Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 28


__ADS_3

"Tian" Tegur seseorang dari belakang yang membuat Tian berbalik melihat siapa yang menegur nya tadi.


"Susan" Jawab Tian saat mengetahui siapa yang menegur nya tadi.


Susan adalah adik kandung nya Santi istri pertama nya Tian.


"Kamu.... "


"Yah, aku kerja di sini. Baru juga seminggu di sini" Jawab nya.


"Kamu sudah lulus kuliah nya?" Tanya Tian lagi.


"Sudah dong, karena aku sudah lulus maka nya aku ke melamar pekerjaan di sini. Oh ya, kamu ngapain di sini?" Tanya Susi.


"Oh aku sekarang telah pindah ke perusahaan anak cabang ini dan mas Budi pindah ke perusaan induk" Jelas Tian.


"Oh gitu... " Jawab Susan terus memperhatikan penampilan Tian dari ujung rambut hingga ke ujung kaki nya.


"Waw, ternyata tidak ketemu beberapa tahun terakhir ini membuat Tian berubah. Penampilan nya sangat menarik hati" Batin Susan.


Tian yang dia kenal dulu berpenampilan seadanya saja. Bila ke kantor Tian memang memakai jas dan pakaian kantor seperti orang biasa nya. Namun, rambut dan janggut nya benar-benar tidak terurus. Maklum saja mak, waktu itu Tian masih kecanduan. Sehingga mengurus diri nya saja dia tidak terlalu pedulikan itu.


Dan untuk masalah perusahaan ia selalu di bantu oleh paman nya.


"Kamu sekarang terlihat berbeda ya Tian?" Ujar Susan lagi.


"Oh tentu saja. Banyak yang membuat diri ini berubah" Jawab Tian.


"Oh ya, bagaimana dengan keadaan Sofi?" Tanya Susan.


"Sofi alhamdulillah baik-baik saja. Dan sekarang malaikat kecil itu tumbuh menjadi gadis yang cerdas"


"Waw, aku kangen sama dia. Nanti boleh ya aku ke rumah kamu untuk bertemu dengan keponakan ku itu" Ujar Susan lagi.


"Iya tentu saja boleh. Nanti sepulang kantor kita ke rumah ku ya"


"Ya sudah kalau begitu aku ke ruangan ku dulu ya" Tambah Tian lagi. Susan mengangguk setuju.


Gadis yang memiliki tubuh ramping itu memegang dada nya. Entah mengapa ada perasaan aneh yang timbul di hati nya saat melihat penampilan dan perubahan Tian hari ini.


Sungguh kali ini ia memang cocok sebagai CEO di perusahaan ini karena penampilan nya yang berwibawa, gagah dan kalem. Rambut nya yang rapi berdiri tegak dengan rahang yang tegas membuat diri nya sangat memikat hati Susan.


"Kenapa ini? Ada apa dengan perasaan ini?" Ujar Susan lagi.


"Apa aku telah jatuh hati pada nya? Jika itu benar apa salah nya, toh kakak ku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan aku yakin jika aku bisa mengganti posisi Santi sebagai ibu dari Sofi. Yah secara Sofi masih ada sangkut paut nya dengan diri ku" Ujar Susan penuh keyakinan.


"Dan aku juga yakin Tian belum mendapatkan mama baru untuk Sofi. Jika sudah, pasti ada surat undangan yang datang ke rumah. Namun hingga saat ini tidak ada sama sekali. Arti nya aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan hati Tian" Tambah nya lagi.


"Tian pasti sudah banyak berubah dan masalah candu nya juga pasti dia tidak ketergantungan lagi. Terlihat dari penampilan nya sekarang telah banyak berubah" Ujar nya lagi.


"Oke hari ini kita akan melakukan pendekatan awal kepada Tian. Sejujur nya aku siap mengganti posisi Santi di dalam hidup Tian. Dari dulu hingga sekarang aku memang mempunyai rasa kepada mantan abang ipar ku itu. Hanya saja karena aku masih memikirkan Santi yang telah menjadi istri nya, ya aku harus terima semua itu" Ujar nya lagi penuh semangat.


***


"Selamat datang di rumah ku" Sambut Tian saat membuka kan pintu rumah megah nya.


