
Susan sudah meminta maaf kepada Sofi dan berjanji akan berubah untuk bersikap baik kepada putri sambung nya itu. Meski dengan berat hati, Sofi pun setuju dan memaafkan kesalahan Susan. Yah bagaimana pun tidak suka nya Susan kepada anak itu, tetap saja anak itu adalah putri dari mendiang kakak nya. Jadi tetap ada rasa sayang di hati nya meski sedikit.
Tok.... Tok... Tok...
Kamar pintu Sofi di ketuk. Susan membuka pintu kamar gadis itu.
"Hallo sayang, ini mama bawain susu hangat untuk kamu. Kamu minum dulu ya sebelum tidur" Ujar Susan memberikan segelas susu kepada putri sambung nya itu.
Meski dengan hati yang masih di landa ketakutan, gadis itu pun bangun dari rebahan nya. Yah rencana nya dia sudah akan memejamkan mata dan larut dalam mimpi nya. Tapi itu semua tidak jadi karena kedatangan Susan yang memberikan susu hangat untuk nya.
Sofi mengambil segelas susu yang di berikan oleh Susan tadi. Dan meneguk nya hingga habis.
"Pinter anak mama, sekarang kamu istirahat ya" Ujar Susan keluar dari kamar Sofi.
Saat sudah tiba di depan pintu kamar Sofi, dan hendak kembali ke dapur. Tiba-tiba perut nya terasa nyeri. Susan memegang perut nya yang terasa nyeri itu.
"Aduh perut ku kenapa kembali nyeri seperti ini sih?" Ujar nya sambil terus memegang perut nya yang nyerinya semakin terasa dan kuat.
"Ya ampun, aduh" Rintih nya lagi.
Susan terus merintis kesakitan gelas yang di bawa nya tadi seketika jatuh ke lantai membuat suara pecahan nya terdengar hingga ke kamar Tian.
Sontak mendengar itu membuat Tian yang sibuk dengan laptopnya kaget dan langsung berhamburan ke luar untuk melihat keadaan.
"Susan, kamu kenapa?" Tanya Tian saat tiba di dekat dengan Susan yang berada di samping tangga karena ingin turun kelantai bawah.
"Aduh Tian, perut ku merasa nyeri sekali. Bantu aku Tian. Aku tidak bisa menahan nya" Ujar Susan terus saja meringis kesakitan sambil memegang perut nya.
"Ya sudah ayo kita ke rumah sakit. Aku ambil kunci mobil nya dulu ya" Ujar Tian langsung berlari menuju kamar nya untuk mengambil kunci mobil nya dan juga jaket nya.
"Bik, tolong jagain Sofi ya. Aku mau membawa Susan ke rumah sakit. Perut nya kembali nyeri" Ujar Tian saat berpas-pasan dengan bik Ina saat mereka ingin keluar dari rumah nya.
"Baik pak" Jawab wanita patuh baya itu.
"Aduh, ada apa lagi dengan buk Susan. Apa mau melahirkan ya?" Batin bik Ina bertanya-tanya.
Tian langsung pergi melaju dengan mobil nya membelah jalan raya menuju ke rumah sakit.
***
"Suster, sus tolong sus" Ujar Tian masuk ke rumah sakit tersebut. Beberapa suster pun langsung membawa tempat tidur pasien untuk Susan.
Susan di larikan ke ruangan IGD. Tian tentu dengan gelisah menunggu di depan pintu IGD itu.
"Tian, bagaimana keadaan Susan?" Tanya mama Susan saat tiba di sana.
"Belum tahu ma. Dokter masih di dalam memeriksa keadaan nya"
"Ya ampun kok bisa sih dia seperti ini? Apa dia mau melahirkan ya?" Tanya mama Susan.
"Gak mungkin ma, usia kandungan Susan baru tujuh bulan"
"Iya, siapa tahu anak nya mau keluar saat usia nya tujuh bulan. Ada juga lo orang yang lahiran dengan usia kandungan nya segitu" Jawab mama Susan lagi.
"Aku gak tahu ma, yang jelas saat ini kita tunggu saja hasil pemeriksaan dari dokter di dalam"
"Tian, orang tua mu sudah di hubungi?"
"Belum ma"
"Ayo cepat di hubungi. Walau bagaimana pun mereka itu mertua nya Susan. Dan bayi yang ada di dalam kandungan nya itu adalah cucu mereka. Mereka harus tahu perkembangan nya"
"Iya ma, sebentar aku akan kabari kepada mereka" Tian merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel dan menghubungi ke dua orang tua nya.
