
"Sayang, kenapa belum sarapan sih?" Tanya Tian saat tiba di meja makan melihat putri nya masih melamun.
"Sofi lagi tungguin papa. Sofi gak mau sarapan sendiri" Jawab nya.
"Ya sudah sekarang papa sudah di sini bersama Sofi ayo kita sarapan sama-sama" Ujar Tian dengan lembut.
"Jadi hanya kalian berdua saja nih yang sarapan nya? Gak mau ajak-ajak mama?" Ujar Susan tiba-tiba muncul.
Raut wajah Sofi yang tadi nya tersenyum menjadi kembali muram.
Susan tidak menanggapi perubahan raut wajah nya Sofi. Dia malah bersikap santai seperti tidak terjadi apa pun.
Susan duduk di samping gadis kecil itu, Seperti nya wanita hamil itu tidak menyerah untuk membujuk kembali Sofi agar bisa menerima nya lagi.
"Sayang, mama ambilin ya sarapan nya" Tawar Susan dengan ramah.
"Gak tante, Sofi mau papa yang ambilin sarapan Sofi" Jawab gadis itu.
"Papa, tolong ambilin sarapan Sofi ya" Pinta nya.
"Iya sayang sebentar ya" Tian mengambil sarapan putri nya dan memberikan kepada putri nya setelah di ambil.
"Tian, aku sini piring mu. Biar aku ambilin sarapan untuk mu"
"Gak perlu, aku bisa mengambil nya sendiri" Tolak Tian.
"Aduh, ini papa dan anak nya sama saja kelakuan nya. Tidak bisa apa menghargai niat baik orang. Padahal aku sudah berniat baik ingin menjadi mama dan istri yang baik untuk mereka" Batin Susan merasa kesal karena di abaikan oleh Tian dan Sofi.
"Papa, nanti setelah Sofi pulang sekolah, papa anterin Sofi ya ke rumah kakek dan nenek untuk ketemu sama mama. Sofi kangen sama mama" Pinta gadis itu dengan nada bermohon.
"Iya sayang, nanti kita ke rumah kakek dan nenek ya kita akan bertemu sama mama. sekarang Sofi harus habiskan sarapannya, setelah itu kita berangkat ke sekolah" Ujar Tian tersenyum penuh semangat kepada anaknya.
Sofi membalas senyuman papanya dan langsung menyodorkan sesuatu demi sesuap nasi goreng yang ada di piring makannya.
"Sayang aku boleh kan ikut kamu untuk nganterin Sofi ke sekolah? Aku juga sudah lama nggak nganterin Sofi ke sekolah. Hari ini aku boleh ikut kan?" Tanya Susan.
"Sebaiknya kamu di rumah saja deh San. Kamu kan lagi hamil lebih baik kamu jaga kandungan kamu agar tidak terjadi apa-apa" Ucap Tian.
"Tapi sayang kandungan aku kan tidak ada masalah apa-apa. Dan aku juga merasa baik-baik saja kok. Aku juga bosan di rumah terus aku juga butuh untuk jalan-jalan" Jawab Susan.
"Jika kamu bosan di rumah terus, kamu bisa kok jalan-jalan sendiri"
"Emang sih aku bisa jalan-jalan sendiri. Tapi aku hanya mau menikmati waktu bersama keluarga ku. Apa itu salah?" Ujar Susan sedikit kesal kepada Tian yang tidak mengerti mau nya.
"Apa kamu lupa bahwa aku ini juga sudah menjadi istri mu. Dan aku sedang mengandung anak mu. Jadi kamu harus nya bisa bersikap adil kepada aku dan juga anakku sebagai seorang suami dan juga sebagai seorang ayah. Karena aku dan anakku juga membutuhkan perhatian dari kamu" Jelas Susan mengingati Tian lagi.
"Iya aku tahu, dan kamu tidak perlu mengingatkan aku tentang hal itu lagi. Tapi masalahnya saat ini keadaan tidak mengizinkan kamu untuk meminta perhatian lebih dariku hal itu karena perbuatan kamu sendiri yang telah membuat Sofi menjadi terluka seperti ini dan sulit untuk menerima kamu di dalam hidupnya lagi. Jadi kamu harus tanggung risikonya dengan memberi dia waktu agar dia bisa kembali menerima kamu. Jangan memaksanya untuk menerima kamu cepat itu. Karena saat ini hatinya sedang terguncang karena pengakuan kamu secara mendadak kemarin" Ujar Tian lagi.
