
Setelah kami selesai sarapan, aku dan Tian mengantarkan Sofi anak kami ke sekolah nya.
Bisa di lihat raut bahagia di wajah gadis kecil itu karena hari ini dia di antar oleh kedua orang tua nya secara lengkap.
"Ma, pa hari ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidup Sofi. Karena hari ini papa dan mama mengantar Sofi ke sekolah" Ujar gadis kecil itu dengan raut wajah nya yang sangat bahagia.
"Iya sayang, mama juga merasakan kebahagiaan seperti apa yang Sofi rasakan. Secara papa telah kembali" Jawab ku tersenyum memegang tangan suami ku yang sibuk menyetir mobil nya.
Tian hanya tersenyum membalas apa ku katakan bersama Sofi.
***
"Da da mama.... Da da papa... " Ujar Sofi setelah menyalami aku dan Tian.
"Da da sayang....belajar yang rajin ya nak" Ucap ku sambil mencium kening putri ku setelah tiba di sekolah nya.
"Oke mama" Ujar nya melangkah menuju ke kelas nya.
Aku dan tian tersenyum melihat gadis kecil kami itu hingga hilang dari pandangan kami.
***
Kring....
Terdengar suara ponsel Tian berdering. Tian merogoh saku baju nya untuk mengambil ponsel nya.
"Papa" Ujar Tian setelah melihat siapa yang telfon.
"Ya pa..." Tian menjawab telfon nya.
"Sudah pa" Ujar Tian lagi.
"Baik pa, aku akan segera ke sana" Tian mengakhiri percakapan nya di ponsel bersama papa nya.
"Sayang, kenapa?" Tanya ku penasaran dengan pembahasan Tian dan papa nya barusan.
"Ini papa ngajak ketemuan di kantor nya. Katanya ada hal yang penting yang mau di bicarakan" Jelas Tian kepada ku.
"Oh gitu, jika masalah nya sangat penting, kamu turunin aja aku di sini sayang. Aku bisa kok pulang naik taksi" Ujar ku takut jika aku menganggu dan membuat suami ku itu menjadi terlambat jika harus mengantar ku pulang terlebih dahulu.
"Gak perlu sayang. Kamu ikut saja bersama ku ke kantor. Karena kamu juga bagian dari keluarga dari kami ya kamu harus tahu dong sedikit banyak nya pembahasan yang kami lakukan nanti" Ujar Tian.
"Lagian, semua keluarga pasti datang dalam pertemuan itu" Tambah nya lagi.
Aku mengerut kening ku merasa heran dengan apa yang di maksud oleh suami ku itu.
__ADS_1
Secara semua keluarga datang ke pertemuan itu pasti membahas hal yang sangat penting di sana.
"Apa yang sebenar nya terjadi? Apa yang akan di bahas oleh keluarga nya Tian. Apa ini masalah Tian yang baru keluar dari panti rehabilitasi? Atau masalah lain?" Batin ku.
Meski pertanyaan itu telah bermain di benak ku, tetap saja aku mengurungkan niat ku untuk bertanya kepada Tian. Terlebih melihat wajah Tian yang tampak serius seperti itu.
***
Aku merasa sungkan saat masuk di kantor yang megah berlantai tiga itu. Yah memang ini kali pertama Tian mengajak ku ke kantor nya. Selama ini aku belum pernah sama sekali datang dan masuk ke kantor nya ini.
Hal itu di sebab kan Tian selalu saja libur dalam pekerjaan nya karena yah jika penyakit nya kambuh ya terpaksa dia libur dan mengurung diri di rumah. Begitu lah Suami ku itu setelah beberapa bulan menikah. Apa lagi setelah dia memutuskan untuk pergi ke panti rehabilitasi. Semakin lama ia libur dan perusahaan nya itu di kelola oleh paman nya yang di percayai oleh papa nya hingga pada akhir nya dia terlepas dari barang haram itu dan kembali ke perusahaan nya.
Aku kaget karena semua anggota keluarga nya Tian telah berkumpul di sana. Ada dua abang nya dan satu kakak nya. Dan tian adalah anak yang ke empat. Sedangkan adik nya perempuan yang bungsu masih kuliah di salah satu kampus terkenal di Jakarta.
Aku duduk di samping suami ku dan mama mertua ku. Yah selama Tian di rawat di panti rehabilitasi, membuat papa Tian merasa bersalah. Dan pada akhir nya dia memutuskan untuk rujuk kembali dengan mama mertua ku. Mereka pun akhir nya rujuk kembali.
"Baik lah karena semua telah hadir di sini. Mari kita mulai kan saja pembacaan pembagian harta warisan" Ujar papa Tian.
"Silahkan Nurdin bacakan" Tambah papa Tian kepada pengacaranya.
"Baik lah, terima kasih kepada pak Mansur telah mempercayai saya sebagai pengacara di keluarga kalian dalam hal pembagian harta warisan ini" Ujar pak Nurdi memberikan kata sambutan nya.
