
Tian berjanji akan menikahi Susan secara resmi nanti nya. Tentu saja hal itu yang di harapkan oleh Susan selama ini. Di mana dia bisa menuntut harta gono gini kepada suami nya itu. Dan dia akan menjadi nyonya besar sesungguh nya di rumah megah itu.
***
"Assalamualaikum" Terdengar suara orang mengucapkan salam dari luar rumah.
"Waalaikumsalam" Jawab mama ku membuka kan pintu.
"Tian" Ujar mama ku setelah melihat siapa yang datang.
"Iya ma" Tian mencium punggung tangan mama ku. Sedangkan Susan hanya menatap dengan sinis ke arah mama ku.
"Maaf ma malam-malam gini mengganggu, Fitri nya ada?"
"Ada di kamar bersama Sofi"
"Oh silahkan masuk" Ujar mama ku mempersilahkan Tian yang datang bersama Susan tadi masuk.
"Wah ternyata rumah orang tua Fitri besar juga ya" Batin Susan melihat sekeliling ruangan tamu itu.
"Aku pikir Fitri orang yang susah, ternyata tidak" Batin nya lagi. Yah selama ini dia hanya kenal sama aku sebagai ibu rumah tangga saja. Dia tidak pernah datang ke rumah ku. Baru kali ini dia datang ke rumah ku untuk berkunjung.
"Silahkan duduk"
"Terima kasih ma. Saya datang ke sini mau menjemput Sofi ma. Sudah lama dia tidak pulang ke rumah" Ujar Tian meminta izin kepada mantan mama mertua nya itu.
"Oh begitu, sebentar ya saya panggilkan Fitri dan Sofi dulu" Mamaku langsung pergi ke kamarku untuk memanggil kami berdua.
"Fitri" Ujar mama ku membuka pintu kamarku terlihat aku dan Sofi sedang bermain boneka sambil tertawa bersama.
"Iya ma"
"Di bawa ada Tian dan Susan katanya mau menjemput Sofi"
Aku mengkerutkan keningku merasa heran atas kedatangan mereka berdua. Karena mereka tidak memberitahuku terlebih dahulu jika mau menjemput Sofi.
"Mau menjemput Sofi? Kok gak bilang dulu sama aku? Kenapa mendadak seperti ini sih?"
"Mama juga nggak tahu sih mereka tiba-tiba datang dan mengatakan mau mengajak Sofi pulang" Ujar mama ku lagi.
"Ma, Sofi belum mau pulang ma. Sofi masih mau di bersama mama" Rengek putri kecilku itu aku padaku.
"Sebenarnya mama juga nggak mau jika Sofi pulang. Mama maunya Sofi di sini bersama mama. Tapi, Papa sudah menjemput Sofi. Mungkin papa kangen sama Sofi. Makanya papa menjemput Sofi untuk pulang ke rumah" Ujar ku lagi mencoba memberi pengertian kepada putri kecil ku itu.
"Tapi ma, Sofi gak mau pulang. Sofi gak mau ketemu sama Tante Susan" Ujar nya lagi.
"Lo kok gitu sih nak. Walau bagaimana pun tante Susan itu adalah mama mu juga. Lagian kasihan juga sama papa yang sudah lama Sofi tinggalin"
"Tapi Sofi gak mau jika tante Susan masih ada di rumah papa ma. Sofi gak mau ketemu sama tante Susan"
"Sayang, jangan begitu dong nak. Sudah mama bilang tante Susan itu tetap mama nya Sofi. Tante Susan sebenar nya baik kok sayang. Hanya saja cara nya yang salah. Sekarang, kita temui papa dulu ya" Ajak ku kepada putri kecil ku itu.
Tampak raut keberatan di wajah Sofi. Tapi aku memaksa nya agar gadis kecil itu mau ikut bersama ku.
"Ayo dong sayang"
Dengan langkah yang berat, gadis itu mengikuti jejak langkah kaki ku.
__ADS_1
"Tian, Susan" Tegur ku setelah tiba di ruang tamu tepat di mana Susan dan Tian berada.
"Iya ada aku juga? Sengaja sih aku ikut Tian ke sini. Takut nanti nya di goda sama janda kembang" Sindir Susan kepada ku.
"Susan apa-apaan sih? Ngapain kamu ngomong seperti itu?" Bisik Tian merasa tidak enak hati kepada ku.
"Lo, emang benar kan sayang. Dia itu janda kembang. Yah aku takut saja nanti kamu di goda sama dia" Ujar Susan membalas bisikan Tian.
"Fitri tidak seperti itu. Kamu jangan menuduhnya bukan-bukan"
"Sayang, kok kamu belain dia terus sih? Kamu tahu kan aku ini istri mu bukan dia. Harus nya kamu bela aku dong" Ujar Susan kesal.
"Sudah ya, cukup. Aku bisa mendengar apa yang kalian katakan. Jika mau bertamu, buat urusan bertamu di rumah orang. Jangan berbicara seenak nya" Ujar ku memperingati Susan dan Tian.