"Tapi aku ngomong apa ada nya"
"Emang kamu ngomong apa ada nya. Tapi dia belum saat nya tahu tentang hal ini. Kamu masih juga menyangkal dengan kesalahan kamu dan menganggap kamu yang benar ya" Ujar Tian dengan emosi.
Semenjak beberapa waktu belakangan ini, laki-laki itu yang dulu nya kalem dan berwibawa kini menjadi pemarah dan emosinya tidak terkontrol karena kelakuan Susan yang sangat keterlaluan baginya.
"Kamu kenapa sih Tian, selalu marah-marah sama aku. Jika sama Fitri saja kamu tidak pernah seemosi ini" Ujar Susan heran.
"Karena Fitri dan kamu beda jauh. Dia selalu bisa memberikan ku ketenangan lahir dan batin. Dan dia selalu mendengarkan apa yang aku katakan tidak seperti kamu yang selalu membangkang dan ingin omongan kamu yang selalu didengar" Ujar Tian.
"Sialan, lagi-lagi dia membanggakan istri nya. Seolah-olah apa yang aku korban kan dan apa yang aku lakukan selama ini untuk nya dan Sofi sama sekali tidak ada harga nya" Batin Susan kesal.
"Ya sudah kami pergi dulu. Kamu di rumah saja" Tegas Tian lagi langsung pergi menuju mobil nya bersama Sofi.
"Kurang ajar kamu Tian. Bisa-bisanya kamu ngomong seperti itu kepada ku. Awas aja kamu. Tunggu saja permainan ku. Aku pastikan kamu yang akan bertekuk lutut dengan ku. Tapi untuk saat ini aku harus mengalah dulu. Karena ku hanyalah istri sah secara agama saja. Aku tidak bisa menuntut apa pun kepada Tian nanti nya ketika dia menjatuhkan talak kepada ku" Ujar Susan berkata kepada diri nya sendiri.
***
"Assalamualaikum" Ucap salam terdengar dari pintu luar rumah kedua orang tua ku.
__ADS_1
"Waalaikumsalam" Jawab mama ku membuka pintu.
"Nenek.... " Sapa Sofi memeluk mama ku dengan gembira.
"Ma" Tian pun mencium punggung tangan mama ku.
"Kalian berdua saja. Fitri kemana?" Tanya mama ku mencoba mencari keberadaan ku.
Tian dan Sofi saling pandang.
"Lo, nek, bukan nya mama di rumah nenek ya. Kata mama mau ke sini karena kangen sama nenek dan kakek" Jawab gadis polos itu.
"Gak ada lo Tian, Fitri gak ada datang ke rumah ini. Kamu yang benar dong nak. Jangan bercanda seperti itu" Ujar mama ku cemas.
"Beneran ma. Sudah tiga hari ini Fitri pergi dari rumah kata nya mau ke sini. Ketika di hubungin juga dia bilang nya di sini"
"Ya ampun, kemana sih anak itu? Kenapa dia menjadi seperti ini?" Ujar mama ku cemas.
"Sebentar-sebentar. Biar mama vidio call sama dia. Agar tahu pasti di mana keberadaan nya" Ujar mama ku mengambil ponsel nya.
"Berdering" Ujar mama ku kepada Tian dan Sofi.
"Aduh, mama vidio call. Ngapain ya?" Batin ku.
"Assalamualaikum ma" Jawab ku mengangkat video call dari mamaku.
"Waalaikumsalam nak. Nak kamu sekarang lagi di mana?" Ujar mama ku.
"Aku, aku sekarang lagi di hotel ma. Mau cari hiburan sebentar?"
"Hiburan?"
"Iya ma, mau menenangkan pikiran yang sedang gundah" Ujar ku sedikit bercanda.
"Apa kamu di sana sendirian?"
"Benar?"
"Iya mama"
"Terus ini siapa?" Ujar mama ku mengalihkan kamera ke arah Tian dan Sofi.
Kaget, jelas aku kaget karena ini semua di luar prediksi ku.
"Aduh, bisa terjadi artis mendadak aku nanti di terpa banyak pertanyaan oleh mama" Batin ku.
"Ngapain mereka ke sana ma?"
"Mereka ke sini untuk mencari kamu. Sofi kangen sama kamu"
"Kamu sekarang di mana? Kenapa pergi gak bilang-bilang sama Tian. Malah bohong nya ke rumah mama lagi" Ujar mama ku sedikit marah.
