Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 26


__ADS_3

"Ma, ini gimana sih maksud dari soal nya? Aku gak ngerti deh" Jelas putri ku itu memperlihatkan soal yang di berikan oleh guru nya sebagai tugas nya di rumah.


"Sini mama baca dulu soal nya"


"Oke, ini ya perhatikan mama menjelas kan cara mencari nya ya" Kata ku mulai menjelaskan cara mencari tugas nya Sofi.


"Soal nomor satu ini, berbunyi Budi mempunyai tiga belas permen yang di belinya dari warung. Kemudian papa Budi membelikan tiga permen lagi untuk Budi. Berapa jumlah permen Budi sekarang?" Aku membacakan soal cerita di buku Sofi.


"Nah tadi Budi membeli permen nya berapa nak?"


"Tiga belas ma"


"Terus papa tadi membeli permen berapa lagi tadi untuk Budi"


"Tiga ma"


"Nah itu permen Budi bertambah atau berkurang?" Tanya ku lagi.


"Hmm... " Sofi tampak berpikir.


Lama aku menunggu gadis kecil itu memberikan jawaban nya. Namun, belum juga ada jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.


"Ini ya ada tiga belas permen yang di beli Budi. Kemudian papa Budi membelikan nya lagi permen sebanyak tiga. Nah ini bertambah atau berkurang?" Ujar ku menjelaskan menggunakan alat hitung berupa sempoa kepada Sofi agar lebih di pahami.


"Coba Sofi perhatian di sebelah sini. Apa kah bertambah atau berkurang?" Tanya ku lagi memperlihatkan jumlah anak sempoa yang ku sisi kan berdasarkan jumlah permen pada soal di buku tema nya Sofi.


"Oh,, tahu tahu bertambah ma" Ujar gadis itu pada akhirnya.


"Pinter, nah coba sekarang di hitung berapa jumlah semua nya" Pinta ku lagi.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas" Ujar Sofi mengakhiri hitungan nya.


"Jadi permen Budi tadi berjumlah?"


"Enam belas ma"


"Pinter sekali anak mama. Nah sekarang Sofi tulis. Jadi tiga belas di tambah tiga sama dengan enam belas" Ujar ku lagi.


"Paham kan sayang?"


"Paham ma, gampang ini"


"Ya sudah, sekarang Sofi kerjakan nomor dua sampai lima ya, nanti setelah selesai mama periksa. Dan jika ada yang kurang ngerti tanyakan sama mama ya" Ujar ku lagi.


"Baik ma" Gadis kecil itu mulai mengerjakan soal yang ada di buku tema nya itu.


Aku pun melihat dan memperhatikan setiap langkah demi langkah ia mengerjakan soal nya itu. Aku tersenyum senang melihat putri kecil ku itu memahami dan bisa mengerti cara mengerjakan soal yang ku jelaskan tadi.


"Ma, sudah siap ma. Coba mama periksa" Pinta gadis itu memberikan buku tugas nya kepada ku. Aku pun langsung memeriksa soal yang di kerjakan oleh anak sambung ku itu.


"Bagus kok, hasil nya benar semua. Pinter anak mama" Puji ku kepada putri ku itu.


Sofi tampak senang mendengar pujian dari ku. Dan bisa ku lihat dia bertambah semangat untuk mengerjakan soalan demi soalan yang ada di buku tema nya itu.


"Ma, jika yang ini gimana cara nya ma? Sofi mau belajar yang ini ma. Pasti besok di sekolah belajar tentang ini juga. Jadi jika Sofi sudah belajar di rumah, besok di sekolah pasti Sofi bisa menjawab nya dengan mudah" Ujar nya lagi.


"Wah, hebat anak mama. Semangat sekali untuk belajar. Oke sini mama ajarkan ya" Ujar ku lagi kembali mengambil buku tema Sofi.


"Nah yang ini sama juga cara nya dengan yang tadi sayang. Hanya saja tadi kan di tambah jika yang ini di kurang" Ujar ku lagi.


"Nih dengar ya. Ibu mempunyai tiga belas piring. Kemudian tampa sengaja Ani memecahkan tiga piring ibu. Berapa piring ibu yang tersisa?"


Kembali aku menjelaskan cara mengerjakan soal itu menggunakan sempoa agar Sofi mudah mengerti.


Hanya dua kali penjelasan Sofi pun mengerti dengan jalan untuk menyelesaikan soal itu.


Ternyata anak sambung ku itu telah banyak mengalami perkembangan yang baik. Aku semakin senang melihat tumbuh kembang nya saat ini.


"Mudah ternyata ma. Ini ya Sofi kerjakan. Nanti mama periksa lagi ya" Ujar nya lagi mengambil buku coretan untuk menyelesaikan soal yang akan di pelajari besok di sekolah nya.


"Selesai ma. Terima kasih ya mama sayang karena telah membantu Sofi mengerjakan tugas-tugas Sofi" Ujar gadis itu tersenyum senang memeluk ku.


"Iya sayang sama-sama. Jadi anak yang pintar ya nak yang bisa membanggakan keluarga" Ucap ku menyematkan ciuman hangat di puncak kepala putri ku itu.

