Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 35


__ADS_3

"Susan, apa Sofi sudah tidur?" Tanya ku kepada gadis yang cantik itu saat ia lewat di hadapan ku. Di mana saat itu aku sedang duduk di sofa yang berada di ruang keluarga untuk sekedar menonton Tv.


"Sudah kok, dia baru saja tidur. Seperti nya dia sangat lelah hari ini karena menghabiskan waktu bersama kami" Ujar nya lagi mencoba memanas-manasi ku.


Aku tersenyum kecut mendengar apa yang di katakan Susan barusan. Entah lah perasaan ku tidak begitu nyaman mendengar perkataan gadis itu.


"Fitri, kamu mau kemana?" Tanya nya melihat ku bangkit dari sofa.


"Aku mau ke kamar Sofi untuk melihat nya" Jawab ku.


"Lo, gak perlu lah kamu ke kamar nya. Dia sudah tidur. Biarkan dia beristirahat jangan mengganggu nya dong" Cegah gadis itu lagi.


Deg....


Sejujurnya aku sangat tidak suka dengan apa yang di katakan gadis itu.. Walau bagaimana pun aku adalah mama nya Sofi. Meski hanya mama sambung tapi tetap saja aku adalah orang tua nya.


Aku merasa bahwa Susan sengaja memisahkan ku dengan anak sambung ku itu. Padahal aku hanya ingin melihat nya bukan menganggu nya tidur.


"Kenapa kamu melarang ku untuk melihat keadaan Sofi?" Tanya ku sedikit judes kepada nya.


"Kenapa ya aku merasa semakin hari, semakin ingin menjauhkan ku dari keluarga ku?" Ujar ku lagi dengan kesal.


"Kenapa kamu bisa mengatakan itu kepada ku? Aku, aku hanya gak mau kamu mengganggu Sofi yang sedang beristirahat" Ujar nya lagi dengan mencari alasan.


"Menganggu dari mana? Bukankah aku hanya ingin melihat keadaannya saja. Dan aku tidak bermaksud untuk mengganggunya tidur, aku tidak membangunkannya. Dan aku juga tidak akan berisik ketika aku berada di kamarnya. Aku hanya ingin melihat keadaan anakku saja. Tolong kamu garis bawahi itu" Tegas ku lagi.


"Jangan mentang-mentang kamu tante nya dan kamu merasa berkuasa atas putri ku itu ya" Ujar ku lagi semakin kesal.


"Apa? Aku tidak bermaksud untuk memisahkan kamu atau apalah itu. Aku hanya.... "


"Hanya apa? Sudah lah aku hanya ingin melihat putri ku. Dan kamu tidak berhak untuk melarang ku" Ujar ku dengan kesal.


Aku pun berlalu dari hadapan gadis itu dengan kesal. Sungguh dari awal aku tidak begitu menyukai gadis itu. Yah aku memang merasa ada suatu rencana yang ia rencanakan terhadap keluargaku.


"Kurang ajar kamu Fitri. Ternyata sekarang dia sudah mulai curiga dengan ku. Aku harus melancarkan rencana ku secepat nya dan mengusir dia dari rumah ini" Batin nya lagi menatap kesal kepergian ku.


***


Aku membuka pintu kamar putri ku itu dengan perlahan. Aku berjalan mendekati gadis kecil ku itu yang terlihat tidur dengan lelap nya.


Aku duduk di pinggir kasur putri ku itu. Menatap gadis kecil ku yang tertidur pulas.


"Sayang, maaf kan mama ya nak. Mama gak bisa menemani kamu seperti biasa nya. Sejujurnya mama sedih kamu dekat dengan orang lain seperti ini dari pada mama" Ujar ku mengelus lembut rambut anak ku itu.


"Mama merasa cemburu melihat kedekatan mu dan Susan tante mu itu. Mama merasa kita sekarang sudah jauh nak. Kita tidak mempunyai waktu berdua. Dan kamu seperti nya tidak membutuhkan ku lagi nak" Ujar mu menitik kan air mata ku lagi.


"Maafkan mama ya nak" Ujar ku lagi dan mengecup hangat kening putri ku itu.


Aku pun keluar dari kamar putri ku itu dan menutup kembali pintu kamar nya dengan perlahan.