***
"Ada apa pa?" Tanya Mama Tian saat melihat raut wajah serius di suami nya setelah lelaki paruh baya itu mengakhiri panggilan nya.
"Ini lo ma, si Tian tadi telfon kata nya Susan masuk ke rumah sakit. Perut nya tiba-tiba nyeri. Apa dia mau melahirkan ya?"
"Mau melahirkan gimana? Usia kandungan nya saja baru tujuh bulan. Tapi bisa jadi sih dia mau melahirkan anak yang prematur"
Papa Tian hanya diam mendengar ocehan dari istri nya itu.
"Itu sih karna untuk dia ya. Karena telah merebut kebahagiaan keluarga orang ya seperti itu lah jadi nya"
"Ya ampun mama, kok gitu sih ngomong nya? Kasihan Susan lo ma dia sedang menanggung sakit di sana" Nasehat papa nya.
"Itu sih derita dia pa.. Ngapain coba hidup jadi pelakor. Coba hidup nya itu menjadi wanita baik-baik, pasti tidak akan menderita seperti ini" Ujar mama nya lagi dengan penuh rasa emosi di hati nya.
"Ya ampun ma, coba istighfar. Kasihan Susan ma, seharus nya mama mendoakan dia. Bukan malah mengatakan hal yang tidak-tidak seperti ini"
"Terserah papa ah, mama capek mau tidur"
"Lo kok tidur ma"
"Terus mau apa? Ke rumah sakit jengukin menantu yang pelakor itu. Besok aja hari juga sudah malam" Ujar mama Tian langsung pergi menuju kamar nya.
Papa Tian hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat tingkah istri nya itu. Sungguh wanita paruh baya itu sangat keras kepala dan membenci menantu siri nya itu.
***
"Dok, gimana keadaan istri saya?" Tanya Tian saat melihat dokter keluar dari ruangan IGD itu.
"Bapak suami nya?"
"Iya dok"
"Jika begitu, mari ikut saya ke ruangan untuk menjelaskan tentang kondisi istri bapak" Ujar dokter tadi meminta Tian untuk pergi ke ruangan nya.
"Dok, apa Susan sudah bisa di jenguk"
"Oh silahkan buk. Tapi saat ini buk Susan sedang beristirahat karena tadi kami kasih obat penenang untuk nya" Jelas dokter tadi lagi.
"Ma, titip Susan ya, aku mau pergi ke ruangan dokter sebentar"
"Iya" Jawab wanita paruh baya itu langsung masuk ke ruangan IGD itu.
***
"Dok, apa yang terjadi sebenar nya kepada istri saya? Dan bagaimana kondisi bayi nya? Apa baik-baik saja?"
"Nah itu dia pak, dari hasil pemeriksaan saya miom yang di derita oleh istri bapak seperti nya semakin membesar. Itu lah kenapa dia merasa nyeri hebat di perut bagian bawah nya"
"Terus apa yang harus kita lakukan dok. Apa anak saya baik-baik saja?"
"Anak bapak baik-baik saja. Hanya saja karena miom nya itu semakin membesar membuat ruang gerak janin nya bergerak dan menganggu perkembangan bayi nya. Dan saya saran kan untuk melakukan operasi untuk mengeluarkan miom tersebut tapi janin nya akan tetap kita biarkan di rahim ibu Susan karena bayi tersebut belum waktu nya untuk di lahirkan. Berat nya masih cukup" Jelas dokter itu lagi.
"Lakukan saja yang terbaik menurut dokter. Saya akan membayar berapa pun demi keselamatan istri dan anak saya" Ujar Tian lagi.
"Baik lah pak, kita akan secepat nya melakukan operasi nya. Dan ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani. Tolong bapak ke administrasi untuk menandatangani beberapa berkas dan melunasi biayanya"
"Baik dok, terima kasih" Jawab Tian langsung pergi menuju ke tempat yang di minta oleh dokter tadi.
__ADS_1
***
"Tian, bagaimana keadaan Susan? Apa kata dokter tadi" Tanya mama Susan saat melihat Tian kembali ke ruangan IGD nya.
"Dokter bilang sakit nyeri yang di alami oleh Susan itu karena miom nya semakin membesar ma. Jadi Susan harus segera di operasi untuk mengeluarkan miom nya"
"Terus bayi nya bagaimana?"
"Bayi nya akan tetap berada di rahim Susan ma. Operasi itu di lakukan hanya untuk mengeluarkan miom nya saja" Jelas Tian lagi.
"Ya Allah, kasihan sekali kamu nak" Ujar mama Susan mengelus lembut rambut putri nya itu yang masih tertidur lelap.
