
Pak Rendi mengungkapkan niat nya untuk mengajak ku taaruf. Aku meminta waktu untuk memikirkan niat baik pak Rendi itu.
***
"Ya Allah, aku mohon kepada mu jika benar pak Rendi ini adalah jodoh yang terbaik untuk ku, maka kuatkan lah hati ini untuk bersamanya. Hati ini masih ragu untuk menerima nya. Ku akui dia memang laki-laki yang baik, laki-laki soleh dan selalu ada untuk ku ketika aku susah. Tapi hati ini masih ragu untuk menerima nya. Tolong berikan aku petunjuk mu ya Allah. Hanya Engkau yang tahu mana yang baik untuk ku. Aamiin" Doa ku di sepertiga malam ku.
***
"Fitri, akhir-akhir ini mama melihat mu sering melamun. Ada apa sih nak?" Tanya mama ku saat aku duduk di depan teras rumah ku menikmati tiupan angin malam yang memenangkan hati.
"Mama" Ujar ku kaget.
"Saat ini, aku bingung ma harus bagaimana"
"Bingung kenapa sih nak?"
"Mama kenal ustad Rendi kan?"
"Laki-laki yang juga memberikan modal untuk cafe mu itu? Yang juga mengajar di tempat sekolah mu?"
Aku mengangguk.
"Emang nya ada apa dengan nya?"
"Dia mengajak ku taaruf ma. Dia ingin menjaga ku dan juga melindungi ku ma"
"Lo, bagus dong.. Kelihatannya dia itu orang nya baik kok. Jadi apa salah nya kamu sama dia"
"Iya sih ma, selama aku mengenali nya memang dia orang yang baik. Tapi hati ini masih ragu ma"
"Ragu kenapa?"
"Hati ini belum terlalu yakin ma"
"Fitri, bukan nya mama mau memaksa kamu atau bagaimana? Mama rasa ustad Rendi itu laki-laki yang baik. Coba lah kamu untuk belajar menerima nya nak. Dulu menolak semua laki-laki yang meminang mu dan memilih Tian sebagai suami mu. Tapi apa yang kamu dapatkan dari nya? Hanya penghianatan dan kesedihan yang kamu dapatkan bukan? Dengan begitu yakin nya kamu bilang Tian akan berubah. Oke mama akui dia berubah dalam karena tidak terlibat lagi di dalam narkoba. Tetapi sekarang dia malah berselingkuh sama mantan adik iparnya. Keluar dari lubang buaya malah masuk ke kandang harimau" Ujar mama ku yang benar ada nya.
Aku memikirkan apa yang dikatakan oleh mamaku itu.
"Benar juga apa yang dikatakan sama mama. Apa salahnya jika aku mencoba untuk membuka hati kepada pak Rendi karena selama ini pak Rendi sudah baik kepadaku" Batin ku lagi.
"Aku meminta pak Rendi untuk memberikan ku waktu ma agar aku bisa memikirkan semua ini. Jika aku bersedia, maka dia akan langsung membawa keluarganya untuk melamar ku"
"Mama sih terserah kamu nak. Tapi Mama berharap kamu memikirkan lagi semua ini. Cinta itu bisa tumbuh pelan-pelan ketika kamu dapat yang sudah bersama nantinya"
__ADS_1
aku menghela nafas beratku.
"Iya ma, aku akan memikirkan semua itu lagi"
***
"Susan, apa kamu sudah menanyakan kepada Tian, kapan pastinya dia akan menikahi mu secara resmi?" Tanya mama Susan saat mereka janjian bertemu di sebuah Cafe.
"Sudah ma, Tian bilang dia akan menikahi ku secara resmi setelah proyeknya selesai ditangani. Saat ini Tian sibuk untuk mengurus proyeknya. Jadi aku tidak mau memaksanya menikahi itu secepat itu ma. Bisa-bisa dia nanti marah besar karena aku tidak mengerti keadaannya saat ini. Lagian jika proyek itu berhasil pasti acara pernikahan itu akan mewah karena keuntungan proyek tersebut"
"Gitu ya, bagus deh jika begitu. Oh ya nanti setelah proyeknya berhasil dan kamu mendapatkan keuntungannya juga, jangan lupa ya kamu memberikan sebagian keuntungan tersebut kepada mama" Ujar mama Susan dengan tersenyum penuh dengan arti.
"Iya ma, mama tenang saja cara, aku ini adalah istri CEO perusahaan terkenal di kota ini. Jelas dong mama juga mendapatkan imbasnya uang dari suamiku"
"Bagus deh jika begitu. Mama jadi senang mendengarnya. Dengan begitu mama tidak perlu lagi capek-capek untuk membuat kue"
"Aduh ma udah deh sekarang mama nggak perlu lagi membuat kue dan gak perlu capek-capek lagi. Karena aku akan memberikan uang saku untuk mama setiap bulannya" Ujar Susan.
Wanita paruh baya itu dan Susan tersenyum senang.
***
"Aduh, capek sekali baru pulang shopping" Ujar Susan menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruang tamu.
"Bau nya lembut dan bikin hati ini tenang. Aduh, haus lagi" Ujar Susan langsung meletakkan parfum tersebut di atas meja dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil air.
