Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 33


__ADS_3

"Ini pak makanan nya" Ujar bik Ina menyerahkan makanan yang di bawa nya dari dapur kepada ku dan Tian saat ia sudah tiba di kamar ku.


"Terima kasih ya bik" Jawab Tian menyambut makanan yang di barikan oleh bik Ina itu.


Bik Ina pun keluar dari kamar ku dan melanjutkan pekerjaan nya di dapur.


"Sayang, ini kamu makan dulu. Setelah itu kamu minum obat ya sayang" Ujar Tian ingin menyuapi ku makan.


"Buka mulut nya sayang" Ujar nya lagi menyendok makanan nya dan menyodorkan nya di mulut ku.


Aku pun membuka mulut ku untuk menakan makanan yang di suapi oleh suami ku itu.


***


"Papa... Mama... " Ujar Sofi berteriak berlari kepada ku dan Tian dengan wajah yang bahagia saat ia membuka pintu kamar ku. Tak ketinggalan Susan pun ikut mengantar nya kepada aku dan Tian.


"Wah ternyata anak mama sudah pulang. Bagaimana jalan-jalan nya seru?" Tanya ku memeluk dan mencium puncak kepala anak sambung ku itu.


"Senang dong ma... Hari ini Sofi bahagia sekali karena Sofi dan tante Susan juga nenek pergi ke wahana hiburan ma. Banyak permainan yang kami mainkan di sana" Jelas gadis itu lagi.


"Wah, kedengaran nya seru" Ujar Tian.


"Iya pa, Seru sangat-sangat seru. Lain kali kita ke sana lagi ya pa" Ajak gadis kecil itu lagi.


"Oh tentu saja sayang, lain kali kita akan ke sana lagi ya" Ujar Tian.


"Ajak tante Susan juga ya pa"


"Iya sayang kita ajak tante Susan juga. Sekarang Sofi bersih-bersih dulu ya. Mama mau istirahat dulu" Ujar Tian.


"Mama kenapa pa? Apa mama sakit?" Tanya gadis kecil itu.


"Iya nak, mama sedang tidak enak bandan. Mama harus banyak istirahat" Jelas Tian lagi.


"Oke deh pa, Sofi ke kamar dulu ya. Tante temenin Sofi bersih-bersih ya" Ajak gadis itu lagi kepada tante nya.


Ternyata anak sambung ku itu sudah mulai dekat dengan tante nya. Yah mungkin dia sudah merasa nyaman dengan tante nya itu. Terlebih tante nya pandai mengambil hati nya.


"Ayo sayang kita ke kamar yuk" Ajak Susan lagi.


"Tian gak apa-apa kan aku bersama Sofi untuk bersih-bersih" Susan meminta izin kepada Tian.


"Iya gak apa-apa kok" Ujar Tian memberi izin kepada mantan adik ipar nya itu.


Susan tersenyum mendengar memberi izin kepada Susan.


"Ayo sayang, kita ke kamar mu" Ajak Susan lagi menggandeng tangan kecil ponakan nya itu.


***


"Tian" Tegur Susan saat melihat suami ku itu duduk di meja makan sendirian.


"Eh Susan. Kamu belum pulang?"


"Belum, aku baru selesai meniduri Sofi" Ujar Susan. Gadis seksi itu pun duduk di hadapan Tian. Bisa di lihat dari raut wajah suami ku itu sedang sedih dan banyak pikiran.


"Tian, ada apa? Apa ada masalah? Seperti nya kamu sedang sedih" Ujar Susan mulai mencari informasi. Yah siapa tahu dia bisa memanfaatkan keadaan untuk merayu atau menggoda Tian agar ia bisa jatuh ke dalam perangkapnya lagi.


Tian menghela nafas beratnya untuk menghilangkan beban pikiran yang ada di benaknya saat ini.


"Ada apa Tian? Apa yang terjadi?" Tanya Susan lagi.

__ADS_1


"Fitri, kandungan nya lemah. Dia tidak bisa melakukan aktifitas yang berat saat ini. Harus banyak-banyak istirahat" Jelas Tian.


Deg...


Susan membulat mata nya mendengar ucapan itu. Yah sungguh dia sangat senang mendengar kabar yang menurut nya bahagia itu.


