Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 40


__ADS_3

Aku dan Tian sangat merasa frustasi mengetahui bahwa anak ku Raffa mengalami penyakit luekimia.


Orang tua ku dan orang tua nya Tian sanggup membantu biaya pengobatan untuk putra kecil ku itu.


Aku dan Tian terus saja melakukan pengobatan yang di anjurkan oleh dokter untuk kesembuhan putra kecil kami.


Sungguh tidak tega rasa nya hati ini melihat malaikat kecil kami itu terus saja melakukan kemoterapi. Sedangkan orang dewasa seperti kami saja tidak sanggup rasa nya mengalami hal itu apa lagi di yang masih kecil ini.


"Ya Allah, sembuh kan lah anak ku. Biarkan lah dia menikmati masa-masa tumbuh kembang nya dengan baik seperti pada anak lain umum nya" Doa ku setiap kali selesai melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslim.


***


"Tian, aku turut sedih dengan keadaan Raffa sekarang. Semoga Raffa cepat sembuh ya" Ujar Susan mencoba untuk menenangkan hati Tian yang sedang gelisah. Yah Tian memang sering pulang ke rumah untuk melihat keadaan Sofi. Sedangkan aku terus saja berada di rumah sakit untuk menemani putra ku yang sedang berjuang itu.


Susan duduk di samping Tian mencoba memberi ketenangan dan berusaha menjadi teman curhat yang baik untuk Tian.


"Ini merupakan kesempatan baik untuk ku. Aku bisa mengunakan kesempatan ini untuk membuat Tian jatuh kedalam pelukan ku. Aku bisa memanfaat kan momen seperti ini sebaik mungkin" Ujar Susan berkata kepada diri nya sendiri.


Susan datang mendekati Tian dan duduk di samping nya saat Tian duduk melamun di halaman belakang rumah nya.


"Terima kasih Susan atas perhatian mu" Jawab Tian.


"Untuk sementara waktu, tolong kamu rawat Sofi ya. Fitri tidak bisa pulang karena dia harus selalu menemani Raffa yang sedang berjuang" Ujar Tian dengan raut wajah yang depresi.


"Ya Tian kamu tenang saja aku pasti akan menjaga Sofi dengan baik. Kamu dan Fitri jangan pikirkan masalah Sofi ya. Ada aku di sini" Ujar Susan menenangkan Tian dengan menggenggam tangan Tian.


Tian membiarkan tangannya digenggam oleh gadis yang seksi itu. Sungguh saat ini dia memang sedang membutuhkan seseorang sebagai teman curhatnya dan juga untuk mendengarkan keluh kesahnya.


"Aku tidak tahu harus bagaimana dan harus berbuat apalagi untuk kesembuhan Raffa? Aku sungguh tidak sanggup melihat Raffa menjalani berbagai rangkaian pengobatan seperti itu. Aku sangat sedih, aku sangat terpukul. Kenapa bukan aku saja yang diberikan cobaan penyakit seperti itu. Kenapa harus anakku yang masih kecil dan tidak berdosa itu menerima cobaan cobaan seperti ini?" Ujar Tian menangis. Tian menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.


Susan menarik kepala Tian dan membenamkan nya ke dalam dada nya. Gadis itu memeluk suami ku dengan sangat hangat nya untuk memberi ketenangan.


"Sabar Tian, mungkin semua ini ada hikmah nya. Raffa anak yang kuat. Dia pasti bisa melewati cobaan ini" Ujar Susan.


"Hampir tiga bulan dia melakukan pengobatan ini. Tapi hasil nya belum ada perubahan. Entah bagaimana lagi harus aku lakukan agar Raffa bisa sembuh" Ucap Tian lagi membalas pelukan Susan dengan menangis.


Susan tersenyum puas mendapati bahwa Tian membalas pelukannya itu artinya perlahan Tian kini mulai nyaman dan ia bisa melanjutkan aksinya.


"Sabar ya Tian, kamu harus kuat demi Raffa" Ujar Susan kembali memberi semangat.


Tian melepaskan pelukannya kepada Susan. Ia menatap bola mata gadis itu.


"Terima kasih ya Susan kamu sudah mau menjadi teman curhat ku. Aku memang kelihatan kuat di depan Fitri karena aku tidak mau membuatnya semakin sedih dan terpukul. Sehingga dia tidak tahu sebenarnya apa yang ada di dalam hati ini" Ujar Tian menatap Susan.


