Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 104


__ADS_3

Susan tidak setuju untuk rahimnya diangkat karena dia tidak mau nantinya tidak bisa memberikan keturunan kepada Tian lagi dan takut Tian akan meninggalkannya dan berpaling darinya.


Meski Tian sudah mengatakan kepada Susan dan berjanji bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Susan dan menerima Susan apa adanya. Serta selalu berada di samping Susan dalam keadaan apapun.


Tapi tetap saja Susan merasa khawatir dan bimbang bahwa apa yang ia takutkan itu akan terjadi suatu hari nanti. Yah secara hati Tian bisa saja berubah.


***


Dengan cemas mama Susan dan Tian menunggu di luar ruangan operasi. Yah di dalam sana Susan sedang berjuang untuk melakukan operasi nya.


Hampir satu jam lebih Susan di tangani oleh dokter.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Apa kah operasi nya berjalan dengan lancar?" Tanya Tian saat dokter yang menangani Susan keluar dari ruangan operasi itu.


"Alhamdulillah pak, operasi nya dengan lancar. Namun buk Susan masih tidak sadar kan diri saat ini. Nanti setelah bius nya habis ibu Susan akan sadar" Jelas dokter tadi.


"Syukurlah jika begitu dok"


"Buk Susan akan segera di bawa ke ruangan pemulihan"


"Baik dok"


***


Tian dan mama Susan masuk ke dalam ruangan pemulihan tempat di mana Susan berada. Terlihat Susan masih tidak sadarkan diri.


Tian dan mama Susan menatap iba kepada Susan. Yah selain ia kehilangan anak nya, kini wanita itu juga kehilangan rahimnya.


"Maaf kan aku San, Aku tahu kamu tidak setuju dan pasti marah dengan keputusan ku ini. Tapi ini semua demi kebaikanmu" Ucap Tian lirih sambil membelai lembut rambut istrinya itu.


"Ma, titip Susan ya, aku mau keluar sebentar untuk menghubungi mama dan papa" Ucap Tian langsung keluar dari ruangan itu.


***


"Ma, ayo kita ke Pekanbaru sekarang" Ujar papa Tian setelah selesai telfonan sama Tian putra nya itu.


"Sekarang? Ngapain pa? Mendadak aja deh" Ujar mama Tian heran.


"Kita harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Susan"


"Susan, Kenapa lagi dengan si pelakor itu?"


"Susan, di operasi ma, bayinya ada dalam kandungannya itu tidak bisa diselamatkan. dan juga akar miom nya Susan masih ada. Sehingga Susan harus menjalani operasi untuk mengeluarkan bayi dan juga rahimnya yang telah ditumbuhi agar miom tersebut"


"Wah, ternyata si pelakor itu sedang mendapatkan karma nya" Ucap mama Tian seenak nya.


"Lo ma, kok gitu sih ngomongnya? Gak baik ma ngomong seperti itu. Susan saat ini sedang sakit dan seharusnya kita mendoakan dia agar dia cepat sembuh bukan malah mengatakan yang tidak tidak seperti itu"


"Ya ampun papa, papa jangan membela si pelakor itu deh. Berapa kali sih harus mama bilang sama papa, mama nggak suka papa seperti itu kepada dia. Karena dia itu tidak pantas untuk di baik-baiki"


"Sudah ya ma, sekarang mendingan mama siap-siap jika mau ikut papa ke Pekanbaru. Tapi jika tidak ya sudah papa aja yang pergi ke sana"


"Oke, mama akan ke sana. Tapi mama ke sana bukan untuk melihat keadaan Si pelakor itu ya pa. Mama mau ketemu sama cucu mama"


"Terserah mama saja"


"Ya sudah mama mau siap-siap dulu"


Wanita paruh baya itu pun langsung masuk ke kamar nya untuk bersiap-siap.


"Aduh, wanita itu terus saja menyusahkan. Terus saja sakit, maka nya jadi perempuan itu yang benar. Jangan jadi perusak rumah tangga orang" Ucap mama Tian sendiri seolah-olah berbicara kepada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Aku mengerutkan kening ku saa melihat siapa yang menghubungi ku saat ini.