Susan tampak kagum dan terkesan melihat rumah megah itu. Dulu setahu nya Santi dan Tian hanya tinggal di rumah kontrak yang sederhana. Namun sekarang Tian sudah memiliki rumah sendiri yang mewah dan megah seperti ini. Tentu saja hal ini semakin membuat nya terkesan.


"Ini rumah kamu Tian?" Tanya Susan. Yah gadis itu memang tidak tahu begitu banyak tentang Tian. Secara saat kakak nya menikah dengan Tian, ia melanjutkan kuliahnya di negara Malaysia. Setelah mendapatkan gelas Sarjana, ia pun memutuskan untuk mengambil S2 nya di Singapura. Oleh karena kesibukan nya menuntut ilmu, dia tidak begitu tahu banyak tentang keluarga nya kakak nya itu.


"Sekarang, Tian memang sudah berubah. Tidak seperti Tian yang ku kenal dulu" Ucap nya lagi dalam hati.


"Kamu duduk di sini dulu ya, aku mau ke atas memanggil Sofi" Ujar Tian meninggalkan Susan yang duduk manis menunggu keponakan nya itu di ruang tamu.


"Tante.... " Teriak Sofi menuruni anak tangga menghampiri Susan.


"Sayang.... " Sambut Susan dengan tersenyum ceria memeluk gadis itu ke dalam pelukan nya.

__ADS_1


"Gimana kabar nya? Sudah lama gak ketemu"


"Iya tante sih sibuk terus jadi jarang deh kita ketemu nya" Celoteh anak kecil itu lagi.


"Ya gimana lagi sayang, namanya juga tante menuntut ilmu untuk masa depan tante. Jadi ya sibuk-sibuk gitu deh. Tapi sekarang tante sudah menyelesaikan kuliah tante,jadi tante akan sering-sering main ke sini dan akan selalu menemani kamu dan juga tante lebih mempunyai banyak waktu untuk kamu ponakan tante yang paling cantik ini" Ujar Susan mencubit gemas pipi gadis kecil itu.


"Asyik.... " Ujar Sofi lagi berteriak kesenangan.


"Sofi" Tegur ku menuruni anak tangga bersama Tian berjalan di belakang ku.


Susan melihat ku. Dia tampak kaget saat melihat ku berjalan bersama Tian menuruni anak tangga.


Gadis itu mengerutkan alis nya seakan-akan banyak pertanyaan yang mulai muncul di benak nya.


Susan berdiri melihat ku hingga aku berdiri dekat berhadapan dengan nya.


"Sayang, perkenalkan ini Susan, dia adalah adik kandung nya Santi istri pertama ku" Ujar Tian memperkenalkan kami.


"Sayang? Apa maksud nya? Apa mereka ini sepasang kekasih atau bagaimana?" Batin Susan masih bertanya-tanya.


"Susan, kenalkan ini Fitri, istri ku" Ujar Tian memperkenalkan kami.


Aku mengulurkan tangan ku untuk bersalaman dengan mantan adik ipar nya suami ku itu.


Meski dengan sangat ragu dan penuh kebingungan, gadis itu pun menyambut salaman ku.


"Apa? Istri? Jadi Tian sudah menikah? Kapan? Kenapa kami sama sekali tidak tahu akan hal ini?" Batin Susan masih tidak percaya.


"Jadi kamu sudah menikah Tian? Sejak kapan? Dan kenapa tidak mengabari kami?" Tanya Susan heran.


"Hampir dua tahun kami menikah. Dan untuk masalah tidak memberi tahu kalian, aku minta maaf. Saat itu pernikahan kami hanya sederhana saja. Tidak terlalu mewah dan megah" Jawab Tian.


Yah tentu saja pernikahan itu dilaksanakan sederhana dan secara tertutup karena saat itu Tian masih kecanduan dan bergantung kepada obat penenang Jika candunya datang.


"Oh begitu... " Ujar Susan mengangguk mengerti meski di hati nya sulit untuk menerima kenyataan bahwa Tian sudah menikah lagi. Karena ia telah menaruh harapan bahwa dirinyalah yang akan menggantikan posisi Santi kakaknya bukan dengan wanita lain yaitu aku.


"Kurang ajar, ternyata aku terlambat mendekati Tian. Sekarang Tian telah menjadi milik orang lain. Enak saja aku gak bisa terima semua ini. Secara akak ku menderita hidup bersama Tian dulu nya dan sekarang, dia wanita yang entah dari mana asal usul nya malah hidup enak bersama Tian" Batin Susan merasa geram meski di wajah nya memancarkan senyuman palsu nya.


