
Kami melakukan sarapan bersama di pagi itu. Setelah sarapan, aku mengantar Sofi ke sekolah nya. Begitu pun aku pergi berangkat ke sekolah ku untuk mengajar.
***
"Assalamualaikum Tian" Ujar ku menjawab telfon dari mantan suami ku itu.
"Waalaikumsalam" Jawab nya.
"Fitri, sekarang kamu di mana?" Tanya nya kepada ku.
"Aku sekarang berada di cafe. Kamu mau ngomong sama Sofi? Nanti malam aja ya soal nya Sofi di rumah bersama papa dan mama"
"Oh gitu, ya sudah nanti malam aku menghubungi kamu lagi" Ujar Tian lagi.
"Oke"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
***
"Assalamualaikum Fit" Ujar Rendi yang datang ke cafe.
"Waalaikumsalam" Jawab ku.
"Fit, ini ada beberapa desain undangan untuk pernikahan kita. Kamu mau pilih yang mana?" Tanya Rendi lagi.
Aku mengambil beberapa undangan yang di berikan oleh Rendi tadi untuk ku lihat.
"Abang mau pilih yang mana?" Tanya ku kepada calon suami ku itu.
"Aku sih terserah kamu saja. Kamu yang memutuskan mau pilih yang mana" Ujar nya lagi.
"Lo, bukan kah kita yang menikah? Alangkah baik nya jika kita memutuskan bersama-sama bang" Jawab ku.
"Iya, mana yang kamu pikir bagus dan baik, aku ikut saja"
"Oke sebentar ya aku lihat dulu" Ujar ku memilih undangan itu lagi.
"Jika yang ini bagaimana? Bagus gak?" Tanya ku memilih salah satu undangan dengan bermotif bunga berwarna biru dengan dasar putih di sampul undangan itu.
"Kenapa gak memilih yang ini saja?" Tanya Rendi memperlihat kan undangan berwarna hitam bermotif batik emas. Undangan tersebut seperti amplop. Undangan tersebut terlihat terlihat sangat mewah dan istimewa.
"Gak perlu terlalu mewah seperti itu bang. Cukup undangan sederhana seperti ini saja sudah bagus kok. Bukan kah tujuan undangan ini untuk mengundang orang dan meminta doa restu. Jadi nya sama saja tujuan nya bukan?" Ujar ku.
Rendi tersenyum mendengar ucapan ku tadi.
"Tidak salah jika aku memilih kamu sebagai istri ku. Kamu selalu suka dengan kesederhanaan dan tidak suka dengan yang kemewahan" Batin Rendi memuji ku.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada salah dengan apa yang aku katakan?" Tanya ku heran kepada calon suami ku itu.
"Tidak aku hanya kagum saja sama kamu" Ujar nya lagi.
"Kagum kenapa?"
"Kagum saja dengan sifat mu yang selalu sederhana seperti ini" Ujar nya.
"Jangan terlalu memuji ku seperti itu. Nanti aku nya terbang tinggi lo" Ujar ku sedikit bercanda.
Rendi tertawa lepas mendengar apa yang aku katakan tadi.
"Apaan sih bang? Emang ada yang lucu dengan ucapan ku?" Tanya ku heran melihat Rendi tertawa seperti itu.
"Gak, lucu saja mendengar ucapan mu" Ujar nya lagi.
"Ya sudah kita sepakat untuk memilih yang ini saja ya bang. Aku lebih suka dengan motif yang ini" Ucap ku lagi.
"Iya, aku ikuti saja kemauan mu. Aku setuju-setuju saja" Ujar nya.
"Terima kasih ya bang"
"Iya sama-sama. Oh ya, di mana putri kecil ku?" Tanya Rendi kepada ku.
"Sofi? Dia di rumah sama papa dan mama"
"Gak ikut dia? Padahal aku kangen lo sama dia"
"Gak, kasihan juga dia terus saja di bawa ke cafe. Gak bisa istirahat. Jika di rumah dia bisa istirahat kan" Ujar ku.
"Iya juga sih" Jawab Rendi mengangguk-ngangguk kepala nya.
