
Aku membalas pesan dari Tian dengan terpaksa karena Tian terus-terusan menghubungi ku untuk menanyakan apakah aku sudah tiba di rumah orang tua ku atau belum.
Aku merebah kan tubuh ku yang merasa lelah di atas kasur karena menghadapi masalah yang datang silih berganti.
"Suara apa itu ribut-ribut? Apa akan ada acara di hotel ini?" Batin ku merasa heran mendengar keributan di luar kamarku.
Aku bangkit dari rebahan ku dan pergi keluar balkon untuk melihat apa yang sebenar terjadi di bawah sana.
Bisa melihat dari atas ini orang-orang sedang mempersiapkan pentas. Tampaknya di hotel itu akan diadakan suatu acara yang aku pun belum pasti apa itu.
Kamarku terletak disebelah utara dimana jika aku keluar dari balkon, bisa ku lihat pemandangan dari atas yang langsung mengarah pada kolam renang. Dan disanalah acara itu akan dilaksanakan.
"Sepertinya acara ini dilakukan secara outdoor. Karena dilaksanakan di luar ruangan" Ujar ku dengan penuh penasaran.
"Sebaiknya aku mencari tahu acara apa yang akan dilaksanakan di bawah sana" Ujar ku langsung keluar kamar menuju lantai bawah.
Maksud hati jika dibolehkan, aku ingin ikut serta di acara tersebut karena aku ingin menghilangkan sedikit beban pikiran yang telah menghantuiku saat ini.
"Semoga saja lagi kesibukan sendiri aku bisa menghilangkan keindahan di hati" Ujar ku penuh keyakinan.
***
Aku berjalan ke tempat dimana cara ucapkan berlangsung. Bisa ku lihat banyak sekali para karyawan hotel yang mempersiapkan acara tersebut.
"Maaf mau tanya, Emangnya akan diadakan acara apa di sini?" Tanya ku kepada salah satu karyawan hotel yang berjenis kelamin perempuan yang saat itu dihadapan ku.
"Oh ini mbak, Nanti malam akan diadakan acara tausiah di hotel ini dalam memperingati ulang tahun adalah kami yang ke tujuh tahun" Jelas orang tadi.
"Jika mbak mau ikut hadir, dipersilakan kok mbak. Acara ini terbuka untuk umum kok" Tambah karyawan Hotel itu lagi.
"Oh gitu terima kasih atas informasinya"
"Iya sama-sama mbak. Saya permisi dulu ya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan" Ujar karyawan hotel itu lagi dan meninggalkanku yang masih berdiri di sana.
"Wah kebetulan ada acara tausiah di sini. Dapat juga aku hadir di acara ini nanti malam. Siapa tahu dengan mendengar tausiah-tausiah ini, akan membuat hati ini menjadi lebih tenang dan bisa memberikan aku keputusan yang harus aku ambil nantinya dalam menghadapi rumah tanggaku yang sudah mulai retak" Batin ku dengan penuh harapan di hati.
***
"Hallo sayang" Sapa Susan saya melihat Sofi yang turun dari kamarnya untuk makan siang bersamanya.
Sofi tampak kebingungan saat melihat aku tidak ada di sana bersama mereka.
"Papa, mama mana?" Tanya gadis polos itu kepada papanya yang duduk melamun di kursi makan nya. Sebagaimana ia biasanya dia duduk sebagai kepala rumah tangga.
Tian masih sibuk dengan pikirannya tanpa menghiraukan pertanyaan putrinya itu.
"Papa, mama mana?" Rengek Sofi kepada Tian sambil menggoyang-goyangkan lengannya agar Tian sadar dari lamunan nya itu.
"Eh, Iya sayang ada apa?" Tanya Tian kepada Sofi saat sadar dari lamunannya.
"Papa sedang mikirin apa sih? Dari tadi Sofi tanya mama di mana tapi Papa tidak menjawabnya" Ujar Sofi lagi.
"Oh mama, mama mu... "
"Pergi" Potong Susan tampa memberikan kesempatan kepada Tian untuk melanjutkan perkataan nya.
"Mama pergi? Pergi kemana?" Tanya gadis itu lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama mu pergi jauh meninggalkan kamu dan papa" Ucap Susan lagi dengan nada sinis nya. Wanita hamil itu memang tidak suka jika Sofi bertanya masalah ku kepada papa nya. Karena saat ini hanya dia lah yang menjadi nyonya di rumah ini bukan aku lagi.
__ADS_1
"Sudah Susan, cukup jangan kamu berbicara seperti itu kepada Sofi" Tegur Tian membuat Susa berhenti berbicara.
"Mama kemana pa? Kenapa mama pergi dan tinggalin kita" Tanya Sofi lagi.
"Karena mama gak sayang sama kamu" Susan terus-terusan mengompori Sofi agar terpengaruh dengan apa yang ia katakan.
"Susan, cukup ya, jangan sampai aku bertindak kasar kepada mu" Ujar Tian. Yah Tian memang sudah sangat marah karena Susan mengatakan hal itu kepada Sofi.
"Pa, beneran mama pergi karena tidak sayang lagi sama Sofi?" Tanya gadis polos itu.
