Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 59


__ADS_3

Aku tersentak mendengar percakapan Tian dan juga Susan. Sungguh hati ini plin plan dan mudah berubah begitu saja.


"Yah meski bagaimana pun, aku harus memberi kesempatan kepada Tian untuk memperbaiki semua nya" Batin ku.


"Sayang, kamu pulang" Tegur Tian saat melihat ku di samping pintu belakang saat ia ingin masuk ke rumah.


"Iya, aku pulang" Jawab ku dengan wajah yang bingung. Yah sungguh bingung rasa nya hati ini.


Entah lah aku juga tidak tahu kebingungan ini bagaimana.


Tian langsung membenam kan kepala ku di dada bidang nya.


"Sungguh aku merindui mu sayang. Aku senang kamu akhir nya pulang" Ujar nya lagi.


Aku membalas pelukan suami ku itu. Aku pun merasa sangat rindu kepada suami ku itu. Yah jujur saja perang dingin seperti ini membuat aku tersiksa.


Meski hati ini sakit karena di khianati, tapi tetap saja Tian masih suami ku. Dan aku masih mencintai nya hingga detik ini.


Susan kaget melihat aku dan Tian berpelukan saat ia ingin masuk ke rumah.


"Fitri kamu pulang?" Tanya Susan.


Aku melepaskan pelukan ku kepada Tian.


"Iya aku pulang kenapa? Apa ada yang salah jika aku pulang?"


"Tapi bukan nya kamu pergi dari rumah ini lantaran kecewa dengan Tian. Bukan nya kamu ingin pergi meninggalkan Tian?" Ujar Susan.


"Siapa bilang? Oh oke aku memang kecewa terhadap suami ku yang sah secara hukum dan agama ini karena penghianatan nya kepada ku. Tapi jika kamu pikir aku akan meninggalkan nya, aku masih belum memberikan jawaban itu. Secara Tain bilang dia akan menjatuhkan talak kepada mu jika anak itu lahir" Ujar ku dengan wajah yang santai.


"Apa? Jadi kamu bilang seperti itu kepada Fitri? Kamu pikir aku ini apa sih Tian? Apa kamu pikir aku ini barang yang seenak nya kamu genggam dan kamu lepas begitu saja?" Susan terlihat emosi.


"Maaf kan aku Susan. Bukan kah kamu yang meminta ku untuk menikahi mu karena kamu sedang hamil anak ku? Jadi aku telah bertanggung jawab dengan semua itu. Ketika anak itu lahir nanti nya dia sudah memiliki papa yaitu aku. Jadi apa lagi yang kamu mau?" Jelas Tian yang membuat Susan semakin emosi.


"Kamu Fitri, apa kamu merasa bangga dengan apa yang terjadi saat ini? Dimana Tian lebih memilih kamu dari pada aku dana anak ku ini? Di mana hati mu sebagai seorang perempuan?"


"Jika kamu bertanya dimana hati ku sebagai seorang perempuan, harus nya aku lah yang bertanya seperti itu. Apa kamu sadar kamu lah yang menginginkan semua ini? Di saat aku sedang berjuang bersama putra ku, kamu malah datang di dalam keluarga ku dengan mempunyai maksud untuk merampas kebahagiaan kami" Ujar ku lagi.


"Harus nya kamu sebagai perempuan, bisa merasakan betapa sulit nya aku waktu itu. Dan kamu harus mensupport ku bukan malah mencari kesempatan dalam kesempitan seperti ini dengan cara merayu suamiku agar jatuh ke dalam pelukan mu" Ujar ku lagi.


"Dari awal aku memang sudah curiga dengan kedatangan kamu di rumah ini. Kamu memang mempunyai maksud tersembunyi. Ternyata kecurigaan ku benar adanya. Dan sekarang aku akan merampas kembali kebahagiaan ku. Dan seperti yang di katakan Tian, besok kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Bukan kah Tian sudah membelikan rumah untuk kamu dan anak mu. Jadi, untuk apa lagi kamu masih menumpang di sini?" Ujar ku dengan sinis.