"Baik lah, kita mulai saja pembacaan pembagian harta nya. Untuk setiap anak perempuan hanya mendapatkan seperempat dari harta pak Mansur. Mbak Sari mendapatkan rumah beserta tanah yang di tempati nya sekarang. Kemudian usaha kuliner yang di kelola nya serta anak cabang perusahaan yang ada di Rumbai." Pak Nurdi mulai membacakan pembagian harta warisan nya.
"Terima kasih pak Nurdin sudah membacakan pembagian harta warisan nya. Dan papa harap semua ini sudah jelas sehingga ketika papa tidak ada lagi di dunia ini kalian sudah tidak akan memperebutkan harta warisan kalian. Dan untuk Meisi saat ini biar papa dan mama yang memegang nya karena Meisi masih kuliah setelah dia nanti lulus kuliah maka papa dan mama akan menyerahkan sepenuh nya kepada Meisi" Jelas papa mertua ku lagi.
"Pa, aku rasa pembagian harta warisan ini tidak adil pa. Masa ia sih Tian yang mendapatkan induk perusahaan sedangkan aku dan Rudi sebagai abang nya hanya mendapatkan anak cabang nya saja" Jelas Budi merasa keberatan dengan pembagian harta warisan tadi.
"Iya pa, ini tidak adil dong pa. Secara selama ini Tian lah yang selalu buat masalah dalam keluarga kita, dan sekarang dia malam mendapatkan lebih" Rudi menyempeli.
"Lo, menurut papa ini sudah adil. Bukan kah kalian memang mendapatkan masing-masing perusahaan yang kalian kelola. Dan bukan kah kalian sudah mengetahui seluk beluk perusahaan kalian. Begitu pun dengan Tian yang paham dengan kondisi dan situasi perusahaan yang di kelola saat ini" Ujar papa Tian.
"Adil dari mana nya pa, Tian mendapatkan perusahaan induk lo pa, perusahaan ini yang jelas lebih besar dari perusaan ku dan Rudi. Terlebih rumah yang di tempati nya sekarang yang lebih besar dan lebih mewah dari rumah kami" Ujar Budi lagi.
"Harus nya, aku sebagai abang tertua yang mendapatkan apa yang Tian dapat kan saat ini. Aku gak terima hal ini pa, aku sama sekali tidak setuju dengan pembagian harta warisan ini" Ujar Budi merasa keberatan dengan keputusan papa nya itu.
"Budi, papa merasa bersalah kepada Tian karena tidak memberikan kasih sayang sepenuh nya. Sejak kecil papa sibuk membangun bisnis papa sehingga mengabaikan nya. Berbeda dengan kalian yang terus kalian mendapatkan kasih sayang dari papa waktu kalian kecil. Jadi wajar saja jika papa ingin menembus kesalahan papa selama ini kepada Tian" Jelas papa Tian kenapa ia ingin memberikan lebih kepada Tian suami ku itu.
"Apa pun alasan nya tetap saja tidak adil untuk ku pa. Secara aku juga ikut mengelola induk perusahaan kita hingga bisa berjaya dan melahirkan beberapa cabang anak perusahaan seperti sekarang" Ujar Budi lagi.
Yah, terlihat memang sangat jelas bahwa Budi memang sangat keberatan dengan keputusan papa nya itu.
Dia sama sekali tidak terima dengan apa yang di berikan oleh papa nya kepada Tian.
Sedangkan yang lain seperti Rudi dan mbak Sari tidak bisa terlalu berkoar-koar dengan pembagian harta nya itu. Karena Rudi bukan abang tertua serta ia pun tidak ikut serta dalam mengembangkan induk perusahaan nya waktu itu karena waktu itu Rudi sibuk menyelesaikan kuliah nya. Sedangkan Sari hanya lah anak perempuan. Di mana memang secara hukum islam anak perempuan mendapat seperempat nya saja dari harta warisan dari orang tua nya.
__ADS_1
Jadi mereka hanya diam dan tidak bisa berkoar sepenuh nya waktu itu.
Dan aku pun hanya bisa menyaksikan perdebatan itu. Secara aku hanyalah menantu dan adik ipar dari mereka. Tidak ada hak nya aku ikut campur dalam pembagian harta mereka.
Dan jujur saja perasaan ku sangat gelisah menyaksikan perdebatan itu. Aku takut hanya karena harta akan terjadi selisih paham antara keluarga Tian nanti nya.
Aku menarik lengan suami ku itu.
"Tian, mengalah saja ya sama mas Budi. Aku tidak mau menjadi perdebatan di antara keluarga kita" Bisik ku ke telinga suami ku itu.
Tian menarik napas nya yang berat mendengarkan apa yang ku katakan barusan.. Yah aku yakin dia pun merasakan hal yang sama dengan ku dimana dia tidak ingin ada pertengkaran antara keluarga nya. Secara dia pun sadar bahwa selama ini dia telah banyak memberikan masalah demi masalah kepada keluarga nya sejak dia kecil.
"Pa, izin kan aku mengeluarkan pendapat ku" Ucap Tian pada akhir nya.
"Ya, silahkan Tian" Jawab papa nya memberikan izin.