__ADS_1


Sofi tersenyum dan mengangguk setuju dengan permintaan ku itu.


"Ya sudah, sekarang kamu siap kan buku-buku sekolah mu ya" Pinta ku lagi.


"Oke mama" Ucap nya langsung menyiapkan buku pelajaran yang akan di pelajari di besok hari.


"Sudah mama"


"Sekarang kamu tidur ya nak. Hari sudah malam juga" Ucap ku lagi. Gadis kecil ku tadi langsung naik ke atas kasur nya dan berbaring di sana.


"Ayo baca doa nya dulu" Ujar ku lagi.


Sofi membaca doa tidur.


"Selamat malam sayang. Mimpi ya indah ya" Ucap ku lagi sambil mencium kening gadis itu. Aku menghidupkan lampu tidur nya. Dan mematikan lampu utama di kamar itu.


***


"Apa sudah selesai kamu membantu Sofi mengerjakan tugas nya?" Tanya Tian saat melihat ku masuk ke dalam kamar.


"Sudah kok. Bahkan dia bersemangat untuk melanjutkan pelajaran yang akan di pelajari nya besok. Jadi yah aku mengajari nya deh sebentar" Jelas ku lagi.


"Ternyata anak itu sudah banyak berubah karena kehadiran kamu"


"Jangan terlalu memuji ku seperti itu. Nanti aku akan terbang lo sayang"


"Jika kamu terbang, aku akan menangkap mu kemudian aku akan mengurung mu ke dalam hati ku. Ku gembok dan kunci nya aku buang deh ke samudra atlantik agar tiada satu pun orang yang bisa merebut mu dari ku" Ujar Tian lagi.


Aku sempat terpana mendengar rangkaian kata yang di utarakan oleh Tian barusan. Sejujurnya aku merasa geli dengan kata-kata itu. Entah dari mana suami ku itu belajar kata-kata yang bisa di bilang alay namun cukup terkesan bagi ku.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apa ada yang salah?" Tanya nya heran.


"Gak kok. Gak ada yang salah. Ya sudah aku mau siap-siap tidur dulu ya" Ujar ku langsung menuju kamar mandi untuk menggosok gigi sebelum tidur dan membersihkan wajah ku. Ini memang sudah menjadi rutinitas ku sebelum tidur.


***


Deg...


Secara tiba-tiba perasaan nyeri mulai muncul di renung hati ku. Saat aku sibuk menggosok gigi ku tiba-tiba saja rasa itu muncul. Aku teringat kembali dengan ucapan mama Tian dan mama ku tadi sewaktu kami makan malam bersama.


"Apa malam ini aku mulia melancarkan taktik wanita cantik ku?" Batin ku bertanya-tanya.


Dengan cepat aku pun menggosok gigi dan menyelesaikan rutinitas ku sebelum tidur.


Aku mengambil baju dinas malam ku yang sudah lama hanya tergantung di lemari karena tidak pernah ku gunakan. Yah aku mendapatkan baju lingeri itu dari kakak sepupu ku yang sengaja menghadiahkan ku itu untuk dinas pertama ku di malam pertama. Namun sayang baju itu tidak pernah ku gunakan.


Dan aku pikir malam ini aku harus memakai nya karena sudah waktu nya aku memberikan apa yang di berikan oleh seorang istri kepada suami nya. Secara Tian sudah tidak lagi tergantung dengan obat-obatan dan sudah keluar dari panti rehabilitasi. Jadi tidak ada alasan lagi untuk aku tidak melakukan tugas ku bukan?


Aku mengambil baju lingeri berwarna hitam itu. Dan ku kenakan dengan perasaan berbunga-bunga. Berharap Tian akan bergairah melihat ku sepert ini. Entah lah kenapa aku yang selalu menginginkan hal itu sedangkan Tian bersikap santai saja.


Mungkin karena penasaran itu yang membuat ku mejadi kebelet seperti ini ya.


***


Aku membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Bergaya sok seksi agar Tian tergoda. Namun orang yang ku harapkan melihat dan memuji ku itu malah sibuk dengan ponsel nya.


Aku menatap kesal ke arah suami ku itu. Masa ia dia tidak memperhatikan ku sama sekali. Apa dia memang tidak mempunyai nafsu terhadap ku hingga sampai saat ini aku selalu di angguri.


Apa dia mempunyai kelainan berupa tidak ada nafsu nya. Atau dia malah suka sesama jenis. Oh tidak, aku tidak bisa membayangkan jika suami ku seperti itu.


"Ehem... Ehem... " Ujar ku memberi kode agar suami ku itu melihat ke arah ku.


Namun yang ku kode itu malah tidak menanggapi dan masih sibuk dengan ponsel nya.


"Ehem... Ehem.... " Ulang ku lagi.


Lama aku menunggu respon dari suami ku itu. Tapi yah hasil nya tetap seperti debu di kaca yang di abaikan.


Aku menarik napas ku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat. Aku merasa kesal dengan sikap suami ku itu.