***
__ADS_1
"Semua sudah siap? Gak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Tian kepada Susan dan mama nya. Yah saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Karena Susan sudah di perbolehkan pulang hari ini.
"Sudah kok sayang" Ujar Susan.
"Ya sudah ayo kita pulang" Ajak Tian lagi kepada istri nya itu.
Tian mendorong kursi roda Susan menuju ke mobil nya. Sedangkan mama Susan membawa tas yang berisi pakaian Susan selama di rumah sakit.
***
Tian menggendong Susan masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat di sana. Yah wanita yang baru selesai operasi itu memang harus banyak istirahat.
"Sekarang kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu. Aku mau ke dapur dulu untuk mengambilkan kamu sup sayur agar kamu bisa makan nanti nya. Setelah itu, kamu minum obat ya" Ujar Tian.
Susan hanya mengangguk setuju.
"Ini sup sayur nya. Ayo di makan. Aku suapin ya" Ujar Tian setelah beberapa menit dia turun ke dapur dan kembali lagi ke kamar nya. Begitu perhatian nya Tian kepada Susan.
"Terima kasih ya sayang kamu merawat ku dengan baik" Ujar Susan tersenyum senang.
"Iya sama-sama. Sudah seharus nya aku seperti itu kepada kamu. Aku adalah suami mu jika kamu sakit, aku lah yang merawat mu. Dan jika aku yang sakit kamu lah yang akan merawat ku" Ujar Tian dengan mantap.
Sontak hal itu membuat Susan tersenyum senang. Yah wanita mana yang gak bahagia mendapatkan suami yang begitu perhatian kepada nya. Jelas hal itu lah yang selalu di cari setiap wanita. Tidak hanya mau menemani kita di saat senang saja. Di saat susah pun dia bersama kita apa lagi mau merawat kita seperti ini.
"Sayang, kapan kamu mau menjemput Sofi?" Tanya Susan meminta kepastian kepada suami nya itu.
"Mungkin lusa aku"
"Kenapa gak sekarang saja sih Tian?"
"Aku belum mengabari Fitri untuk menjemput Sofi. Jika aku datang secara tiba-tiba untuk menjemput Sofi, apa kata Fitri nanti? Bisa-bisa dia tersinggung kepada ku" Jelas Tian lagi.
Susan hanya bisa diam dan tidak bisa berkomentar lagi. Wanita itu takut jika berkomentar akan membuat Tian mengamuk nanti nya dan malah marah kepada nya.
***
"Assalamualaikum" Salam ucapkan saat mengangkat telepon dari Tian.
"Waalaikumsalam" Jawab Tian.
"Fit, maaf jika aku menganggu. Apa kamu sedang sibuk?"
"Oh gak kok. Sama sekali kamu tidak menganggu ku. Dan Aku tidak sibuk sama sekali" Ujar ku kepada Tian.
"Oh sebentar ya aku panggilin Sofi nya dulu" Ujar ku mengerti karena tadi siang Tian sudah menghubungi ku untuk berbicara kepada Sofi putri nya itu.
"Apa?"
"Lusa aku akan menjemput Sofi ya. Karena Susan sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Jadi aku mau menjemput Sofi kembali bersama kami" Ujar Tian meminta izin kepada ku.
"Gak masalah kan jika aku menjemput nya?" Tanya Tian lagi kepada ku.
"Ya ampun Tian, Sofi itu anak mu. Darah daging mu jadi untuk apa aku melarang kamu menjemput nya pulang. Tentu saja aku gak marah sama sekali" Ujar ku kepada mantan suamiku itu.
"Terima kasih ya Fit. Kamu benar-benar wanita yang baik. Aku benar-benar minta maaf kepada mu. Karena telah berperilaku tidak sopan. Aku telah melarang mu untuk bertemu sama Sofi. Padahal kamu yang telah menjaga Sofi, saat aku sedang kesusahan seperti ini" Ujar Tian lagi.
"Gak apa-apa kok Tian. Sudah lah jangan dipikirkan lagi yang sudah lewat. Aku tidak merasa keberatan kok untuk menjaga Sofi selagi kamu dalam kesusahan" Ujar ku lagi.