"Sayang, jika ada masalah di dalam rumah tangga itu, harus nya di selesaikan baik-baik jangan malah kabur gitu dong. Pakai acara bohong pula lagi" Protes mama ku.
"Iya ma, maaf" Aku menunduk sedih mendengar protes dari mama ku itu.
"Sekarang, mama minta kamu pulang dan selesaikan masalah kalian secara baik-baik. Tian dan Sofi sekarang berada di rumah mama. Kamu pulang saja kesini dulu. Bicara baik-baik sama Tian" Ujar mama ku memberi jalan kepada Tian untuk bertemu dengan ku.
"Iya ma, aku ke sana sekarang" Ujar ku mengakhiri vidio call kami.
***
"Mama... " Ujar Sofi berlari memeluk ku ketika aku baru saja tiba di rumah mama ku.
"Sayang mama" Aku membalas pelukan anak ku itu dengan penuh kehangatan.
"Mama kok bohong sih, kata nya mama ke rumah kakek dan nenek. Tapi malah gak ada di sini. Mama bilang gak boleh bohong tapi ini kenapa mama bohong?" Protes gadis kecil nan polos itu.
__ADS_1
"Sayang, maafin mama ya nak. Mama terpaksa melakukan semua ini. Sofi nggak marah kan sama mama?" Ujar ku menatap dalam-dalam bola mata putri ku itu.
Gadis kecil itu menggeleng.
"Gak kok ma, Sofi ngerti kok kenapa mama melakukan semua ini" Ucap nya tersenyum. Yah jelas saja karena dia tahu semua yang terjadi sehingga mengakibat kan ku melakukan hal seperti ini. Dia pun mau melakukan hal yang sama jika dia besar. Hanya saja usai nya tidak bisa membuat nya bertindak sejauh itu.
"Terima kasih ya sayang. kamu anak mama yang paling baik dan paling pengertian sama mama. Mama sayang sama Sofi" Ujar ku kembali memeluk gadis kecil itu dengan erat.
"Iya mama. Sofi juga sayang sama mama" Balas gadis itu.
"Sofi, main sama nenek dulu yuk nak di dalam. Mama sama papa mau bicara" Ujar mama ku mengajak Sofi untuk masuk ke dalam rumah nya.
Sofi pun mengangguk mengikuti perintah neneknya.
"Sayang, kenapa kamu harus berbohong sama aku dan Sofi. Jika kamu selalu ingin menginap di hotel bukan di rumah papa dan mama?" Tanya Tian setelah melihat Sofi jauh di pandangan matanya.
"Awalnya aku emang pengen nginep di rumah kedua orang tuaku untuk beberapa waktu. Hanya saja aku masih berpikir jika aku datang ke sini secara tiba-tiba, pasti papa dan mama akan banyak bertanya kepadaku. Jadi aku belum siap untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada mereka. Sehingga aku memilih untuk menginap di hotel saja agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak mau aku jawab" Ujar ku dengan tidak menatap wajah suamiku itu. Karena sejujurnya aku masih merasakan sakit di hati mengingat kembali penghianatan yang ia lakukan bersama Susan.
"Iya sayang. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf dengan semua itu. Sayang aku mohon sama kamu, ayo kita pulang Sofi dan aku sangat membutuhkan kamu di rumah. Rumah terasa sepi tanpa kehadiran kamu" Ujar Tian dengan nada memohon.
"Bukan kah sudah ada Susan di sana. Ketika selama aku berada di rumah sakit kemarin, Susan lah yang melayani kamu segalanya di rumah itu. Kenapa sekarang baru merasa kesepian?" Tanya ku dengan penuh emosi.
"Sayang, kemarin aku khilaf sayang.. Tolong maafkan aku. Aku hanya mencintai kamu tidak ada wanita lain di hati ini selain kamu"
"Jika kamu benar mencintaiku, jelas kamu tidak akan pernah melakukan penghianatan itu kepadaku. Kamu pasti akan menjaga cinta kamu untukku dan kesucian janji pernikahan kita" Ujar ku menitikkan air mata.
"Sayang iya aku tahu itu salah. Karena itu aku minta maaf. Aku janji sayang setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan Susan" Ujar nya.
"Apa?" Aku kaget mendengar ucapan Tian.
