Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 66


__ADS_3

Aku mengatakan kepada Tian bahwa besok akan diadakan lomba melukis di sekolahnya Sofi dan aku memintanya untuk hadir agar bisa memberi support dan dukungan kepada putri semata wayangnya itu. Tian pun menyetujuinya dan berjanji akan datang di acara tersebut.


***


"Ma, papa akan datang kan nanti di acara lomba Sofi?" Tanya putri ku itu.


"Iya sayang papa akan datang ke acara perlombaan itu jadi Sofi harus semangat dan yakin bisa mengalahkan teman-teman Sofi nantinya" Ujarku dengan penuh semangat kepada putriku itu.


"Iya ma, pasti Sofi akan memberikan yang terbaik dan akan membuat mama dan papa merasa bangga kepada Sofi"


"Oh, pasti dong sayang melihat Sofi bisa ikut lomba seperti ini saja mama dan papa jadi bangga apalagi nantinya menang. Tapi jika nanti Sofi kalah, Sofi jangan berkecil hati ya. karena kalah menang itu biasa dalam perlombaan yang penting tapi sudah semangat dan berusaha itu sudah membuat mama dan papa sangat bangga kepada sofi" Jelas ku lagi.


"Iya mama" Jawab nya sambil memelukku dengan erat. Aku membalas pelukan itu yang penuh kasih sayang tak lupa aku sematkan ciuman hangat di puncak kepala putri kecilku itu.


"Oke, sekarang ayo kita berangkat"


"Apa kita tidak menunggu papa dulu Ma?"


"Gak dong sayang. Papa akan menyusul nanti. Jadi kita akan ketemuan sama papanya di sekolah kamu aja"


"Oke deh jika begitu" Ujar Sofi.


***


"Ma, papa mana ya? Sebentar lagi acara nya akan di mulai. Apa papa bohong akan datang ke sini?" Tanya Sofi mencoba mencari keberadaan papa nya di keramaian.


"Mungkin papa lagi di jalan. Sabar ya sayang sebentar lagi pasti papa akan tiba" Ujar ku mencoba menenangkan hati Sofi yang mulai sedih karena tidak melihat sosok papa nya.


Aku merogoh tas ku untuk mencari ponsel ku mencoba menghubungi Tian untuk menanyakan di mana keberadaan Tian sekarang di mana.


Sekali, dua kali aku mencoba untuk menghubungi Tian. Namun, panggilan ku sama sekali tidak di angkat nya.


"Ya Allah kemana sih Tian? Kenapa dia tidak mengangkat telfon ku? Apa dia lupa dengan janji nya untuk hadir di acara anak nya ini?" Batin ku gelisah. Dan kembali mencoba untuk menghubungi Tian untuk yang kesekian kalinya.


"Hallo Tian, akhir nya teleponku diangkat juga olehmu. Kamu di mana sih? Dari tadi Sofi sudah menunggu kedatangan mu" Ujar ku saat ponsel ku di angkat oleh nya.


"Ya ampun Fitri, untung saja kamu menelepon ku. Kalau tidak aku pasti akan lupa dengan acara itu" Ujar Tian.


"Bisa-bisa nya kamu lupa dengan acara anak mu sendiri Tian" Batin ku merasa kecewa dengan sikap Tian sekarang yang seperti nya tidak peduli dengan anak nya.


"Ya sudah, jika begitu sekarang kamu siap-siap dan datang ke sini untuk menghadiri acara ini yang akan di mulai sebentar lagi" Ujar ku.


"Ya sebentar ya. Tolong bilang sama Sofi papa akan datang sebentar lagi" Kata Tian.


"Ya Nanti akan aku sampaikan kepada nya. Di harapkan cepat ya, kasihan Sofi menunggu mu lama"


"Iya sayang. Sebentar ya" Tian menutup ponsel nya.


"Ya ampun Tian, kenapa kamu sekarang berubah begini sih? Bahkan dengan anak mu sendiri saja tidak terlalu kamu ambil berat" Kata ku pelan kepada diri ku sendiri. Sungguh aku merasa kecewa dengan seperti Tian saat ini.


"Ma, bagaimana? Papa sekarang ada di mana?" Tanya Sofi kepada ku.


"Papa lagi di jalan kok sayang dan sebentar lagi pasti akan tiba. Sabar sebentar ya sayang" Ujar ku untuk menenangkan hati putri sambung ku itu.