"Wah, kandungan Fitri lemah, itu berarti Fitri tidak bisa melayani Tian dong. Dan jelas Tian akan berpuasa. Wah apa Tian sanggup menolak godaan ku jika hasrat nya tidak bisa terpenuhi oleh istri nya" Batin Susan tersenyum senang.


"Tapi Fitri nya baik-baik saja kan sama kandungan nya?" Tanya Susan terlihat simpati.


"Iya, Fitri dan kandungan nya baik-baik saja. Hanya saja yah untuk saat ini tidak boleh beraktivitas dulu yang berat-berat dan harus banyak istirahat begitulah yang dikatakan dokter tadi" Jelas Tian lagi.


Susan datang mendekati Tian. Dan memeluk tubuh yang kekar itu untuk menenangkan nya agar yah modus saja sih sebenar nya.


"Kamu yang sabar ya Tian. Semoga saja Fitri dan kandungan nya akan tetap baik-baik saja hingga bayi kalian lahir" Ujar nya.


Tian yang di peluk hanya diam tidak bisa menolak. Nama nya juga laki-laki tulen. Bagaimana pun nyaman rasa nya di peluk oleh perempuan apa lagi perempuan yang cantik dan seksi seperti Susan.


"Terima kasih ya Susan" Ujar Tian lagi.


"Iya sama-sama. Oh ya apa aku boleh gak membantu Fitri untuk merawat Sofi. Yah secara Fitri tidak bisa beraktivitas dulu kan, dia harus banyak istirahat. Jadi alangkah baiknya aku membantunya untuk merawat Sofi agar dia tidak terlalu merasa lelah nantinya ya. Kamu tahu sendiri kan pasti kan Sofi itu masih kecil dan belum bisa terlalu mengurut dirinya sendiri" Ujar Susan mulai merayu.


"Kamu benar juga San. Aku setuju dengan saran mu itu. Lagian Sofi juga terlihat merasa nyaman bersama kamu jadi ya kamu bisalah membantu Fitri untuk merawatnya" Ujar Tian lagi.


"Apa aku boleh tinggal di sini?" Tanya nya lagi.


Tian menatap heran kepada Susan mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut gadis itu.


"Yah bukan apa-apa sih, jika Aku tinggal di sini jadinya aku lebih bisa mengawasi dan merawat Sofi sepenuhnya. Secara namanya juga tinggal satu atap jadi ya bisa dua puluh empat jam deh sama dia" Jelas Susan mencari alasan yang bisa di terima oleh Tian.


"Emang kamu gak merasa keberatan merawat Sofi?"


"Ya ampun Tian, ngapain juga aku merasa keberatan untuk jagain Sofi atau merawat Sofi. Secara Sofi itu adalah keponakanku. Ya jelaslah aku gak merasa keberatan. Malahan aku merasa senang karena aku bisa dekat terus sama keponakanku itu. Secara dialah satu-satunya pengganti dari kakakku yang telah tiada" Ujar Susan dengan wajah yang di buat sedih.


"Aku rasa mama juga pasti nggak keberatan jika aku tinggal di sini. Secara dia juga senang jika aku terus-terusan berada di dekat sofi dan merawat Sofi. Jadi ya tidak masalah baginya jika aku tinggal di sini" Jelas Susan lagi mencoba meyakini Tian agar percaya dan mengizinkan dirinya untuk tinggal di sini. Agar ia lebih mudah untuk dekat dengan sofi dan juga menjalankan rencananya untuk merebut Tian dari tanganku.


Yah secara dia akan bertemu dengan Tian dua puluh empat jam. Dengan begitu dia bisa lebih leluasa untuk menggoda jika ada kesempatan ketika Tian sedang sendirian seperti saat ini.


Tian tampak berpikir untuk memberi keputusan apakah Ia setuju agar Susan tinggal keluarga kecil ku.


"Bagaimana Tian? Boleh ya Aku tinggal di sini agar aku bisa terus-terusan dekat dengan ponakanku satu itu. Aku mohon jangan melarang aku ya untuk tidak merawat ponakanku satu-satunya itu. Dan untuk masalah mama, aku akan menjelaskan kepadanya agar dia bisa mengerti. Tapi aku yakin kok mama pasti akan mengizinkan aku untuk tinggal di sini" Ujar Susan memohon kepada Tian.


