
Aku tidak mempermasalahkan jika Tian akan menemani Susan di klinik tempat nya di rawat. Bukan nya aku tidak cemburu, jelas aku cemburu. Namun aku tidak mau egois. Bagaimana pun Susan sedang sakit. Dan dia pun sudah menjadi istri dari Tian.
"Benar kamu tidak masalah?"
"Iya sayang"
"Ya sudah aku mau siap-siap dulu untuk berangkat ke klinik"
"Iya, kamu hati-hati. Besok aku akan datang ke sana untuk menggantikan mu menemani Susan" Ujar ku lagi.
***
"Tian, mama pulang dulu ya. Mama merasa tidak enak badan juga nih" Ujar wanita paruh baya itu setelah melihat Tian tiba di klinik itu.
Tian mengangguk memberi izin. Kemudian masuk ke dalam ruangan Susan.
"Sayang, kamu sudah tiba" Ujar Susan dengan lemah tampak seperti orang sakit.
"Terima kasih ya sudah mau menemani ku di sini"
"Iya sama-sama" Jawab Tian dengan datar nya.
Mereka pun diam satu sama lain. Tian duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Yah laki-laki itu sangat dingin menghadapi Susan.
"Tian, bisa kah kamu tidur di dekat ku?" Ujar Susan dengan lemah.
"Aku mohon Tian. Aku ingin berada di samping mu. Tidur di dalam pelukan mu" Ujar nya lagi.
Tian menghela napas berat nya. Laki-laki itu seperti tidak menyukai permintaan dari istri siri nya itu. Tapi bagaimana pun Susan sedang sakit dan membutuhkan perhatian dari nya.
Tian datang mendekati Susan dan duduk di pinggir kasur klinik itu. Susan berbaring di pangkuan Tian.
"Terima kasih ya Tian. Terima kasih" Ujar nya memeluk tubuh suami siri nya itu.
Susan terlelap dalam tidur nya. Ia merasa bersalah dan tidak enak hati melihat keadaan Susan saat ini yang terlihat pucat.
Sontak kejadian beberapa saat yang lalu kembali terbayang di ingatan nya. Yah kepergian Raffa yang membuat nya terpukul. Kini ia tidak mau kehilangan anak yang ada di dalam kandungan nya Susan lagi. Ia tidak mau merasa bersalah untuk yang kedua kalinya.
"Apa ini semua salah ku yang terlalu mengabaikan kamu. Hingga membuat kamu kepikiran dan stres seperti ini? Harus nya aku bisa bersikap adil kepada kamu juga" Ujar Tian lirih.
Yah bagaimana pun Tian masih mempunyai rasa kemanusiaan di hati kecil nya. Ia juga bukan orang yang tega menelantarkan seorang perempuan seenak nya.
"Aku sungguh tidak bermaksud untuk membuat mu jadi seperti ini. Aku minta maaf" Ucap nya lagi membelai rambut wanita yang sudah menjadi istri nya itu.
Entah lah mungkin saat ini dia pun sudah mulai menyukai istri siri nya itu. Hati orang siapa yang bisa menebak. Terlebih rasa kasihan bisa menyebab kan jadi sayang.
***
"Tian, kenapa Susan malah rawat nya di klinik ini sih? Kenapa gak di bawa ke rumah sakit besar saja? Di sana peralatan nya lebih canggih dan kita bisa mengetahui dengan pasti sakit nya apa" Ujar ku saat tiba di klinik tempat Susan di rawat. Aku mengetahui lokasi itu dari Tian yang share lokasinya.
"Aku juga nggak tahu sayang, Aku juga gak ngerti kenapa mama mau membawa Susan ke sini. Padahal aku sudah bilang sama mama alangkah baiknya saja kita bawa Susan ke rumah sakit saja. Namun mama tetap bersih keras untuk membawa Susan ke klinik ini. Karena dokter yang ada di klinik ini merupakan teman mama yang sudah berlangganan dengan keluarganya" Jelas Tian.
Aku merasa ada yang janggal dengan mama Susan itu. Harus nya sebagai orang tua mau melakukan apapun dan memberikan yang terbaik demi kesembuhan anak nya. Tapi ini malah meminta Tian untuk membawa anaknya ke klinik yang belum cukup memadai seperti ini.