Susan semakin kesal. Wanita hamil itu langsung masuk ke dalam kamar nya karena emosi yang tidak bisa di tahan kan lagi.


Susan membanting pintu dengan kuat dan mengunci nya dari dalam.


"Sialan kalian berdua. Bisa-bisa nya kalian mengusir ku seperti ini. Aku tidak bisa terima semua ini. Awas saja aku akan kembali mengatur rencana untuk merebut semua nya kembali" Batin Susan geram menggenggam tangan nya kuat-kuat.


Susan menekan nomor mama nya pada ponsel nya.


"Hallo ma"


"Iya Susan, ada apa? Tumben kamu menghubungi mama malam-malam begini" Tanya wanita paruh baya itu.


"Ma, aku di usir dari rumah ini" Jelas Susan.


"Ha? Di usir bagaimana?" Tanya mama nya kaget.


"Fitri kembali lagi di rumah ini ma. Dia masih mempertahan kan Tian. Dia tidak mau melepaskan Tian begitu saja ma. Aku pikir, setelah dia tahu semua nya, dia akan mengalah dan meninggalkan Tian begitu saja. Tapi ternyata aku salah ma" Jelas Susan lagi.


"Apa iya? Kenapa dia malah bertahan sih setelah di khianati? Apa wanita itu bodoh atau bagaimana?"


"Aku juga gak tahu ma. Besok pagi aku harus angkat kaki dari rumah ini ma. Aku harus pindah di rumah yang telah di belikan Tian untuk ku. Mama, besok ikut aku ya tinggal di rumah itu" Ajak Susan.

__ADS_1


"Ya sudah kamu jangan memikirkan masalah ini terlebih dahulu. Yang jelas kamu sudah mendapatkan rumah dari Tian. Setelah itu kita akan memikirkan bagaimana cara nya kita akan mendapat kan harta nya Tian secepat mungkin sebelum kamu berpisah dari nya" Ujar mama Susan lagi.


"Ma, aku mencintai Tian mama. Aku gak mau berpisah dari Tian. Kenapa sih mama selalu saja memikirkan harta, harta, harta. Aku membutuhkan Tian mama. Aku gak mau kehilangan Tian lagi" Ujar Susan dengan kesal karena mama nya tidak mengerti apa yang ia ingin kan.


"Sayang, dengerin mama ya. Jika nanti kamu berhasil merebut semua harta nya Tian., otomatis Tian akan menjadi milik mu juga. Secara jika harta itu sudah di pindah atas nama kamu, Tian jadi tidak punya apa-apa. Dan pasti nya dia tidak bisa meninggalkan kamu begitu saja. Jika dia pergi, otomatis dia akan menjadi miskin Sekali dayung dua pulau terlapaui" Ujar wanita paruh baya itu lagi.


"Entah lah ma, aku pusing dan tidak tahu harus berkata apa saat ini. Yang jelas aku hanya ingin Tian selalu ada di sisi ku. Aku gak butuh yang lain. Selama ini aku telah banyak mengalah dan berkorban untuk nya. Dan tidak semudah itu aku melepaskan dia begitu saja" Ujar Susan.


"Sudah ya ma, aku mau istirahat dulu. Aku lelah memikirkan semua ini. Nanti akan ku kirim lokasi rumah baru kita. Kita akan pergi ke sana besok" Ujar Susan mematikan ponsel nya.


"Mama ini bagaimana sih, kenapa selalu memikirkan harta tampa harus memikirkan apa yang aku mau" Protes Susan kepada mama nya setelah selesai menutup ponsel nya.


"Jika Tian beneran menceraikan ku bagaimana? Aku gak bisa hidup tampa kamu Tian. Aku sangat mencintai kamu" Ujar Susan frustasi.


***


"Mama, apa mama sedang sibuk? Apa Sofi menganggu?" Tanya Sofi kepada ku saat aku duduk di sofa yang berada di lantai dua rumah ku itu.


"Gak kok sayang. Ada apa?" Tanya ku meletakan kembali ponsel yang ku mainkan tadi.