"Ini bagaimana sih Tian. Kok bisa miom Susan berkembang seperti ini? Bukan kah kata dokter kemaren itu miom nya tidak terlalu parah dan masih kecil sehingga tidak bisa menyebab kan pengaruh kepada Susan dan janin nya"
"Aku juga gak ngerti ma. Yang jelas ini lah yang terjadi saat ini. Nama nya juga penyakit ma, dokter hanya bisa memprediksi sedangkan yang menentukan segala nya adalah yang di atas" Jawab Tian dengan apa ada nya.
"Iya kamu benar Tian. Semoga saja operasi nya berjalan dengan lancar Susan dan juga bayi nya bisa di selamatkan"
"Aamiin"
"Oh ya apa kamu sudah mengabari kedua orang tua mu? Apa mereka akan datang ke sini?"
"Sudah ma, mungkin besok mereka akan datang ke sini"
"Syukur lah jika begitu"
"Ma, aku titip Susan dulu ya. Aku mau pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaian" Ujar Tian.
"Iya Tian kamu hati-hati di jalan ya"
***
"Tian" Tegur ku saat melihat Tian dan gadis kecil itu berdiri di ambang pintu rumah ku.
"Maaf ya Fitri menganggu mu pagi-pagi begini"
"Oh gak menganggu kok, ya sudah ayo masuk dulu"
"Gak perlu Fit. Aku sedang buru-buru. Aku datang ke sini hanya ingin menitip Sofi bersama mu lagi. Meski ini belum jadwal nya"
"Gak masalah kok Tian, sku malahan senang jika Sofi terus-terusan berada di rumah ini"
"Yah, terima kasih karena kamu sudah mau membantuku untuk menjaga Sofi" Ujar Tian dengan raut wajah yang sedih.
"Enang nya ada apa Tian?" Tanya ku penasaran.
Tian mahalan nafas beratnya untuk menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Susan.
"Saat ini Susan sedang berada di rumah sakit karena penyakit miom nya kini semakin membesar. Karena itu tidak ada yang menjaga Sofi di rumah. Kasihan dia tinggal sendiri dan hanya ditemani dengan bik Ina. Dan dia meminta aku untuk mengantarnya ke sini" Jelas Tian mengakhiri cerita sedihnya itu.
"Ya ampun Tian. Semoga Susan dan bayi nya baik-baik saja ya"
"Aamiin makasih ya doa nya Fit. Dan pada hari ini Susan akan melakukan operasi nya untuk mengangkat penyakit miom nya itu" Jelas Tian lagi.
"Semoga operasi nya berjalan lancar ya Tian"
"Aamiin makasih ya Fit. Ya sudah, aku titip Sofi di sini ya.. Aku harus segera ke rumah sakit. Sebentar lagi operasi Susan akan di laksanakan"
"Iya hati-hati di jalan" Ujar ku lagi.
"Ayo sayang kita masuk" Ajak ku kepada putri ku itu.
Yah meski kami sudah berpisah, tetap saja Sofi ku anggap sebagai anak ku sendiri..
***
Dengan tatapan tidak senang, mama Tian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Tian kemana?" Tanya papa Tian kepada mama Susan.
"Tian pulang sebentar mau melihat keadaan Sofi dan mengantar nya ke rumah Fitri"
"Tian, Tian, ngapain juga harus menikahi wanita penyakitan seperti ini. Coba saja dia masih bersama Fitri, pasti tidak akan seperti ini" Ujar mama Tian dengan senyuman sinis nya.
"Ma, gak baik berbicara seperti itu. Susan saat ini sendang melawan sakit nya. Jika Susan dengar pasti dia sedih" Ujar papa Tian lagi.
"Lo, ngapain juga sedih? Bukan nya ini karma untuk nya. Nikmati saja karma ini"
"Buk, saya tahu anak saya salah. Tapi semua nya sudah terjadi. Dan kita seharus nya menerima kenyataan ini" Ujar mama Susan.
"Saya gak bisa menerima semua ini. Kamu sebagai orang tua nya, harus nya menasehati anak mu ini agar tidak menggoda putra ku. Apa kamu gak kepikiran tentang perasaan Sofi? Padahal kamu juga tahu Sofi itu cucu mu. Dia baru saja menikmati kebahagiaan bersama mama baru nya. Malah ada si pelakor ini dan merebut segala kebahagiaan nya" Ujar mama Tian lagi.
"Sudah lah ma, jangan di bahas semua yang sudah lepas. Saat ini kita fokus kepada kesembuhan Susan dan cucu kita Ini rumah sakit ma. Jangan membuat keributan" Nasehat papa Tian lagi.
