
Aku masih berbaring dengan membelakangi suami ku itu. Hati ku masih terasa kesal kepada nya yang mengabaikan ku seperti itu.
Padahal, malam ini aku sudah sangat siap untuk di sen...tuh oleh suami ku itu. Namun, lihat lah tingkah nya yang hanya bisa mengabaikan ku dan tidak mengerti dengan apa maksud ku tadi.
"Sayang, sini deh kenapa sih emang nya? Kamu ngambek?" Ujar nya lagi.
Kembali ia menyentuh lengan ku. Membelai lengan ini hingga berjalan menyelusuri gunung kembar milik ku.
Tian menempelkan kepalanya di belakang kepala ku. Bisa ku rasakan napas nya yang hangat mengenai tengkuk ku yang membuat bulu kuduk ku kembali merinding.
Tangan nakal nya kini mulai meremas dengan lembut gunung kembar di balik kain lingeri tipis berwana hitam itu.
Sensasi lain ku rasakan saat Tian mulai melakukan aksi nya seperti itu.
"Aku mengerti maksud mu apa sayang, aku bisa memahami apa yang kamu mau" Bisik nya di telinga ku yang semakin membuat bulu kuduk ini merinding.
Aku berbalik menatap suami ku itu.
"Jika kamu tahu, Kenapa masih bertanya dan membuat aku kesal?" Tanya ku lagi.
Tian menghentikan aksi nya tadi.
"Aku hanya ingin melihat kamu ngambek seperti ini. Aku suka melihat bibir ini manyun seperti tadi. Terlihat imut sekali" Ujar nya lagi tersenyum manis.
Aku kembali berdecak kesal kepada Tian.
"Tian, Aku sayang sama kamu aku nggak mau marah-marah sama kamu. Tapi kamu yang buat aku kesal seperti tadi. Masa kamu nggak tahu sih maksud aku apa" Kata ku lagi. Tian tersenyum mendengarkan apa yang aku katakan ia menarik tubuhku agar aku semakin dekat dengannya.
"Sudah ku katakan aku mengerti apa maksud kamu sayang. Tapi apa kamu siap melakukan nya sekarang?" Tanya nya lagi.
"Lo kenapa? Karena aku siap aku memakai pakaian seperti ini. Kamu juga sudah memenuhi janji mu. Kamu tidak kecanduan lagi dan bukankah sudah menjadi kewajiban ku sebagai istri melayani suami nya" Kata ku lagi.
Tian kembali tersenyum memandang ku. Kini wajah nya semakin mendekat, dan mendekat kepada ku. Hingga bisa ku rasakan napas nya yang hangat kini mengenai pipi ku.
Kali ini aku tidak mau memejamkan mata ku lagi. Aku tidak mau di prank sama suami ku untuk yang ke dua kali nya.
Bagaimana tidak. Tadi aku sudah menunggu dan berharap hal ini akan terjadi dan memejamkan mata ku untuk menantikan ciuman pertama ku, malah laki-laki itu menggoda ku hingga membuat ku kembali kesal.
Dan kali ini aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku memang menunggu apa yang selanjutnya terjadi. Tapi aku masih membuka mata ku dengan lebar agar memastikan Tian tidak prank lagi.
Melihat wajah nya semakin dekat itu membuat napas ku berderu cepat. Jantung ku terasa berdetak cepat lagi.
Yah seperti di drakor ku tonton ketika adegan mau ciu...man, kita harus membuka sedikit bib*r kita. Dan itu lah yang ku lakukan.
Hingga pada akhir nya bib*r Tian dan aku kini menya...tu. Mengecup dengan lembut namun terasa hangat. Membuat aku terbuai dan memejamkan mata ku.
Tampa ku sadari aku merangkul leher suami ku itu dan menikmati cium....an pertama ini kepada cinta pertama ku.
Tian menghi....sap dan sesekali mengigit dengan lembut bib*r bagian bawah ku tak lupa jari nakal nya kini mulai menyelusuri setiap lekukan tub*h ini.
Puas bermain di bib*r kini Tian menyelusuri setiap kulit leh*r ku. Sungguh saat itu aku merasakan sensasi yang aneh yang sulit untuk ku artikan.