"Mama, Sofi ada tugas lagi di sekolah. Besok harus di antar. Mama bantuin Sofi ya" Pinta gadis kecil itu.


"Tentu dong sayang, tentu saja mama akan membantu anak mama yang cantik ini untuk membuat tugas nya" Jelas ku lagi.


"Tugas apa sih sayang?"


"Ini lo ma tugas matematika" Gadis kecil ku itu.


Aku menjelaskan cara mencari tugas putri ku itu hingga pada akhir nya dia mengerti dengan tugas nya dan bisa mengerjakan nya sendiri.


Sungguh aku sangat merindukan momen ini bersama putri sambung ku itu.


"Ini ma, sudah selesai. Coba mama periksa apa ada yang salah?" Tanya gadis itu memberikan buku tugas nya kepada ku. Aku memeriksa tugas nya itu.


"Wah, ternyata putri mama ini pintar. Semua jawaban nya benar kok sayang" Ujar ku.


Aku tersenyum senang melihat putri ku itu kembali ceria.


"Mama, mama jangan tinggalin Sofi lagi ya. Sofi gak mau kehilangan mama" Ucap gadis kecil itu dengan nada sedih nya.


"Iya sayang, mama pasti tidak akan meninggalkan kamu. Mama juga sayang sama kamu"


"Terima kasih mama" Sofi memeluk ku dengan erat nya.


"Sama-sama sayang"


Tampa sengaja aku menjatuhkan selembar kertas dari dalam buku tema nya Sofi. Ku ambil dan ku lihat isi kertas itu.


Terlihat gambar yang di buat oleh Sofi. Ada ayah, anak kecil, dan ibu nya. Mereka sedang bergandengan tangan tampak bahagia. Dan di atas langit terdapat seorang perempuan dengan sayap ikut tersenyum dengan melihat kebahagiaan keluarga itu.


"Sayang, ini siapa yang bikin?"


"Sofi ma. Bagus gak?" Tanya nya meminta ku mengomentari hasil karya nya.


"Bagus, tapi ini arti nya apa?" Tanya ku heran.


"Ini gambar papa, Sofi, mama dan ini mama Santi yang tersenyum bahagia melihat kita dari surga" Jelas gadis itu lagi.


Aku tersenyum haru melihat hasil lukisan putri ku itu. Sungguh dia sangat sayang kepada ku. Aku pun begitu sayang kepada nya. Dia seperti anak kandung ku sendiri.


***


"Sayang, aku senang sekali kamu sudah pulang ke rumah. Kita bisa kumpul bersama-sama lagi seperti ini" Ucap Tian duduk di samping ku saat kami berada di kamar kami.

__ADS_1


"Tian, sebenar nya ada yang mau aku tanyakan sama kamu"


"Kamu mau tanya apa sih sayang. Tanya aja"


"Apa benar kamu tidak mencintai Susan? Apa benar hubungan kamu dan Susan hanya kekhilafan?" Tanya ku dengan serius.


"Iya dong sayang. Aku tidak pernah mencintai seorang wanita selain diri mu. Hanya kamu lah wanita yang aku cintai di dunia ini. Maaf kan aku sayang karena telah membuat mu kecewa. Aku benar-benar menyesal dan tidak akan mungkin ku ulangi lagi perbuatan itu" Tian menyesali perbuatan nya.


Aku menghela napas berat karena sebenar nya hati ini masih meragukan ucapan Tian.


"Sayang, percaya lah kepada ku. Hanya kamu wanita satu-satu nya yang bisa menerima ku apa adanya. Kamu ingat ketika semua orang mencela ku dan menjauhi ku di saat aku terpuruk di dalam barang haram narkoba?"


Aku menunduk mengingat kejadian itu.


"Kamu sayang, kamu lah orang yang berdiri tegak di samping ku dengan memegang tangan ku untuk aku bangkit dan kuat menghadapi semua ini. Kamu selalu ada di sisi ku menemani ku dalam keterpurukan. Kamu selalu percaya bahwa aku bisa berubah. Dan dengan keyakinan kamu itu lah membuat aku menjadi lebih baik" Jelas Tian dengan wajah sedih nya.


