Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 54


__ADS_3

Susan mengatakan semua nya kepada Sofi bahwa diri nya telah menikah dengan Tian secara siri.


Entah lah, entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. Kenapa dia tega mengatakan hal itu kepada Sofi yang tidak seharus nya mengetahui semua nya sekarang.


Mungkin ia ingin secepat nya di akui menjadi nyonya Tian saat ini juga. Hal itu terbukti bahwa dia begitu tega mengatakan hal ini kepada Sofi.


Sofi masih kelihatan syok dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh tantenya itu.


"Gak mungkin, tante pasti bohong. Mama Sofi saat ini hanya mama Fitri. Sofi gak mau mama lain" Ujar Sofi.


Meski gadis kecil itu dekat dengan Susan, tetap saja ia sulit untuk menerima Susan masuk ke dalam keluarga nya. Anak mana sih yang mau papa nya di rebut oleh wanita lain termasuk adik kandung mendiang mama kandung nya itu.


"Lo kok bohong sih, jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanya kok sama papa kamu" Ujar Susan.


"Tante jahat, Sofi benci tante. Tante sudah merebut papa dari mama" Teriak gadis kecil itu histeris. Sofi berlari keluar kamar nya dengan keadaan menangis.


Sedang Susan tersenyum puas dengan melihat kejadian itu. Entah mengapa wanita hamil itu menjadi tega kepada keponakan nya sendiri tampa memikirkan psikolog gadis kecil itu.


Tian yang sedang duduk bersantai di sofa ruang tamu sambil membaca koran tampak heran melihat putri nya itu berlari menuruni tangga dengan keadaan menangis.


"Sayang" Teriak Tian. Namun Sofi sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari papa nya itu. Ia terus saja berlari menuju ke luar rumah. Entah kemana gadis itu mau pergi.


"Sofi" Teriak Tian lagi sambil mengejar putri nya itu.


Lagi-lagi gadis itu tidak menghiraukan sama sekali teriakan papa nya. Tian terus mengejar Sofi hingga ke halaman depan rumah nya.


Untung nya Sofi bisa di tangkap oleh Tian tanpa menyetuh jalan raya.


Tian memegang bahu putri nya itu dan menatap mata nya dalam-dalam. Saat itu Tian dalam keadaan jongkok untuk menyamakan posisi nya dengan Sofi.


"Sayang, kenapa?" Tanya Tian dengan lembut.


Bukannya menjawab Sofi malah diam sambil menunduk dan terus menangis.


"Sayang, coba tatap mata papa, ada apa sebenar nya? Cerita dong sama papa apa yang membuatku menangis seperti ini?" Ujar Tian dengan lembut.


Gadis kecil itu menatap bola mata papanya dalam-dalam.


"Papa jahat, papa nggak sayang sama mama Fitri. Papa jahat" Teriak nya penuh dengan rasa kecewa di hati.


"Jahat kenapa sih sayang? Coba ngomong sama papa. Apa maksud kamu berbicara seperti itu?"


Sofi masih terus saja menangis dan tidak bisa menjawab apa yang di tanyakan oleh papa nya. Melihat gadis kecilnya itu tidak bisa berkata apapun, Tian mendekat kepada gadisnya dan memeluk Sofi agar gadis itu merasa lebih tenang.


"Sayang papa, sini sayan papa peluk biar Sofi merasa lebih tenang" Ujar laki-laki itu.


"Tenang ya sayang. Menangis lah jika dengan menangis bisa membuat kamu merasa lebih tenang. Jika sudah tenang, cerita sama papa apa yang sebenarnya terjadi" Jelas Tian terus memeluk gadis nya itu sambil mengelus-elus rambut nya.


Setelah beberapa menit kemudian, tampak nya Sofi sudah tenang. Dan berhenti menangis. Namun, bisa di dengar sesekali gadis itu masih tersedan.


Tian mengajak putri nya duduk di bangku yang ada di halaman rumah nya.


"Sekarang, kamu bisa menceritakan sama papa apa yang sebenar nya terjadi"

__ADS_1


"Tadi tante bilang, papa dan tante Susan sudah menikah secara siri. Dan laki-laki yang kemaren bersanding dengan tante Susan itu adalah orang bayaran nya papa. Papa kenapa jahat sih sama mama? Emang nya mama salah apa?" Tanya Sofi kembali menangis.