Bukannya bahagia, aku malah menjadi kepikiran dengan ucapan Tian barusan. Dimana ketika anak itu sudah lahir ia akan menceraikan Susan. Terus bagaimana dengan nasib anak itu yang kehilangan ayahnya? Jelas dia juga membutuhkan seorang ayah sebagai panutannya.
"Kenapa kamu mudah sekali mengucapkan hal seperti itu? Apa kamu tidak kasihan dengan anakmu? Bagaimanapun dia tidak bersalah. Jika kamu sudah bercerai sama Susan, anak itu akan kehilangan ayahnya"
"Aku akan menceraikan Susa bukan berarti aku tidak bertanggung jawab atas anak itu. Aku akan tetap memberikan nafkah kepada anakku dan juga kehidupan yang layak untuk anakku" Jelas Tian.
"Ini semua aku lakukan demi kamu. Karena aku tidak mau kehilangan kamu. Dan Sofi juga sangat membutuhkan kamu sebagai mamanya" Jelas Tian lagi.
"Entah lah Tian. Untuk saat ini aku belum bisa memberikan keputusan. Karena hati dan pikiranku belum sejalan. Jadi aku masih butuh waktu untuk memikirkan semua" Ujar ku.
"Iya aku mengerti dan aku tidak memaksamu untuk memberikan keputusan secepatnya kepadaku"
"Dan tolong izinkan aku untuk tetap tinggal bersama kedua orang tuaku sementara waktu di sini. Karena aku masih butuh waktu. Dan lebih lagi di rumah itu masih ada Susan. Aku benar-benar belum siap bertemu dengan kalian. Jika melihat kamu bersama Susan kejadian yang sangat menyakitkan itu kembali berputar di layar ingatanku" Ujar ku lagi.
"Iya sayang, aku akan mengizinkan kamu tetap tinggal bersama kedua orang tuamu untuk sementara waktu. Aku tidak mau memaksa kamu untuk mengikuti kehendak ku. Karena aku mengerti betapa kecewanya hati kamu saat ini. Aku akan memberimu waktu sebanyak mungkin dan aku akan setia menunggunya. Dan jika nanti kamu pulang ke rumah, aku pasti kan Susan akan pindah ke rumah yang telah aku belikan untuknya. Agar kamu merasa nyaman seperti dahulu saat berada di rumah kita" Jelas Tian.
Aku tidak memberi respon apapun atas ucapan Tian barusan karena aku bingung harus berkata apa.
***
"Seperti nya seru sekali bermain nya nih" Ujar ku melihat mama dan Sofi tertawa lepas bermain boneka.
"Eh mama, ia nih ma. Ternyata nenek juga punya banyak boneka di rumah ini" Celoteh Sofi yang memang baru pertama kalinya datang ke rumah kedua orang tua ku.
"Iya ini boneka untuk cucu-cucu nenek yang sering bermain di rumah nenek. Sofi sih gak pernah datang ke rumah nenek. Dan ini baru kali pertama nya Sofi ke sini" Ujar mama ku.
"Iya nih nek, Sofi emang gak pernah datang ke rumah neneknya"
Yah bagaimana bisa aku membawa putri sambung ku itu berkunjung ke rumah kedua orang tuaku. Di mana dari awal pernikahan selalu ada saja masalah yang menimpa di keluargaku.
Dari awal pernikahan, aku lagi sibukkan dengan kesembuhan Tian dari narkobanya. Setelah dia sembuh dan aku sedang hamil maka kandunganku yang bermasalah. Sehingga aku tidak diperbolehkan banyak bergerak.
Setelah melahirkan Raffa, Raffa pun mengalami penyakit yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan. Sehingga aku harus fokus di rumah sakit untuk menjaganya. Maka dari itulah aku tidak sempat membawa putri sambung ku itu berkunjung ke rumah kedua orang tuaku. Terlebih setelah Raffa tiada, malah aku mengetahui Tian berselingkuh dengan Susan sehingga mengakibatkan Susan hamil dan pada akhirnya mereka menikah secara siri.
Begitu banyak cobaan yang ku alami di dalam rumah tanggaku. Mungkin karena Allah tahu aku mampu melewati semua ini, maka Ia memberikan cobaan sebanyak ini kepadaku.
Dan aku harus bisa menghadapi semua ini dengan sabar dan ikhlas. Karena setelah ada hujan badai pasti ada pelangi yang indah setelah nya.
__ADS_1
Itulah kata mutiara motivasi yang selalu ku gunakan untuk menguatkan diriku yang sedang rapuh ini.