Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 47


__ADS_3

Tian dan Susan merencanakan sesuatu tentang pernikahan mereka. Tian ingin menyewa seorang laki-laki sebagai pengganti nya nanti ketika resepsi pernikahan itu berlangsung agar membuat aku tidak curiga kepada mereka.


"Aku setuju dengan semua rencana mu. Yang penting anak ku nanti nya lahir memiliki ayah" Ujar Susan tersenyum puas.


"Terima kasih ya sayang. Kamu sudah mau bertanggung jawab dengan anak yang ada di dalam kandungan ku ini" Tambah nya lagi tersenyum senang karena telah mendapat kepastian dari Tian yang telah sudi mau menikahi nya. Gadis itu memegang tangan Tian dengan sangat hangat nya.


Tian membiarkan tangan nya di pegang oleh gadis yang akan menjadi istri siri nya itu.


Yah sebenar nya dia enggan mau melakukan ini. Namun, apa lah daya Susan telah mengandung anak dari nya. Anak itu tidak berdosa dan juga ia terus-terusan mendapat desakan dari mama nya Susan agar bisa menikahi anak nya secepat mungkin.


"Sayang, aku janji sama kamu. Aku akan menjadi istri yang baik untuk kamu dan ibu yang baik untuk Sofi" Ujar nya.


Tian hanya diam tidak bisa memberikan jawaban apa pun. Laki-laki itu tampak berpikir tapi entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Kita akan melakukan ijab kabul di minggu depan. Dan acara resepsinya akan di adakan esok hari setelah ijab kabul. Jika kita mengadakan acara resepsi yang sama, justru itu akan membuat Fitri curiga karena aku tidak pergi di acara resepsi mu bersama nya. Oleh karena itu kita adakan besok nya saja" Jelas Tian merangkai rencananya.


"Baik lah, tidak masalah bagi ku. Itu terserah kamu saja" Ujar Susan menyetujui apa pun keputusan Tian.


Yah untuk saat ini gadis itu memang tampak mengalah dan menuruti saja apa yang di rencana kan oleh calon suami nya itu. Ia tidak mau banyak berkomentar karena takut nanti nya Tian akan membatalkan rencana pernikahan nanti nya.


"Oke Tian, saat ini aku akan mengalah dan bersabar dengan semua rencana mu. Tapi ketika nanti kamu sudah menjadi milik ku, tentu saja aku tidak mau berbagi suami. Fitri, istri kesayangan mu itu akan aku tendang dari kehidupan kita. Yang ada hanya keluarga kecil kita yang bahagia di rumah mewah itu" Batin Susan tersenyum puas.


***


"Mama, mama" Teriak Susan mencari mama nya saat telah tiba di rumah wanita paruh baya itu.


"Ada apa sih, datang-datang berteriak seperti itu" Ujar wanita paruh baya itu.


"Mama, coba lihat deh raut wajah ku. Ada yang berbeda?" Ujar Susan meminta mama nya untuk memperhatikan raut wajahnya.


"Berbeda gimana sih? Seperti nya biasa saja"


"Ya ampun mama, ayo dong ma peka sedikit"


"Apa sih Susan, udah deh bilang aja ada apa sebenar nya. Mama sedang pusing ini memikirkan bisnis mama di bulan ini mencapai kerugian. Mana kerugian nya hampir dua puluh juta lagi" Ujar wanita paruh baya itu memegang kepala nya yang pusing dengan sebelah tangan nya dan sebelah nya lagi memegang buku kas bisnis nya.


"Aduh mama, udah deh mama jangan khawatir tentang kerugian mama yang tidak seberapa itu. Nanti akan aku ganti lebih dari pada itu" Ujar Susan mengambil buku kas yang di pegang mama nya tadi dan di taruh nya di atas meja.


"Apa sih maksud kamu Susan?"


"Mama ku tersayang, dengar ya. Sebentar lagi aku akan sah menjadi nyonya Tian. Jadi mama tidak perlu memikirkan bisnis mama itu yang mengalami kerugian. Nanti mama tinggal minta saja sama suami ku. Dia pasti akan memenuhi keinginan mama" Ujar Susan dengan percaya diri.


"Maksud kamu?"


"Ya ampun mama. Susan anak mama ini sebentar lagi akan menikah dengan Tian. Yah walaupun pernikahan kami dilakukan secara siri, tapi tetap saja aku sah menjadi istri nya Tian. Dan otomatis mama akan kembali menjadi mertua nya Tian"


"Yang benar kamu nak?"


"Iya dong ma, masa aku bohong sih sama mama. Secara Tian sendiri yang memberikan ide kepada ku seperti itu" Jelas Susan.


Susan pun menjelaskan rencana Tian kepada mama nya agar wanita paruh baya itu bisa mengerti dengan rencana mereka.


"Bagus juga rencana Tian. Mama setuju dengan rencana nya"


"Untuk saat ini kita memang harus setuju-setuju saja dengan rencana Tian. Karena jika kita melawan, aku takut Tian akan membatalkan pernikahan kami" Ujar Susan dengan mantap.