Rasa nya diri ini mulai terbang dan terbuai oleh sentuhan-sentuhan manja yang di berikan oleh Tian.
Ternyata aku salah. Tian sama sekali tidak mempunyai kelainan. Dia masih normal terbukti saat itu dia menyen...tuh ku dengan permainan-permainan nya.
Laki-laki yang sudah menjadi suami ku itu kini mengangkat kain tipis yang melindung tub*h ini dan membuka nya serta membuang nya ke segala arah.
Meski malu saat tub*h ini terekspos dengan sempurna, namun bisa ku atasi dengan buaian-buaian lembut dari Tian.
Napas kami kian memburu. Kembali Tian menancapkan cium*n hangat nya di bib*r ku. Menyapu bersih dan menyelusuri rongga mul*t ini dengan lid*h nya.
"Hmmm" Satu ******* berhasil keluar dari mulut ini. Memang ini kali pertama aku merasakan sensi yang luar bisa ini dan sungguh membuat diri ini melayang hingga ke langit ke tujuh.
Kini jari nakal nya turun menyelusuri bukit kembar yang mulai menge...ras. Dengan lembut Tian merem*s dan memainkan permen merah muda itu dengan jari nya.
Terasa terkena sentrum diri ini mendapati Tian melakukan hal itu kepada ku.
Aku semakin memejamkan mata ku dan semakin terbuai. Sungguh aku tidak ingin malam yang indah dan istimewa ini berlalu begitu cepat. Aku ingin merasakan sensasi demi sensasi lain yang di berikan oleh Tian kepada ku.
Setelah puas bermain dengan jemari nya, kini ia pun menyelusuri bukit kembar itu dengan mulut nya menghi...sap dan dan menji....lat dengan lidah nya membuat bulu roma ku semakin berdiri.
"Ah... " Desah*n itu keluar lagi dari mulut ini.
"Aku akan memberikan apa yang kamu mau sayang. Sejujurnya aku pun sudah lama tidak melakukan hal ini. Dan tentu saja aku sangat menginginkan hal ini lagi terjadi" Ucap nya kembali menghi....sap permen merah muda ku lagi.
Jari nakal nya kini mengeruak turun ke bawah membuka paha ku dan melepaskan kain tipis penutup bagian inti ku itu.
__ADS_1
Kini ia mulai memainkan bagian inti itu dengan jari nya. Mengacak-acak hingga terasa basah dan hangat di sana.
Kembali aku merasakan sensasi lain yang belum pernah aku rasakan. Sungguh memang benar kata orang bahwa ini lah rasa nya surga dunia.
Aku merasa ribuan kupu-kupu warna warni berterbangan mengelilingi diri ini di tambah dengan hamparan bunga tersusun rapi yang sangat membuat diri ini melayang-layang.
Puas bermain dengan jemari nya, kini Tian turun ke bawah dan bermain dengan lidah nya di sana.
Sungguh rasa nya aku ingin pingsan karena merasakan kenik...ma...tan yang sulit untuk di jelaskan. Aku semakin memejamkan mata ku. Menutup mulut ku agar tidak berteriak.
Tangan ini tidak bisa diam menggenggam dan menekan kepala Tian agar lebih dalam lagi ia bermain di sana.
"Hmmm..." Kembali aku merenguh nikmat.
Tian mengangkat kepala nya kembali ******* bib*r ini dengan lembut dan hangat.
Bisa ku rasakan ada benda yang keras di bawah sana berusaha masuk ke dalam tempat nya.
Aku membuka mata ku dengan lebar saat ku rasakan benda itu berusaha menerobos masuk.
"Kenapa? Sakit?" Tanya Tian.
Aku mengangguk.
"Gak apa-apa, lanjutkan saja" Ujar ku memberi izin kepada suami ku itu.
Mendengar itu Tian terus melancarkan aksi nya dengan menembus gawang yang telah basah itu.
Sekali, dua kali hingga ke tiga kali barang keras itu berhasil masuk ke dalam gawang itu.
Perih dan sakit kini menjadi satu yang ku rasakan di bawah sana.