Mama Tian menatap sinis kepada suaminya itu karena suaminya itu membela si pelakor daripada dirinya.
"Kapan operasi nya akan di lakukan?"
"Satu jam ke depan pak" Jawab mama Susan lagi.
Papa Tian hanya mengangguk mendengar penjelasan dari besan nya itu.
***
"Fitri, siapa yang datang pagi-pagi ini?" Tanya mamaku.
"Tian dan Sofi ma" Jawabku duduk di meja makan kembali di mana saat itu kami sedang sarapan bersama.
"Terus Sofi nya mana?" Tanya papa ku pula.
"Lagi ke kamarku pa, meletakkan boneka kesayangannya yang ia bawa tadi"
"Tapi bukankah baru kemarin ya Sofi pulang ke rumah nya di sana. Apa gadis itu tidak betah tinggal di rumah itu?"
"Bukan begitu ma, hanya saja saat ini Susan masuk ke rumah sakit lagi. Tadi kata Susan miom yang di derita oleh nya semakin membesar dan harus segera di tindak lanjuti dengan jalan operasi" Jelas ku lagi.
"Ya ampun, semoga Susan dan bayi nya baik-baik saja ya" Ujar papa ku.
"Aamiin, kita doa kan sama-sama semoga semua nya baik-baik saja" Ujar ku lagi.
"Ma" Tegur Sofi saat dia tiba di meja makan.
"Sayang, sini sarapan dulu. Mau sarapan roti atau nasi goreng?" Tanya ku kepada putri ku itu.
"Roti aja ma"
"Oke selai coklat kan seperti biasa"
Sofi menjawab dengan senyuman dan mengangguk.
***
"Buk Fitri" Tegur pak Rendi saat kami bertemu di sekolah tempat kami mengajar.
__ADS_1
"Iya pak Rendi"
"Saya sudah memberi tahu kepada kedua orang tua saya untuk melamar ibu. Orang tua saya setuju dan minggu depan mereka akan datang ke rumah ibu untuk melakukan acara lamaran" Jelas pak Rendi lagi.
"Baik lah pak, saya akan kabari kepada keluarga saya agar nanti nya mereka bisa bersiap-siap untuk lamaran itu"
"Baik lah buk, saya mau masuk ke kelas dulu untuk mengajar"
"Baik pak"
***
"Ma, pa baru tiba?" Tanya Tian kepada kedua orang tua nya saat melihat pasangan paruh baya itu ada di ruangan Susan.
"Sudah sedari tadi kok" Jawab mama nya dengan ketus.
"Jadi cucu ku kamu titipkan bersama Fitri?"
"Iya ma. Sofi yang meminta untuk di antarkan ke sana. Lagian aku akan sibuk di rumah sakit dan di kantor nanti tidak ada yang menemaninya di rumah"
"Ya, ya, ya untung saja mantan menantu ku itu baik hati nya dan masih mau merawat Sofi meski kalian sudah berpisah" Sindir mama nya lagi.
"Aku juga heran deh, kenapa ya Sofi itu malah betah nya bersama Fitri dari pada Susan? Anak kecil saja tahu mana yang baik dan mana yang buruk"
"Ma, sudah ya jangan ngomong seperti itu lagi" Nasehat papa Tian lagi.
"Lo benar kan pa? Lihat saja penyakit ini merupakan karma nya. Sebenarnya mama juga gak mau datang ke sini. Papa mu saja yang terus saja memaksa mama untuk datang ke sini" Jelas mama nya lagi.
Tian dan papa nya hanya bisa menghela napas berat mereka mendengar perkataan mama nya itu yang memang sangat membenci Susan.
"Udah ah lebih baik mama keluar mau mencari udara segar" Wanita paruh baya itu langsung pergi keluar ruangan itu.
"Maaf kan istri saya ya buk. Saat ini dia sedang kecewa dengan sikap anak-anak kita. Berikan dia waktu untuk bisa menerima semua ini" Ujar papa Tian lagi kepada mama Susan.
"Iya pak, saya juga ngerti. Saya juga tidak memaksa nya untuk bisa menerima Susan secepat itu" Jawab mama Susan lagi.
***
"Lagi ngapain sih sayang?" Tanya ku saat melihat Sofi melukis di ruang tamu.
"Ini Sofi sedang melukis ma" Sofi memperlihatkan lukisan nya.
"Wah bagus nya. Seperti nya kamu mempunyai bakat sebagai seniman" Ujar ku.
