
Papa nya Tian meminta Tian untuk memilih satu di antara kami. namun, hingga saat ini Tian belum bisa memberikan keputusan nya. Tian tidak bisa memilih antara aku dan Susan.
"Tian, tadi malam aku sudah mengatakan bahwa aku akan menginap di rumah orang tua ku. Sofi ikut bersama ku ya. Dia mau ikut bersama ku untuk menginap di rumah kakek dan nenek nya" Pesan ku kepada nya.
"Ya sudah gak apa-apa. Tapi kalian pergi nya jangan terlalu lama ya" Balas pesan dari nya.
Aku memang sudah siap untuk berpisah dengan Tian. Aku tidak mau terus-terusan tersakiti seperti ini. Aku sudah mempersiapkan segala bukti untuk menuntut cerai dari Tian. Yah selama ini aku diam bukan berarti aku ingin hidup di madu. Hanya saja aku bertahan karena Sofi dan juga beberapa bukti lain nya agar proses perceraian ku berjalan dengan lancar.
Memang aku merasa berat untuk meninggalkan Sofi. Tapi aku juga harus memikirkan kebahagiaan ku sendiri. Dan aku sama sekali tidak melarang Sofi untuk nanti nya menginap bersama ku. Tapi aku tidak bisa menuntut terlalu besar kepada Tian karena Sofi bukan lah darah daging ku.
Aku pergi menemui pengacara ku untuk mengurus perceraian kami.
"Selamat siang buk Fitri" Sambut nya saat melihat ku tiba di kantor nya setelah mengantar kan Sofi ke sekolah nya.
"Selamat siang, pak" Jawab ku.
Aku pun langsung menceritakan kejadian yang aku alami di dalam keluarga kecil ku kepada pak Lukman sebagai pengacara ku.
Aku menyerahkan bukti-bukti chat Tian kepada ku yang selalu minta izin kepada ku untuk menginap di rumah susan. Aku juga menyerahkan bukti pengakuan Toni saat mengungkapkan bahwa dia di bayar oleh Tian agar bisa mengelabuhi orang-orang bahwa dia sudah menikah dengan Susan.
Lukman pun menyimpan bukti-bukti itu untuk di serahkan di pengadilan nanti.
"Baik buk, semua bukti-bukti akan saya simpan dan akan saya ajukan ke pengadilan nanti sebagai bukti" Ujar Lukman
"Baik pak terima kasih, saya harap saya bisa secepat nya bercerai dengan Tian" Ujar ku.
Sungguh hati ini sebenar nya merasa berat untuk berpisah. Tapi ini adalah jalan terbaik untuk kehidupan ku ke depan nya.
***
"Sayang, kamu jadi pergi ke kantor pengacara untuk mengurus perpisahan mu dan Tian" Ujar mama ku datang menemui ku di depan teras rumah.
Yah saat itu aku sedang duduk santai di sana sambil menikmati secangkir teh hangat
"Jadi kok. Tadi aku sudah bertemu dengan pengacara ku dan sudah ku serahkan semua bukti-bukti nya juga"
"Semoga kamu akan bahagia ya nak setelah ini"
"Aamiin makasih ma. Ma, aku juga ingin kembali mengajar lagi seperti dulu. Aku bosan di rumah terus. Lebih baik aku habis kan waktu ku untuk mengajar apa boleh?"
"Boleh dong sayang. Apa pun keputusan kamu mama dan papa pasti akan selalu mendukung mu selagi itu bisa membuat mu bahagia dan tidak menyalah" Ujar mama ku memberi dukungan kepada ku.
"Terima kasih ya ma" Aku memeluk hangat wanita paruh baya itu.
"Terus, bagaimana dengan Sofi nanti nya nak?"
"Aku gak tahu sih buk. Yang jelas jika Sofi mau bersama ku dan Tian mengizinkan, aku akan menerima Sofi sepenuh nya. Sejujurnya aku gak bisa juga jauh-jauh dari Sofi. Karena Sofi itu lah yang selalu memberikan semangat kepada ku" Ujar ku sedih.
