Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 67


__ADS_3

Tian merasa bersalah kepada aku dan Sofi dimana ia telah datang terlambat saat acara perlombaan melukis yang di adakan oleh sekolah nya Sofi.


***


"Assalamualaikum" Ujar Tian masuk ke dalam rumah yang kami tempati.


"Waalaikumsalam pak, eh bapak sudah pulang?" Ujar bik Ina menyambut kedatangan Tian yang pulang ke rumahnya.


"Bik, apa Fitri dan Sofi sudah pulang?" Tanya nya kepada wanita paruh baya itu.


"Sudah pak. Mereka ada di kamar nya masing-masing" Jawab bik Ina lagi.


"Terima kasih bik" Tian langsung berlari menuju ke kamar Sofi.


Tian mengetuk pintu kamar gadisnya itu ketika sudah tiba di depan pintu kamar Sofi.


"Sayang? Apa kamu ada di dalam?" Tanya Tian kembali mengetuk kamar putri nya itu.


Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar. Tidak mudah menyerah Tian pun kembali mengetuk pintu kamar putrinya itu.


"Sayang, apa masih marah sama papa? Papa minta maaf sayang" Ujar nya lagi.


Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam kamar putrinya itu. Sehingga Tian pun memutuskan untuk membuka pintu kamar Sofi untuk memastikan apakah Sofi ada di kamar atau tidak.


Terlihat gadis kecil itu sedang duduk sendiri di meja belajar nya. Ia tampak sedang mencoret-coret buku nya.


"Sayang" Tegur Tian mendekati putri kecilnya itu dengan hati-hati.


"Lagi ngapain sayang?" Tanya nya lagi.


Sofi hanya diam tidak memberi jawaban atas pertanyaan dari papa nya.


"Sayang, kenapa pertanyaan papa tidak di jawab?"


"Sayang, maaf kan papa ya nak. Jangan marah seperti ini dong sama papa. Papa janji papa tidak akan mengulangi lagi perbuatan papa. Papa akan berusaha untuk memperbaiki semuanya. Maafkan papa ya nak" Ujar nya lagi memohon. kepada putri kecilnya itu.


"Papa bohong, papa pasti akan melakukannya lagi. Karena papa tidak sayang sama Sofi. Papa lebih sayang sama tante Susan juga adik yang ada di dalam kandungannya" Ujar Sofi meluapkan isi hatinya yang kecewa terhadap papanya.


"Sayang kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Papa sangat sayang sama kamu. Karena kamu satu-satunya putri papa. Harta papa yang paling berharga di dunia ini"


"Bohong, jika papa sayang sama Sofi, kenapa tadi papa tidak datang di acara perlombaannya Sofi? Papa teman-temannya Sofi semuanya datang. Hanya papa Sofi yang tidak datang. padahal Sofi sangat berharap papa datang dan memberi semangat kepada Sofi" Ujar gadis kecil itu dengan menitipkan air mata. Karena rasa kecewa terhadap papanya.


"Iya sayang papa tahu, papa minta maaf dan papa janji papa aku memperbaiki semuanya. Papa akan menemani sofi dan mama Fitri di sini" Ujar Tian mencoba membujuk Sofi agar tidak marah lagi kepadanya.


"Benar papa akan menemani Sofi dan mama di sini?" Tanya gadis kecil itu minta kepastian dari papanya.


"Iya sayang, papa akan menemani Sofi dan juga mama Fitri. Dan besok kita akan pergi menghabiskan waktu bersama. Karena papa dengar Sofi telah mendapatkan juara dua saat perlombaan tadi. Jadi sebagai hadiahnya, kita akan menghabiskan waktu bersama. Karena papa sangat bangga kepada putri papa ini yang telah berhasil mendapatkan juara"


"Tante Susan gak ikut kan pa?"


"Iya enggak dong sayang, kita akan menghabiskan waktu bertiga saja. Sofi, mama dan juga papa" Ujar Tian lagi.


Putri kecilnya itu kembali tersenyum bahagia mendengar ucapan dari papanya.


"Asyik, kita akan jalan-jalan bersama lagi bertiga. Ini yang paling Sofi tunggu-tunggu. Jadi nggak sabar menunggu besok" Ujar gadis kecil itu dengan tersenyum ceria.


***


"Sayang" Tegur Tian saat melihatku duduk di atas tempat tidur dengan memainkan ponsel di tanganku.