"Tian kamu ini ya benar-benar nyebelin" Ujar ku kesal kepada Tian.


Tian langsung menoleh ke arah ku. Laki-laki itu memperhatikan ku dari ujung kami hingga ujung kepala.

__ADS_1


"Fitri, kamu ngapain memakai pakaian sepeti itu?" Tanya nya.


Kembali aku menatap kesal kearah Tian. Apa ini laki-laki beneran mempunyai kelainan ya? Ngapain juga dia bertanya kepada ku seperti itu? Tanpa ku jelaskan pasti dia juga sudah ngerti maksud dan tujuan ku bukan?


"Mau tidur" Ujar ku cuek. Aku langsung menuju kasur dan berbaring membelakangi Tian.


"Dasar laki-laki aneh. Orang seperti apa sih yang aku nikahi ini?" Batin ku kesal.


Tian tersenyum melihat tingkah ku itu. Sejujur nya dia mengerti dengan maksud ku itu. Namun ia sengaja menggoda ku melihat aku kesal seperti itu membuatnya merasa senang. Sungguh dia merindukan tingkah ku yang merajuk seperti anak kecil itu.


"Sayang" Panggil nya mencoba menyentuh lengan ku.


Kini malah aku yang diam dan tidak menanggapi panggilan nya.


"Sayang" Ujar nya lagi mecoba membelai lengan ku dengan lembut.


Sentuhan nya membuat hati ku merasa tersentrum.


"Aku mengerti maksud mu apa sayang. Aku sengaja menggoda mu seperti tadi maaf kan aku ya" Ujar Tian berbisik di telinga ku.


Desah dan kehangatan napas nya yang mengenai telinga ini membuat buku kuduk ku merinding.


Sensasi yang aneh dimana sensasi ini belum pernah ku rasakan sebelum nya.


Tian mencium telingaku, memberikan sentuhan demi sentuhan yang memang sudah lama ia tidak lakukan kepada ku.


Aku memejam kan mata saat Tian menyelusuri tengkuk ku. Memberikan rasa geli dan kenikmatan di diri ini yang belum pernah ku rasakan saat ini.


Pelan-pelan Tian membalikan tubuh ku agar aku terlentang dan melihat nya.


"Kamu terlihat cantik dan seksi malam ini sayang" Ujar nya membelai rambut ku.


Dag dig dug


Itu lah yang terjadi pada jantung ku. Sungguh jantung uni berdetak begitu cepat seperti aku baru selesai berlari maraton seribu kilo meter.


Napas ku dan Tian kini mulai memburu. Tatapan kami mulai beradu. Ada aliran listrik yang mengalir dari mata Tian ke mata ku.


Tian semakin mendekat, dan mendekat di wajah ku. Hingga napas nya bisa ku rasan di pipi ku.


Aku memejamkan mata ku menantikan apa yang selanjutnya terjadi.


Namun, lama aku menunggu Tian tidak kunjung menyentuh diri ini. Aku pun memutuskan untuk membuka mata ku.


Tian tersenyum melihat ku telah membuka mata.


"Sedang menunggu apa?" Tanya nya tersenyum.


Kembali aku menatap kesal ke arah Tian. Baru saja diri ini merasa luluh dan terbuai malah aku di permainkan lagi seperti ini. Aku benar-benar kesal kepada suami ku itu.


Bagaimana tidak kesal coba. Rasa penasaran itu tidak terpenuhi sama sekali oleh suami ku itu. Malahan dia terus-terusan menggoda ku dan membuat ku semakin penasaran.


Aku kembali berbalik membelakangi Tian.


"Dasar aneh" Ujar ku kesal.


"Aneh? Aneh gimana?" Tanya Tian tersenyum geli


"Pikir aja sendiri. Sudah aku mau tidur. Capek" Ujar ku lagi dengan kesal.


"Lo kenapa buru-buru sih. Kita belum melakukan hal itu lo" Goda Tian lagi.


"Gak perlu dan gak penting" Ujar ku lagi.


"Lo kenapa? Bukan kah kamu sudah siap dengan pakaian dinas mu ini. Gak mungkin kan tidak jadi melakukan nya" Ujar Tian lagi.


"Gak perlu. Biarin aja, sudah jangan banyak bicara aku mau tidur" Ujar ku lagi.


"Lo kok gitu? Apa kamu ngambek ya?" Tian tertawa pelan agar aku tidak mendengar nya.


"Siapa yang ngambek coba. Orang cuma ngantuk dan lelah karena hari ini banyak pekerjaan" Ucap ku.


"Terus gimana dengan usaha mu siap-siapa dengan memakai baju dinas ini? Kan kasihan baju nya tidak di gunakan"

__ADS_1


"Dasar laki-laki aneh, masa ia dia hanya kasihan dengan baju lingeri ini dari pada aku yang telah di angguri selama ini? Benar-benar sudah keterlaluan ini. Dia harus ku periksa besok" Ujar ku lagi berniat untuk membawa Tian ke dokter atau ke psikiater agar mengetahui masalah apa yang terjadi kepada suami ku ini.


__ADS_2