"Iya kamu benar, kita harus mengalah dan bersabar agar mendapatkan hasil yang maksimal" Ujar Wanita paruh baya itu dengan menatap tajam ke depan.


"Kapan pernikahan kamu itu di laksanakan?"


"Minggu depan ma"

__ADS_1


"Bagus dengan begitu kita akan bisa menyiapkan sesuatu nya untuk rencana kita"


"Rencana? Menyiapkan segala sesuatu nya bagaimana maksud mama?" Tanya Susan tidak mengerti.


"Sayang, kita harus menyewa fotografer untuk mengabadikan pernikahan kalian. Apalagi di acara akad nikah nya itu memang harus diabadikan"


Susan tampak masih bingung dan belum mengerti dengan maksud mama nya tadi.


"Sayang, foto-foto itu akan kita gunakan suatu saat nanti sebagai bukti bahwa Tian Sudah menikahi mau dan Fitri sudah di madu. Namun, kita akan memberitahu nya pelan-pelan agar Tian tidak curiga. Dan setelah Fitri tahu hal itu, mama yakin dia akan pergi meninggalkan Tian. Hingga pada akhirnya kamu lah yang menjadi satu-satu nya nyonya Tian dan mendapatkan seluruh harta nya Tian" Ujar mama nya Susan lagi.


"Mama benar, ternyata mama ku ini memang pinter"


"Siapa dulu, mama" Ujar nya penuh dengan semangat.


***


"Bik, apa Susan belum pulang?" Tanya ku kepada bik Ina yang sibuk menyiapkan makan malam untuk kami.


"Belum buk. Dari tadi sore ketika non Susan pergi, bibi sama sekali belum melihatnya kembali buk" Jelas nya lagi.


"Kemana sih pergi nya gadis itu. Tidak biasa nya dia seperti ini. Apa dia pulang ya ke rumah mama nya? Aduh aku jadi khawatir sama dia karena saat ini dia hamil" Batin ku gelisah.


"Sayang" Tegur Tian yang baru turun dari kamar.


Lelaki itu langsung menghampiri ku dan mencium puncak kepala ku. Tian pun langsung duduk di meja makannya.


"Sayang, kenapa kamu kelihatannya kamu gelisah seperti itu? Sedang memikirkan apa sih kamu" Tanya Tian kepada ku.


"Ini lo sayang, dari tadi sore Susan keluar dari rumah. Gak tahu juga dia kemana pergi nya. Yang jelas hingga saat ini dia belum juga kembali" Jelas ku kepada suami ku itu.


"Apa dia pergi ke rumah mama nya ya?" Tebak ku.


"Sudah lah sayang jangan terlalu kamu pikirkan Susan. Dia sudah besar nanti juga dia pasti pulang. Atau mungkin saja dia pergi ke rumah mama nya. Dia juga sudah lama tidak berkunjung ke sana" Ujar Tian tampak santai.


"Apa sih yang mau kamu khawatir kan kepada nya? Dia itu sudah besar dan bisa menjaga diri nya sendiri"


"Iya aku tahu hanya saja.... " Ujar ku terhenti ketika melihat bik Ina datang ke meja makan lagi dan menyajikan makanan di atas meja itu.


Aku menunggu hingga wanita paruh baya itu kembali ke dapur.


"Hanya saja saat ini dia sedang hamil. Dan tentu saja itu yang membuat aku khawatir kepada nya" Ujar ku kepada suami ku itu.


Tian yang tadi nya sedang meneguk air putih menjadi tersedak karena mendengar ucapan ku barusan.


"Susan hamil?" Tanya Tian.


"Waduh dari mana Fitri tahu bahwa saat ini Susan sedang hamil? Apa dia tahu juga bahwa Susan sedang hamil anak ku? Ya ampun harus bagaimana aku menjelaskan semua ini kepada Fitri" Batin Tian menjadi gelisah.


"Emang kamu tahu dari mana kamu tahu jika Susan itu hamil?" Tanya Tian mulai merasa deg degan.


"Tadi siang, aku tidak sengaja mendengar pembicaraannya di telepon dengan seseorang yang aku tidak tahu dia menelepon siapa saat itu. Dia bilang kepada orang itu untuk meminta bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam kandungannya itu. Karena semakin hari perutnya akan semakin membesar jadi dia meminta orang itu untuk menikahinya secepat mungkin" Jelas ku kepada suami ku itu.


"Fitri bilang dia tidak tahu siapa orang itu. Itu arti nya dia tidak tahu bahwa Susan sedang menelepon ku tadi siang. Untung saja Susan tidak menyebut nama ku" Batin Tian sedikit tenang.


"Sayang, Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Jika mama Susan tahu bahwa anaknya itu hamil, pasti dia akan sangat kecewa kepada kita karena kita tidak bisa menjaga anaknya dengan baik" Ujar ku merasa cemas.


"Aku tidak bisa membayangkan betapa kecewa nya ia kepada kita" Jelas ku lagi.


Tian hanya diam tidak memberi respon apa pun terhadap apa yang baru saja ku katakan itu.