***


"Susan, kamu kenapa? Ngapain kamu menangis?" Tanya Tian melihat gadis itu menangis di meja makan.


"Tian, sebaik nya aku pergi saja dari rumah ini. Aku gak mau nanti nya Fitri semakin membenci ku" Ujar nya lagi..


"Membenci mu bagaimana? Fitri tidak membenci mu sama sekali. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Tian.


"Selama ini dia tidak suka dengan kehadiran ku di rumah ini. Dia merasa aku ingin memisahkan dia dari kamu dan Sofi. Dia bilang aku sengaja membuat kamu dan Sofi jauh dari nya" Jelas Susan lagi masih dengan mengeluarkan air mata buaya nya.


"Aku, aku merasa sakit hati ketika dia bilang seperti itu kepada ku. Aku, aku... " Ujar Susan menangis tidak bisa melanjutkan kata-kata nya.


Tian tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh Susan.


"Lebih baik aku pergi saja dari rumah kalian. Aku tidak mau kehadiran ku nanti nya akan membuat Fitri semakin berpikir yang bukan-bukan terhadap ku" Ujar nya lagi.

__ADS_1


"Gak Susan, kamu gak bisa pergi dari rumah ini. Bukan kah Sofi saat ini sedang membutuhkan kamu? Lagian Fitri tidak bisa merawat nya seperti dulu karena keadaan nya saat ini. Dan soal pikiran nya itu, tolong kamu maklumi saja, mungkin karena dia hamil membuat nya berkata seperti itu. Kamu tahu sendiri kan jika orang hamil itu hormonnya berubah dan dia juga tidak bisa mengontrol emosinya saat ini. Emosinya selalu turun naik jadi aku mohon sama kamu tolong maklumin hal itu ya" Jelas Tian mencoba membujuk gadis itu.


Susan mengangguk dan masih menangis. Melihat gadis itu menangis, Tian pun berinisiatif memeluk gadis itu untuk menenangkan nya.


"Sudah lah, jangan kamu terlalu pikirkan apa yang di katakan Fitri. Tolong kamu maklumi saja dia itu ya" Ujar nya lagi menenangkan gadis itu.


Susan kembali mengangguk dan tersenyum puas di dalam pelukan suamiku itu. Gadis itu merasa menang dan berhasil membuat laki-laki itu bersimpati kepadanya dan mempertahankan dirinya untuk tetap tinggal di rumah nya itu.


***


"Sayang" Tegur Tian kepada ku saat aku berada di kamar ku.


"Iya" Jawab ku.


Tian duduk di samping ku yang sedari tadi duduk di atas kasur kami.


"Sayang, kenapa tadi kamu mengatakan kata-kata yang membuat Susan menangis?" Tanya laki-laki itu dengan lembut kepadaku.


"Menangis? Menangis bagaimana maksud kamu?" Tanya ku.


"Kamu bilang kalau Susan ingin memisahkan kamu dari aku dan Sofi. Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu sih sayang?" Tanya nya lagi dengan lembut takut nanti aku tersinggung.


"Emang salah ya aku berpikir seperti itu. Aku mengatakan hal itu karena ada sebabnya bukan seenaknya begitu saja. Masa dia melarangku untuk melihat Sofi yang saat ini sedang terlelap. Dia bilang jangan mengganggu Sofi yang sedang tidur. Padahal kan aku hanya bermaksud ingin melihatnya saja bukan untuk menganggunya sedang tidur. Toh selama ini juga aku selalu melihat keadaan Sofi meskipun dia sedang tidur. Tapi kenapa semenjak kehadirannya di sini aku sama sekali nggak boleh melihat putriku itu sedang terlelap?" Ujar ku.


"Tian, sudah beberapa minggu ini aku sama sekali tidak pernah lagi melihat keadaan Sofi saat tidur. Bahkan ketika Sofi bangun pun aku sama sekali tidak bisa bersamanya. Karena dia selalu menghabiskan waktu bersama Susan daripada aku. Aku merasa sedih, aku merasa terabaikan, terkucilkan oleh anakku sendiri. Aku sedih Tian tidak bisa seperti dulu lagi bersama kamu dan Sofi" Ujar ku lagi menjelaskan perasaan ku saat ini kepada suami ku itu.