Sofi tersenyum mendengar ucapanku barusan. Wajahnya yang tadinya muram kini berubah menjadi ceria lagi.


***


"Tian, Tian" Panggil mama Susan saat melihat Tian berlalu di hadapannya.


"Iya ma. Ada apa?" Tanya Tian.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau ke sekolah nya Sofi ma. Hari ini Sofi mengikuti lomba melukis di sekolahnya. Dan aku harus datang ke sana untuk memberi support kepada putriku itu" Jelas Tian.


"Tian, bisa gak pergi nya di tunda sebentar? Itu ko si Susan dari tadi gak mau sarapan. Kerjaan nya menangis terus dari tadi"


"Aduh ma, aku sudah terlambat ini. Acara nya akan segera mulai"

__ADS_1


"Ayo lah Tian. Apa kamu tidak kasihan melihat Susan yang sedang sakit saat ini. Dia sangat membutuhkan perhatian mu" Jelas mama Susan mencoba merayu.


"Tapi ma, Sofi juga sedang menunggu ku di sana"


"Bukan kah sudah ada Fitri di sana. Dan jika kamu tiba nya terlambat sedikit apa salah nya. Sofi pasti mengerti. Dia kan anak yang pintar"


Tian tampak berpikir dia sangat bingung harus bagaimana.


"Ayo lah Tian. Setidak nya tolong suapi Susan sarapan sebentar. Baru lah kamu pergi ke sekolah nya Sofi. Setidak nya pikir kan keadaan anak yang ada di kandungan Susan"


Tian menghela napas berat nya. Dengan terpaksa ia pun mengikuti kemauan mama mertua nya itu.


"Susan, kenapa kamu belum juga sarapan?" Tanya Tian saat tiba di kamar nya Tian.


"Aku belum lapar Tian. Jika sudah lapar pasti aku akan makan" Ujar Susan dengan nada memalas.


"Jangan seperti itu dong San. Kamu harus makan kasihan bayi yang ada dalam kandungan kamu itu. Aku suapin ya" Ujar Tian menyodorkan sesuap nasi ke dalam mulut nya Susan.


"Nanti saja Tian aku masih belum lapar"


"Sayang, jangan seperti itu. Kamu harus makan tepat waktu untuk menjaga kesehatan mu dan juga anak kita" Ujar Tian dengan lembut.


Susan pun pada akhir nya membuka mulut untuk menyambut suapan yang di berikan oleh suami nya itu.


***


"Ma, apa papa masih lama?" Tanya Sofi.


"Sebentar lagi kok sayang. Mungkin jalanan macet. Sabar ya sayang" Ujar ku lagi.


"Para peserta lomba di persilahkan untuk mengambil posisi nya karena perlombaan akan segera di mulai" Ujar pembawa acara.


"Ma, acaranya sudah dimulai. Tapi papa belum juga tiba" Ujar Sofi dengan sedih.


"Sayang mama, jangan sedih seperti itu dong. Mungkin papa sebentar lagi akan tiba. Kan masih ada mama yang ada di sini. Mama akan selalu mendukung Sofi dalam keadaan apapun. Tetap semangat ya sayang. Ayo tunjukan yang terbaik kepada mama" Kata ku memberikan semangat kepada putri kecilku itu.


Meski aku tahu di hati kecil nya Sofi sangat sedih dan kecewa karena papanya tidak hadir memberi dukungan kepadanya. Namun gadis itu tetap berusaha untuk tetap tegar agar menutupi kesedihannya kepadaku.


"Kamu benar-benar keterlaluan Tian. Bahkan sama anakmu sendiri saja kamu mengecewakannya seperti ini. Kenapa kamu tidak melakukan hal ini kepada anakmu sendiri. Apa tidak cukup waktu yang kamu habiskan bersama dengan istri siri mu itu selama beberapa hari ini? Sehingga kamu pun tidak bisa meninggalnya sebentar di hari penting anakmu yang sedang mengikuti lomba saat ini" Batin ku. Beberapa air bening kini mengalir di pipiku. Aku merasa iba kepada putri sambung ku itu.


Acara perlombaan lukisan telah selesai. Sofi pun mendapat juara dua di perlombaan itu.