"Sayang, sayang" Tian kembali memeluk gadis nya itu. Tian pun ikut menangis. Bisa laki-laki itu rasakan betapa terluka nya hati gadis nya itu.


"Maaf kan papa sayang, maaf kan papa. Papa terpaksa melakukan semua ini" Jelas Tian meminta maaf kepada putri nya dan menyesali perbuatan nya itu.


"Kenapa papa membohongi mama Fitri? Papa juga membohongi semua nya" Ujar gadis itu.


"Sayan, papa terpaksa melakukan semua ini. Papa tidak mau semua orang tahu bahwa papa telah menikah dengan tante Susan mu. Pasti semua nya akan kecewa termasuk mama kamu"


"Terus, jika papa tidak mau membuat semua nya kecewa, kenapa papa harus menikah dengan tante Susan?"


"Papa terpaksa sayang. Ada adik bayi di dalam perut tante Susan mu. Bagaimana pun papa harus menikah dengan nya agar adik bayi yang tidak berdosa lahir dengan mempunyai papa" Jelas Tian.


"Terus, bagaimana dengan mama? Apa mama pergi karena mengetahui hal ini?" Tanya Sofi.


Tian hanya bisa diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari putri nya itu.


"Jawab pa"


"Papa juga tidak tahu sayang. Papa harap mama Fitri bisa memaafkan papa" Ujar Tian penuh dengan harapan.


"Jika begitu, ayo kita pergi ke rumah kakek dan nenek untuk menjemput mama. Sofi gak mau mama Fitri pergi meninggalkan Sofi"


"Sayang, tidak sekarang ya nak. Tolong berikan sedikit waktu untuk mama Fitri. Saat ini hati nya sedang terluka. Biarkan mama Fitri menenangkan diri nya dulu" Ucap Tian penuh pengertian.


"Tapi jika kita terlambat, nanti mama Fitri akan pergi meninggalkan kita" Sofi gak mau hal itu terjadi pa" Ucap gadis itu lagi.


***


"Susan, Susan" Teriak Tian penuh emosi masuk ke dalam kamar wanita hamil itu.


Terlihat Susan sedang duduk dengan membaca majalah di atas kasurnya.


"Ada apa sih sayang? Kenapa teriak-teriak seperti itu?" Ucap Susan dengan wajah yang merasa tidak bersalah.


"Sini kamu, sini" Ujar Tian dengan kasar menarik tangan istri sirinya itu.


Susan berdiri dari duduknya.


"Apa Si Tian? Sakit tahu" Bentak susah mencoba melepaskan tangan nya yang dipegang Tian dengan kuat itu.


"Apa maksud kamu? Apa maksud kamu ngomong semuanya kepada Sofi tentang pernikahan siri kita?" Tanya Tian penuh dengan emosi.


"Kamu lihat tadi? Dia menangis sejadi-jadinya karena telah mengetahui sebenarnya. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya sehingga kamu seenaknya saja bisa mengatakan semuanya begitu saja"


"Emangnya apa yang salah sih? Bukan kah lebih baik Sofi itu mengetahui semuanya. Toh apa yang kau katakan benar adanya" Ujar Susan tidak mau kalah.


"Emang, emang semua nya benar. Tapi tidak seharusnya kamu mengatakan semua ini sekarang. Karena saat ini aku sedang pusing dengan kepergian Fitri dan aku sedang memikirkan bagaimana caranya aku membujuknya kembali kepadaku. Dan sekarang kamu telah membuat masalah baru dengan memberi tahu kepada Sofi tentang apa yang terjadi sebenarnya"


Susan datang mendekati Tian Wanita itu mencoba memeluk Tian dari belakang.


"Sayang, kamu jangan terlalu memikirkan istri kamu yang satu itu dong. Pikir kan juga aku yang sedang mengandung anak mu ini. Lagian, jika Fitri pergi, kenapa juga kamu merasa khawatir dan cemas seperti itu. Bukankah masih ada aku sebagai istrimu dan aku janji akan menjadi istri yang terbaik untuk kamu lebih dari apa yang di lakukan Fitri kepada kamu"

__ADS_1


Tian melepaskan pelukan Susan dan menatap wanita itu dengan penuh emosi.