"Sayang, bukan kah aku pernah bilang itu semua hanya perasaan mu saja. Tidak akan ada yang bisa mengganti posisi mu di hati nya Sofi dan aku. Kamu percaya deh sama aku. Saat ini meski Sofi bersama Susan, dia tetap menganggap mu sebagai mama nya. Dan selalu mengutamakan kamu kan. Terbukti saat dia mau pergi sekolah ataupun pulang sekolah dia lebih mencari kamu. Dan untuk masalah Susan melarang mu itu, mungkin karena dia hanya tidak mau Sofi terbangun nanti nya." Jelas Tian lagi.


"Tapi tetap saja aku tidak suka. Aku hanya ingin melihat keadaan putri ku"


"Sayang, jangan emosi begitu dong. Tenang kan pikiran mu. Gak boleh souzon gitu sama orang tampa ada bukti nya. Dosa nanti nya"


Aku tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh Tian.


"Sayang percaya sama aku. Kamu jangan mempunyai perasaan buruk gitu dong dengan orang lain. Gak baik untuk kondisi mu saat ini" Ujar nya lagi.


Mungkin benar apa yang di katakan Tian. Itu semua hanyalah perasaanku saja. Mungkin hal itu disebabkan karena keadaanku yang sedang berbadan dua saat ini. Bawaannya selalu emosi dan juga berprasangka buruk terhadap orang lain.


"Iya sayang, maaf kan aku ya. Sungguh aku sangat sulit untuk mengontrol emosi ku saat ini" Ujar ku lagi.


"Sayang seharus nya kamu itu minta maafnya Sama Susan bukan sama aku aku juga sangat memaklumi keadaanmu saat ini seperti apa"


"Iya deh, besok aku akan meminta maaf kepada susahnya karena telah berprasangka buruk terhadapnya"


"Gitu dong sayang Ini lah istri tercinta ku yang selalu baik hati dan tetap tersenyum" Ujar Tian lagi.


Aku tersenyum kecut kepada nya. Tian menarik kepala ku untuk jatuh ke dalam dada bidang nya itu.


"Sayang, aku sangat mencintai mu. Tidak mudah bagi ku untuk mencari pengganti mu. Kamu tahu bukan berapa lama nya aku memendam perasaan ini hingga pada akhirnya kamu menjadi milikku seperti saat ini. Jadi nggak mungkin aku bisa melepaskan kamu begitu saja dan menggantikan posisimu dengan orang lain. Oleh karena itu kamu Jangan berpikiran buruk terhadap aku ataupun Sofi. Karena hanya kamulah satu-satunya mama dan istri yang terbaik untuk kami" Ujar Tian lagi menyakinkan ku.


"Iya sayang, maaf ya. Aku benar-benar minta maaf" Tambah ku lagi.


Tian tersenyum melihatku dan mencium puncak kepala ku dengan sangat hangat.


"Ya sudah hari juga sudah larut. Lebih baik kita Tidur. Gak baik juga untuk wanita hamil tidur sampai larut" Ucap Tian lagi.


Aku mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Tian.


***


"Nah sekarang ponakan tante ini sudah rapi dan cantik" Ujar Susan selesai memakaikan Sofi seragam sekolah nya.


"Sekarang, waktu nya untuk berangkat ke sekolah" Tambah nya lagi.


Susan dan Sofi tersenyum senang. Aku membuka pintu kamar ku. Ku ukir senyuman di bibir ku melihat mereka berdua.

__ADS_1


"Wah, anak mama sekarang sudah cantik dan rapi ya" Ujar ku memuji putri ku itu.


Aku mendekati putri ku itu. Dan mencium. kening nya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, Sofi ke luar dulu ya. Sarapan nya sudah di siap kan di meja makan. Sofi pergi ke sana duluan ya. Mama mau bicara sama tante Susan sebentar" Ujar ku dengan lembut.


"Iya mama" Jawab gadis itu berlari ke luar dari kamar nya.


Aku tersenyum menatap kepergian putriku itu hingga tidak terlihat lagi oleh mataku.


"Susan, untuk perkataanku tadi malam ya mungkin membuat kamu tersinggung. Aku meminta maaf atas semua ucapanku tadi malam. Yah aku juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku sangat emosi dan tidak bisa mengontrol rasa ini. Aku benar-benar minta maaf" Ujar ku lagi.