"Ya sudah tidak hidup dan menjadi keputusanmu dan kamu tidak merasa keberatan aku setuju-setuju saja. Seperti yang ku katakan tadi, kamu boleh kok tinggal di sini. Mulai besok kamu boleh tinggal di sini untuk membantu Fitri merawat Sofi" Ujar Tian pada akhir nya setuju.


"Terima kasih ya Tian. Terima kasih telah mengizinkanku untuk terus-terusan bersama dengan ponakanku itu" Ujar Susan tersenyum senang dan puas karena Tian kini telah termakan rencana nya.


"Ya sudah aku pamit untuk pulang dulu ya sudah larut juga kasihan mama. Pasti juga dia akan menunggu aku pulang ke rumah dan besok aku mulai tinggal di sini"


"Apa tidak sebaiknya kamu nginap saja di sini malam ini. Karena sudah larut juga kan" Ujar Tian lagi.


"Aku sih mau-mau aja. Tapi aku harus bicara dulu sama mama dengan rencana ku untuk tinggal di sini" Jelas Susan lagi.


"Ya sudah, aku antari kamu pulang ya. Gak baik juga kamu ku biarkan pulang malam-malam" Ujar Tian menawarkan.


"Beneran gak apa-apa. Sudah larut lo ini. Aku bisa kok pulang sendirian. Lagian kan aku juga bawa mobil dan juga aku nggak enak sama Fitri jika kamu mengantarku pulang malam-malam seperti ini" Ujar Susan berlagak sok menolak.


"Gak apa-apa kok. Aku gak merasa keberatan. Lagian Fitri juga pasti mengerti. Dia juga pasti tidak tega jika kamu pulang sendiri malam-malam begini" Jelas Tian lagi.


"Ya sudah kalau kamu gak keberatan. Aku mau kok di antar pulang oleh mu" Ujar Susan.


"Memang itu lah yang ku harapkan" Batin Susan kembali tersenyum puas karena Tian Sudi untuk mengantarnya pulang malam ini.

__ADS_1


"Sebentar aku ke kamar dulu untuk mengatakan pada Fitri agar dia tidak khawatir nanti nya" Ujar Tian lagi berlalu dari hadapan Susan dan pergi menelusuri anak tangga untuk menuju kamar kami yang berada di lantai dua.


Susan hanya tersenyum puas melihat kepergian ke kamarnya itu.


"Bagus, ternyata setahap demi setahap Tian kini masuk ke dalam perangkap ku. Dengan masalah kandungan Fitri lemah ini justru membuat ku meraih jeckpot untuk semakin dekat dan dekat dengan apa yang seharus nya menjadi milik ku" Batin Susan lagi.


"Ayo San" Ajak Tian.


"Sudah memberi tahu Fitri?" Tanya Susan kepada Tian saat Tian kembali dari kamar nya.


"Dia sudah tidur. Gak tega untuk membangunkan nya" Ujar Tian lagi.


***


"Mama... Mama.... " Teriak Susan kegirangan saat telah tiba di rumah nya.


"Ada apa sih malam-malam begini kamu teriak-teriak? Lagian kamu dari mana sih Jam segini baru pulang?" Ujar wanita paruh baya itu.


"Ma, ada berita yang sangat membahagiakan untuk kita ma" Ujar Susan tersenyum senang.


"Berita apa sih? Pertanyaan mama tadi belum kamu jawab deh kamu dari mana sampai pulang selarut ini?"


"Aku dari rumah Tian dong ma. Ya aku pulang selarut ini karena aku bersama Sofi. Saat aku mengantar Sofi pulang ke rumahnya, aku melihat ada yang aneh di raut wajahnya Tian dan Fitri jadi ya aku berinisiatif lah untuk membantu Sofi untuk bersih-bersih dan bermain bersamanya hingga menidurinya" Jelas Susan.


