Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 6


__ADS_3

Aku menceritakan semua kejadian di sekolah kepada kakak ku. Kakak ku sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Satu perempuan dan dua laki-laki.


Aku menceritakan hal itu sore hari di saat aku berkunjung ke rumah nya. Yah dia lah teman curhat ku. Kemana-mana kami selalu berdua. Istilah kata kami ini sudah bestie.


"Kamu yakin dek? Kakak masih belum yakin jika dia bisa berubah" Jelas kakak ku tidak percaya.


"Ya kak, memang sulit untuk kita percaya dengan apa yang dia katakan. Tapi apa salah nya kita memberikan kesempatan untuk nya kak. Setiap orang itu berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah" Jelas ku.


Aku pun menjelaskan panjang lebar untuk meyakin kan kakak ku agar dia bisa mengerti dan merestui hubungan kami. Entah lah, saat ini aku kembali merasa bucin dengan cinta monyet ku itu.


Yah, sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan nya dan berharap aku bisa memiliki nya. Padahal banyak laki-laki yang berusaha mendekati ku. Mereka semua sudah mapan dan tampan. Tapi entah mengapa aku menolak semua nya. Dan lebih memilih kepada Tian cinta pertama ku itu.


Itu lah kata orang, jika cinta sudah melekat taik kucing pun rasa coklat. 🤭


Begitu lah aku rasakan saat ini. Aku meyakin kan kakak ku untuk bisa menerima Tian dalam keluarga kami.


"Terserah kamu dek, kakak gak bisa berkata apa-apa lagi. Toh yang menjalan kan nya kamu sendiri. Dan semoga saja pilihan kamu itu benar yang akan membuat mu bahagia. Tapi alangkah baik nya kamu pikirkan matang-matang dulu" Jelas kakak ku.


Bisa ku pahami bahwa kakak ku masih ragu dengan Tian. Tentu saja ragu, siapa coba yang rela jika adik bungsu nya masuk ke dalam lubang yang salah? Pasti tidak ada yang mau bukan? Begitu lah yang kakak ku rasakan waktu itu.


"Mak usu" Teriak si Raihan. Yah dia adalah anak bungsu kakak ku. Usia nya baru lima tahun. Dia sangat dekat kepada ku.


Dan mak usu itu panggilan untuk anak yang paling bungsu. Karena aku anak bungsu, jadi ponakan ku semua memanggil ku dengan sebutan mak usu atau ucu. Begitu lah orang melayu memanggil bibi nya.


"Sayang...." Balas ku memeluk erat bocah itu.


"Kapan ucu datang? Ada bawa jajan utuk ihan?" Tanya nya menatap ku dengan penuh harapan.


"Oh ada dong ini ucu bawain kamu snack dan juga permen" Ujar ku memberikan bingkisan yang ku bawa tadi kepada ihan.


"Yey.... Terima kasih ucu" Ujar nya dengan senyuman manis nya.

__ADS_1


Yah bocah itu memang sangat dekat dengan ku. Dan dia selalu meminta jajan dari ku. Yah nama nya juga anak-anak jelas itu lah yang sangat ia harapkan dari ku sebagai ucu nya.


"Abang, lihat ini Ihan banyak jajan di kasih sama ucu" Ujar nya ketika melihat abang nya lewat di hadapan kami.


"Ha? Mana? Bagi dong sama abang" Ujar Dian anak kedua dari kakak ku.


"Gak boleh, ini untuk Ihan. Ucu berikan ini untuk Ihan bukan untuk abang" Ujar nya dengan memanyunkan mulut mungil nya.


"Lo, kok gitu sih nak. Gak boleh gitu, itu kan abang nya Ihan. Bagi-bagi dong makanan nya. Lagian jajanan Ihan banyak.. Gak boleh pelit-pelit begitu. Kasihan abang nya. Sama-sama ya makan nya" Pujuk ku.


"Tapi nanti jajan Ihan habis" Protes nya.


"Gak apa-apa habis. Nanti bisa beli lagi. Tuh lihat abang nya. Kasihan dia gak ada jajan seperti Ihan. Bagi-bagi ya nak biar Allah sayang sama kita karena mau berbagi dan nanti juga akan dapat pahala bisa masuk surga" Jelas ku lagi.


"Surga? Apa itu surga?" Tanya nya dengan polos.


"Surga itu merupakan suatu tempat di alam kehidupan setelah di dunia. Tempat nya sangat indah sekali. Apa pun yang Ihan mau pasti ada di sana. Kalah tempat-tempat indah yang ada di dunia ini. Lebih indah di sana lagi" Jelas ku.


"Iya ada dong"


"Ada permen?"


"Ada"


"Mainan robot?"


"Ada juga. Pokok nya semua ada di sana. Ihan tinggal minta saja. Maka akan datang apa yang Ihan mau" Jelas ku apa ada nya.


"Karena itu Ihan harus berbuat baik. Jadi anak yang soleh, rajin solat dan mengaji. Harus saling berbagi dan berbuat baik maka balasan nya surga" Tambah ku lagi.


"Terus kalau Ihan nakal gimana?"

__ADS_1


"Nah kalau Ihan nakal, gak mau solat dan mengaji, gak mau dengan apa yang di katakan orang tua, pelit gak mau berbagi dan tidak mau berbuat baik, maka balasan nya neraka"


"Neraka? Apa itu?"


"Neraka itu tempat kebalikan dari surga. Kalau surga tempat nya indah, kalau meraka tempat nya menyeramkan. Di sana akan ada api yang besar yang siap membakar kita. Ada banyak hukuman-hukuman di sana sesuai dengan perbuatan kita yang jahat. Mau Ihan masuk neraka?" Tanya ku.


Bocah berusia lima tahun itu pun menggelengkan kepala nya.


"Kalau gak mau Ihan harus selalu berbuat baik seperti apa yang ucu bilang tadi biar Ihan dapat balasan nya di surga" Ujar ku dengan senyuman.


Bocah itu pun tersenyum dan mengangguk mengerti.


"Sekarang, mau kan Ihan berbagi dengan abang nya?"


"Iya Ihan mau"


"Wah hebat sekali ponakan ucu ini. Pinter sekali. Ingat ya nak kita harus berbuat baik. Meski pun orang-orang tidak melihat, tapi Allah bisa melihat perbuatan kita. Jadi jangan berbuat yang nakal ya nak" Jelas ku lagi.


Kembali bocah itu mengangguk.


"Ya sudah, pergi sana makan sama abang nya. Kasihan itu abang nya sudah menunggu dari tadi"


"Oke ucu" Kata nya mengajukan jempol.


"Abang, ayo kita makan ini" Ajak nya.


Aku dan kakak ku tersenyum senang melihat bocah itu yang mau berbagi. Yah meski dia masih anak-anak sih, terkadang mood dan emosi nya tidak terkontrol jadi harus perlu di ingatkan lagi. Jangan pernah bosan untuk mengajari dan menasehati hal-hal kebaikan kepada bocah yang baru berusia lima tahun itu. Terkadang kita besar saja yang sudah bisa berpikir sering lupa, apa lagi untuk bocah seusia nya yang masih tengah berkembang dan mencari jati diri nya.


"Apa kamu sudah mengatakan hal ini kepada ayah dan ibu?" Tanya kakak ku.


"Belum sih kak. Kakak lah orang pertama yang aku kasih tau. Doa kan aku ya kak, semoga ayah dan ibu tidak mempermasalahkan hal ini" Pinta ku.

__ADS_1


Kakak ku hanya bisa tersenyum hambar dengan permintaan ku itu.


__ADS_2