Aku mengatakan kembali ponselku di atas nakas yang berbeda di samping tempat tidur dan menatap Tian dengan sinis.


Tian datang mendekatiku dan duduk di sampingku.


"Sayang aku mau mengajak kamu dan Sofi untuk menghabiskan waktu bersama besok sebagai permintaan maafku yang telah mengecewakan kalian tadi" Ucap Tian.


"Kamu jangan meminta maaf kepadaku dan jangan membujukku seperti itu. Harusnya kamu membujuk sofi dan meminta maaf kepadanya karena dia sangat kecewa atas ketidakhadiran kamu tadi"

__ADS_1


"Sudah kok, aku sudah menemuinya dan juga sudah minta maaf kepadanya. Dan dia juga sangat senang ketika aku menyampaikan rencana perjalanan kita besok sebagai ungkapan permintaan maaf aku dan juga merayakan keberhasilannya.. Karena telah mendapatkan juara dua di perlombaan tadi" Ucap Tan kepada ku.


Aku hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Tian tadi. Sejujurnya aku masih merasa kecewa dan sakit hati kepadanya.


"Malam ini aku akan menemani kamu dan Sofi di rumah. Sudah lama juga aku tidak bersama kalian semenjak Susan masuk ke rumah sakit"


Bukan nya senang mendengar rencana Tian karena mau menemani ku dan Sofi malam ini aku malah merasa aneh dan tidak nyaman karena dia mau tidur bersamaku.


"Kenapa raut wajah mu seperti itu? Apa kamu tidak senang aku berada di rumah?" Tanya nya.


"Jika boleh jujur, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini Tian. Kata-kata mu yang tidak akan meninggalkan Susan masih terdengar jelas di telinga ku. Rasa nya sakit Tian. Aku tidak bisa melupakan semua itu dengan mudah" Ucap ku sambil menitikkan air mata ku.


"Ya aku tahu jika saat ini Susan sedang sakit. Tapi aku hanyalah manusia biasa aku tidak sanggup untuk dimadu dan diduakan olehmu" Ujar ku lagi.


"Aku bisa menerimamu kembali karena kamu berjanji jika anak yang ada di dalam kandungan Susan itu telah lahir, kamu akan menceraikannya. Namun kenyataannya kamu tidak akan bisa menepati janjimu kepadaku. Karena kamu juga sudah berjanji kepada Susan kalau kamu tidak akan meninggalkannya dalam keadaan apapun. Artinya setelah anak itu lahir pun kamu tidak akan menceraikan Susan dan Susan akan tetap menjadi istrimu" Jelas ku lagi.


"Tian, aku di sini dan masih bertahan karena Sofi. Jika aku tidak memikirkan perasaan Sofi, aku sudah pergi dari rumah ini dan meninggalkanmu" Ucap ku dengan serius.


"Gak Fitri, aku sayang sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu" Ujar Tian terdengar memohon kepada ku.


"Kamu tidak mau kehilanganku, tapi kamu juga tidak bisa meninggalkan Susan. Jadi laki-laki jangan terlalu egois. Kamu tidak akan pernah bisa bersikap adil antara aku dan Susan" Ujar ku lagi.


"Gak aku akan berusaha bersikap adil kepada kalian berdua" Ucap Tian lagi penuh dengan keyakinan.


"Entah lah, kita lihat saja nanti. Jika jodoh kita masih panjang maka aku akan terus bertahan. Namun jika jodoh kita tidak panjang maka cukup sampai di sinilah hubungan kita" Ujar ku lagi.


***


"Wah, asyik kita pergi ke taman wahana" Ujar Sofi kegirangan. Yah hari ini kami mengajak Sofi untuk pergi ke wahana agar gadis kecil itu merasa bahagia dan tidak sedih lagi.


"Mama, papa ayo kita coba wahana komedi putar itu" Ajak Sofi kepada ku dan Tian. Kami pun pergi mengikuti langkah kaki mungil nya. Terlihat gadis kecil itu sangat bahagia dan senang dengan permainan itu.


"Sofi senang?" Tanya ku.


"Iya ma, Sofi senang sekali hari ini karena pada akhirnya kita bisa menghabiskan waktu bertiga" Ujar nya tersenyum ceria. Sudah lama aku tidak melihat senyuman yang penuh keceriaan yang terukir di bibir gadis itu.