"Dan sebagai orang tua, tolong jaga sikap dan tolong jaga perkataan nya. Ada anak kecil di sini yang harus kita jaga perasaannya. Tidak baik jika anak kecil mendengar kata-kata yang tidak pantas seperti itu" Nasehat ku kepada Tian.
"Sayang ayo salaman sama papa dan mama nya" Ujar ku kepada Sofi. Sofi pun mengikuti apa yang aku perintahkan kemudian kembali lagi ke pangkuan ku.
Sungguh gadis kecil itu sangat tidak menyukai Susan. Padahal dulu dia dekat dengan Susan. Selama aku hamil Raffa dan Raffa masuk ke dalam rumah sakit selama beberapa bulan, Susan lah yang selalu bersama Sofi. Namun setelah Sofi mengetahui bahwa Susan telah merebut papanya dariku dia mulai merasa kesal kepada Susan. Ditambah lagi Susan selalu mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya ia ketahui saat ini membuat psikolog gadis kecil itu terganggu. Karena itulah dia seperti ketakutan bila bertemu dengan Susan.
"Sayang, kita pulang ya. Sudah lama lo Sofi tidak pulang ke rumah. Papa kangen sama Sofi" Ujar Tian mulai membujuk putri nya itu.
Sofi menatap ku untuk meminta persetujuan dari ku. Yah gadis itu seperti aku lah ibu kandung nya. Dia lebih dekat kepada ku dari pada Tian ayah kandung nya sendiri. Terlebih ada Susan yang selalu bertindak semaunya tampa memikir perasaan gadis kecil ku itu.
Aku mengangguk memberikan izin. Yah tidak mungkin aku melarang ayah kandung nya untuk bersama putri nya bukan.
"Tapi nanti Sofi masih boleh kan nginap bersama mama Fitri?" Tanya gadis itu.
"Pasti dong sayang. Pasti boleh. Kita atur jadwal ya, seminggu di rumah mama, dan seminggu di rumah papa. Bagaimana?" Ujar Tian memberi ide agar gadis kecil itu mau pulang bersamanya tanpa memaksanya. Yah mantan Suamiku itu tahu bahwa Sofi dekat denganku dan dia pasti akan sedih jika tidak bisa bersamaku lagi oleh karena itu lah dia memberi ide seperti itu.
"Oke Sofi setuju" Jawab gadis kecil itu mulai mengukir senyuman di wajah nya.
"Silahkan di minum teh nya" Ujar mamaku menyajikan teh hangat untuk Tian dan Susan.
"Terima kasih ma" Jawab Tian.
"Apaan sih, kamu nggak perlu memanggil dia dengan sebutan mama. Secara dia itu tidak menjadi mama mertuamu lagi. Tepatnya sudah menjadi mantan mama mertua" Bisik Susan di telinga Tian.
"Apaan sih San, Apa salahnya jika aku memanggilnya dengan sebutan mama"
"Pokok nya aku gak suka kamu memanggil nya dengan sebutan itu" Tegas Susan.
"Terserah" Ujar Tian.
"Ya ampun, Susan, Susan Kenapa sih terlalu mengekang seperti itu? Apa salah nya jika Tian memanggil mama ku dengan sebutan mama. Tidak ada undang-undang yang melarang seorang mantan menantu memanggil mama kepada mantan mama mertuanya" Batin ku menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Susan yang begitu cemburuan.
"Ayo sayang kita pulang" ajak Tian kepada Sofi setelah mereka selesai menghabiskan teh yang sajikan oleh mamaku.
"Dada mama... Sofi pulang dulu ya kita akan bertemu lagi minggu depan" Ujar Sofi memeluk ku.
"Iya sayang. Baik-baik ya di sana, dengar apa kata mama dan papa" Ujar ku mencium pucuk kepala putriku itu.
Tak terasa beberapa air bening kini meleleh di pipiku melihat kepergian putriku itu bersama papanya.
Ya karena sudah terlalu bersama rasanya sedikit aneh ketika melihat dia pergi bersama papanya. Aku merasa kesepian karena tidak ada lagi teman tidurku di kamar.
***
__ADS_1
"Assalamualaikum buk Fitri" Salam di berikan kepada ku saat aku sedang duduk di taman sekolah sendirian oleh pak Rendi. Di mana saat itu aku sedang mengerjakan beberapa tugas kuliah ku. Yah aku sudah mulai masuk kuliah di Universitas Terbuka yang jadwal kuliahnya hari Sabtu dan Minggu. Sudah dua minggu aku kuliah di sana untuk mengambil ijazah mengajar di SD. Yah karena itu lah peraturan di kementrian pendidikan saat ini. Mengajar sesuai dengan ijazah yang di miliki.
"Waalaikumsalam, Eh pak Rendi" Jawab ku.
"Maaf jika saya menganggu. Apa saya boleh duduk di sini?" Tanya nya lagi.
"Oh silah kan pak"
"Hmm... Sebenarnya ada yang mau saya katakan kepada buk Fitri"
"Ada apa ya pak? Seperti nya serius sekali"
"Hmm... " Pak Rendi nampak berpikir harus memulai mengutarakan nya dari mana.