"Gak kok sayang. Mama sayang kok sama Sofi. Mama hanya pulang ke rumah kakek dan nenek sebentar. Mama kangen sama kakek dan nenek. Jadinya pergi ke sana deh untuk mengunjungi mereka. Dua atau tiga hari pasti mama pulang kok ke rumah kita lagi" Jelas Tian berbohong karena tidak mau anak nya mengetahui hal yang sebenarnya.
"Tapi tante bilang..... "
"Tante hanya bercanda kok sayang. Jangan terlalu di ambil hati ya" Ujar Tian dengan lembut dengan anak sulung nya itu.
Melihat Tian tetap membela ku, membuat Susan semakin kesal. Wanita yang sedang hamil itu duduk di meja makan nya dengan kesal.
"Apaan sih Tian, masih juga membela Fitri. Sudah jelas-jelas Fitri tidak mau bersamanya lagi dan tidak bisa menemaninya seperti dulu masih juga dipertahankan" Batin Susan.
"Apa sih kurangnya aku? Aku lebih cantik dan lebih seksi dari pada Fitri. udah jelas-jelas aku lebih dari segala-galanya dari gadis kampungan itu. Aku dan Fitri jauh bandingnya seperti langit dan bumi" Batin Susan dengan menatap sinis ke arah Tian dan Sofi.
"Sekarang, kamu duduk ya di sini. Ayo kita makan" Ajak Tian kepada putri nya.
"Kamu mau pakai lauk apa?" Tanya Tian lagi kepada putri nya.
"Ayam goreng aja pa" Jawab putri kecil ku itu.
"Nanti setelah kita selesai makan, Sofi boleh kan menghubungi mama? Sofi kangen sama mama" Rengek gadis kecil itu lagi.
"Iya sayang, nanti kita akan menghubungi mama ya setelah kita makan" Ujar Tian membujuk putri nya.
Sofi tampak tersenyum senang mendengar apa yang di katakan oleh papa nya itu.
***
Mendapati telfon nya tidak kunjung di angkat, Tian pun mengirimkan pesan untuk ku.
"Sayang, angkat dong Telfon nya. Sofi mau ngomong sama kamu" Pesan nya kepada ku.
Aku merasa ragu dengan pesan nya itu. Jangan-jangan dia hanya berbohong dengan membawa Sofi.
"Sayang, tolong ya angkat telfon nya. Kasihan Sofi dari tadi menunggu mu" Ujar nya lagi melalui pesan singkat untuk ku.
"Hallo" Ujar ku menjawab telfon dari Tian.
"Mama, mama kemana sih? Dari tadi Sofi tungguin di kamar mama gak dateng-dateng. Lalu waktu Sofi dan yang lain nya makan siang mama juga gak ada. Kata papa, mama pulang ke rumah kakek dan nenek ya" Celoteh anak itu kepada ku.
"Iya sayang, maaf kan mama ya nak. Mama lupa mau minta izin sama kamu. Mama buru-buru tadi pagi. Gak tahu kenapa,. Mama kangen banget sama kakek dan nenek" Jelas ku berbohong.
"Yah mama, kenapa gak ajak-ajak Sofi sih. Sofi kan juga pengen ikut dan bertemu sama kakek dan nenek. Sofi kan juga kangen sama mereka" Ujar gadis itu cemberut.
"Aduh sayang anak mama, maaf kan mama ya sayang. Tapi nanti Sofi kan masih bisa datang ke rumah kakek dan nenek. Lagian Sofi juga harus sekolah, maka nya mama gak ngajak Sofi" Aku terus-terus mencari alasan untuk berbohong kepada gadis kecil itu.
"Ya juga sih ma, oh ya mama gak lama kan di sana? Mama kapan pulang nya"
"Mama juga belum tahu sih sayang, mama baru saja tiba di rumah kakek dan nenek" Jelas ku tidak memberi jawaban yang pasti untuk putri ku itu.
"Yah... " Terdengar nada kecewa dari ponsel ku yang di ucapkan oleh gadis Tian itu.
__ADS_1
"Sayang kok gitu sih respon nya" Ujar ku.
"Habis nya mama gak tahu pulang nya kapan sih"
"Iya nanti mama pasti pulang ketemu sama Sofi lagi ya" Ujar ku lagi.
"Oke deh ma, mama hati-hati di sana. Cepat-cepat lah pulang. Sofi sayang mama"
"Iya sayang, mama juga sayang sama Sofi" Ujar ku menutup ponsel ku. Sungguh rasa pilu di hati ku membayangkan raut wajah gadis polos itu.
"Untung saja Sofi hanya menelepon ku dan tidak vidio call dengan ku. Jika tidak, bisa ku pastikan Sofi dan Tian tahu bahwa aku sedang berbohong. Karena saat ini aku berada di hotel bukan di rumah papa dan mama" Batin ku merasa lega.
Aku kembali melamun memikirkan nasib keluarga kecil ku.
"Bagaimana perasaan Sofi jika aku berpisah dengan Tian? Aku benar-benar bingung harus bagaimana? Di satu sisi aku ingin mengakhiri segalanya. Di sisi lain, aku masih sayang dan cinta kepada cinta pertama ku itu" Ujar ku menitik kan air mata.