"Malam ini Sofi nginap di sini ya buk. Aku juga sudah meminta izin sama Tian bahwa Sofi ikut aku nginap di sini"
"Boleh kok sayang. Mama malah senang jika Sofi di sini Berarti rumah akan semakin ramai" Ujar mama ku lagi.
***
Aku mencari informasi lowongan pekerjaan kepada teman-teman ku yang berprofesi sebagai guru. Ternyata ada lowongan di tingkat SD. Karena aku hanya lulusan serjana untuk mengajar anak TK, maka aku harus mengikuti kuliah lagi untuk mengambil ijazah mengajar untuk tingkat SD.
"Kebetulan Fit di tempat ngajar ku masih ada lowongan untuk mengajar anak bagian matematika"
"Wah kebetulan kalau begitu. Aku mau melamar pekerjaan di sana"
"Boleh kok Fit. Tapi kamu tahu sendirikan peraturan sekarang bagaimana. Kamu pasti di suruh untuk kuliah lagi mengambil ijazah untuk ngajar anak SD" Jelas Sari.
"Gak masalah kok. Aku akan kuliah lagi sambil ngajar. Aku akan mengambil universitas terbuka agar bisa kuliah sambil bekerja" Ujar ku lagi.
"Ya sudah, besok kamu antarkan saja lamaran mu di sekolah ku"
"Oke, terima kasih ya Sar atas informasi nya"
"Iya sama-sama. Aku juga senang membantu mu"
Aku menutup ponsel ku.
"Alhamdulillah ada harapan aku bisa kembali mengajar di sekolah. Memang rejeki itu tidak kemana" Batin ku tersenyum senang.
"Mama, Sofi ngantuk ma" Ujar Sofi menggosok-gosok mata nya yang mulai terasa berat.
__ADS_1
"Sini sayang tidur di samping mama" Aku pun meniduri gadis kecil ku itu. Ku tepuk-tepuk dengan kasih sayang di bahu nya Sofi agar dia terlelap.
Tidak begitu lama, Sofi pun terlelap dalam tidur nya. Aku memutuskan untuk keluar menemui mama dan papa ku. Yah, meski selama ini aku tidak bekerja, tapi aku mendapatkan uang yang lebih dari cukup dari Tian untuk ku berbelanja keperluan sehari-hari dan juga keperluan ku sendiri termasuk kebutuhan Sofi. Aku menyimpan uang sisa belanja sehari-hari dan keperluanku. Yah karena aku bukan tipe orang yang suka berbelanja barang-barang keperluanku jika tidak begitu butuh. Jadi, selama hampir tiga tahun aku menikah bersama Tian aku bisa menyimpan uang yang lumayan besar sebagai tabunganku.
Sedangkan sisa uang untuk keperluan Sofi, aku masuk ke dalam tabungan nya sendiri untuk tabungan nya di masa depan. Dan aku berniat untuk memberikan tabungan Sofi kepada Tian jika kami sudah resmi bercerai nanti nya. Karena tidak mungkin aku yang mengurus keperluan Sofi lagi nanti nya.
"Ma pa, ada yang mau aku omongin sama mama dan papa" Ujar ku saat bertemu dengan kedua orang tua ku di ruang keluarga Di mana mereka sedang menonton tv di sana.
"Iya nak ada apa?" Tanya papa ku.
"Begini pa, aku mau minta izin sama mama dan papa agar aku bisa mengajar lagi. Aku ingin mencari kesibukan pa, ma. Agar aku tidak terlalu terpuruk dengan masalah yang menimpa ku" Ujar ku.
"Papa sama mama sih gak masalah ya nak. Selama itu positif dan membuat kamu bahagia, papa dan mama pasti akan selalu mendukung mu" Ujar papa ku lagi.
"Apa kamu sudah ada tempat untuk mengajar lagi?"
"Sudah kok pa, tadi teman ku menghubungi ku bahwa ada lowongan untuk mengajar di mata pelajaran matematika di tingkat SD. Aku mau melamar di sana pa. Tapi aku juga harus kuliah lagi pa mengambil ijazah untuk mengajar di tingkat SD"
"Tidak masalah bagi papa. Papa akan membiayai kuliah kamu"
"Sebenar nya aku sudah mempunyai tabungan selama ini pa. Tian setiap bulan nya selalu memberikan ku uang lebih. Jadi aku selalu menabung dari uang itu"
"Sudah simpan saja uang itu untuk kamu. Kamu bisa menggunakan uang itu untuk membuka usaha sendiri nanti nya. Jadi selain kamu bisa ngajar, kamu juga mendapat penghasilan dari usaha lain" Ujar papa ku.