"Iya sama. Kamu tenang aja ya Tian aku akan selalu berada di sisimu. Aku akan selalu menjadi teman curhatmu di saat kamu butuh" Ujar Susan memegang lembut pipi Tian yang basah dengan air mata.


Tian merasakan ada kehangatan terhadap sentuhan Susan. Entah lah aku pun tidak tahu entah setan apa yang ada di dalam pikiran suami ku itu.


Karena selama ini mereka telah dekat dan semakin dekat, apa lagi aku tidak pernah pulang lagi ke rumah karena terlalu fokus untuk pengobatan Raffa dan menemaninya di rumah sakit. Hal itu yang membuat kesempatan susah untuk membuat hati dan merasa hangat apabila dekat dengan nya.


Ada getaran aneh yang timbul di hati kedua nya. Mereka saling menatap dengan lekat nya, merasakan kehangatan dan kenyamanan di hati masing-masing.


Hingga membuat bisikan setan terselibas di hati keduanya. Wajah Susan semakin dekat, semakin dekat dengan Tian. Yah memang sudah lama gadis itu memimpikan bibir tebal nan seksi milik lelaki yang sudah mempunyai dua anak itu.


Wajah Susan semakin dekat dan dekat hingga nafas hangatnya terasa di pipi Tian yang basah dan lembab karena air mata itu.


Kali ini lelaki itu tidak bisa menolak pesona gadis seksi yang ada di hadapannya itu. Karena sebagai laki-laki yang normal, ia juga membutuhkan kasih sayang seorang perempuan. Dimana ia sudah lama tidak mendapatkannya dariku.

__ADS_1


Yah sembilan bulan dia berpuasa karena kehamilan ku yang lemah, dan setelah aku melahirkan dia baru mendapatkan kehangatan dariku. Namun kami mendapati cobaan seperti ini di mana Raffa mengalami penyakit yang serius sehingga membuat aku fokus untuk pengobatan anakku dan tidak bisa menemaninya di rumah.


Dekat, dan dekat dan pada akhir nya bib*r kedua nya menyatu. Di hati Susan tersenyum puas telah berhasil membuat Tian tidak menolak ci*man nya. Susan memejam kan mata nya menikmati rangkaian kehangatan bib*r yang mereka lakukan. Begitu pun dengan Tian, suami ku itu pun larut dalam kehangatan dan sentuhan hangat yang di berikan oleh mantan adik ipar nya itu.


Lama mereka berada di posisi itu saling ******* saling mengh*sap memeluk dengan erat dan penuh dengan kehangatan.


Seperkian menit kemudian mereka pun melepaskan tautan nya. Tian dan Susan saling menatap.


"Maaf kan aku Susan, tidak seharus nya aku melakukan hal ini. Harus nya aku... " Ujar Tian tidak bisa melanjutkan perkataan nya karena Susan telah ******* bib*r nya lagi.


***


"Susan" Tegur Tian saat mereka sarapan bersama.


"Iya"


"Hmm.... Sofi di mana?"


"Sofi masih di kamar nya. Hari ini hari minggu jadi aku biarkan saja dia bangun kesiangan" Jelas Susan.


"Oh gitu" Tian mengangguk mengerti.


"Susan"


"Iya" Jawab gadis itu.


"Aku, aku minta maaf untuk kejadian tadi malam. Rasa kesedihan di hati ini dan bersalah ini membuat aku tidak bisa mengendalikan diri. Seharus nya aku sebagai abang mu tidak melakukan hal seperti apa yang kita lakukan tadi malam aku... "


"Sudah lah Tian, kamu jangan memikirkan apa yang terjadi tadi malam" Potong Susan memegang tangan Tian.


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Sejujurnya aku merasa senang dan nyaman ketika berada di dekat mu. Aku menganggap mu lebih dari abang ku. Aku mempunyai rasa lebih dari itu terhadap mu" Ujar Susan lagi.


Tian kaget mendengar kejujuran Susan kepada nya. Sungguh dia tidak menyangka bahwa mantan adik ipar nya itu mempunyai rasa lebih dengan nya.