"Iya Terima kasih atas pengertian mu" Ujar Tian lagi.
"Ya sudah, sebentar ya aku panggilin Sofi dulu" Ujar ku turun ke lantai bawah untuk mengambil putri kecilku. Di mana saat itu Sofi sedang bermain bersama keponakanku yaitu anak dari kakakku yang baru saja datang ke rumah.
"Sofi sayang, ini papa telfon mau ngomong sama kamu sayang" Ujarku menyerahkan ponselku kepada putri sambung ku itu.
Gadis kecil itu berlari menuju ke arahku dan mengambil ponsel yang aku serahkan kepadanya tadi.
"Hallo papa" Ucap nya dengan senyuman manis yang terukir di bibir.
"Sayang, apa kabar"
"Baik kok pa. Papa apa kabar?"
"Baik juga sayang. Oh ya Sofi sudah makan belum?"
"Sudah kok pa. Tadi mama masakin Sofi makanan kesukaan Sofi enak banget"
"Oh ya? Papa jadi kangen deh sama masakan mama. Sudah lama juga papa gak makan makanan yang di masak oleh mama Fitri" Ujar Tian.
"Maka nya, papa ke sini dong. Makan di rumah nenek, pasti papa akan bisa merasakan masakan mama nanti" Celoteh gadis kecil itu lagi.
Aku hanya bisa tersenyum melihat kedua ayah dan anak itu berbicara.
"Oh ya sayang, lusa papa akan menjemput kamu ya. Soal nya mama Susan sudah di perbolehkan pulang tadi sore. Jadi sekarang Sofi gak sendirian lagi di rumah"
__ADS_1
Kembali wajah murung terukir di wajah gadis kecil ku itu. Gadis kecil itu merasa tidak nyaman mau pulang ke rumah nya. Dia lebih merasa nyaman saat berada di rumah ku ini.
"Tapi nanti papa janji ya, papa nggak akan melarang Sofi untuk nginep di rumah mama Fitri" Pinta gadis kecil itu lagi.
"Iya sayang. Papa gak akan melarang kamu untuk menginap di rumah mama Fitri. Kamu boleh kok menginap di sana kapan pun kamu mau" Ucap Tian untuk meyakinkan Sofi.
"Benar ya pa. Jangan seperti kemaren lagi. Sofi hanya sebentar bersama mama Fitri" Ujar nya dengan mulut nya di manyun ke depan.
"Iya sayang papa. Kali ini papa janji tidak akan pernah lagi melarang Sofi untuk bersama mama Fitri"
"Asyik... Terima kasih papa" Ucap gadis kecil itu bahagia.
"Ya sayang sama-sama"
Aku pun ikut tersenyum senang mendengar Tian berkata seperti itu. Dimana dia tidak lagi melarang aku dan membatasi waktuku untuk bersama Sofi putrinya itu.
"Mana mama sayang papa mau ngobrol sama mama" Ujar Tian lagi.
"Ini ma papa mau bicara"
"Ya Tian"
"Sekali lagi aku minta maaf dengan apa yang pernah aku katakan kemarin. Aku tidak akan melarang kamu untuk bersama Sofi lagi. Itu janji ku" Ucap Tian dengan mantap.
"Terima kasih Tian kamu sudah memberikan ku waktu untuk bersama Sofi" Ujar ku tersenyum senang.
"Iya sama-sama" Jawab Tian mengakhiri percakapan kami di telepon pada malam itu.
"Tian, kok kamu membiarkan Sofi bersama Fitri lagi sih? Bukankah kamu sudah janji sama aku bahwa Sofi tidak diperbolehkan bertemu dengan Fitri apalagi sampai menginap di rumahnya" Ujar Susan yang tiba-tiba saja muncul dan mendengar percakapan kami.
"Sudah lah Susan, apa salah nya jika Sofi bersama Fitri. Sofi begitu sayang sama Fitri. Begitu pun sebalik nya jadi jangan kamu pisah kan mereka" Ujar Tian menasehati istri nya itu.