"Dengar ya Susan, hubungan kamu dan aku itu terjadi karena satu kesilapan. Di mana kesilapan itu telah menumbuhkan benih di dalam perutmu. Sehingga dengan terpaksa aku harus menikahi mu. Aku tidak pernah mencintai kamu. Aku hanya mencintai satu wanita saja yaitu Fitri" Tegas Tian kepada Susan.


"Dan ingat satu hal. Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan kamu" Jelas Tian lagi langsung keluar dari kamar wanita itu dengan emosi.


Susan terduduk tidak berdaya mendengar ancaman Tian barusan kepada nya.


"Apa? Setelah anak ini lahir, Tian akan menceraikan ku? Gak, gak itu gak boleh terjadi. Bagaimana pun Tian harus menjadi milik ku selama nya. Aku tidak mau orang yang aku cintai menjadi milik orang lain lagi. Gak, gak aku gak mau" Ujar Susan dengan tatapan kosong ke depan. Tak terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi nya.


***


"Wah ternyata banyak juga ya yang hadir di acara tausiah ini" Ujar ku melihat sekeliling banyak tamu yang datang.


Setelah beberapa lama aku tiba, acara pun di mulai. Aku mendengar secara seksama ceramah agama yang di sampaikan oleh ustad di atas pentas itu.


"Lo, itu kan, bukan nya laki-laki yang tidak sengaja aku tabrak kemaren? Ternyata dia seorang ustad. Pantas saja pakaian nya seperti itu" Batin ku menatap ustad yang sedang memberikan tausiah nya itu.


Aku tersenyum mendengar rangkaian tausiah nya itu. Sesekali tertawa juga. Ustad nya sungguh pintar memberikan ceramah nya yang di bumbui dengan sedikit komedi sehingga membuat para pendengarnya tidak bosan.


"Dengan berakhir doa tadi, maka berakhir lah acara kita malam hari ini. Terima kasih kami ucapkan kepada para tamu yang hadir. Dan mohon maaf jika ada kesalahan kata baik sengaja, maupun tidak disengaja. Karena yang benar itu hanya datang dari Allah dan yang salah itu datangnya dari diri saya sendiri" Ucapkan pembawa acara mengakhiri kata sambutannya.


"Wabillahi taufik wa hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dan silakan menikmati hidangan yang telah kami sediakan" Tambah sang pembawa acara itu lagi.


Kami pun pergi mengambil makanan yang telah terhidang di atas meja. Tampa sengaja kue yang ingin ku ambil, ingin di ambil juga ustad tadi.


"Eh, maaf silahkan" Ujar ku mempersilahkan laki-laki itu untuk mengambil kuenya.


"Harus nya saya minta maaf saya. Silahkan di ambil kue nya" Ujar ustad itu tadi mempersilahkan ku.


"Gak ah, bukan kah ustad yang duluan yang mau mengambil nya"


"Gak apa-apa wanita duluan" Ucap nya sambil tersenyum.


"Oh ya, bukan kah kamu yang tadi tidak sengaja saya tabrak di depan lif"


Aku hanya tersenyum dan mengangguk membenarkan.


"Maaf kan saya ustad"


"Jangan panggil saya dengan panggilan itu, panggil saja saya Rendi" Ujar nya.


"Fitri" Kami berkenalan tampa bersentuh tangan karena aku tahu dia adalah seorang ustad dan tidak sopan jika kami bersalaman dengan saling menyentuh tangan.


"Sendirian di sini?"


"Kenapa?"


"Iya siapa tahu bersama pasangan atau keluarga nya"


"Gak, aku sendiri kok di sini. Sedang ingin mencari ketenangan hati saja" Ujar ku.


Kami pun saling ngobrol ringan satu sama lain. Terkadang aku juga bertanya tentang agama yang belum ku ketahui. Karena aku hanya lah orang awam yang belum sepenuh nya mengetahui sepenuhnya hukum dari agama ku.

__ADS_1


__ADS_2