"Tian, dari awal sejak pertama kita bertemu, aku memang sudah mempunyai rasa ini. Hati ini sakit saat kamu menikah dengan kak Santi. Aku tidak bisa menerima semua kenyataan ini sehingga aku memilih untuk pergi dengan alasan melanjutkan pendidikan ku. Yah siapa tahu dengan aku pergi jauh aku bisa melupakan mu. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Bayangan mu selalu ada di ingatan ku. Hingga aku mendapat kabar bahwa kak Santi telah tiada, aku kembali lagi untuk menemui mu. Namun, kenyataan menyakitkan kembali terjadi kamu telah menikah dengan Fitri" Cerita Susan tentang masa lalu nya.


Tian tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa termenung dan mencerna semua cerita yang di utarakan oleh Susan kepada nya.


"Tian, aku mencintai mu. Aku sangat sayang kepada mu. Aku rela jika menjadi simpanan mu. Aku rela jika menjadi yang kedua. Aku bisa menjaga Sofi sepenuh hati ku" Ujar Susan meminta balasan cinta nya kepada Tian.


Tian masih syok dan kaget mendengar ungkapan rasa Susan barusan. Tian menarik tangan nya yang di pegang oleh Susan tadi.


Ia benar-benar belum bisa terima kenyataan bahwa mantan adik ipar nya itu mempunyai rasa lebih dengan nya.


"Ternyata rasa curiga Fitri selama ini benar ada nya. Susan memang mempunyai rasa lebih dengan ku" Batin Tian bergejolak.


"Tian, aku tidak memaksa mu untuk menjawab tentang perasaan ku kepada mu ini. Aku tidak akan meminta mu juga untuk membalas nya. Aku hanya ingin mengungkap kan isi hati ini agar kamu tahu tentang perasaan ku" Ujar Susan.


***


"Sayang, bagaimana keadaan Raffa apa ada perubahan?" Ujar Tian saat ia tiba di rumah sakit.


"Masih dalam pemantauan dokter" Jawab ku.


"Tadi malam kamu tidur di rumah?" Tanya ku lagi.


"Iya sayang. Maaf aku tidak menemani mu. Tadi malam aku merasa sangat kelelahan hingga membuat ku tertidur" Jelas Tian kepada ku.

__ADS_1


Aku hanya bisa mengangguk mengerti.


"Sayang, aku tidak tega melihat Raffa seperti ini. Sudah berbulan-bulan Raffa menjalani pengobatan dan hasil nya tetap saja tidak ada perubahan. Aku... "


"Terus kita harus bagaimana?" Potong ku dengan nada yang sedikit meninggi.


"Apa kita harus pasrah saja dengan keadaan Raffa sekarang dengan tidak menjalan kan pengobatan yang di anjurkan dokter begitu?" Ujar mu lagi dengan rasa kecewa dan kesedihan di hati.


"Aku hanya tidak tega melihat dia seperti ini sayang" Jelas Tian.


"Jika kamu tidak tega melihat dia seperti ini, Apa kamu pikir aku tega melihat nya seperti ini? Aku ibu nya Raffa. Aku yang mengandung dan melahirkan nya. Jelas aku yang lebih terpukul dan lebih menderita melihat putra ku seperti ini" Ujar ku dengan amarah yang tidak bisa di tahan. Air mata pun kini mengalir di pipi ku.


"Jika kamu tidak mau berusaha untuk kesembuhan Raffa, biar kan aku yang berusaha untuk kesembuhan anak ku. Dia anak ku. Aku rela melakukan apa pun untuk nya. Bahkan nyawa pun sanggup aku berikan untuk putra ku" Ujar ku lagi dengan menggebu-gebu. Air mata tidak berhenti mengalir di pipi ku.


Sungguh rasa nya hati ini hancur mendengar apa yang di katakan Tian barusan. Harus nya sebagai seorang ayah dia berusaha dan mendukung Raffa agar bisa sembuh serta tidak mudah menyerah begitu saja. Namun, ini jauh dari apa yang aku harapkan. Dia malah menyerah begitu saja.


Tian datang mendekati ku. Mencoba untuk memeluk ku agar aku sedikit tenang.


"Sayang maaf kan aku. Aku benar-benar minta maaf dengan apa yang aku katakan tadi. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah atau membuatmu kesal dengan perkataanku tadi. Maaf kan aku sayang" Ujar Tian menarik kepala ku ke dalam pelukan nya.