"Tian? Tumben dia menghubungi ku. Ada apa?" Batin ku bertanya-tanya.


"Assalamualaikum Fitri" Ucap Tian saat teleponnya diangkat olehku.


"Waalaikumsalam, ada apa Tian? Tidak biasanya kamu hubungi ku seperti ini ada apa?" Tanta ku lagi merasa heran.


"Apa kamu sibuk?"


"Nggak aku nggak terlalu sibuk. Emangnya ada apa? Ada yang bisa ku bantu?"


"Aku minta maaf sebelum nya jika aku kembali merepotkan mu. Boleh aku kembali menitipkan Sofi kepadamu?" Tanya Tian lagi.


"Kamu beneran mau menitipkan Sofi kepadaku lagi?" Tanya ku meminta kepastian kepada mantan Suamiku itu.


"Iya, saat ini aku sedang berada di rumah sakit untuk menemani Susan yang sudah menjalani operasi"


"Operasi? apa Susan sudah mau melahirkan?"


"Gak kok Fit, tiba-tiba saja tadi Susan mengalami pendarahan hebat dan ternyata di rahimnya itu masih ada terdapat akar yang sudah mulai menjalar. Dan bayi yang ada di dalam kandungan Susan itu juga tidak bisa diselamatkan. Sehingga dengan terpaksa dokter harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi dan juga mengangkat rahim Susan untuk kebaikan Susan ke depannya" Jelas Tian kepada ku.


"Ya ampun, aku turut berduka cita ya atas kepergian bayi kalian. Dan aku doakan semoga Susan cepat pulih seperti biasanya"


"Terima kasih ya Fit doanya"


"Iya sama-sama. Terus kapan kamu akan mengantar Sofi ke rumahku?"


"Sebentar lagi aku pasti akan ke sana. Kasihan juga dia sendirian di rumah dan hanya ditemani oleh bik Ina. pasti dia akan bahagia saat berada bersama kamu"


"Baiklah, aku akan menunggu kedatangan kalian" Ucap ku gembira karena pada akhirnya Sofi kembali lagi bersamaku.


"Terima kasih ya Fit, Assalamualaikum"


"Siapa Fit yang menelepon kamu?" Tanya mama ku melihat aku tersenyum sendiri seperti itu. Aku tersenyum bukan berarti aku bahagia melihat Susan yang sedang sakit seperti ini. Tapi aku bahagia dan tersenyum karena Sofi akhirnya kembali lagi bersamaku meskipun ku tahu ini hanya sementara. Tapi aku tetap merasa bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama putriku itu.


"Tian ma"


"Ada apa dia menghubungi kamu? Tidak seperti biasa nya"


"Itu lo ma si Susan kembali lagi masuk ke rumah sakit dan menjalankan operasi. Karena tadi secara tiba-tiba saja dia mengalami pendarahan. Tian bilang sih anak yang ada di dalam kandungan Susan itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dan di rahimnya Susan masih terdapat akar miom yang tersisa. Sehingga mengakibatkan rahimnya harus diangkat" Jelas ku.


"Ya ampun, mama jadi heran deh sama Tian"


"Heran? Heran bagaimana maksud mama?"


"Apa Tian itu pembawa sial ya?"


"Maksud mama apa sih ma? Aku nggak ngerti deh sama apa yang mama katakan"


"Iya, mama berpikir aja bahwa Tian itu pembawa sial. Di mana setiap istri-istrinya pasti mengalami kesialan"


"Mengalami kesialan seperti apa maksud mama?" Aku benar-benar tidak mengerti apa yang mamaku katakan.


"Coba deh kamu pikir, Waktu dia menikah sama Santi istri pertama nya itu. Santi juga mengalami kesialan. Stress karena memikirkan kelakuan suaminya sehingga membuatnya depresi dan meninggal saat melahirkan Sofi. Dan saat kamu juga menjadi istrinya kamu juga mengalami hal yang sama. Dimana kandungan kamu lemah dan pada akhirnya Raffa anak kamu dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Dan sekarang Susan juga mengalami hal yang sama bahkan Susan mengalami hal yang lebih parah dari kamu. Dimana rahimnya langsung diangkat sehingga dia tidak bisa memberikan Tian keturunan lagi" Jelas mama ku lagi.