Tian mulai beraksi dengan bergerak maju mundur. Bergerak dengan pelan namun pasti. Tak lupa jari nya kini menyelusuri setiap lekuk tubuh ini agar aku bisa menikmati permainan yang di berikan kepada ku dan membuat diri ini merasa rilek untuk menghilangkan rasa sakit yang ku rasakan saat ini.
Benar saja, semakin lama rasa nya kembali terasa nikmat. Hingga pada akhir nya Tian bergerak cepat dan kami berdua bermandikan keringat dan....
"Ah... " Kami berhasil melepaskan kenikmatan itu secara bersama-sama.
Napas kami berdua memburu. Terhengah-hengah lelah dengan berkerja malam ini. Sungguh memang sensasi pertama yang sangat indah malam ini.
"Terima kasih sayang" Ucap Tian mengecup kening ku. Aku tersenyum dan memeluk tubuh suami ku itu hingga pada akhir nya kami terlelap bersama-sama.
***
"Tian, tian. Ayo bangun sudah hampir pukul enam pagi. Bangun mandi dan solat subuh" Ujar ku lagi.
Tian menggosok-gosok mata nya yang terasa berat.
Melihat Tian sudah bangun aku pun langsung mengerjakan solat subuh ku.
"Pagi ini kita solat nya sendiri-sendiri ya sayang. Soal nya aku belum membuat sarapan untuk kalian. Maaf ya aku bangun nya telat" Ujarku.
"Iya gak apa-apa sayang. Ya sudah kamu solat aja dulu. Aku mau mandi dulu ya" Ucap Tian setuju.
Aku selesai mengerjakan solat ku saat Tian pun selesai membersihkan diri nya.
Aku langsung turun ke bawah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil ku.
***
"Sayang, ayo bangun nak, sudah pagi ini nanti kamu telat ke sekolah nya" Ujar ku membangun kan putri ku itu setelah selesai menyiapkan sarapan pagi kami.
Sofi masih terlelap dengan tidur nya. Aku mendekati dan duduk di samping putri ku yang masih tertidur pulas itu.
"Sayang, ayo bangun. Sudah pagi nak, ayo mandi terus sarapan" Ujar ku lagi dengan lembut.
Sama seperti papa nya gadis itu pun menggosok-gosok mata nya yang terasa berat.
"Ayo bangun sayang dan mandi ya" Titah ku lagi.
Sofi bangun dari tidur nya. Dengan langkah yang berat gadis kecil itu pun pergi menuju kamar mandi nya untuk bersih-bersih.
***
"Wah, Ferni sekarang suami mu sudah menjadi direktur utama ya di induk perusahaan itu" Tanya Putri teman arisan nya Ferni istri dari Budi abang nya Tian.
Yah pagi ini memang jadwal Ferni dan beberapa teman arisan nya untuk mengadakan kegiatan mingguan nya yaitu arisan mingguan.
__ADS_1
"Iya dong. Secara suami ku itu yang banyak berusaha untuk mengembangkan perusahaan itu. Karena itu mertua ku memberikan perusahaan itu kepada suami ku" Jelas Ferni dengan PD nya.
"Wah, semakin enak dong hidup kamu ya Ferni. Apa lagi sekarang sudah menjadi istri direktur utama" Suci ikut berbicara.
"Iya dong, itu lah nama nya istri pembawa berkah untuk suami nya ya. Lihat lah semenjak menikah dengan ku karir mas Budi semakin cemerlang" Ujar Ferni lagi.
"Tuh, coba kalian lihat, mobil baru ku. Yah itu lah yang mas Budi berikan kepada ku sebagai hadiah karena dia telah menjadi direktur utama" Jelas Ferni lagi dengan bangga nya. Ia menunjuk ke arah mobil mewah nya yang baru saja di beli nya kemaren bersama Budi.
"Wah iya ya, mobil mewah seperti itu memang pantas untuk kamu Ferni yang sebagai istri direktur utama nya" Tambah Suci lagi.
Ferni tersenyum bangga dengan pujian demi pujian yang di lontarkan oleh teman-teman arisan nya itu.
"Eh ya udah sambil menunggu teman-teman yang lain kita masuk ke dalam aja yuk pesan makanan. Kebetulan aku belum sarapan dari tadi pagi. Dan untuk hari ini kalian tenang saja. Aku yang akan traktir semua nya. Kalian boleh pesan apa saja dan sebanyak apa saja. Secara aku sekarang seorang istri direktur" Ujar Ferni lagi.