"Iya ma, Sofi pengen menjadi pelukis terkenal"
"Meski Sofi cita-cita nya mau jadi pelukis terkenal, Sofi juga harus tetap belajar dengan rajinnya agar cita-cita Sofi itu bisa terwujud"
"Iya ma, doain Sofi ya agar cita-cita Sofi akan terwujud nantinya"
"Aamiin. Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu sayang"
"Terima kasih ya ma" Ujar Sofi sambil memelukku dengan erat.
"Sama-sama sayang" aku membalas pelukan Sofi dengan hangat nya dan mencium puncak kepala gadis kecil itu.
"Fitri, Sofi" Tegur mama ku duduk di samping ku.
"Eh mama"
"Seperti nya senang sekali"
"Iya ma, lihat deh hasil lukisan Sofi. Bagus ya"
Mama ku pun melihat lukisan Sofi dengan seksama.
"Iya untuk anak seusia kamu sih ini udah sangat bagus" Jawab mama ku.
"Iya nek, Sofi memang pengen jadi pelukis terkenal ketika sudah besar nanti" Ujat gadis kecil itu.
"Wah, hebat sekali cita-cita nya. Semoga terwujud ya sayang cita-cita mu"
"Aamiin" Jawab Sofi kembali melanjutkan lukisan nya.
"Ma, tadi di sekolah aku bertemu dengan pak Rendi. Pak Rendi sudah mengungkap kan bahwa dia sudah mengutarakan niat nya untuk taaruf dengan ku kepada kedua orang tua nya. Mereka setuju dan mereka akan datang ke rumah kita untuk melamar ku minggu depan"
"Oh, baik lah sebaiknya kita harus menghubungi saudara-saudara mu untuk melakukan rapat acara lamaran kamu. Apa-apa saja yang harus di siapkan nanti nya" Jawab mama ku.
"Kabari dong mereka melalui wa grup keluarga ya"
"Oke ma" Ujar ku langsung mengambil ponsel ku untuk mengabari saudara-saudara ku.
"Assalamualaikum, papa meminta kita berkumpul di rumah besok. Ada hal yang mau di bahas" Ujar ku melalui pesan di grup Wa keluarga ku.
"Waalaikumsalam. Mau membahas apa?" Balas kakak ku.
"Apa Fitri mau menikah lagi? Dengar-dengar kabar, Fitri sedang dekat dengan seorang ustad" Ujar abang ke dua ku.
"Apa iya? Kok aku gak tahu ya" Abang pertama ku menyempeli.
"Habis nya abang gak pernah berkunjung ke rumah sih. Maka nya gak tahu tentang perkembangan adik bungsu kita ini" Ujar abang ku yang nomor empat.
"Maklum lah, abang sedang sibuk mengurus bisnis kita di sini. Tapi jika benar Fitri akan menikah lagi dengan seorang ustad, aku orang yang paling pertama mendukung nya. Aku lebih suka dia menikah dengan ustad dari pada orang seperti waktu itu" Jawab abang ku yang pertama lagi.
"Sudah, sudah besok kita berkumpul di rumah papa untuk mengetahui apa yang sebenar nya yang di bahas" Ujar ku pula.
"Oke deh, kami akan datang ke sana. Lagian sudah lama juga kita gak ngumpul-ngumpul" Ujar abang ku yang ke tiga.
Kami pun mengakhiri chat kami di grup keluarga itu.
"Ma, papa belum ku kasih tahu tentang niat pak Rendi akan datang melamar minggu depan"
"Ha? Jadi papa mu belum tahu?"
"Belum ma, Aku lupa mau memberi tahu papa"
"Ya sudah kamu tenang aja ya. Biar mama yang kasih tahu sama papa mu nanti"
"Oh ya papa di mana sih ma? Dari tadi gak kelihatan"
"Lagi pergi ke rumah teman nya. Kata nya ada hal penting yang mau di bahas" Jawab mama ku.
"Oh gitu" Aku mengangguk mengerti.
"Ma, lihat deh lukisan nya sudah selesai" Ujar Sofi memperlihatkan hasil lukisan nya kepada ku.
"Wah, bagus sekali nak. Cantik sekali seperti orang yang membuat nya cantik" Puji ku.
"Makasih ya mama"
"Sama-sama sayang. Ya sudah hari juga sudah larut. Lebih baik kamu tidur ya, besok kan mau pergi sekolah nanti malah telat"
"Oke mama, Sofi akan ke kamar untuk tidur" Gadis kecil itu merapikan kembali alat-alat lukisan nya dan di bawa nya ke kamar kembali. Aku dan mama ku menatap kepergian gadis itu dengan senyuman di bibir.
__ADS_1