Aku pun berpikir tentang apa yang mama ku katakan dan sempat juga berfikir bahwa apa yang dikatakan mamaku itu benar adanya.


"Astaghfirullahaladzim. Tidak boleh berprasangka buruk seperti itu ma. Mungkin ini semua sudah takdirnya" Ucap ku lagi.


"Iya, mama hanya nggak habis pikir aja. Kenapa semua istri-istri Tian mengalami kesialan seperti itu"


"Oh ya, terus kamu mau Sofi dititipkan sama kamu nanti"

__ADS_1


"Iya ma, Tentu saja aku mau jika Sofi dititipkan kepadaku. Aku malahan sangat senang karena aku bisa menghabiskan waktu bersama putriku itu ma" Ucap ku.


"Kalau mama sih jadi kamu, Mama nggak mau untuk membantu Tian seperti itu. Karena dalam keadaan terjepit saja dia mencari kamu. Sedangkan jika dia udah bebas seperti kemarin, dia malah lupa semua jasa-jasa kamu. Dia malah tega membatasi waktu kamu dan Sofi"


"Sudah lah ma, nggak apa-apa yang jelas aku hanya ingin membantu untuk menjaga Sofi. Aku melakukan semua ini hanya karena Sofi ma bukan karena Tian ataupun Susan" Jelas ku kepada wanita paruh baya itu.


"Ya sudah terserah kamu saja mama hanya bisa mendukung untuk kebahagiaan kamu nak"


***


"Gimana keadaan Susan Tian?" Tanya papa Tian saat mereka sudah tiba di rumah sakit dan langsung masuk ke ruangan rawat inap di mana Susan terdapat di dalamnya.


"Tadi Susan sudah siuman pa, dan sekarang dia sedang tertidur karena baru saja selesai meminum obat" Jelas Tian kepada kedua orang tua nya.


Mama Tian hanya menatap sinis ke arah mama Susan dan juga Susan yang masih terbaring di tempat tidurnya.


"Papa turut sedih dengan keadaan Susan saat ini. Terus janin nya mana? Apa sudah di kebumikan?" Tanya papa Tian.


"Sudah pa, tadi segera di kebumikan. Aku meminta bantuan pak ustad yang tak jauh dari rumah ku untuk mengkebumikan nya" Jelas Tian lagi.


"Aduh papa, ngapain juga sih prihatin dengan keadaan pelakor itu. Jelas-jelas ini sudah karmanya karena telah merusak rumah tangga orang" Ujar mama Tian.


"Eh buk, maaf ya jangan seenak nya berbicara seperti itu terhadap anak saya. Anak ibu juga salah dalam hal ini. Dan coba ibu lihat, anak saya sedang terbaring seperti ini masih juga ibu mengatainnya dengan tidak tidak seperti itu"


"Iya, saya tahu kok anak saya juga salah dalam hal ini. Tapi yang lebih salah itu anak kamu. Karena anak kamu lah yang tinggal di rumah Tian dan memohon-mohon agar bisa dekat sama Sofi. Padahal ia ingin dekat sama bapaknya" Ucap mama Tian dengan penuh penekanan.


"Ma, cukup ma cukup. Susan sedang sakit dan dia sedang istirahat tolong jangan buat keributan di sini" Ucap Tian lagi.


Kedua wanita paruh baya itu pun berhenti dengan pertikaian nya.


"Ma, pa aku harus pergi ke rumah Fitri untuk menitipkan Sofi di sana" Ujar Tian langsung ke luar dari ruangan istri nya itu.


"Ma, papa mau keluar sebentar mau mencari makanan untuk kita" Ujar papa Tian juga ikut keluar dari ruangan menantu nya itu.


