
Aku memutuskan untuk membuka cafe saja di dekat campus yang cukup terkenal di kota itu. Yah sengaja aku mencari kesibukan di luar agar tidak terlalu memikirkan masalah keluarga ku dan bisa melupakan Tian.
Pagi hari aku sibuk mengajar di sekolah hingga siang. Pulang dari sana, aku langsung pergi ke cafe untuk mengontrol di sana hingga malam. Jadi aku tidak ada waktu untuk memikirkan masalah ku lagi.
***
Susan tersenyum saat selesai mandi dan melihat suami nya masih tertidur dengan pulas nya di atas tempat tidur. Sungguh tadi malam adalah malam yang sangat istimewa di dalam hidup nya. Karena kembali di puaskan oleh suami nya.
"Selamat pagi sayang" Ucap Susan mengecup kening suami nya yang masih terlelap.
Tian membuka mata nya. Ia tersenyum melihat istri siri nya itu di hadapan nya.
"Pagi" Jawab nya masih dengan suara berat nya. Pertempuran tadi malam membuat Tian lelah hingga terlambat bangun di pagi ini.
"Ayo bangun sudah pukul berapa ini? Nanti kamu terlambat ke kantor" Ujar Susan lagi.
"Iya, aku mau siap-siap ke kantor dulu ya" Ujar Tian.
"Iya, aku siap kan sarapan untuk kita"
***
"Sayang, kapan pulang? Aku rindu sama kalian" Tanya Tian melalui pesan singkat nya.
Aku sama sekali tidak membalas pesan dari Tian. Karena pagi ini aku sudah mulai mengajar di salah satu SD yang aku lamar untuk bekerja di sana kemaren.
Mendapati pesan nya tidak di balas, Tian pun langsung menghubungi ku.
Aku mengangkat ponsel ku.
"Hallo ya Tian" Tanya ku.
"Kenapa pesan ku tidak kamu balas?"
"Maaf Tian aku sedang sibuk tadi. Ada apa?"
"Sesibuk apa sih kamu sampai-sampai tidak bisa membalas pesan dari ku" Ujar Tian dengan ketus.
"Nanti kita bahas lagi ya masalah ini. Aku harus masuk ke kelas" Ucap ku.
"Tunggu, kelas? Kamu sekolah atau bagaimana sih?" Tanya Tian heran
"Aku sudah mulai mengajar mulai hari ini Tian"
"Apa? Kamu mengajar lagi? Dan kamu tidak memberi tahu ku dari awal? Kamu anggap apa aku ini" Ujar nya lagi.
"Nanti kita bahas lagi. Aku mau masuk ke kelas. Assalamualaikum" Ucap ku langsung mematikan ponsel ku.
"Hallo, Sayang. Sayang" Panggil Tian saat telfon kami terputus.
"Apa sih mau Fitri saat ini? Kenapa dia tidak meminta izin kepada ku untuk mengajar? Malah dia mengambil keputusan sendiri seperti ini. Apa sih mau nya? Apa dia tidak menganggap ku lagi" Batin Tian kesal.
"Gak, ini gak bisa aku biarkan. Aku harus bertemu dengan Fitri dan membahas masalah ini" Ujar Tian lagi.
Jam istirahat sekolah telah tiba. Para siswa/i pun berhamburan keluar dari kelas nya untuk pergi ke kantin mengisi pulau tengah mereka.
Aku menyusun buku-buku murid ku tadi yang telah mengerjakan tugas yang aku berikan. Saat keluar dari kelas, tidak sengaja aku kembali menabrak orang yang lewat di depan kelas ku. Sontak buku yang ku bawa tadi berhamburan ke lantai.
"Maaf, saya tidak sengaja" Ujar orang tadi membantu ku untuk memungut dan menyusun kembali buku-buku yang berserakan di lantai tadi.
"Saya juga salah, saya juga tidak melihat ada orang tadi" Ucap ku.
"Ini buku-buku nya" Ucap orang tadi sambil menyerahkan buku yang di pungut nya tadi.
"Terima kasih" Ucap ku menatap siapa yang ku tabrak tadi.
"Ustad Rendi" Ujar ku tersenyum.
"Fitri? Kamu ngajar di sini?" Tanya nya.
"Iya, hari ini aku baru mulai untuk mengajar di kelas satu. Pak Ustad juga ngajar di sini?"
