Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 25


__ADS_3

Tian menarik napas berat nya saat kami masuk ke dalam mobil. Bisa ku lihat raut wajah nya yang sulit untuk ku artikan saat itu.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya ku dengan lembut mencoba untuk mencari tahu apa yang ada di hati dan pikiran suami ku itu.


Lagi-lagi Tian menarik napas berat nya.


"Hanya sedikit kecewa dengan mas Budi" Ujar nya singkat.


Aku mengukir senyuman kepada suami ku untuk menenangkan hati nya yang gundah itu. Ku coba untuk memegang tangan nya.


"Sayang, kamu kecewa kenapa? Apa kamu menyesali keputusan kamu tadi?" Tanya ku dengan lembut.


"Gak, aku tidak menyesal dengan keputusan ku tadi sayang. Hanya saja mas Budi sangat perhitungan masalah harta warisan ini. Aku yakin papa dan mama pasti sedih dengan tingkah nya tadi" Jelas nya lagi menatap mata ku dengan tatapan sendu.


"Sayang, maaf ya aku juga yang menyarankan kamu untuk mengalah dengan mas Budi" Ujar ku lagi merasa tidak enak hati. Yah karena aku juga mengutarakan pendapat ku tadi agar Tian mengalah saja supaya tidak terjadi ke salah pahaman dalam keluarga nya.


"Tidak sayang" Ujar Tian menatap ku dengan rasa bersalah nya karena aku merasa tidak enak hati karena sebab aku lah Tian mengalah seperti ini.


"Kamu jangan merasa bersalah seperti ini. Aku tidak pernah menyalahkan mu dalam hal ini. Justru aku berterima kasih kepada mu karena kamu mau mengalah demi keutuhan keluarga ku. Jika kebanyakan istri bertengkar karena harta warisan dan meminta suami nya mepertahankan segala nya, justru kamu meminta ku untuk merela kan demi keutuhan keluarga kita" Jelas Tian lagi.


Aku tersenyum mendengar ucapan suami ku itu. Bangga di hati pun terasa saat suami ku berbesar hati menerima saran dari ku.


"Ya sudah, ayo kita pulang. Malam ini kita akan pergi makan malam di luar ya untu merayakan kepulang ku" Ajak Tian lagi.


"Gak perlu lah sayang kita makan di luar. Kita makan di rumah aja ya. Aku akan memasak makanan yang enak-enak untuk kita. Undang papa, mama mu dan juga papa dan mama ku untuk hadir ya" Pinta ku lagi.


Yah alang kah indah nya berkumpul bersama orang terkasih di rumah dari pada di luar. Bagi ku sih begitu tidak tahu bagi orang lain ya.


"Ya sudah terserah kamu saja. Sejujur nya aku mengajak kamu makan di luar itu agar kamu tidak kecapean memasak dan membereskan rumah nanti nya" Ujar Tian.


"Ya ampun sayang ku. Aku gak keberatan dan tidak merasa capek sama sekali kok untuk merayakan kepulangan mu. Kamu kan baru keluar alangkah baik nya kita di rumah saja dulu. Kapan-kapan kita baru makan malam di luar. Lagian kan ada bik Ina yang membatu ku di rumah" Ujar ku tersenyum lebar.


"Ya sudah aku turuti semua kemauan kamu. Apa pun itu asal membuat kamu bahagia" Ujar Tian lagi.


Aku mengukir senyuman di bibir ku mendengar persetujuan dari Tian.


"Ya sudah sekarang, temani aku ke pasar ya untuk membeli bahan-bahan masakan nya" Pinta ku lagi.


"Siap permaisuri ku" Jawab Tian langsung menyalakan mobil nya dan melaju membelah jalan raya.


***


"Mas, akhir nya induk perusahaan jatuh di tangan kamu mas. Aku senang banget karena kamu menjadi direktur utama di perusahaan itu" Ujar Ferni istri dari Budi saat mereka di dalam mobil menuju pulang ke rumah nya.