"Kata nya hari ini akan di adakan pemeriksaan lebih lanjut kepada Susan" Ujar Tian.
"Terus mama Susan ke mana? Dari tadi aku nggak melihat dia"
"Belum datang. Tadi malam dia pulang ke rumah karena merasa gak enak badan" Jelas Tian.
"Terus Susan masih di dalam?"
"Sedang melakukan pemeriksaan" Jelas Tian lagi.
"Kita tunggu saja di sini"
Aku mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Dok bagaimana? Apakah hasil nya sudah keluar?" Tanya Tian saat melihat dokter selesai melakukan pemeriksaan nya dengan cara USG.
"Keadaan janin nya baik, hanya saja ada sedikit masalah di rahim nya. Terdapat miom di dinding rahim nya yang membuat Susan merasa sering nyeri di sana" Jelas dokter tadi.
"Namun, ini tidak terlalu berbahaya. Nanti setelah waktu nya lahir, maka akan di adakan pengangkatan miom ini juga" Jelas dokter itu lagi.
Miom adalah benjolan yang tumbuh di dinding rahim bagian dalam atau bagian luar. Penyakit ini juga bisa disebut fibroid, leiomioma, leiomiomata, atau fibromiom. Ukuran fibroid kira-kira satu mm hingga dua puluh cm. Benjolan ini dapat tumbuh besar hingga menyebabkan nyeri dan perdarahan hebat pada saat menstruasi.
"Apa tidak berpengaruh kepada janin nya dok?"
"Miom memang berpotensi menyebabkan komplikasi hamil. Namun, belum ada penelitian yang dapat diandalkan untuk melihat pengaruh miom terhadap munculnya komplikasi saat kehamilan. Bahkan, sebagian ibu hamil yang menderita miom, terkadang tidak mengalami komplikasi selama kehamilan"
"Syukur lah jika begitu" Ujar Tian bersyukur.
Susan bengong mendengar penjelasan dari dokter itu. Yah dia bingung apa kah benar yang di jelaskan dokter tadi atau itu hanya lah rekayasa seperti apa yang mereka rencana kan saat ini.
"Saya harap bapak sebagai suami nya harus menjaga istri bapak dengan baik ya dan jangan terlalu membuat istri bapak stres berlebihan" Jelas dokter itu tadi.
"Iya dok terima kasih" Ucap Tian lagi.
Tian dan aku pergi keluar dari ruangan pemeriksaan itu.
"Ya ampun Tian, kasihan Susan menderita miom. Aku jadi merasa kasihan kepada nya" Ujar ku merasa simpati.
"Iya aku juga gak menyangka bisa seperti ini. Tapi untung saja miom nya tidak berbahaya. Sehingga tidak berpengaruh dengan janin nya" Ujar Tian.
***
"Dok, apa benar sakit yang dokter bilang tadi terhadap saya?" Tanya Susan setelah melihat Tian dan aku keluar dari ruangan itu.
"Iya, dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan memang terdapat miom di rahim kamu San"
Deg....
Jantung Susan berdegub begitu cepat mendengar penjelasan dari dokter tadi. Ia tidak menyangka bahwa diri nya kini beneran mengalami penyakit itu. Padahal ia hanya mengarang nya agar mendapatkan perhatian dari Tian. Tapi kenyataan nya kini dia mengalami nya dengan nyata.
"Apa kah saya harus melakukan penanganan khusus atau bagaimana dok? Saya takut terjadi sesuatu kepada janin saya. Lagi pun saya tidak merasakan gejala apa pun" Ujar Susan heran.
Namun, Kamu disarankan untuk melakukan pemeriksaan USG secara rutin, karena miom saat hamil juga bisa membesar dan hal ini bisa saja menyebabkan timbulnya nyeri. Maka akan di lakukan tindakan secara lanjut. Saran saya sebaik nya kamu dan suami mu melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit. Di sana banyak dokter-dokter yang berpengalaman dan mereka akan memberikan pengobatan alternatif untuk penyakit kamu dan juga untuk kesehatan Janin kamu" Jelas dokter tadi lagi.