"Tapi saya harap, buk Fitri tidak berpikir yang bukan-bukan kepada saya"
"Iya, emang nya ada apa?" Tanya ku penasaran dengan apa yang mau di katakan oleh pak Rendi tadi.
"Maaf sebelum nya buk Fitri, Saya mempunyai niat untuk meminta bu Fitri untuk menjadi teman masa tua saya" Ujar nya pada akhir nya.
Aku mengkerutkan keningku mendengar apa yang dikatakan oleh pak Rendi tadi. Sungguh aku tidak percaya dengan ucapan yang kudengar tadi.
"Maksud nya apa ya pak?" Tanya ku meminta penjelasan.
"Begini buk Fitri, saya tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk saya mengatakan nya. Tapi saya sudah menunggu masa iddah buk Fitri selesai. Dan Sudah sebulan masa Iddah itu berakhir. Jadi saya ingin mengajak buk Fitri untuk Taaruf dengan saya" Jelas pak Rendi kepada ku membuat aku merasa kaget.
Sungguh aku tidak percaya ustad Rendi mengatakan niat baik nya kepada ku. Aku hanya bisa diam tidak bisa memberikan jawaban apa pun. Aku masih syok mendengar pengakuan dari pak Rendi tadi.
"Maaf jika saya lancang buk Fitri. Saya sudah lama memendam perasaan ini kepada buk Fitri. Karena itu saya mau mengajak buk Fitri untuk taaruf" Ujar pak Rendi lagi kepada ku.
"Saya juga tidak suka melihat buk Fitri di pandang rendah oleh orang-orang karena status buk Fitri. Seperti kejadian kemaren. Saya hanya berniat baik untuk menjaga buk Fitri dan melindungi buk Fitri" Ujar nya lagi.
Sungguh hati ku merasa tersentuh mendengar kata-kata dari pak Rendi itu. Selama ini pak Rendi begitu baik kepada ku. Dia teman setia ku untuk berbagi cerita kehidupan ku dan memberikan aku nasehat dengan ilmu-ilmu agama nya.
Meski di hati sudah ada timbul rasa nyaman, namun aku masih ragu untuk menerima nya. Di satu sisi nyaman ketika berada di samping nya. Kulit nya yang sawo mateng dengan alis tebal di kening nya. Bulu mata yang lentik dangan bola mata yang coklat. Hidung mancung dengan bibir tipis nya membuat wajah nya begitu manis di lihat.
"Apa aku terima saja pinangan ustad Rendi? Sejujurnya aku telah kapok mau menikah dengan laki-laki yang aku yakin bisa berubah karena ku. Tapi nyatanya dia menghianati ku" Batin ku mulai berpikir.
"Jika kamu tidak bisa memberikan jawaban sekarang? Tidak masalah. Saya akan menunggu jawaban dari mu buk Fitri. Saya tidak memaksa. Jika ibu setuju, saya akan membawa keluarga saya untuk bertemu dengan keluarga ibu jika setuju" Ujar pak Rendi.
"Maaf kan saya pak Rendi, saat ini saya tidak tahu memberikan jawaban apa. Saya masih bingung tolong berikan saya waktu untuk berpikir terlebih dahulu" Ujar ku kepada pak Rendi tadi.
"Tapi pak satu yang mau saya tanya kan kepada bapak. Dari semua wanita di dunia ini yang masih gadis, kenapa bapak memilih saya? Bukan kah bapak tahu sendiri jika saya ini hanya lah seorang janda. Sedangkan bapak masih bujangan" Tanya ku kepada nya.
Pak Rendi tersenyum mendengar pertanyaan ku barusan.
"Saya juga tidak tahu buk Fitri. Saya mulai menyukai buk Fitri semenjak kita bertemu pertama kali di hotel. Ditambah buk Fitri menceritakan semua masalah keluarga buk Fitri kepada saya dan meminta pendapat saya sebagai guru spiritual buk Fitri. Saya menjadi simpati atas apa yang buk Fitri alami. Sehingga rasa simpati itu berubah menjadi suka. Kemudian saya berniat untuk melindungi buk Fitri dan menjaga buk Fitri hingga akhir hayat saya nantinya. Bukankah rasa sayang dan cinta itu tidak memandang bulu. Saya bisa menerima keadaan buk Fitri sekarang ini. Karena itu saya mengajak Bu Fitri untuk taaruf" Jelas pak Rendi lagi.
"Tolong berikan saya waktu pak Rendi" Ujar ku lagi
"Iya buk, saya akan memberikan ibu waktu agar. Saya mengerti keadaan buk Fitri saat ini. Secara buk Fitri belum lama berpisah, pasti masih ada rasa trauma di hati nya"
"Tapi inshaallah, saya akan berusaha membuat buk Fitri bahagia. Saya mencintai buk Fitri karena Allah. Dan saya ingin menikahi buk Fitri atas dasar ibadah" Tambah nya lagi.
"Terima kasih atas niat baik mu pak. Saya meminta waktu seminggu untuk memikirkan semua ini. Saya juga butuh pendapat dari keluarga saya" Ujar ku.
Pak Rendi tersenyum dan mengangguk setuju dengan permintaan ku itu.
__ADS_1