"Iya sayang. Aku juga senang banget karena sekarang kita mendapatkan induk perusahaan. Jelas ini lah yang aku harapkan selama ini. Enak saja papa menyerahkan induk perusahaan kepada Tian anak yang selalu berbuat ulah itu. Aku yang capek-capek membantu papa membangun perusahaan dari nol dan Tian yang menikmati hasil nya? Oh tentu saja tidak bisa" Jawab Budi lagi terus fokus menyetir mobil nya.


"Sayang, karena kamu sudah menjadi direktur utama, bagaimana kamu belikan aku mobil baru. Malu dong aku nya sama teman-teman ku masih memakai mobil butut ku itu. Apa kata mereka coba melihat istri direktur utama perusahaan yang terkenal di kota ini memakai mobil butut. Tidak hanya aku, kamu juga pasti malu jadi bahan omongan orang" Ujar Ferni mencoba merayu Budi bergelayut di lengan suami nya itu.


"Ya benar, kamu benar kamu dan aku sekarang juga pergi ke serum mobil. Kita akan membeli mobil baru untuk kita" Ujar Budi setuju dengan pendapat istri nya itu.


"Benar sayang?"


"Tentu saja benar. Secara aku sudah menjadi direktur utama" Ujar Budi lagi berbangga hati.


"Asyik... Terima kasih ya sayang" Ujar Ferni menancapkan ciuman di pipi sang suami nya.


"Dan malam ini kita akan makan malam di luar untuk merayakan kejayaan ku menjadi direktur utama"


"Iya sayang kita memang harus merayakan nya. Kamu jangan lupa undang beberapa teman bisnis mu agar mereka tahu siapa kamu sekarang bukan direktur di perusahaan kecil lagi melainkan induk perusahaan yang kamu pegang sekarang" Saran Ferni lagi.


"Kamu benar. Aku akan mengundang rekan kerja ku nanti"

__ADS_1


Ferni dan Budi sama-sama tersenyum puas menikmati keberhasilan mereka saat ini.


***


"Apa semua bahan yang kamu butuhkan sudah semua?" Tanya Tian kepada ku saat kami memasukan bahan-bahan yang ku beli tadi di dalam bagasi mobil.


"Sudah kok, aku rasa semua sudah aku beli. Oh ya kita jemput Sofi dulu ya sayang. Sudah waktu nya dia pulang" Ujar ku melirik jam tangan ku kemudian bergegas meninggalkan Tian yang masih berada di belang mobil.


"Tian, kenapa malah bengong? Ayo kita jemput putri kita" Ujar ku lagi.


Tian tersenyum sambil berjalan mendekati ku. Aku merasa heran dengan tingkah nya itu.


Tian memegang bahu ku dan menatap ku dengan senyuman manis nya.


"Kenapa?" Tanya ku merasa heran.


"Ternyata kamu mengetahui banyak tentang Sofi ya" Ujar nya.


"Lo kenapa? Bukan kah itu hal yang wajar secara aku ini adalah ibu sambung nya" Ujar ku lagi.


"Iya, memang wajar. Oleh karena itu aku mengucapkan terima kasih kepada kamu sayang karena selama ini kamu telah menyayangi Sofi selayak nya anak mu sendiri. Aku beruntung mempersunting kamu sebagai istri ku" Puji Tian lagi membuat hati ini kembali berbunga-bunga.


"Sama-sama sayang. Aku senang sekali telah menjadi bagian dalam keluarga kamu. Apa lagi ada Sofi dalam hidup kita. Rasa nya hidup ini semakin lengkap" Ujar ku tersenyum senang.


Tian ikut tersenyum mendengar apa yang aku katakan barusan.


"Ya sudah ayo kita pulang. Nanti Sofi malah kelamaan menunggu kita" Ujar ku lagi.


***


"Sayang, kenapa sih kamu tidak bisa menuntut lebih seperti mas Budi" Ujar Susi istri dari Rudi saat mereka sudah tiba di rumah nya.


"Setidak nya rumah yang di tempati oleh Tian sekarang menjadi milik mu. Bukan kah kamu abang nya Tian, harus nya itu mendapatkan lebih dong. Jika tidak bisa mendapatkan induk perusahaan kamu harus bisa mengambil alih rumah yang di tepati Tian sekarang. Secara rumah itu lebih besar dan mewah dari pada rumah kita" Ujar Susi yang terdengar serakah itu.