"Harus nya kamu jangan membuat ku berputus asa seperti itu. Saat ini Raffa sedang membutuhkan perhatian dan juga support dari kita agar dia bisa berjuang melawan penyakitnya. Jangan kamu patahkan harapannya untuk sembuh" Ujar ku dengan menangis.


"Iya sayang sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf dengan apa yang terjadi barusan" Ujar Tian lagi mencium puncak kepala ku.


***


"Tian, ada apa kamu mengajak ku ketemuan di sini?" Tanya Susan saat diri nya tiba di sebuah cafe yang telah mereka sepakati untuk bertemu.


Tian menghela napas berat nya untuk melepaskan rasa kegundahan di hati nya.


"Entah lah San. Aku bingung harus bagaimana lagi. Saat ini aku sudah berputus asa dengan keadaan Raffa yang semakin hari semakin memburuk. Aku merasa dengan pengobatan yang di lakukan itu hanya menyiksa nya saja. Harus nya dia bahagia di akhir hidup nya tidak menderita dengan berbagai pengobatan seperti ini. Tapi Fitri, dia terus saja kekeh untuk kesembuhan Raffa. Dia tidak mau menyerah sedikit pun" Jelas Tian menitikkan air mata nya.


Susan datang mendekati Tian. Gadis itu memeluk Tian dari belakang untuk menenangkan hati nya.


"Sabar ya Tian. Semua ibu pasti melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Fitri. Jika aku berada di posisi Fitri pasti aku juga melakukan hal yang sama aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan putraku. Aku juga tidak tahu harus mengatakan apa tapi yang jelas aku akan selalu berada di sisimu disaat kamu butuh" Jelas Susan terus memeluk Tian dari belakang.


Tian memegang tangan Susan sebagai ungkapan balasan pelukan yang di lakukan gadis itu kepada nya.


Semakin senang lah hati Susan karena perlahan namun pasti Tian telah mulai luluh di dalam pelukan nya.


***


"Mama... Mama..." Gadis seksi itu berteriak memanggil mama nya saat diri nya tiba di rumah wanita paruh baya itu.


"Iya ada apa sih San? Datang-datang malah berteriak seperti itu memanggil mama. Ada apa? Sepertinya kamu kelihatan senang sekali" Ujar wanita paruh baya itu.


"Jelas dong ma aku sangat bahagia hari ini. Mama tahu aku sangat bersyukur karena Raffa saat ini sakit seperti itu"


"Lo kenapa kamu malah senang Raffa sakit seperti itu?" Tanya mama Susan dengan heran.


"Iya dong ma aku senang dan bahagia. Di mana dengan keadaan Raffa seperti ini membuat aku mempunyai banyak kesempatan untuk mengambil hatinya Tian" Ujar Susan dengan tersenyum puas.


"Apa? Jadi kamu sudah berhasil membuat Tian jatuh ke dalam pelukan mu?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.


"Belum sepenuhnya sih ma. Tapi perlahan namun pasti Tian sudah mulai membuka hatinya untuk menerima aku di dalam hidupnya. Yah meskipun dia belum memberikan jawaban saat aku mengungkapkan perasaanku kepada nya. Dan dia belum memberi kejelasan tentang perasaannya terhadapku. Tapi aku yakin dengan kesabaran dan dengan perlahan Tian pasti akan menjadi milikku" Ujar Susan dengan penuh keyakinan.


"Apa benar begitu?"

__ADS_1


"Iya dong ma, mama tahu gak di saat seperti ini, yang sangat terpuruk dan terpukul. Dan dia sedang membutuhkan teman untuk nya berbagi cerita luka yang ia alami saat ini. Sedangkan Fitri tidak ada di sisinya. Istri nya itu sibuk menunggu Raffa yang berada di rumah sakit. Jadinya Tian merasa kesepian sehingga dia sedikit demi sedikit telah membuka hatinya untukku yang selalu ada di sampingnya dan selalu setia menemaninya saat ia seperti ini" Jelas Susan lagi.


"Bagus nak, ini awal yang bagus untuk mendapatkan apa yang seharus nya menjadi milik kita" Ujar wanita paruh baya itu tersenyum puas.


__ADS_2