Yah meski itu uang nya Tian, tapi tetap saja itu juga hak ku sebagai seorang istri. Di mana sudah kewajiban nya untuk memenuhi semua kebutuhan ku.
"Benar juga apa yang papa bilang. Aku bisa membuka usaha dari uang itu untuk mendapatkan penghasilan tambahan" Batin ku.
***
Aku mencoba mencari-cari informasi untuk membuka usaha ku sendiri. Yah, selain untuk mencari penghasilan tambahan, aku juga ingin mencari kesibukan sendiri. Agar aku nanti nya tidak terlalu ingat dan terpukul jika Tian kelak tidak mengizinkan Sofi menemui ku.
"Seperti nya cocok juga aku membuka laundry atau cafe. Terlebih tidak jauh dari sini terdapat sebuah universitas yang terkenal di kota itu dan tidak jauh dari universitas itu terdapat banyak rumah kos-kosan. Ya namanya juga anak kos-kosan dan pasti sangat sibuk untuk kuliahnya. Sehingga mereka tidak sempat untuk mencuci baju mereka sendiri pasti banyak yang laundry denganku" Batin ku mengangguk membayangkan usaha yang aku jalani nantinya.
"Tapi usaha Cafe juga oke kok. Soalnya anak kuliahan pasti akan mencari Cafe yang berada dekat di universitasnya. Aku hanya perlu menyediakan wi-fi gratis dan harganya makanan dan minumannya harus sesuai dengan anak kos-kosan. Pasti akan ramai juga yang datang untuk sekedar nongkrong ataupun mengerjakan tugas-tugas mereka karena ada wi-fi gratis" Tambah batin ku lagi.
"Aduh aku jadi pusing mau pilih usaha yang mana" Ujarku lagi menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal karena bingung mau milih usaha yang mana. Jika aku memiliki kedua-duanya, jelas modalku tidak cukup untuk membuka usaha itu. Jadi aku harus memilih salah satu dari rencana ku itu.
Aku berpikir dengan keras memilih salah satu diantara keduanya.
"Pusing, sebaik nya aku tanyakan sama papa. Papa kan sudah banyak pengalaman dalam bidang bisnis seperti ini. Jadi pasti papa lebih tahu mana yang tepat untuk usaha ku" Batin ku pada akhir nya.
"Sayang, maafkan mama ya nak jika nanti mama membuat kamu kecewa dengan keputusan mama ini. Mama sudah tidak bisa bertahan lagi. Tapi ketahuilah sayang mama aku selalu sayang sama kamu sampai kapanpun. Karena kamulah satu-satunya putri mama di dunia ini" Ucap ku lirih sampai mengeluarkan air mataku yang membasahi pipi. Kubelai dengan lembut rambut panjang berwarna hitam milik gadis itu dengan penuh kasih sayang tak lupa aku kecup keningnya dengan penuh kehangatan.
"Selamat tidur sayang" Ucap ku lagi langsung berbaring di samping putri kecilku itu.
***
"Sayang, kamu gak pulang?" Tanya Susan heran melihat Tian mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian rumahan.
"Gak kok, aku nginep di sini. Fitri dan Sofi juga tidak ada di rumah daripada aku kesepian tinggal sendirian. Lebih baik aku menginap di sini" Jelas Tian.
Susan tersenyum senang mendengar keputusan Tian barusan. Sungguh ia sangat berharap suaminya itu menemaninya setiap saat.
"Oh gitu, ya sudah lagian aku senang sekali kamu pada akhir nya bisa nginap di rumah ini. Ini kan juga rumah kamu. Dan aku juga istri mu" Ujar Susan lagi membelai lembut tubuh Tian.
"Sayang aku kangen" Ujar Susan dengan genit menggoda.