"Benar Ferni?" Tanya Putri meyakini.
"Iya dong. Masa aku bohong sih? Malu dong istri direktur utama berbohong" Ujar Ferni lagi.
"Wah asyik dong kita di traktir ayo kita masuk" Ujar Putri. Mereka pun masuk ke dalam cafe tempat mereka janjian untuk mengadakan arisan nya hari ini.
***
Aku duduk di depan meja rias ku untuk berdandan karena pagi ini aku akan mengantar Sofi ke sekolah nya.
Yah pagi ini Tian tidak bisa mengantar Sofi. Karena hari ini adalah hari pertamanya untuk bekerja di anak cabang perusahaan di Rumbai tempat Budi bekerja di sana.
Suami ku itu memang harus berangkat cepat pagi ini untuk mempelajari perusahaan yang kini menjadi milik nya itu.
Saat aku sibuk memakai bedak di wajah ku, pandangan ku teralihkan dengan tanda kepemilikan yang di berikan oleh Tian di leher ku.
Hal itu membuat aku menghentikan kegiatan ku. Kembali aku terbayang kejadian tadi malam yang membuat ku merasa sangat bahagia. Yah pada akhir nya aku tidak menjadi debu di kaca lagi. Karena kali ini suami ku telah menyentuh ku dan tidak mengabaikan ku lagi. Aku tersenyum mengingat peristiwa itu.
"Mama" Ujar Sofi membuka pintu kamar ku dan membuat lamunan ku tentang tadi malam buyar.
"Mama sudah siap?" Tanya putri ku itu masuk ke dalam kamar ku dan duduk di kasur ku menunggu aku siap-siap.
"Oh iya sayang sebentar ya nak. Mama dandan sebentar" Ucap ku lagi kembali melanjutkan kegiatan ku untuk bersiap-siap.
"Ayo sayang, mama sudah selesai" Ujar ku setelah selesai berdandan.
"Ayo ma" Ujar Sofi mengandeng tangan ku.
Kami pun berangkat menuju sekolah nya anak sambung ku itu.
***
"Dada mama... " Ujar Sofi melambaikan tangan nya setelah mencium punggung tangan ku saat kami sudah tiba di sekolah nya.
"Dada sayang ku. Belajar yang pintar ya nak" Ujar ku lagi tersenyum dan membalas lambaian tangan putri ku itu.
***
Budi duduk di kursi direktur utama dengan perasaan yang bangga di hati nya. Sungguh hal ini memang paling dia nanti-nanti kan selama ini.
"Akhir nya aku bisa memiliki kantor ini" Ujar nya sendiri.
"Enak saja papa mau menyerahkan kantor ini kepada Tian. Anak yang tidak berguna itu dan selalu membuat masalah mana bisa mendapat kan perusahaan ini" Ucap nya lagi.
"Hallo sayang" Ujar Budi saat mengangkat ponsel nya yang berdering.
"Hallo" Jawab Ferni.
"Kebetulan kamu telfon. Lihat lah sekarang aku sudah duduk di kursi utama direktur di perusahaan ini. Akhirnya perusahaan ini menjadi milik kita" Ujar Budi lagi.
"Iya sayang. Kamu semangat ya kerja nya" Ucap Ferni.
"Eh sayang nanti aku telfon lagi ya ini teman-teman arisan ku sudah datang" Tambah nya lagi.
"Oke sayang" Ucap Budi mengakhiri telfon nya.
***
"Suami mu Fer?" Tanya Putri.
"Yah dia memang begitu deh selalu meminta dukungan dan semangat dari istri nya ini" Ucap nya lagi
"Emang begitu ya?" Tanya Putri lagi.
__ADS_1
"Iya, jika aku tidak memberikan semangat kepada nya, pasti nanti dia gak semangat kerja nya. Kamu tahu sendiri lah Put, kalau mas Budi itu sangat mencintai ku. Jadi yah aku sangat berperan penting dalam hidup nya dan kesuksesan nya" Jelas Ferni lagi dengan bangga nya.