"Namun, di saat masalah Raffa datang dan membuat aku frustasi memikirkan penyakitnya, di saat itu lah aku menjadi kehilangan arah. Aku telah terjatuh di dalam lubang hitam yang membuat ku terpuruk di dalam kegelapan untuk beberapa saat"


"Tapi ada sececah cahaya yang memberikan aku sedikit penerangan sayang. Di mana Sofi telah menyadarkan ku atas kesalahan ku itu. Dan membuat ku ingin kembali memperbaiki segala nya. Tapi semua nya telah terlambat sayang. Susan sudah hamil waktu itu. Sehingga membuat ku harus bertanggung jawab dengan anak yang ada di dalam kandungan nya"


Aku masih melamun mendengarkan cerita dari Tian itu. Rasa nya aku semakin yakin untuk memperbaiki semua nya. Meski bagaimana pun, aku juga bersalah karena mengabaikan suami ku.


"Sayang maaf kan aku ya" Pinta Tian lagi.


"Iya, aku sudah memaafkan mu. Tidak masalah bagi ku. Tapi tolong jangan ulangi kesalahan itu lagi. Aku hanya memberikan kesempatan sekali sama kamu. Tidak ada kesempatan ke dua" Ujar ku lagi.


"Terima kasih sayang. Terima kasih karena kamu memberikan aku kesempatan" Tian memeluk ku. Aku pun membalas pelukan nya dengan hangat.


***


"Selamat pagi mama" Tegur Sofi berlari ke meja makan untuk sarapan.


"Pagi sayang. Wah anak mama sudah rapi dan cantik saja sih pagi ini" Puji ku melihat Sofi yang sudah berpakaian rapi dengan seragam sekolah nya di pagi ini.


"Iya buk, tadi pagi-pagi sekali non Sofi sudah datang ke kamar bibi meminta bibi bantuin dia untuk siap-siap. Kata nya biar ibu senang melihat nya sudah rapi pagi-pagi begini" Jelas wanita paruh baya yang tak lain adalah bik Ina pembantu di rumah ku yang mengikuti langkah kaki gadis kecil itu dari belakang.


"Benar itu sayang?"


"Iya mama, jika Sofi seperti ini, jadi anak yang baik dan juga rajin pasti mama akan senang sama Sofi dan gak akan tinggalin Sofi" Ujar nya lagi.


Aku tersenyum melihat putri ku itu. Sungguh dia sangat berusaha untuk membuat ku tetap nyaman di rumah agar tidak pergi meninggalkan nya. Bagaimana mungkin aku tega mengecewakan usaha gadis kecil ku ini hanya karena ego ku.


"Mama senang banget lihat Sofi seperti ini. Jadi tambah sayang deh mama sama Sofi"


"Sofi juga jadi semakin bertambah sayang sama mama"


"Ya sudah, sini duduk kita sarapan sama-sama"


"Papa mana ma?" Tanya Sofi belum melihat keberadaan papa nya.


"Papa masih di kamar sayang. Sedang siap-siap"


"Hari ini mama dan papa bisa anterin Sofi ke sekolah ya. Sudah lama Sofi gak di anterin papa sama mama. Sofi kangen" Rengek nya.


"Iya sayang. Hari ini papa sama mama akan anterin Sofi ke sekolah. Terus setelah pulang ke sekolah, kita pergi ke taman bermain"


"Beneran ma?"


"Beneran dong sayang. Kita habisin waktu bersama hari ini. Karena selama ini terlalu banyak masalah yang kita hadapin. Alangkah baik nya kita mencari hiburan" Jelas ku tersenyum.


"Asyik.... Sofi senang banget ma" Gadis kecil itu kembali memeluk ku.


"Sekarang Sofi sarapan dulu ya. Sofi mau pakai selai yang mana?"

__ADS_1


"Coklat saja ma" Jawab gadis itu.


"Oke mama ambilin ya" Aku mengoles selai coklat di atas roti untuk ku berikan kepada Sofi.


__ADS_2