang kan di meja makan"


"Oh, gak bik. Nanti saja. Aku masih belum lapar. Aku ke kamar dulu ya bik. Rasa nya capek sekali. Aku mau istirahat sebentar" Ujar ku lagi langsung bangkit dari duduk ku dan masuk ke kamar tidur ku.

__ADS_1


Bik Ina menatap kepergian ku dengan penuh tanda tanya. Yah dia tampak heran dengan keadaan ku saat ini. Tidak biasa nya aku muram seperti ini.


"Apa ada masalah lagi sama ibu? Kenapa ibu malah kelihatan sedih lagi? Apa ibu dan bapak ada masalah?" Tanya bik Ina.


__ADS_2