Terdengar suara ponsel Tian berbunyi. Tian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang ada di dalamnya.


"Hallo" Ujar nya mengangkat ponsel nya yang berdering tadi.


"Hallo Tian, apa kamu bisa datang ke rumah. Susan dari tadi menangis terus dan tidak mau makan" Ujar mamanya Susan saat Tian telah mengangkat ponselnya.


"Aduh ma, gimana ya? Aku sedang membawa Sofi dan Fitri jalan-jalan. tidak mungkin aku mengantar mereka pulang atau pun meninggalkan mereka di sini" Jelas Tian terhadap situasinya saat ini.


"Aduh Tian, gimana dong? Dari tadi mama sudah membujuknya untuk berhenti menangis dan juga makan. Tapi dia sama sekali tidak mendengar apa yang mama bilang. Malahan dia semakin menangis karena memikirkan penyakitnya itu. Hanya kamu yang bisa menenangkan dia Tian. Tolong dong datang ke sini! Mama takut akan terjadi apa-apa sama Susan apalagi anak yang ada di dalam kandungannya" Ujar wanita paruh baya itu membujuk Tian agar bisa datang ke rumahnya.


"Aduh gimana ya ma. Aku sudah janji kepada Fitri dan juga Sofi bahwa hari ini aku akan menghabiskan waktu bersama mereka. Karena sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama"


"Hanya sebentar kok Tian. Nanti setelah Susan tenang, kamu boleh kok kembali bersama mereka. Dan menghabiskan waktu bersama lagi" Rayu wanita paruh baya itu.


"Tan tolong mama dong. Kasihan Susan dan juga anaknya" Tambah nya lagi.


"Iya ma, aku akan ke sana" Ujar Tian pada akhir nya.


Aku melihat Tian pergi keluar dari taman wahana itu.


"Mau kemana dia? Apa pergi ke rumah Susan lagi dan kembali membuat aku dan Sofi kecewa?" Batin ku menebak.


"Mama, kita naik yang itu yuk" Ajak Sofi lagi menunjuk ke arah permainan lainnya.


"Ayo sayang" Aku mengikuti langkah gadis itu agar dia tidak merasa sedih karena kembali di tingga oleh papa nya.


"Aduh, capek ya ma. Tapi Sofi senang sekali hari ini" Ujar nya duduk di kursi yang ada di taman wahana itu untuk menghilangkan rasa lelah nya karena telah banyak menjelajahi semua permainan yang ada di sana.


"Ma, dari tadi Sofi nggak melihat papa, papa ke mana ya?" Tanya nya mencoba mencari keberadaan papa nya.


"Oh papa, tadi katanya sih ke toilet Mungkin sebentar lagi akan tiba di sini ya" Ujar ku berbohong.

__ADS_1


"Kemana sih kamu Tian. Tidak salah lagi pasti kamu pergi ke rumah Susan" Batin ku. Aku merogoh tas yang aku bawa tadi untuk mencari ponselku agar bisa menghubungi Tian dan menanyakan di mana dia saat ini.


"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya. Mama mau ke toilet" Ujar ku berbohong.


Sofi mengangguk mengizinkanku pergi ke toilet. aku menjauh dari Sofi agar Sofi tidak mendengarkan apa yang akan aku bicarakan kepada Tia nantinya. Karena aku tidak mau anak sambung ku itu kembali merasa kecewa kepada papanya.


"Hallo sayang" Ujar Tian mengangkat ponsel nya.


"Hallo Tian kamu di mana?"


"Maaf sayang aku sekarang di rumah Susan.. Dia terus menangis dan tidak mau makan sama sekali" Jelas Tian.


"Sudah ku duga" Batin ku.


"Oh, ternyata di rumah istri siri mu itu. Terus sekarang apa dia sudah baikan?" tanya aku dengan bermaksud menyindirnya.


"Sepertinya sekarang dia sudah baikan dan tidak menangis lagi seperti tadi. Juga dia sudah mau makan disuapi olehku"


Aku tertawa hambar mendengar penjelasan dari Tian.