Susan melamun terdiam tidak menyangka bahwa ia bisa mendapatkan penyakit ini. Tatapan nya kosong ke depan. Meski dokter bilang penyakit nya tidak terlalu berbahaya, tetap saja ini adalah penyakit yang sewaktu-waktu bisa menjadi bahaya dan merenggut nyawa nya.
***
"Susan" Tegur Tian masuk ke dalam ruangan Susan.
"Sekarang juga kita akan keluar dari klinik ini. Aku akan membawa mu untuk pergi ke rumah sakit yang lebih canggih. Untuk memastikan penyakit kamu sebenarnya" Ujar Tian.
Susan hanya terdiam melamun. Tatapan nya kosong ke depan. Ia benar-benar masih syok mendengar sakit nya saat ini.
"Apa ini balasan yang di berikan oleh Tuhan kepada ku karena niat jahat ku. Sehingga aku di beri sakit beneran saat ini" Batin nya menitik kan air mata.
"Susan, Susan" Tegur Tian lagi membuat Susan sadar dari lamunan nya.
"Tian" Ucap nya lirih.
"Tenang lah Susan jangan kamu pikirkan masalah ini. Kita akan pergi periksa ke rumah sakit yang lebih canggih untuk memastikan dengan pasti sakit mu ini" Ulang Tian lagi.
Susan menangis dan menutup wajah nya dengan kedua tangan nya. Ia benar-benar frustasi mendengar kenyataan yang dihadapi saat ini.
Melihat Susan menangis, Tian pun datang mendekatinya dan memeluk istri sirinya itu untuk menenangkan hatinya yang sedang sedih karena memikirkan penyakitnya.
"Sudah lah Susan. Jangan kamu bersedih seperti ini. Bukankah tadi dokternya sudah mengatakan bahwa penyakit mu ini tidak terlalu berbahaya dan tidak mengganggu pertumbuhan janin kita. Itu artinya janin kita akan baik-baik saja" Ujar Tian mencoba menenangkan istri nya.
"Iya aku tahu. Tapi walau bagaimanapun tetap saja penyakit itu sudah ada di dalam tubuhku dan cepat laun penyakit itu akan semakin membesar dan pasti akan merenggut nyawaku"
"Kamu tenang saja Susan, aku akan berusaha untuk menyembuhkan kamu. Kita akan melakukan berbagai cara pengobatan untuk menghilangkan penyakitmu itu sampai ke akar-akarnya tanpa harus mengganggu pertumbuhan janin yang ada di dalam perutmu" Ujar Tian lagi.
__ADS_1
"Terima kasih Tian. Terima kasih untuk semua nya"
"Jangan terima kasih seperti itu kepadaku. Sudah sewajibnya aku memberikan yang terbaik untukmu sebagai istriku" Jelas Tian.
"Aku akan berangkat ke kantor sebentar untuk menandatangani beberapa berkas yang harus kuserahkan dengan klien hari ini. Di sini ada Fitri yang menjagamu sampai aku kembali nantinya"
Susan mengangguk.
***
"Fitri kamu di sini?" Tegur mama Susan saat tiba di ruangan tempat Susan di rawat.
"Di mana Tian?" Tanya nya lagi.
"Tian pergi ke kantornya untuk menandatangani beberapa berkas yang mau diserahkan kepada klien hari ini. Dan dia memintaku untuk menjaga kesusahan di sini sampai ia kembali" Jelas ku.
Aku melirik jam tangan ku yang sudah menunjukkan waktu Sofi pulang sekolah.
"Ya Allah sudah jam segini aku harus pergi untuk menjemput Sofi ke sekolahnya" Ujar ku kaget karena tidak sadar bahwa Sofi sudah waktu nya pulang.
"Gak apa-apa kok Fit. Kamu pergi saja jemput Sofi. Lagian sudah ada mama di sini yang menemani ku" Ujar Susan dengan wajah memalas nya.
"Ya sudah aku pergi sebentar ya" Ujar ku langsung ke luar dari ruangan itu untuk pergi menjemput Sofi.