"Aku harus bisa merebut semua ini. Aku gak terima jika Tian hidup bersama wanita lain. Dan Sofi keponakan ku yang telah menjadi pengganti kakak ku jatuh ke tangan wanita ini. Gak sama sekali ini gak boleh terjadi" Batin nya lagi.


"Ya sudah kalian ngobrol-ngobrol saja ya. Aku akan mengambilkan minuman" Ujar ku berlalu dari hadapan mereka menuju dapur.


"Aku harus memberi tahu semua ini kepada mama. Aku akan menyusun rencana merebut kembali Tian dan seluruh harta nya agar kembali menjadi milik kami" Ujar nya lagi.


"Mungkin dulu aku mengalah karena Santi kakak ku. Dan waktu itu juga aku masih kuliah jadi aku tidak terlalu memperdulikan hal ini. Tapi sekarang, jelas saja semua telah berbeda. Aku akan merebut yang seharus nya menjadi milik ku. Aku tidak akan mengalah lagi kepada siapa pun. Terlebih ada ponakan ku yang harus ku jaga. Dan aku yakin dia sebagai ibu tiri tidak terlalu peduli dengan ponakan ku ini" Batin Susan mulai menebak-nebak.


"Susan, Susan" Tegur Tian yang dari tadi heran melihat Susan melamun.


"Eh iya" Susan kaget.


"Kenapa kamu malah melamun? Sedang memikirkan apa sih?" Tanya Tian.


"Oh, gak aku hanya memikirkan nasib masa depan ku. Dulu aku pernah menyukai laki-laki dan ingin sekali menikah dengan nya. Namun, laki-laki itu di jodohkan dengan orang terdekat ku dan pada akhirnya mereka menikah. Dan waktu itu juga aku masih kuliah dan tidak terlalu memfokuskan diri pada masalah itu. Jadi aku berharap aku bisa mendapatkan jodoh terbaik nanti nya" Ujar Susan lagi.


"Oh, kamu yang sabar ya. Pasti gadis baik, cantik dan pintar seperti mu akan mendapatkan laki-laki yang baik pula" Ujar Tian memberi semangat kepada Susan.


"Iya, tapi laki-laki yang ku mau itu sudah menikah. Dan hanya kamu, kamu yang aku mau di dalam hidup ju" Batin Susan lagi.


"Oh ya Tian, boleh hari minggu besok aku membawa Sofi ke rumah. Aku yakin mama pasti senang bertemu dengan gadis ini. Secara sudah lama juga mereka tidak ketemu" Ujar Susan lagi.


"Oh, tentu saja boleh. Walau bagaimana pun, kamu adalah tante nya Sofi. Dan Sofi juga pasti kangen sama nenek nya" Ujar Tian tersenyum.


Kembali rasa aneh muncul di hati Susan saat melihat senyuman manis yang di berikan oleh Tian kepada nya.


"Sialan perasaan ini muncul lagi" Batin nya lagi berusaha menghilangkan rasa itu agar Tian tidak curiga kepada nya.


"Ini dia minuman nya. Silahkan di nikmati" Ujar ku menyajikan beberapa gelas teh hangat dan sedikit cemilan di atas meja.

__ADS_1


Susan kembali memancarkan senyuman palsu nya.


"Terima kasih" Ujar nya berusaha dengan ramah.


"Iya sama-sama"


"Sayang, minggu besok Susan mau mengajak Sofi ke rumah nya. Lagian sudah lama juga Sofi tidak bertemu dengan nenek nya. Pasti nenek nya juga sangat merindukan dia" Ujar Tian kepada ku.


"Gak apa-apa kan sayang?" Tanya Tian lagi.


Susan tampak memutar bola mata nya. Gadis itu tampak geli mendengar panggilan sayang Tian kepada ku. Sejujur nya dia lah yang ingin di panggil sayang oleh Tian bukan orang lain termasuk aku.


"Tentu saja boleh dong. Jika kamu sudah mengizinkan, aku bisa apa? Lagian Sofi pergi juga bersama tante dan nenek nya. Jadi tidak ada yang harus di khawatirkan" Jawab ku lagi.


Tian tersenyum mendengar jawaban dari ku.