"Ih... Apa-apaan sih. Jelas dong aku gak mau. Dari kecil aku sudah terbiasa hidup mewah jadi mana bisa aku hidup miskin nanti nya" Ujar Susi yang memang berasal dari keluarga yang mapan itu.


"Nah maka nya aku gak bisa berkoar-koar lagi tentang masalah harta ini. Jika mas Budi bisa berkoar karena dia telah ikut campur sedikit banyak nya dalam mengembangkan perusahaan itu. Jadi wajar saja jika dia berkoar dan meminta hak nya di sana" Jelas Rudi lagi.


Susi hanya bisa menarik napas berat nya. Sejujurnya wanita itu masih merasa kesal dengan keputusan papa mertua nya yang tidak adil untuk keluarga nya.


"Sudah dong sayang, yang penting saat ini kita mendapatkan harta juga kan. Dan kamu masih bisa menikmati kekayaan dari harta yang papa berikan kepada kita" Jelas Rudi lagi mencoba untuk membujuk sang istri nya.


"Iya iya" Ujar Susi masih dengan wajah jutek nya.


***


Tiba lah acara makan malam bersama di rumah kami. Yah yang hadir hanya aku, Tian, papa dan mama ku dan juga papa dan mama Tian.


"Fitri, saat ini Tian sudah keluar dari panti rehabilitasi nya. Jadi bisa dong kalian melakukan hal yang sewajarnya sebagai suami istri" Ujar mama mertua ku memulai pembicaraan nya saat kami sedang makan malam.


"Iya Fit, Tian apa yang di ujar oleh mama nya kamu ini ada benar nya. Kapan lagi Sofi akan mendapatkan adik" Mama ku mulai menyempeli.


Aku dan Tian hanya saling pandang tidak bisa menjawab apa yang mereka katakan. Aku dan Tian hanya bisa tersenyum menanggapi nya.


"Iya ma, pasti kami akan melakukan hal itu kok. Mama sama papa tenang saja" Ujar Tian dengan sikap santai nya. Sedang kan aku hanya bisa tersenyum kecut.


"Aduh, apa malam ini akan menjadi malam yang bersejarah dalam hidup ku" Batin ku. Hati ini mulai gelisah membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.


"Apa Tian akan melakukan hal itu kepada ku malam ini? Sejujurnya aku juga ingin merasakan nya. Tapi, ada sedikit rasa takut di hati ini untuk melakukan nya. Secara ini hal yang pertama dalam hidup ku" Batin ku lagi.


"Fitri, kenapa? Kok kamu gelisah begitu? Berkeringat dingin pula lagi" Tegur mama ku melihat ku gelisah seperti itu.

__ADS_1


"Hmm.... Gak kok ma, hanya gerah saja" Ujar ku memberi alasan.


"Gerah? Gerah gimana? Kami gak merasa gerah kok" Jawab mama Tian.


Aku menelan saliva mendengar apa yang di katakan oleh mama Tian. Sejujurnya diri ini merasa penasaran dengan apa yang biasa nya suami istri lakukan. Tapi perasaan takut juga kini menghampiri diri ini.


Secara sudah setahun lebih aku di angguri oleh suami ku itu. Seperti debu di kaca yang tidak di sentuh sama sekali.


Yah sentuhan nya hanya cium-cium biasa lah ya seperti cium di jidat gitu. Tian masih memegang teguh pada janji nya kepada ibu ku dan juga keluarga ku.


Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa menahan seperti nafsu nya seperti itu. Justru terkadang aku mulai menginginkan hal itu. Dan di saat kami mulai memanas ia pun langsung menghindar dan pergi keluar dari kamar panas kami. Sungguh terkadang diri ini berpikir apakah Tian tidak mempunyai nafsu terhadap ku? Atau bagaimana? Entah lah aku tidak tahu yang tahu hanya lah diri nya sendiri.


"Sayang, sayang" Panggil Tian membuyarkan lamunan ku.


"Ha?" Ujar ku kaget.


"Ngapain sih kamu melamun seperti itu? Sedang memikirkan apa?" Tanya Tian berbisik kepada ku.


"Gak, bukan apa-apa" Ujar ku lagi.