"Iya, aku ngajar mata pelajaran agama"
"Tapi tadi saya tidak melihat bapak di ruang guru"
"Iya, saya baru tiba karena waktu ngajar ku setelah jam istirahat. Lagian saya juga ngajar di dua tempat hari ini. Setelah selesai mengajar di sana, saya langsung ke sini" Jelasnya lagi.
"Oh gitu" Aku mengangguk mengerti.
"Saya mau ke ruang guru dulu ya pak"
"Iya, kebetulan saya juga mau ke sana" Ujar ustad Rendi. Aku dan ustad Rendi berjalan beriringan menuju ruang guru.
"Oh ya, bagaimana dengan masalah keluarga mu? Apa bisa di perbaiki?"
__ADS_1
Aku menghela napas beratku saat mendengar pertanyaan dari Ustad Rendi tadi. Raut wajah yang tadinya senang kini berubah menjadi murung.
"Maaf buk Fitri, jika pertanyaanku tadi membuat kamu merasa tidak nyaman" Ujar ustad Rendi merasa tidak enak hati.
"Gak apa-apa. Seperti nya saya dan suami saya tidak bisa lagi bersama. Saya sudah berusaha untuk bertahan selama sebulan ini untuk menunggu nya memilih antara aku atau istri siri nya itu. Tapi dia masih tidak bisa memilih di antara kami berdua. Jujur saja aku tidak bisa hidup di madu. Aku selalu menahan rasa sakit ini dan berusaha untuk menerima nya. Tapi tetap saja aku tidak bisa. Jadi aku putuskan untuk berpisah saja dengan nya. Dan aku juga sudah meminta pengacara ku untuk mengurus semua nya" Jelas ku. Yah entah mengapa aku merasa nyaman saat menceritakan masalah ku kepada ustad Rendi.
"Saya hanya bisa mendoakan jika urusan mu semua akan cepat selesai dan semoga ini adalah keputusan yang terbaik untuk mu" Ujar ustad Rendi lagi.
"Terima kasih" Ucap ku.
***
"Papa... " Teriak Sofi di sore itu saat melihat papa nya datang berkunjung ke rumah mama ku. Gadis kecil itu pergi berlari menuju papa nya.
"Sayang, bagaimana kabar mu?"
"Sofi baik-baik saja pa. Papa sudah pulang kantor?"
"Sudah sayang papa baru saja pulang dan langsung ke sini untuk bertemu dengan mu dan mama mu. Mama mu ada?"
"Oh mama ada kok di kamar. Sebentar ya pa Sofi panggilkan" Ujar gadis itu langsung berlari menuju kamar ku.
"Tian?" Tegur ku saat tiba di hadapan Tian.
"Sayang, apa kabar mu?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja"
"Papa, mama di mana? Kok dari tadi tidak terlihat"
"Papa sama mama pergi acara syukuran tetangga di ujung jalan sana. Paling sebentar lagi juga pulang. Ada urusan sama mereka?" Tanya ku dengan nada ketus.
"Gak kok sayang, ada yang mau aku bicarain sama kamu"
"Apa?" Tanya ku heran.
"Sudah beberapa hari ini kamu gak pulang Aku mau kamu pulang kembali ke rumah. Rumah terasa sepi tampa kehadiran kalian" Ujar Tian terdengar memohon.
"Maaf Tian, aku gak bisa kembali ke rumah itu. Aku tidak bisa" Ujar ku lagi.
"Kenapa?"
"Aku yakin kamu sudah tahu jawaban nya dan tidak perlu lagi aku jelas kan"
Tian terdiam memikirkan ucapan ku.
"Maaf kan aku, bukan baru masuk ke lancang karena tidak meminta izin darimu. Tapi aku hanya ingin mencari kesibukanku agar aku tidak selalu memikirkan masalah yang aku hadapi saat ini" Jelas ku.
"Sayang, Kamu adalah istriku dan aku tidak mau kamu bekerja seperti ini. Aku hanya ingin kamu tetap di rumah mengurus aku dan juga Sofi. Hanya itu yang aku inginkan, aku tidak mau kamu capek nantinya"
.