"Sepertinya istri sirimu itu sangat membutuhkan kamu ya sampai-sampai makan pun dia tidak mau jika tidak disuapi olehmu. Dan jika jauh darimu dia akan menangis seperti anak kecil. Tapi anehnya apa dia itu tidak mempunyai pikiran bawa kamu juga mempunyai anak dan juga istri yang lain yang butuh perhatian darimu. Tidak hanya dia yang mau diperhatikan aku dan juga Sofi butuh perhatian dari kamu. aku juga heran sama kamu. Kenapa kamu sama sekali tidak bisa menolak permintaannya itu? Padahal kamu sudah janji kepada aku dan Sofi akan menghabiskan waktu bersama hari ini. Tapi nyatanya kamu meninggalkan kami begitu saja. Apakah kamu pikir kamu bisa adil jika sikapmu saja seperti ini kepada kami?"


Tian terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan yang aku berikan kepadanya.


"Kenapa diam? Kamu bingung kan mau menjelaskan bagaimana kepadaku. sudahlah Tian aku lelah dengan semua sikap kamu. Kamu hanya bisa mengukir janji tapi tidak bisa menepatinya" Ujarku dengan kecewa kepada suamiku itu.


"Terima kasih atas waktu dan kekecewaan yang kamu berikan kepada kami hari ini. Aku suka heran sama kamu, Kenapa kamu tidak memikirkan perasaan anakmu? Kenapa hanya aku yang memikirkan perasaan Sofi"


"Sayang aku benar-benar minta maaf. Kalian tunggu di sana sebentar. Aku akan menjemput kalian di sana"


"Nggak perlu dan nggak butuh dijemput olehmu. Kami bisa pulang sendiri" Ucap ku langsung menutup ponselku.


Aku kembali menghampiri Sofi yang dari tadi duduk di kursi yang ada di wahana itu.


"Sayang, ayo kita pulang" Ajak ku kepada putri sambung ku itu.


"Pulang? Papa di mana ma"


"Aduh, aku harus memberi alasan apa kepada Sofi? Jika aku mengatakan yang sebenarnya dia pasti akan merasakan kecewa lagi kepada papanya" Batin ku.


"Ma, di mana papa?" Tanyanya lagi kepadaku.


"Papa.... Papa" Ujar ku terbata-bata mencari alasan yang tepat untuk ku berikan kepada Sofi agar dia tidak merasa kecewa kepada papanya.


"Tadi papa bilang dia pergi ke kantor sebentar untuk menyelesaikan beberapa dokumen yang harus ditandatangani. karena harus di selesaikan hari ini juga" Ujarku berbohong kepada putri sambung ku itu.


Sofi tampak diam dan menunduk. Sepertinya gadis kecil itu mulai merasa kecewa lagi kepada papanya. Dimana Tian telah berjanji untuk menghabiskan waktu bersamanya. Namun pada akhirnya Tian pergi meninggalkan kami begitu saja tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.


"Sayang kok begitu sih ekspresi wajahnya?" Ujarku mengangkat wajah gadis itu agar menatap ku.


"Mama bohong, pasti papa pergi ke rumah tante Susan lagi kan?" Tebak gadis kecil itu yang memang benar adanya.


"Benar kan ma apa yang Sofi bilang? Pasti papa pergi ke rumah tante Susan lagi" Tanyanya lagi kepadaku.


"Gak kok sayang. Papa ke kantor sebentar tadi" Ucap ku lagi.


"Ya sudah Sofi jangan sedih seperti itu dong sayang. Kan masih ada mama yang menemani Sofi di sini. Ya sudah bagaimana kita beli es krim agar anak kesayangan mama ini tidak sedih lagi" Ucapkan mencoba merayu putriku itu agar kesedihannya bisa hilang meski hanya sebentar.


"Es krim? Beneran ma Sofi boleh makan es krim hari ini? Apa sofi boleh makan es krim sepuasnya?" tanya Gadis itu meminta kepastian dariku. Karena aku memberikan peraturan bahwa setiap minggu hanya boleh memakan es krim sehari saja yaitu pada hari Minggu. Dan hari ini adalah hari sabtu.


"Iya Sayang boleh kok untuk hari ini"


"Tapi besok Sofi juga boleh makan es krim lagi kan ma?"


"Iya boleh kok Sayang. Karena kemarin Sofi telah berhasil membuat mama bangga. Jadi selama dua hari dalam satu minggu ini, Sofi boleh makan es krim sepuasnya" Ujarku kepada putri sambung ku itu agar dia kembali ceria.


Raut wajah yang tadinya muram, kini kembali ceria. Aku merasa senang melihat putri kecilku itu kembali ceria seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2