"Begini pa, bagaimana induk perusahaan itu papa serahkan saja kepada mas Budi. Sejujurnya aku tidak mau terjadi pertengkaran di antara keluarga kita. Lagian aku juga sadar bahwa selama ini aku telah banyak membuat kesalahan dan membuat kalian susah dan menanggung malu sedari aku kecil" Ujar Tian dengan wajah yang terlihat sedih membayangkan kejahatan demi kejahatan yang ia lakukan.
"Tapi Tian, papa sudah membuat keputusan karena papa merasa bersalah dah selalu mengabaikan kamu hingga membuat kamu seperti itu. Jadi papa hanya ingin menebus semua kesalahan papa kepada kamu" Jelas papa mertua ku lagi.
"Pa, yang berlalu biar lah berlalu. Aku tidak mengharapkan induk perusahaan itu jatuh di tangan ku pa. Aku hanya ingin keluarga kita utuh dan tidak ada kesalahpahaman bahkan perkelahian ataupun permusuhan dia antara kita. Sekarang aku sudah keluar dari panti rehabilitasi dan sekarang aku ingin merubah hidup ku menjadi lebih baik lagi bersama keluarga kecil ku" Jelas suami ku lagi penuh dengan pengertian.
"Jadi, biarkan anak perusahaan yang di kelola oleh mas Budi di Rumbai itu aku yang tangani. Dan induk perusahaan biarkan saja mas Budi yang kelola. Lagian mas Budi juga yang ikut membantu membesarkan induk perusahaan kita. Jelas dia tahu juga bagaimana nya perusahaan itu sekarang" Jelas Tian lagi meyakin kan papa nya.
Papa mertua ku menarik napas berat nya. Sungguh ia tidak menyangka perubahan yang terjadi kepada putra nya itu. Yah sungguh jauh berubah sangat dewasa dan lebih memilih keutuhan keluarga dari pada harta.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu Tian?" Tanya papa mertua ku lagi.
"Iya pa, inshaallah aku yakin bahkan sangat yakin dengan keputusan ku ambil ini" Ujar Tian lagi.
"Baik lah jika begitu. Papa akan memberikan induk perusahaan kepada mas Bayu mu. Tapi rumah yang kamu tempati sekarang akan tetap menjadi milik mu. Papa tidak mau ada perdebatan lagi. Jika keputusan ini masih tidak disetujui, maka semua harta warisan yang papa bagikan kepada kalian akan papa tarik kembali dan lebih baik papa sumbangkan kepada yayasan saja" Ujar papa Tian yang sedikit kecewa dengan pertengkaran antara anak-anak nya yang merebut warisan itu.
"Sekarang semua nya sudah jelas. Mulai besok Budi akan menjalankan perusahaan ini dan Tian akan menjalankan anak cabang perusahaan di Rumbai. Sekarang semua nya boleh pulang" Ujar papa Tian mengakhiri pertemuan nya saat itu.
"Ma, lihat lah masih ada kita saja mereka sudah berebut harta seperti tadi apa lagi jika kita sudah tidak ada. Pasti aka terjadi baku hantam dan bertumpah darah di antara anak-anak kita hanya karena harta" Ujar papa Tian merasa kecewa saat melihat semua anak-anak nya sudah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Iya pa, menurut mama semua yang papa lakukan ini ada benar nya. Jika kita tidak membagikan harta warisan ini dari sekarang, pasti akan lebih susah nanti nya pa" Jawab mama mertua ku pula.
"Hanya saja papa sedikit kecewa dengan Budi. Dia sama sekali tidak mau mengalah kepada Tian. Yah secara Tian selama ini sudah cukup menderita terlebih karena perangai ku dahulu yang mendua kan mu membuat nya terjerumus ke dalam lubang hitam yang gelap" Ujar papa mertua ku lagi menyesali dan mengingat semua kesalahan nya yang lalu.
Yah papa mertua ku itu bercerai dulu nya karena berselingkuh. Karena waktu itu dia sibuk membangun bisnis-bisnis nya. Dan baru sukses. Maklum lah mak nama nya juga baru sukes dan sedang banyak uang jadi yah begitu lah kira-kira mak papa mertua ku dulu. Hingga saat ketahuan dengan mama mertua ku beberapa kali membuat mama mertua ku ingin berpisah dari nya.
Dan setelah mengetahui bahwa selingkuhan nya itu hanya menginginkan harta nya saja, dan membawa lari beberapa sertifikat tanah yang di miliki oleh papa mertua ku itu di daerah Perawang, baru lah papa mertua ku sadar. Terlebih semenjak Tian menikah dengan ku dan memilih untuk berubah menjadi orang yang lebih baik dengan masuk ke dalam panti rehabilitasi. Itu lah yang membuat papa mertua ku itu terbuka pintu hati nya dan menyadari semua kesalahan-kesalahan nya yang lalu.
Meski pun sudah terlambat ya mak karena kejadian itu sudah begitu lama, tapi tetap saja itu sangat di hargai. Oleh karena itu papa mertua ku memutuskan untuk kembali bersama mama mertua ku lagi dan memulai hidup mereka yang baru.
__ADS_1