"Itu lah kenapa aku tidak mau memberi tahu mu. Aku yakin kamu tidak akan mengizinkan ku untuk bekerja. Maaf kan aku tapi aku mohon, aku ingin tetap mengajar untuk mencari kesibukan. Aku bosan di rumah, aku harus mengalih pikiran ku untuk bisa melupakan segalanya" Ucap ku lagi.
Tian hanya bisa menghela napas beratnya. Kini dia mengalah karena dia tahu aku dalam keadaan tersakiti dan tidak mau memaksa ku untuk mengikuti kemauan nya.
"Kamu tunggu saja Tian. Aku sudah mendaftar kan kita di pengadilan. Antara aku dan kamu tidak akan ada ikatan apan pun lagi" Batin ku meski terasa berat tapi harus aku lakukan.
"Sayang apa kamu masih mau menginap di sini atau pulang ikut papa?" Tanya Tian kepada Sofi.
"Sofi masih mau di sini sama mama pa. Lagian nanti ketika papa ke kantor pasti Sofi tinggal sendiri" Ujar gadis kecil ku itu.
"Ya sudah, papa pulang dulu. Papa harap kalian akan cepat pulang ke rumah ya. Jangan lama-lama tinggalin papa sendirian" Ujar Tian lagi.
"Iya papa" Jawab Sofi. Sedangkan aku hanya tersenyum kecut. Aku tidak mau memberi janji kepada suami ku itu. Karena aku akan berpisah dengan nya jelas aku tidak akan pernah pulang lagi ke rumah itu.
***
"Ya pak Lukman" Ujar ku saat menjawab telfon dari pengacara ku.
"Begini buk Fitri, surat panggilan sidang nya sudah keluar. Dan jadwal nya lusa, apa ibu ada di rumah? Saya akan mengantarkan surat nya ke sana" Ujar nya lagi.
"Oh saat ini saya sedang berada di sekolah pak. Jika tidak keberatan, tolong antarkan surat nya di sekolah saya. Saya share lokasinya" Ujar ku lagi.
"Baik lah buk, saya akan mengantar surat nya ke sekolah ibu" Aku pun memutuskan teleponku dan langsung mengirim lokasi kepada pak Lukman surat panggilan perceraian ku dan juga Tian.
"Pak Lukman" Ujar ku menyambut kedatangan pengacaraku itu.
"Buk, ini dia surat panggilan nya. Dan ini untuk pak Tian"
"Baik pak terima kasih. Surat Tian biar aku sendiri yang mengantarkan ke rumah nya"
"Baik lah jika begitu buk. Sampai bertemu di pengadilan ya" Ucap nya lagi.
"Iya pak. Terima kasih banyak"
__ADS_1
Pak Lukman langsung pergi meninggalkan ku. Aku masih berdiri di depan kelas dan membolak-balikan surat yang ku pegang tadi.
"Buk Fitri? Siapa laki-laki tadi?" Tanya ustad Rendi yang kebetulan lewat.
"Oh itu pak Lukman, pengacara saya yang mengantarkan surat panggilan dari pengadilan untuk ku dan suami ku" Jelas ku lagi.
Ustad Rendi hanya mengangguk mengerti.
"Saya masuk dulu ya pak. Kasihan anak-anak sudah lama menunggu" Ujar ku.
Ustad Rendi hanya mengangguk.
***
Tok... Tok... Tok...
Pintu rumah megah itu aku ketuk. Aku datang sore hari nya untuk mengantar surat panggilan Tian.
"Ya sebentar" Jawab seseorang dari dalam dan membuka pintu rumah megah itu.
"Eh buk Fitri, silahkan masuk buk" Sambut bik Ina kepada ku.
"Terima kasih bik" Aku pun masuk ke rumah megah itu dan duduk di sofa ruang tamu.
"Ibu mau saya buatin minuman?" Tawar bik Ina kepadaku.
"Es jeruk saja bik. Kebetulan haus sekali" Ucap ku.
"Bik buk akan saya buat kan" Ujar wanita paruh baya itu langsung menuju dapur untuk membuatkan ku minuman.
"Ini minuman nya buk serta ada cemilan juga" Kata bik Ina menyajikan makanan dan minuman di atas meja.
"Terima kasih ya bik. Oh ya Tian nya sudah pulang atau belum?" Tanya ku.
"Oh pak Tian, Dia belum pulang Bu mungkin sebentar lagi" Jawab bik Ina.