"Gak apa-apa kok Fit. Aku ngerti kok keadaan kamu seperti apa saat ini. Mungkin itu semua karena keadaanmu yang sudah hamil membuat kamu tidak bisa mengontrol emosinya dan aku maklumi hal itu" Ujar Susan tersenyum.


"Aku sama sekali tidak marah kepada mu dan tidak membenci mu" Ujar nya lagi.


"Terima kasih ya Susan kamu tidak marah kepada ku. Dan terima kasih juga kamu sudah selalu bersama Sofi dan merawat Sofi sangat baik" Ujar ku lagi.


"Iya sama-sama. Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih kepadaku. Karena bagaimanapun Sofi itu adalah keponakanku dan masih mempunyai darah yang sama mengalir denganku. Karena dia adalah putri dari kakakku. Jadi sudah sewajibnya aku merawatnya dengan baik. Karena itu juga sudah menjadi tugasku sebagai tantenya" Jelas Susan terdengar sangat bijaksana.


"Iya kamu benar. Tapi tetap saja aku mengucapkan terima kasih kepada mu karena telah mau membantu ku untuk merawat Sofi" Ujar ku lagi.


"Sudah lah Fitri. Kamu jangan merasa sungkan dengan apa yang aku lakukan kepada Sofi. Seperti yang sudah kukatakan tadi. Dia adalah keponakanku dan aku mempunyai kewajiban untuk merawatnya dengan baik jadi kamu jangan merasa berhutang apapun kepadaku" Jelas nya lagi.


"Ya sudah sekarang ayo kita sarapan dulu. Nanti kamu telat lagi berangkat ke kantor nya. Kamu juga harus mengantar Sofi ke.sekolah nya terdahulu juga kan?" Ujar ku mengajak Susan untuk sarapan bersama.


"Iya, ayo kita sarapan sama-sama" Ajak Susan lagi.


***


"Tian mana? Apa sudah berangkat ke kantor?" Tanya gadis itu kepada ku saat kami sudah berada di meja makan.


"Oh Tian sudah berangkat dari tadi Kata nya sih ada yang harus di selesaikan di kator secepat nya" Ujar ku.


"Oh gitu" Hanya kata itu yang keluar dari mulut nya Susan.


"Ya sudah ayo kita makan" Ujar ku mengajak ke dua gadis yang berbeda usai itu untuk sarapan bersama.


"Sayang, kamu belum sarapan dari tadi ya?" Ujar ku melihat piring Sofi masih kosong dan bersih.


"Belum ma, Sofi nungguin mama. sama tante untu sarapan sama-sama" Ujar gadis kecil itu lagi.


"Ya sudah Sofi mau menggunakan selai apa roti nya? Biar mama ambilkan" Ujar ku lagi kepada putri ku itu.


"Sofi mau selai coklat ma" Ujar nya.


"Oke mama ambilkan ya" Aku mengoleskan selai coklat di roti yang aku ambil untuk putri kecilku itu.


"Ini sayang, silahkan di nikmati" Ujar ku lagi.


"Terima kasih mama" Jawab nya langsung melahap roti yang ku berikan tadi hingga tak tersisa.


***


"Mama Sofi berangkat ke sekolah dulu ya" Ujar nya saat kami selesai sarapan dan mengantar mereka di depan pintu.


"Iya sayang belajar yang rajin ya nak" Ujar ku saat Sofi mencium punggung tangan ku.


"Dada adik kakak, Kakak mau ke sekolah dulu. Adik sama mama tunggu di rumah dan jagain mama baik-baik ya" Ujar nya mengusap lembut perut ku.


Aku tersenyum melihat tingkah putri ku itu.


"Ayo tante kita berangkat"


"Ayo sayang. Fitri pergi dulu ya. Kamu baik-baik di rumah" Ucap nya berusaha untuk bersikap perhatian.

__ADS_1


"Iya makasih ya San. Kalian hati-hati di jalan" Ucap ku lagi.


Kedua gadis yang berlainan usia itu pun masuk ke dalam mobil yang berwarna kuning milik Susan. Susan pun menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalan raya menuju ke sekolahnya sofi dan juga ke kantornya.


__ADS_2