"Tapi Tian... "
"Sudah lah San. Ini keputusan ku. Dan tolong kamu hargai itu. Jika kamu tidak suka, terserah kamu mau apa. Tapi ini lah keputusan ku" Ujar Tian lagi.
Sontak mendengar hal itu membuat Susan terdiam dan tidak bisa berkata apa pun. Jelas arti nya laki-laki itu sudah mulai marah kepada nya. Dan jika di lanjutkan lagi, bisa-bisa Tian akan semakin mengamuk kepada nya.
"Ya sudah, jika itu sudah menjadi keputusan kamu. Aku akan berusaha menerimanya" Ujar Susan pada akhir nya.
"Gitu dong San, Lagian kamu tidak perlu khawatir aku dan Fitri sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Terlebih Fitri akan menikah bersama Rendi. Kami dekat atas dasar karena Sofi. Bukan ada rasa cinta di antara kamu lagi. Kami sudah mempunyai kehidupan masing-masing dan keluarga masing-masing. Di mana aku bersama kamu, dan juga Fitri sebentar lagi akan bersama Rendi" Jelas Tian meyakinkan istrinya itu.
Susan tampak terdiam memikirkan apa yang di katakan oleh suami nya itu.
"Sudah lah Susan, buang semua pikiran buruk mu terhadap aku dan Fitri. Bukan kan suatu hubungan itu harus di dasari dengan kepercayaan? Jika kamu tidak bisa percaya kepadaku, bagaimana bisa hubungan pernikahan kita ini akan langgeng?" Tanya Tian lagi.
"Iya benar juga apa yang di katakan Tian. Jika aku terus-terusan seperti ini bisa-bisa Tian malah ilfil kepada ku. Dan bisa-bisa Tian akan berpaling dari ku" Batin Susan lagi.
"Kamu benar sayang. Maafin aku ya sayang. Aku janji aku akan menuruti semua keputusan kamu. Dan aku akan mencoba untuk menerima Fitri bersama Sofi. Dan aku janji sama kamu aku tidak akan berpikir buruk lagi terhadap kamu dan Fitri"
"Gitu dong sayang. Aku percaya kamu pasti bisa melakukan hal itu. Yang jelas kamu hanya perlu percaya sama aku" Ujar Tian lagi.
"Iya sayang aku percaya sama kamu. Maaf kan aku ya sayang karena selalu berpikir yang bukan-bukan terhadap mu"
"Iya tidak mengapa. Aku maklumi hal itu karena kamu takut kehilangan ku. Tapi jangan semakin mengekang diri ku seperti itu ya sayang. Bisa-bisa aku menjadi bosan karena selalu di kekang dan tidak bebas seperti itu. Boleh cemburu tapi sewajar nya" Ujar Tian menasehati istri nya.
"Iya sayang" Jawab Susan.
"Ya sudah sekarang lebih baik kamu istirahat di kamar. Sudah larut juga dan kamu baru saja pulih jadi harus beristirahat dengan cukup"
"Tapi kamu bagaimana?"
"Aku masih ada pekerjaan sayang. Jika sudah selesai pasti aku akan tidur bersama mu. Kamu tidur saja duluan ya"
"Ya sudah, kamu jangan terlalu larut dalam kerja nya. Jaga kesehatan"
"Iya selesai ini aku pasti tidur"
***
"Sayang, ayo tidur, sudah pukul berapa ini. Nanti malah bangun kesiangan" Ajak ku kepada putri kecil ku itu.
"Iya mama" Ujar Sofi.
"Kak Sofi tidur dulu ya" Ujar nya kepada keponakan ku itu yabg duduk di kelas enam SD.
"Iya, kakak juga mau pulang sama mama. Dada Sofi selamat malam" Ujar keponakan ku itu.
"Iya kak, selamat malam juga" Sofi menaiki tangga menuju ke kamar ku. Sedang kan aku menunggu nya di kamar. Dan keponakan ku itu pun pulang bersama kakak dan abang ipar ku.
"Ma, kami pulang dulu ya" Ujar kakak ku kepada mama ku.
"Gak menginap di sini?"
__ADS_1
"Gak ma, besok anak-anak pada sekolah"
"Ya sudah hati-hati ya" Ujar mama ku.