"Mama tahu gak, ada masalah pada kandungannya Fitri. Di mana kandungan Fitri itu lemah dan dia tidak bisa beraktivitas yang berat-berat untuk saat ini. Jadi dia harus berada di tempat tidur saja. Jadi aku menggunakan kesempatan ini untuk mengambil hatinya Tian. Aku meminta izin kepadanya agar aku bisa tinggal di rumahnya dengan alasan untuk merawat Sofi karena Fitri saat ini tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Jadi aku berinisiatif untuk menawarkan jasa merawat Sofi agar aku bisa terus-terusan berada di dekat Sofi dan bisa merebut tian dari tangannya Fitri"


"Terus, apa Tian mengizinkan kamu untuk tinggal di sana?"


"Awal nya sih dia merasa keberatan. Jadi ya aku membujuk nya dan meyakini nya agar mengizinkan ku. Hingga pada akhirnya dia mengalah dan mengizinkan aku untuk tinggal bersamanya mulai besok. Dengan begitu aku bisa mempunyai banyak kesempatan untuk mengambil hatinya Tian dan mencoba untuk menggodanya agar dia masuk ke dalam perangkap kita ma. Dimana Tian itu memang seharusnya menjadi milik kita bukan Fitri" Ujar Susan tersenyum sinis membayangkan wajah ku.


"Bagus, kamu memang anak mama yang paling pintar dalam merebut dan menggoda suami orang. Memang Tian itu sudah seharusnya menjadi milik kita dan semua kekayaan yang ada pada Tian seharusnya jatuh ke tangan kita. Karena Santi telah banyak berkorban untuk dia selama ini. Kenapa harus Fitri yang mendapatkan dan menikmati semua kekayaan yang dimiliki Tian saat ini. Sungguh ini tidak adil untuk kita dan juga untuk Santi yang telah berada di alam lain. Mama nggak terima dengan semua ini. Oleh karena itu mama mendukung kamu untuk merebut kembali Tian agar menjadi milik kita" Ujar mama Susan mendukung sepenuh nya apa yang menjadi rencana putri nya itu.


"Tapi apa mama gak masalah jika tinggal sendirian di rumah ini?"


"Tentu saja tidak masalah. Demi merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita, mama nggak masalah sih tinggal sendirian di rumah ini" Ujar wanita paruh baya itu.


"Oke mama, doain aku ya semoga semua rencana kita berhasil"


"Tentu saja sayang, tentu mama akan selalu mendukung keputusan kamu untuk merebutkan Tian kembali menjadi milik kita" Ujar mama susan itu lagi.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya ma mau istirahat. Capek seharian beraktifitas" Ujar Susan.


"Oke, selamat beristirahat ya sayang"


***


"Tian, kamu dari mana?" Tanya ku melihat suami ku itu baru saja masuk ke kamar nya dengan memakai jaket jeans nya.


"Sayang, kenapa kamu bangun?" Tanya Tian mengalih pertanyaan ku.


"Iya, tadi aku kebelet jadi kebangung deh. Kamu dari mana sih? Dari tadi aku cariin kamu gak ada" Tanya ku lagi.


"Maaf ya sayang. Aku mengantar Susan pulang tadi. Gak enak juga membiarkan dia pulang malam-malam seperti ini. Lagian dia juga Seharian sudah menjaga Sofi. Makanya aku memutuskan untuk mengantar dia pulang takut terjadi apa-apa kepadanya nanti" Jelas Tian dengan lembut.


"Tadi aku mau memberi tahu mu agar kamu tidak khawatir nanti nya. Tapi aku lihat kamu sudah tertidur dengan pulas. Jadi aku gak tega untuk membangunkan mu. Sehingga aku langsung pergi aja deh. Maaf ya sayang telah membuat mu khawatir" Ujar Tian merasa bersalah.


Aku tersenyum mendengar penjelasan dari suami ku itu.


"Gak apa-apa kok sayang. Aku gak marah kok. Jangan merasa gak enak gitu"


"Makasih ya sayang. Oh ya untuk sementara ini aku meminta Susan untuk tinggal bersama kita agar ada yang membantumu untuk mengurus Sofi Gak apa-apa kan?" Tanya Tian kepada ku.

__ADS_1


Sebenar nya aku merasa keberatan dengan Susan tinggal bersama kami. Entah mengapa hati ini merasa tidak enak bila Susan tinggal bersama kami. Namun, dengan keadaan mu seperti ini, mau tidak mau aku harus setuju agar Sofi bisa terurus dengan baik.


__ADS_2