"Apa sedang memikirkan apa yang di katakan oleh mama" Ujar Tian mulai menggoda ku.


"Pikir apa sih maksud nya?" Tanya ku lagi pura-pura tidak mengerti.


"Kura-kura dalam perahu" Canda Tian kepada ku lagi.


"Ah, apaan sih, udah ah lanjutin aja makan nya" Aku berlaga jutek.


Tian kembali tersenyum melihat tingkah ku.


***


"Mama" Sofi memanggil ku berlari menuruni tangga dan langsung menghampiri aku, mama dan papa serta kedua mertua ku juga Tian yang duduk di ruang keluarga. Yah kami hanya ngobrol seadanya saat itu ketika kami sudah selesai makan malam bersama.


"Ada apa sayang?" Ujar ku kepada putri sambung ku itu.


"Ma, Sofi baru ingat bahwa ada tugas di sekolah ma. Ajarin Sofi ya buat tugas ini" Ujar nya lagi kepada ku.


"Tugas? Tugas apa sayang?"


"Matematika ma. Sofi masih belum ngerti ma dengan pelajaran nya. Pakai cerita-cerita gitu ma soal nya" Jelas gadis kecil ku itu lagi.


"Mana sini mama lihat dulu" Ujar ku meminta buku tema yang di pegang oleh Sofi. Sofi pun memberikan buku tema nya kepada ku.


"Oh, soal cerita ini. Gampang cuma ini sayang. Ayo kita kerjakan di kamar mu saja ya" Ajak ku setelah selesai membaca soal-soal yang ada di buku tema sebagai tugas Sofi.


"Oke mama" Gadis kecil itu pun pergi meninggal kan kami. Dia pergi duluan meninggalkan ku.


"Fitri, apa Sofi bisa memahami pelajaran-pelajaran nya di sekolah" Tanya mama mertua ku.


"Alhamdulillah ma, Sofi anak pintar. Dia bisa kok memahami pelajaran yang aku ajarkan. Yah meski pun aku harus menjelaskan beberapa kali. Tapi tetap saja dia sudah mulai mengerti. Dan aku lihat nila nya di sekolah juga cukup memuaskan" Jelas ku lagi kepada mama mertua ku.


"Oh ya, bagus dong jika begitu. Mama turut senang mendengar nya. Yah mama terkadang merasa khawatir dengan cucu mama satu itu. Karena dokter bilang dia sangat sulit untuk menerima pelajaran nya. Tapi mendengar apa yang kamu katakan, mama jadi lega dan merasa senang sekali karena Sofi sekarang bisa memahami pelajaran nya" Ujar mama mertua ku lagi. Yah memang semenjak Tian masuk dalam panti rehabilitasi Sofi tinggal bersama ku. Jadi tumbuh kembangnya Sofi hanya aku yang tahu karena dia bersama ku selama dua puluh empat jam.


Dan mama mertua ku tidak tahu sama sekali bagaimana perkembangan cucu nya itu saat ini.


"Alhamdulillah" Jawab papa mertua ku pula.


"Ya ma, pa alhamdulillah. Kita juga gak bisa terlalu memaksakan anak untuk harus memahami pelajaran secepat itu. Pelan-pelan saja, jika di paksakan takut nya dia malah jadi pusing sendiri dan yah akan cepat bosan dengan pelajaran nya. Bahkan bisa-bisa dia membenci pelajaran nya nanti" Jelas ku. Yah begitu lah yang ku terapkan kepada Sofi. Terkadang aku mengajak nya bermain sambil belajar.


Bahkan terkadang aku terlebih dahulu mendengarkan curhat nya tentang hari-hari nya di sekolah untuk membangkitkan rasa semangat nya untuk belajar.

__ADS_1


Dan apa yang aku lakukan ada hasil nya. Terbukti Sofi sekarang bisa memahami pelajaran-pelajaran nya. Yah meski nilai nya hanya sedikit di atas rata-rata. Tapi tetap saja dia harus di hargai karena dia telah berusaha.


"Ya sudah aku tinggal dulu ya, mau ke atas kasihan Sofi sudah menunggu lama" Ujar ku berlalu meninggalkan keluarga ku itu.


__ADS_2