"Ya ampun nak, kasihan sekali kamu" Ucap mama Susan mengusap dengan lembut rambut putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Nggak apa-apa ini semua pelajaran untuk anak kamu supaya kedepannya bisa berpikir mana hak orang dan mana hak kita. Lagian aku juga heran deh. Emang nggak ada apa orang lain selain kamu menjadi besanku"


"Sudah cukup ya buk atas hinaan yang ibu lakukan kepada saya dan juga anak saya. Apa ibu tidak pernah berpikir bahwa anak ibu itu telah memberikan kesialan kepada istri-istri nya?"


"Maksud kamu apa? Jangan sembarangan ngomong ya kamu"


"Memang kenyataan nya seperti itu. Coba kamu pikir, dulu anakku Santi menikah dengan putramu. Dan dia meninggal karena depresi memikirkan kelakuan putra yang sangat menyebalkan itu. Terus Fitri dia juga mengalami kesialan di mana kandungannya lemah dan juga anaknya mengalami penyakit yang parah sehingga membuat putra mereka tidak bisa bertahan lama. Sekarang, Susan juga mengalami hal yang sama. Kenapa selalu istri istri Tian yang menjadi korban atas tindakan Tian yang antah berantah itu. Apa kamu tidak memikirkan hal itu. Jika hanya seorang saja, mungkin masih bisa kita maklumi. Tapi ini tiga, sudah tiga orang istri Tian yang mengalami hal ini. Jadi apa kamu masih berpikir bahwa ini adalah karma anak ku?" Tanya mama Susan lagi.


Mama Tian pun tanpa ngomongin memikirkan apa yang dikatakan oleh besannya itu. Ia hanya bisa terdiam dan tidak bisa berbicara apa pun.


"Diam kan kamu? Gak bisa kan kamu memberikan jawaban akan hal itu. Maka nya jangan hanya menyalah sepihak saja dong"


"Nah, itu kamu tahu jika anakku itu membawa kesialan untuk para istrinya. Dan bukankah anakmu juga sudah melihat apa yang terjadi kepada para istri nya Tian. Terus kenapa dia masih mau dengan putra ku itu?" Tanya mama Tian lagi.


Kini giliran mama Susan yang terdiam mendengar ucapan mama Tian. Yah karena selama ini dia juga mendukung Susan untuk bersama Tian untuk menjadi orang kaya mendadak.


"Kamu gak bisa jawab kan? Kamu dan anak mu sama saja dan sekarang malah menuduh anak ku membawa sial. Jika kamu tidak senang, minta anak mu untuk tinggalkan Tian. Aku malah senang jika mereka berpisah" Ucap mama Tian lagi.


Mama Susan kembali terdiam dan tidak bisa mengatakan apa pun. Karena jika dia menyetujui ucapan mama Tian, maka dia akan gagal menjadi orang kaya.


"Lo, kenapa diam? Gak bisa kan kamu memenuhi permintaan ku itu? Arti nya kamu juga setuju jika mereka terus bersama. Katanya putra ku itu membawa kesialan untuk istri-istrinya. Harusnya kamu sebagai ibu nya Susan menyelamatkan anak mu itu dari kesialan itu" Ujar mama Tian dengan penuh penekanan.


"Ya sudah, aku mau pergi dari sini. Di sini udaranya gak bagus. Banyak polusi yang mematikan" Ujar mama Tian lagi bangkit dan keluar dari ruangan itu.


"Sialan kamu, awas saja akan aku balas semua penghinaan ini. Aku gak rela di rendah kan seperti ini. Mentang-mentang orang kaya, seenak nya merendahkan aku" Batin mama Susan geram menggenggam tangannya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa kekesalannya kepada besannya itu.


Dulunya mama Tian dan mama Susan tidak selalu bertengkar seperti ini saat Tian menikah dengan Santi. Tapi semenjak Susan hadir dalam kehidupan Tian dan menjadi perusak hubungan rumah tanggaku dan juga Tian, membuat wanita paruh baya itu membenci Susan dan juga mamanya. Karena dia berpikir mama Susan pun ikut andil dalam kerusakan rumah tangga yang kami alami.

__ADS_1


__ADS_2