"Sayang, apa selama ini kamu tahu Susan itu mempunyai pacar? Apa kamu kenal dengan pacar nya?" Tanya ku lagi.

__ADS_1


"Sayang, aku gak tahu Susan itu punya pacar atau gak nya. Soal nya aku gak terlalu mengambil urusan tentang dia. Sedang kan pacaran atau tidak nya aku tidak tahu apa lagi kenal dengan pacar nya" Ujar Tian dengan lembut berlagak tidak mengetahui apa-apa.


"Sayang, nanti kalau Susan sudah pulang, kita akan tanya kan sama dia ya tentang ayah dari si cabang bayi" Ujar ku lagi.


Kembali Tian tersentak mendengar ucapan ku. Wajah nya berubah pucat pasi.


"Waduh, jika Fitri menanyakan hal ini dan Susan keceplosan bisa gawat" Ujar Tian gelisah.


"Kenapa sih Tian dari tadi aku perhatikan kamu gelisah terus"


"Oh gak, bukan apa-apa" Ujar Tian bersikap seperti biasanya agar aku tidak semakin curiga.


"Kenapa sih Tian. Apa kehamilan Susan ada sangkut paut nya ya dengan dia? Atau jangan-jangan.... " Batin ku tidak bisa melanjutkan pikiran buruk ku itu.


"Astaghfirullahaladzim Ya Allah ampunilah aku jauhkanlah pikiran-pikiran buruk ini kepada diriku" Kata ku dalam hati.


***


"Hallo Susan kamu di mana?" Tanya Tian menelepon Susan di belakang rumah nya agar tidak ketahuan oleh ku.


"Aku di rumah mama. Kenapa?" Tanya Tian.


"Kamu ini kenapa sih selalu ceroboh?"


"Ceroboh bagaimana maksud kamu?" Tanya Susan tidak mengerti.


"Kamu tahu, Fitri sudah mengetahui kehamilan mu. Tadi siang dia tidak sengaja mendengar kita telponan. Emang nya saat kamu menelepon ku, kamu di mana sih?"


"Aku di kamar. Ya mana aku tahu jika Fitri mendengar pembicaraan kita" Ujar Susan seenak nya.


"Lagian bagus deh kalau dia tahu tentang kehamilan ku. Untung-untung dia juga tahu siapa ayah dari anak ini" Batin Susan.


"Untung saja di tidak tahu siapa ayah dari anak yang kamu kandung. Dia bertanya kepada ku apakah kamu mempunyai pacar selama ini atau tidak. Dan dia berniat untuk membantu mu agar ayah dari anak yang kamu kandung itu mau bertanggung jawab" Jelas Tian.


"Kamu kapan pulang nya?" Tanya Tian lagi.


"Belum tahu, mungkin besok aku pulang. Aku mau menginap di rumah mama malam ini" Jelas Susan.


"Kenapa? Apa kamu merindukan kehangatan ku dan meminta ku untuk menemani mu malam ini?" Tanya Susan terdengar menggoda.


"Jangan macam-macam ya kamu Susan. Aku hanya mau memberitahu mu. Jika kamu pulang nanti Fitri akan menanyakan tentang hal ini kepada kamu. Karena itu kamu harus pintar-pintar menjawab dan jangan sampai kamu ke coblosan teruslah hubungan kita" Tegas Tian.


"Iya kamu tenang saja aku pasti akan merahasiakan hubungan kita. Jangan terlalu overthinking begitu dong sayang terhadap aku" Ujar Susan dengan suara manja nya.


"Bagus lah jika begitu. Pokok nya awas saja sampai kamu keceplosan, maka rencana pernikahan kita batal" Tegas Tian lagi.


"Iya kamu tenang saja. Aku tidak akan macam-macam kok sayang"


"Bagus lah" Tian menutup ponsel nya.


"Apa nya yang bagus" Tanya ku saat Tian menutup ponsel nya. Kehadiranku membuat Tian kaget setengah mati karena dia tidak menyadari aku secara tiba-tiba berada di belakangnya.


"Sayang, sejak kapan kamu berada di sana?" Tanya Tian dengan wajah yang pucat pasi.


"Belum juga lama. Ini aku bawain kamu teh hangat. Tadi aku cariin kamu di kamar tidak ada. Ternyata di sini" Ujar ku menaruh teh yang ku bawa tadi di atas meja yang ada di teras belakang rumah ku itu.


"Kamu sedang berbicara sama siapa? Kedengarannya serius sekali. Dan apa nya yang bagus katamu tadi?" Tanya ku menyelidiki.


"Oh ini aku sedang menghubungi teman kantor ku. Katanya proyek yang berada di Panam sudah berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan sama sekali. Karena itu aku bilang baguslah kalau begitu" Ujar Tian berbohong.


"Oh begitu. Syukurlah jika proyek mau berjalan dengan lancar dan tiada hambatan apapun. Aku turut senang mendengarnya" Ujar ku.

__ADS_1


Yah memang hati ini merasa sedikit janggal dengan ucapan Tian. Entah mengapa aku tidak bisa sepenuh nya percaya dengan ucapan Tian barusan kepada ku.


__ADS_2