Mama Susan mengintip kepergian mu dari sela pintu untuk memastikan bahwa aku beneran pergi dari klinik itu.
"San, bagaimana? Apa kah berhasil kamu mendapatkan perhatian dari Tian? Lagian kenapa Fitri juga ada sih di sini?" Tanya mama Susan.
"Iya ma aku berhasil mendapatkan perhatian dari Tian. Bahkan aku juga berhasil mendapatkan apa yang kita harapkan" Ujar Susan dengan lemah.
"Jadi Tian sudah mau menyerahkan harta nya untuk mu? Ternyata semudah itu ya" Ujar mama Susan tersenyum senang.
"Apa sih ma? Kenapa mama masih juga memikirkan harta"
"Lo, bukan nya itu tujuan kita sebenar nya?"
"Ma, kita merencana kan bahwa aku sakit untuk mendapatkan perhatian dari Tian. Tapi kenyataan nya aku memang mendapatkan penyakit itu ma.... Ada miom di rahim ku" Ujar Susan menangis histeris.
"Apa? Yang benar kamu San?" Tanya mama Susan seakan tidak percaya.
"Iya ma, dokter teman mama itu yang memeriksa ku tadi dan hasil nya memang ada miom di rahim ku. Memang kata nya miom itu tidak berbahaya saat ini. Tapi tetap saja, penyakit itu sudah ada di tubuh ku" Ujar Susan lagi.
Wanita paruh baya itu membuka mulut nya lebar-lebar. Sungguh ia tidak menyangka bahwa putri nya mengalami penyakit itu.
"Terus apa ada pengaruh nya kepada janin mu?"
"Gak ma, meski ada miom, janin ku masih bisa berkembang dengan baik di dalam rahim ku. Tapi aku harus sering melakukan pemeriksaan secara rutin ke dokter untuk melihat perkembangan kedua nya ma" Jelas Susan lagi.
"Nanti Tian akan membawa ku melakukan pemeriksaan ulang di rumah sakit yang lebih canggih untuk memastikan penyakit yang aku derita saat ini" Tambah nya lagi.
"Pasti ada yang salah. Mama gak percaya dengan hasil pemeriksaan ini. Yah mama setuju jika kamu harus melalukan pemeriksaan ulang di rumah sakit yang lebih canggih lagi"
"Apa ini semua balasan dari Tuhan kepada ku ma? Aku telah berniat tidak baik dan menipu suami ku tentang penyakit ku agar mendapatkan perhatian dari nya. Sehingga Tuhan marah dan memberikan aku cobaan ini" Ujar Susan terus menitikkan air mata nya.
Wanita hamil itu benar-benar terpukul dengan kenyataan yang ia alami. Rasa sedih dan syok di hati nya sungguh belum bisa di hilang kan begitu saja.
"Ma, kenapa ma? Apa yang harus aku lakukan?" Ujar Susan.
"Kamu tenang sayang. Jangan terlalu kami pikirkan masalah ini. Kita akan melakukan pemeriksaan ulang. Mama gak percaya dengan hasil pemeriksaan tadi. Pasti ada yang salah pasti alat untuk memeriksa mu itu rusak" Ujar mama Susan lagi.
"Semoga saja hasil pemeriksaan tadi itu salah" Ujar mama Susan mencoba menenangkan putri nya itu.
"Tian kapan akan pergi membawa kamu keluar dari tempat ini?"
"Sebentar lagi ma. Setelah urusan nya di kantor selesai, dia akan membawa ku keluar dari sini"
"Ya ampun, kenapa bisa seperti ini sih? Kenapa kamu bisa mengalami penyakit ini?"
__ADS_1
"Aku juga gak tahu ma. Mungkin ini teguran dari Tuhan karena aku telah mempermainkan suatu penyakit demi mendapatkan perhatian suami ku. Sehingga Tuhan memberikan aku sakit sesungguh nya seperti ini" Ujar Susan menangis.
"Sabar ya sayang, sabar. Maaf kan mama. Bagaimana pun mama juga salah dalam hal ini" Ujar wanita paruh baya itu ikut menangis.