"Sofi, gimana sayang? Apa kamu mau pergi ke rumah tante untuk bertemu dengan nenek minggu besok?" Tanya Susan meminta pendapat pada gadis kecil itu.


"Tentu saja mau tante. Aku juga sudah lama gak ketemu sama nenek" Jawab gadis kecil itu tampak kegirangan.


Yah, meski pun Santi meninggal pada saat melahirkan Sofi, mana dan Susan sering berkunjung ke rumah untuk melihat dan menyaksikan tumbuh kembang Sofi. Yah bagaimana pun Sofi lah sebagai pengganti Santi yang telah tiada.


Tian juga tidak pernah melarang mereka untuk datang berkunjung bahkan terkadang membawa Sofi menginap di rumah nya. Karena mereka juga keluarga Sofi dan masih ada sangkut paut darah dengan Sofi.


Hanya saja beberapa tahun belakangan ini, mereka sudah jarang berkunjung ke rumah nya. Karena Sofi ikut bersama oma nya dan juga Susan sedang sibuk mengambil S2 nya. Dan mantan mama mertua Tian itu pun sibuk mengurus bisnis kue-kue nya jadi yah begitu lah tidak ada waktu untuk berkunjung dan bertemu dengan Sofi.


Bahkan pernikahan Tian dan aku pun mereka tidak tahu. Yah karena kami hanya mengadakan acara sederhana saja. Tidak perlu mewah-mewah yang penting halal.


"Sayang, ini tante bawakan kamu boneka. Bagus kan?" Tanya Susan menyerahkan boneka hello kitty kepada anak sambung ku itu.


"Wah, bagus banget tante. Sofi seneng deh dapat boneka dari tante, terima kasih ya tante" Celoteh gadis kecil itu lagi.


"Sama-sama sayang. Besok ketika kamu datang ke rumah tante, tante dan nenek akan mengajak kamu jalan-jalan dan membelikan kamu mainan yang kamu suka" Ujar Susan lagi.


"Beneran tante?"


"Tentu saja dong sayang. Secara tante sudah lama gak membelikan kamu mainan dan menghabiskan waktu bersama kamu" Ujar Susan lagi.


"Asyik... Jadi gak sabar deh tante"


Susan tersenyum senang mendengar Sofi kegirangan seperti itu.


Yah ini salah satu rencana nya dengan mengambil kembali hati gadis kecil itu. Setelah berhasil, dia akan mengambil dan memenangkan hati papa nya Sofi dan jelas akan merebut Tian dan juga Sofi dari tangan ku.


Saat ini gadis itu harus bermain cantik dan bersabar untuk mendapatkan kemenangan nya.


***


"Sayang, kok kamu gak pernah cerita sih jika Santi itu masih mempunyai keluarga di sini" Ujar ku saat Susah telah pulang dari rumah ku.


"Untuk apa juga aku menceritakan hal itu sayang. Toh bagi ku tidak penting juga"


"Iya, setidak nya aku tahu kan bahwa keluarga Santi itu masih ada di sini" Jelas ku lagi.


"Aku pikir Santi hidup sebatang kara. Atau gak keluarga nya jauh keluar kota gitu sehingga tidak pernah berkunjung menjenguk Sofi" Ujar ku lagi.


"Aku saja baru tahu bahwa Susan itu kerja di perusahaan nya anak cabang kita tadi pagi. Ternyata dia sudah berkerja di sana selama seminggu. Mas Budi juga gak ada tuh bilang sama aku bahwa Susan berkerja di kantor nya" Ujar Tian.


"Aku pikir dia masih kuliah ternyata sudah selesai" Tambah nya lagi.


"Dulu, sewaktu Sofi masih kecil, mereka sering main ke rumah, namun beberapa tahun belakangan ini mereka sudah tidak ada kelihatan lagi. Mama nya sih sibuk ngurusin bisnis kue-kue nya. Sedangkan Susan sibuk melanjutkan S2 nya. Jadi yah gitu kita gak pernah ketemuan lagi. Hingga pada akhir nya bertemunya pagi ini di kantor" Jelas Tian lagi.


"Oh gitu ya" Ujar ku mengangguk mengerti.


"Ya sudah, ayo kita masuk" Ajak Tian kepada ku untuk masuk kedalam rumah kami.


Aku pun mengikuti langkah kaki suami ku itu masuk ke dalam rumah megah itu.

__ADS_1


__ADS_2