"Ya Allah tolong berikan aku petunjuk untuk masalah yang terjadi kepada keluarga ku" Ujar ku memejamkan mata dan berdoa.
"Aku tidak bisa membayangkan betapa hancur nya Sofi nanti. Dia sudah pernah hancur dan terpukul dengan kepergian mama nya. Dan sekarang, aku sebagai mama sambung nya juga akan pergi meninggalkan dia. Ya Allah kasihan putri ku itu. Bagaimana nasib psikologisnya nanti. Dia baru saja memulai kehidupan yang normal dan bisa seperti anak-anak lain nya. Tapi nanti.... " Sungguh aku tidak bisa membayangkan kejadian apa yang akan terjadi kepada putri sambung ku itu.
Aku menarik nafasku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat untuk menenangkan hatiku yang sedang gundah saat ini.
***
"Sayang, lagi ngapain sih?" Tegur Susan masuk ke dalam kamar Sofi yang kini telah menjadi putri sambung nya juga.
"Lagi menggambar ini lo tante, bagus kan?" Jawab nya memperlihatkan hasil lukisannya kepada Susan.
"Loh Sayang, ini apa saja?" Tanya Susan melihat gambar Sofi yang berupa gambar sebuah keluarga. Yang terdiri dari papanya, anak kecil yang berada di tengahnya, dan juga mamanya. Mereka saling bergandengan tangan. Dan terdapat juga gambar manusia di atas langit sambil tersenyum melihat keluarga bahagia itu.
"Ini papa, ini Sofi, dan ini mama Fitri. Yang di atas ini mama Santi tersenyum bahagia melihat kami" Jelas Sofi dengan nada polos nya.
Deg...
Hati Susan merasa terbakar ketika mendengar penjelasan dari Sofi. Ia bener-bener tidak terima bahwa di gambarnya Sofi tidak terdapat dirinya. Di mana saat ini dia sudah resmi menjadi mama sambungnya Sofi juga.
"Sayang kok cuma ada mama Fitri sih?Tante kok kamu bikin gambar juga"
"Tante kan bukan termasuk keluarga intinya Sofi" Jawab gadis polos itu.
Susan menghela napas mendengar jawaban dari anak sambungnya itu.
"Sayang, dengerin ya. mulai sekarang Tante ini sudah menjadi bagian keluarga kalian. Dan mulai sekarang Sofi jangan memanggil tante dengan sebutan tante lagi ya. Panggil dengan sebutan mama" Jelas Susan kepada Sofi yang membuat gadis itu tampak kebingungan.
"Loh, kenapa tante mau dipanggil mama? Emangnya tante itu mamanya Sofi?Tante kan nggak menikah sama papa. Jadi ngapain Sofi panggil tante dengan sebutan mama" Celoteh gadis kecil itu lagi memberi berjuta pertanyaan kepada Susan.
"Sayang, dengerin tante ya. Sebenarnya tante sama papa sudah menikah berapa hari yang lalu. Dan sekarang tante sedang mengandung adik kamu. Ada adik di dalam perut tante. Sini deh coba Sofi rasain keberadaan adik Sofi" Ujar Susan menarik tangan Sofi untuk memegang perutnya.
Meski tampak bingung, tapi gadis kecil itu tidak menolak untuk memegang perut Susan.
"Bagaimana? Bisa kan kamu merasakan keberadaan adik mu?" Tanya Susan lagi.
"Tante apa-apaan sih? Gak mungkin papa menikah sama tante. Dan gak mungkin ada adik di dalam perut tante. Jika tante beneran sudah menikah sama papa, pasti kalian akan mengadakan pesta sebagaimana papa menikah sama mama Fitri kemarin. Lagian waktu itu Sofi lihat kok kalau tante bersanding sama laki-laki lain bukan sama papa" Gadis polos itu masih tidak percaya dengan kejujuran dari Susan kepadanya.
"Sayang, dengerin tante ya waktu itu orang yang bersanding sama tante adalah orang bayaran dari papa kamu agar bisa menggantikan posisi papa kamu di acara itu. Agar orang-orang tidak curiga. Namun yang jelas tante beneran sudah menikah sama papa kamu. Jika kamu tidak percaya, ini coba kamu lihat foto pernikahan siri papa dan tante" Ujar Susan memperlihatkan foto sirinya bersama Tian yang ada di ponselnya saat itu.
Deg...
Sofi merasa kaget setelah mati melihat foto yang ada di ponselnya Susan saat itu. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa papanya telah menikah dengan tantenya sendiri.
__ADS_1
"Sekarang sudah jelaskan, bahwa tante ini harus dipanggil mama sama kamu. Karena tante sudah menikah sama papa kamu. Tante nggak berbohong lho sayang yang berbohong itu papa kamu" Ujar Susan dengan setengah berbisik ke telinga gadis kecil itu.
Tak terasa beberapa butir air bening mengalir di pipi mulus putri sambung ku itu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa papanya sudah menikah lagi dengan tantenya.