Sejujurnya laki-laki itu pun memang sudah lama tidak di puaskan oleh ku dan juga Susan. Meski dia selalu pulang terlambat namun dia tidak pernah berbuat apapun kepada Susan. Karena ia tahu Susan saat ini sedang sakit dan takut nantinya akan membuat susah semakin sakit.
Iya berharap aku mendapatkan kepuasan bersamaku namun aku selalu mengelak dengan berbagai alasan. Karena jujur saja aku selalu membayangkan ketika dia sedang berhubungan bersama Susan. Hal itu membuat aku menjadi jijik untuk bersetubuh dengannya.
"Sebenar nya aku juga kangen. Tapi apa tidak masalah?" Ucap Tian.
"Gak kok sayang. aku baik-baik saja dan masih bisa untuk melayani kamu. Aku sudah pergi konsultasi sama dokter. Bukankah penyakit miom ku ini masih kecil dan tidak begitu parah. kamu tenang aja sayang aku bisa masih bisa memuaskan" Bisik Susan di telinga Tian.
Hembusan nafas wanita itu membuat bulu kuduk Tian berdiri. Yah nama nya juga sudah lama berpuasa. Jelas membuat nya cepat bergairah.
Susan yang memeluk Tian dari belakang dan menc*um tengkuk Tian membuat Tian memejamkan mata nya merasakan sensi kenikmatan surga dunia kembali.
Susan berjalan memutari Tian dan kini mereka saling berhadapan. Tian menatap Susan dengan napas memburu. Kembali ******* bibir kini mereka lalukan semakin dalam dan semakin hangat.
Tian menggendong Susan untuk berbaring di kasur kamar nya. Kini ******* bibir kembali terjadi. Saling menjelajahi setiap rongga mulut masing-masing.
Tangan nakal Tian kini mencoba membuka ikatan piama yang di kenakan oleh Susan tadi. Terlihat dua gunung kembar dengan buah ceri di atas nya yang tegak sempurna menantang.
__ADS_1
Sungguh pemandangan indah itu sudah lama tidak di lihat nya. Tian pun langsung meng...hisap dan memainkan buah ceri itu dengan lidah nya membuat Susan mengelincang keenakan.
Tak membiarkan gunung di sebelah nya menganggur Tian kini memainkan dengan jari nya.
"Ah.... Tian" Satu des*han kini berhasil lolos dari mulut Susan.
Tian membuka satu satu pakaian yang di kenakan oleh Susan hingga terlihat lah bagian inti yang begitu montok dan menggiurkan terekspos sempurna di hadapannya.
"Aku benar-benar merindukan hal ini. Sudah lama aku tidak merasakannya" Batin Tian dengan napas memburu.
Tampa menunggu lama lagi dia langsung membenamkan kepalanya di bagian inti Susan. Laki-laki yang mempunyai dua istri itu menjelajahi gawang Susan dengan lidahnya. Semakin menggelinjang lah Susan dibuatnya karena kenikmatan yang diberikan oleh suaminya itu.
Susan meremas rambut Tian sebagai pelampiasan kenikmatan itu dan ia membenamkan kepala Tian agar semakin dalam bermain di sana.
"Ah... Sayang" Des*han itu lagi kembali lolos dari mulut Susan. Susan terus memejamkan mata nya.
Tian bangun dan kembali mengh*sap ceri yang berada di atas gunung kembar milik Susan.
Satu tangannya bermain di bagian inti wanita itu. Hingga pada akhir nya, yang memasukkan dua jarinya ke lubang gawang itu dan mulai menari dengan gerakan maju mundur yang semakin detik semakin laju. Hingga pada akhir nya.
"Tian aku, Tian" Ujar Susan meracau.
"Ah... " Satu kenikmatan sukses ia keluarkan. Tian tersenyum mendapati hal itu. Kini giliran dia yang mau di puaskan.
Tian membuka satu persatu pakaiannya ia kenakan hingga terekspor sempurna semua bentuk tubuh dengan senjata yang sudah berdiri tegak ingin dibelai oleh Susan.
Melihat senjata suaminya itu susah langsung bangun dari rebahannya dan mulai meng*cok senjata itu dengan tangannya. Susan melahap senjata itu dan memainkan dengan lidah nya. Hal itu membuat Tian memejamkan matanya keenakan.