Sofi yang baru saja turun dari kamarnya melihat parfum yang tergeletak di atas meja membuatnya penasaran. Dia pun mencoba parfum tersebut dengan menyemprotkannya ke bajunya.
"Sofi" Bentak Susan mengagetkan putri kecil itu sehingga membuat parfum yang ditangani jatuh ke lantai hingga pecah.
Susan membulatkan mata nya saat melihat parfum yang baru ia beli tadi pecah.
"Ya Ampun, Sofi kamu ini apa-apaan sih? Tuh lihat pecah kan parfum nya? Ini parfum mahal lo" Susan tampak marah kepada gadis kecil itu.
"Maaf tante, Sofi gak sengaja"
"Gak sengaja apa nya sih? Jika sudah pecah begini bagaimana? Kamu ini benar-benar ya membuat mama kesal saja" Ujar Susan lagi.
"Maaf tante"
"Maaf, maaf emang nya dengan kata maaf itu bisa mengembalikan parfum yang pecah ini?"
Sofi hanya menunduk dan menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
"Pokok nya mama gak mau tahu ya, kamu bersihkan pecahan kaca ini. Menyebalkan" Ujar Susan lagi langsung pergi menuju kamar meninggalkan Sofi yang hanya terpaku terdiam.
"Kenapa sekarang tante jadi berubah seperti ini? Dulu tante gak jahat seperti ini. Dia selalu sayang sama Sofi" Ujar gadis kecil itu berkata pelan. Ternyata perkataan itu di dengar oleh Susan.
"Itu semua aku lakukan demi mendapatkan papa mu.. Sekarang aku sudah mendapatkan papa mu seutuhnya. Oh ya, awas saja jika kamu berani memberi tahu papa mu tentang ini. Mama akan memberikan kamu hukuman lebih daripada ini. Mengerti?" Ujar Susan dengan membesarkan mata nya langsung melanjutkan perjalanan nya menuju ke kamar nya.
"Ya Allah non Sofi" Ujar bik Ina kaget melihat Sofi menangis sambil membersihkan serpihan kaca yang tadi pecah karena dirinya.
Bik Ina datang mendekati gadis kecil itu.
"Biar bibi saja yang bersihkan non" Ujar bik Ina lagi.
"Tante Susan jahat bik. Tante Susan gak sayang sama Sofi. Sofi mau kembali sama mama Fitri"
"Yang sabar ya non. Non duduk saja di sofa ya. Biar bibi yang bersihkan" Bik Ina langsung membersihkan serpihan kaca tersebut sedang kan Sofi duduk di Sofa sambil terus menangis.
"Mama, Sofi kangen ma. Sofi pengen sama mama" Ucap nya lirih.
Bik Ina yang mendengar ucapan Sofi tadi langsung menghentikan pekerjaannya dan duduk di samping Sofi serta memeluk gadis kecil itu. Agar gadis itu merasa tenang.
"Yang sabar ya non. Sudah non jangan menangis lagi. Lebih baik non kembali ke kamar ya" Ujar bik Ina lagi.
Sofi pun langsung pergi ke kamar nya.
"Kasihan kamu non Sofi. Buk Susan benar-benar keterlaluan. Walau bagaimanapun non Sofi itu adalah keponakannya juga tidak seharusnya dia memarahi seperti itu" Batin bi Ina menggeleng-gelengkan kepala.
***
"Ih...Memang menyebalkan si bocah satu itu. Parfum mahal ku sudah pecah di buat nya. Lagian, Tian ngapain juga membawa anak itu kembali? Biarin saja dia di rumah Fitri. Mengganggu ketenangan orang saja" Ujar Susan setelah tiba di kamar nya.
Susan benar-benar telah berubah saat ini. Terlebih karena dia hamil, dia sangat membenci Sofi. Terlebih Sofi lebih dekat dengan ku dari pada dia. Hingga rasa cemburu itu semakin menjadi-jadi.
Rasa cemburu itu berawal ketika Sofi menggambar kan sebuah keluarga. Di mana sofi hanya menggambar aku, Sofi, Tian dan juga Santi mama kandung nya. Di gambar itu sama sekali tidak ada diri nya. Padahal waktu itu dia sudah menjadi istri dari Tian. Tapi dia malah tidak di anggap oleh putri sambung nya itu. Karena itu lah dia merasa cemburu.
Terlebih dia meminta Sofi untuk memanggilnya mama. Tapi hingga detik ini Sofi tidak mau memanggilnya mama. Masih betah gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan tante. Maka semakin menjadi lah rasa cemburu itu di hati Susan.
"Aku harus membuat Sofi tidak betah di rumah ini. Biarkan saja dia tinggal bersama Fitri. Itu akan lebih baik dari pada dia berada di rumah ini" Ujar Susan lagi mengatur rencana nya.
***
"Mama, Sofi takut di sini. Sofi mau sama mama" Tangis putri kecil itu di dalam kamar nya.
"Mama Fitri tidak pernah marah sama Sofi. Mama selalu sayang sama Sofi. Setiap Sofi buat salah, mama hanya menasehati Sofi tidak dengan memarahi Sofi seperti tante Susan. Sofi mau sama mama" Ujar Sofi terus meneteskan air mata nya.
__ADS_1