"Selamat ya sayang. Mama bangga kepada kamu. Anak mama memang anak yang pintar dan kreatif" Pujiku kepada putri kecilku itu dengan memeluknya dan mencium pipinya.


"Iya mama, Terima kasih juga ya Ma, mama telah menjadi mamanya sofi dan juga selalu mendukung Sofi dalam keadaan apapun. Dan piala Ini Sofi hadiahkan untuk mama"


"Ya Allah sayang, terima kasih banyak ya nak. Mama jadi terharu karena telah mendapatkan anak sebaiknya sepintar Sofi" Ujar ku terharu.


Sofi kembali memelukku dengan eratnya dan aku pun membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang.


"Sekarang ayo kita pulang, karena acaranya juga sudah selesai" Ajak ku pada putri kecilku itu kami pun pergi menuju mobil ku yang terparkir di halaman sekolah.


"Sayang, maaf papa terlambat" Ujar Tian terhengah-hengah berlari ke arah aku dan Sofi saat kami mau masuk ke mobil.


Bukan nya senang dengan kehadiran papa nya, Sofi malah terlihat sedih dan kecewa. Wajah nya yang tadi ceria kini muram kembali.


"Mama, Sofi masuk ke mobil dulu ya" Ujar nya langsung meninggalkan aku dan Tian tanpa menunggu jawaban dariku.


"Sayang, kok papa ditinggalin seperti itu aja sih?" Ujar Tian memegang tangan Sofi agar gadis kecil nya itu berhenti melangkah.


"Lepaskan Sofi pa. Papa gak sayang lagi sama Sofi. Sofi kecewa sama papa, papa lebih mementingkan tante Susan dari pada Sofi" Teriak gadis itu mengungkap kan rasa kecewa di hati nya.


"Sayang maaf kan papa. Papa sama sekali tidak bermaksud untuk mengabaikan kamu nak. Hanya saja tadi ada sedikit masalah yang harus papa selesaikan"


"Apa? Pasti masalahnya sama tante Susan sehingga papa lupa dengan janji papa yang akan mau datang di perlombaan Sofi"


"Maaf kan papa sayang. Ini semua di luar dugaan papa"


"Papa jahat, papa gak sayang sama Sofi Sofi benci sama papa" Ujarnya memberontak dan langsung berlari ke dalam mobil ku untuk menghindari kehadiran papanya.

__ADS_1


"Sofi" Teriak ku.


"Sayang, maaf kan aku" Kini Tian kembali minta maaf kepadaku.


"Seharusnya kamu tidak perlu minta maaf kepadaku. Karena kamu tidak mengecewakan ku. Saat ini anak mu yang sedang kecewa dengan sikapmu. Jadi kamu harus meminta maaf kepadanya. Aku juga heran sama kamu. Kenapa sih kamu akhir-akhir ini berubah dan tidak pernah membagi waktu kepada aku dan juga Sofi? kamu selalu menghabiskan waktumu bersama Susan. Oke aku tahu dia sedang sakit saat ini dan dia membutuhkan perhatian kamu. Tapi sakit yang ia alami saat ini tidak lah separah itu dan masih bisa diatasi" Ujar ku pada akhirnya meluahkan kesalahan di hatiku.


"Tadi, Mama minta aku untuk menyuapi Susan untuk sarapan karena akhir-akhir ini iya tidak bisa tenang karena memikirkan sakitnya dan tentu saja aku khawatir takut terjadi apa-apa kepada dirinya juga bayi yang ada di dalam kandungannya" Jelas Tian.


"Aku juga nggak tahu ya Tian harus ngomong apa sama kamu. Aku tahu kamu juga mempunyai kewajiban terhadap Susan. Tapi apa kamu tidak bisa meluangkan sedikit saja waktumu untuk anakmu? Terlebih hari ini adalah hari yang spesial untuknya. Karena dia membutuhkan dukungan dari papanya. Tapi papanya malah membuatnya kecewa. Bahkan untuk sarapan saja Susan minta di suapi sama kamu? Sungguh manja sekali dia" Ujar ku penuh dengan emosi.


"Bukan seperti itu sayang. Hanya saja"


"Hanya saja apa?" Potong ku.


"Hanya saja kamu sudah mulai mencintai nya? Begitu maksud mu?"


"Sayang kenapa kamu ngomong nya begitu?"