"Ssss... Ah... " Tian memegang kepala Susan agar bermain lebih dalam lagi hingga membuat Susan tersedak.
Sungguh laki-laki itu terlihat sangat agresif kali ini. Mungkin hal itu disebabkan karena dia sudah lama berpuasa.
"Ayo sayang puaskan aku" Ujar Tian lagi berbaring. Susan mengerti jika kali ini dia lah yang harus mengambil alih dalam permainan ini.
Susan duduk di atas Tian dengan memasukkan senjata itu ke dalam gawang nya. Terasa hangat di dalam sana yang Tian rasakan.
Susan mulai bermain dengan tempo pelan. Mengatur pergerakan pinggulnya untuk menikmati setiap mainan itu. Sedangkan tangan Tian terus meremas gunung kembar milik istri siri nya itu.
Karena rasa yang di bawah sana mau meledak, Tian bangkit dari rebahan nya, kini dia mulai mengh*sap buah ceri Susan lagi tampa menghentikan pergerakan Susan. Hingga pada akhirnya.
"Ah..." Ujar Tian berhasil menumpahkan cairan di dalam lubang kenikmatan itu dengan sempurna.
Kedua nya terhengah-hengah karena merasa lelah dengan pertempuran malam ini. Hingga membuat mereka berdua tertidur lelap tampa mengenakan sehelai kain pun.
***
"Pa, coba deh papa kasih saran sama aku. Usaha mana yang harus aku pilih nanti nya. Laundry atau cafe? Rencana nya aku mau membuka usaha itu di dekat campus yang ada di sebelah sana" Ujar ku pagi itu saat kami sedang sarapan bersama.
"Kalau menurut papa sih, bagus nya cafe ya. Yah berhubungan kamu mau buka usaha nya di dekat campus itu lo. Papa yakin di setiap jam istirahat atau makan siang, pasti banyak mahasiswa yang mampir di cafe mu untuk menghilangkan rasa penat mereka setelah seharian belajar" Jelas papa ku.
"Jika laundry sih papa kurang setuju ya. Soal nya kamu harus pintar-pintar cari pelanggan nanti nya. Jika cafe pelanggan itu pasti datang dengan sendiri nya" Jelas papa ku uang memang ada benar nya juga.
"Iya papa benar. Jika begitu aku akan membuka usaha cafe saja ya pa. Nanti papa tolong ajarin aku ya untuk berbisnis. Papa tahu sendiri kan aku tidak mempunyai pengalaman dalam bidang bisnis seperti ini" Ujar ku.
"Iya nanti papa ajarin kamu"
"Mama mau buka usaha ya ma. Boleh Sofi bantu mama nanti nya?"
"Oh tentu boleh dong sayang. Kita akan buka usaha ini sama-sama"
"Asyik... Sofi jadi gak sabar deh"
"Ya sudah kamu habisin sarapan nya. Setelah itu kita akan berangkat ke sekolah"
"Oke mama"
***
"Sari, di mana ruangan kepala sekolah" Tanya ku.
"Itu di sebelah sana" Jawab Sari menunjuk ruangan kepala sekolah.
Aku pun pergi ke ruangan itu untuk mengantarkan surat lamaran di sana.
"Baik, ibu boleh mulai mengajar nya besok pagi ya. Karena ibu Fitri masih memegang ijazah ngajar untuk anak TK, ibu harus kuliah lagi. Pasti ibu sudah tahu peraturan sekarang bagaimana bukan?"
__ADS_1
"Iya, saya tahu pak. Saya setuju akan hal itu. Besok saya akan bekerja di sini. Terima kasih atas kesempatan yang Bapak berikan kepadaku" Ujar ku dengan penuh semangat.
Untung lah kepala sekolah itu memberikan ku kesempatan untuk meniti karir ku di sekolah itu dan tidak mempersulitkan ku. Mungkin ini sudah garis rejeki ku sehingga aku mudah untuk masuk ke sekolah itu sebagai pengajar di sana. Mungkin karena bapak kepala sekolah itu melihat aku mempunyai pengalaman mengajar jadinya dia memberikanku kesempatan untuk mengajar di tempatnya.