"Oke terima kasih ya bik. Saya akan menunggu"
"Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu ya buk. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan"
Aku mengangguk dan langsung menyedu es jeruk yang di bawa oleh bik Ina tadi.
Tak lama menunggu ku dengar suara mobil berhenti di depan rumah. Terlihat Tian keluar dari mobil mewahnya itu dan masuk ke dalam rumahnya.
"Sayang, akhir nya kamu pulang juga" Ujar nya saat melihat ku dan ingin mencium puncak kepalaku namun aku mengelak.
"Sayang kok gak mau aku cium sih?"
Aku hanya tersenyum kecut menatapnya.
"Di mana Sofi?" Tanya Tian mencari keberadaan putri nya.
"Sofi di rumah"
"Aku hanya sebentar kok datang ke sini. Aku hanya mau menyerahkan ini" Ujar ku menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat kepada Tian. Tian mengambil nya.
"Dari pengadilan agama? Maksud kamu apa sayang?"
"Itu surat gugatan cerai ku. Dan jadwal nya besok lusa. Aku harap kamu bisa hadir di sana"
"Gak sayang. Aku gak mau pisah dari kamu. Aku mencintai kamu" Ujar Tian memohon.
"Maaf Tian aku sudah tidak bisa menanggung semua ini. Tolong hargai keputusan ku. Aku juga tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk kamu. Aku juga tidak bisa melayani kamu seperti dulu. Aku tidak mau berdosa dan aku juga tidak mau kamu berdosa karena tidak bisa bersikap adil nanti nya. Ini lah jalan yang terbaik utuk kita Tian. Aku harap kamu terima" Ucap ku lagi.
"Tidak Fitri, tolong cabut kembali gugatan itu. Aku tidak mau kehilangan kamu"
"Maaf Tian aku tidak bisa. Satu bulan aku menunggu keputusan kamu untuk memilih antara aku dan Susan. Tapi nyatanya kamu tidak bisa memilih di antara kami. Jadi biarlah aku yang mengalah. Ini yang terbaik" Ujar ku lagi berlalu dari hadapan Tian.
"Oh ya, jika nanti kita sudah resmi berpisah, aku mohon kepada kamu jangan membatasi aku untuk bertemu dengan Sofi" Ucap ku lagi dan langsung pergi dari sana.
Tian yang masih terbengong dan masih tidak percaya dengan keputusan ku tampak sedih dan menitikkan air mata nya. Hati nya benar-benar hancur saat ini.
"Fitri, kenapa kamu tega kepada ku seperti ini. Kamu tega meninggalkan aku. Padahal aku sangat mencintai kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu" Ujar Tian menangis sedih.
***
Aku mengendarai mobil ku dengan perasaan sedih. Aku tidak bisa membayangkan pada akhir nya pernikahan ku berakhir dengan perceraian.
Padahal aku sangat berharap jika keluarga kecil ku akan langgeng hingga maut memisahkan kami. Tapi nyatanya aku salah. Aku hanya lah wanita biasa yang tidak mempunyai kesabaran sebesar itu seperti layak nya para wanita yang sanggup untuk di madu.
"Maaf kan aku Tian. Maaf kan aku ya Allah. Aku tahu perceraian hal yang paling di benci oleh Mu. Tapi aku tidak bisa bertahan lagi. Aku lelah ya Allah. Hati ini selalu tersakiti olehnya" Ujar ku dengan menitikkan air mata.
"Kuat kan lah hati ini ya Allah, sabar kan lah diri ini untuk menghadapi semua masalah ini" Batin ku lagi berdoa.
***
__ADS_1
"Astagfirullah ada apa dengan ku? Kenapa aku selalu memikirkan Fitri? Dari awal ketemu aku tidak bisa melupakan wajah nya itu" Batin ustad Rendi saat tiba-tiba wajah ku terbayang di ingatan nya. Mungkin karena dia simpati kepada ku dengan semua masalah yang ku hadapi. Hingga rasa simpati itu timbul menjadi cinta dan sayang kepada ku. Namun, laki-laki itu menahan rasa itu karena dia tahu batasan. Terlebih dia tahu aku adalah istri orang Namun, dengan mendengar perceraian ku, dia pun ingin mengenal ku lebih dekat. Untuk di jadikan pendamping hidupnya saat masa idah ku habis.