"Sudah lah Tian. Bukan aku gak tahu saat ini kamu mulai mencintai istri siri mu itu. Dan aku sangat yakin apa yang kamu bilang kemarin tentang akan menceraikan Susan saat anak itu lahir pasti tidak akan terjadi" Ucap ku lagi.


Tian terdiam mendengar perkataan ku itu.


"Benar kan?"


"Sayang"


"Stop, stop ngomong yang tidak pasti dan harapan palsu untuk aku dan Sofi. Oh ya, ini piala Sofi. Dia mendapat juara dua di perlombaan tadi" Ujar ku memperlihatkan piala Sofi.


"Sekarang kamu urus saja istri siri mu itu yang sakit dan sedang membutuhkan perhatian mu itu. Aku dan Sofi tidak masalah jika seperti ini" Ujar ku meninggalkan Tian yang bengong mendengar ucapan ku. Aku masuk ke dalam mobil ku dan meninggalkan Tian.


Di perjalanan, aku menitikkan air mata kekecewaan kepada suami ku itu. Aku merasa sangat kecewa kepada nya.


"Mama, mama menangis?" Tanya Sofi kepada ku. Aku menghapus air mata ku.


"Gak kok sayang. Mama hanya kelilipan saja" Ujar ku berbohong.


Sofi kembali menatap jauh ke depan.


"Kenapa sayang?" Tanya ku melihat putri ku melamun kembali.


"Sofi benci sama papa ma, papa gak sayang sama Sofi. Papa lebih sayang sama tante Susan dan juga adik bayi" Ujar nya lagi menangis.


"Sayang, jangan ngomong begitu dong nak. Papa seperti itu karena tante Susan sakit. Kita harus mengerti ya sayang" Ujar ku mencoba untuk membujuk Sofi agar tidak membenci papa nya.


"Tapi papa sudah lama bersama tante Susan. Masa meluangkan waktu sebentar saja untuk hadir di perlombaan Sofi nggak bisa. Papa sudah banyak memberikan waktunya untuk tante Susan. Tapi untuk kita gak ada sama sekali" Ucap nya lagi.


Memang benar apa yang di katakan Sofi. Tian memang sudah lama bersama Susan dan menjaga nya. Masa untuk meluangkan waktu sebentar untuk hadir di acara perlombaan anak nya dia tidak bisa.


"Sayang, bagaimana pun papa itu adalah orang tua nya kamu. Dan kamu harus menghormati nya juga tidak boleh membenci papa mu sendiri sayang. Itu perbuatan dosa sayang. Mama gak mau lo anak mama yang paling mama sayang ini jadi anak durhaka" Ujar ku lagi.


"Tapi tapi kecewa sama papa ma" Ujar nya dengan wajah sedih nya.


"Sayang, setiap orang itu pasti mempunyai kekecewaan terhadap orang lain. Tapi kita tidak boleh membenci orang tersebut. Kita harus memaafkan dan memaklumi nya. Karena pasti ada alasan tertentu mereka yang membuat kita menjadi kecewa" Nasehat ku lagi.


Sofi terdiam mendengar nasehat ku. Gadis itu tampak berpikir dengan apa yang aku katakan kepada nya.


"Sayang, maaf kan papa ya. Jangan benci sama papa ya nak. Jadi lah anak yang pemaaf ya sayang" Ujar ku lagi menggenggam jari jemari putri kecilku itu.


Sofi menatap ku dengan serius. Aku tersenyum memandang gadis kecilku itu.


"Iya mama, Sofi akan menjadi anak seperti apa yang mama mau. Karena Sofi sayang sama mama" Ucap nya kepada ku.


"Terima kasih ya sayang. Terima kasih telah menjadi apa yang mama mau. Mama sangat bangga kepada mu nak" Ucap ku lagi mencium punggung tangan putri ku itu.


"Iya mama" Jawab Sofi tersenyum ceria kembali.


***


"Ya Allah, apa yang aku lakukan saat ini? Aku telah mengecewakan putriku untuk yang kesekian kali nya. Kenapa aku bisa seperti ini? Ada apa dengan diri ku ini" Ujar Tian dengan bingung dengan sikap nya saat ini.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak bisa menolak permintaan Susan. Padahal benar apa yang di katakan Fitri bahwa sakit Susan masih bisa di atasi" Batin nya lagi.


__ADS_2