
Aku sudah menceritakan apa yang terjadi kepada ku di sekolah kepada kakak ku. Meski penuh keraguan di hati nya, namun tetap saja dia tidak bisa melarang apa yang menjadi pilihan ku. Sebab yang menjalankan kehidupan ku adalah aku sendiri.
Di keluarga ku mempunyai prinsip tidak mau ikut campur dengan pilihan pasangan hidup masing-masing. Karena jika mereka ikut campur atau menjodohkan dengan pilihan mereka, jelas jika nanti nya tidak bahagia, maka mereka akan takut di salah kan. Oleh karena itu mereka memberikan kebebasan untuk memilih.
Kini, giliran ku untuk menceritakan dan menjelaskan kepada ayah dan ibu ku saat kami sedang makan malam bersama. Sama seperti kakak ku ayah dan ibu ku pun merasa ragu dan tidak percaya bahwa Tian bisa berubah. Namun, setelah aku menjelaskan dan meyakin kan mereka, ayah ku pun mengatakan hal yang sama seperti apa yang di katakan oleh kakak ku.
Namun, ibu ku masih keberatan dan tidak setuju dengan apa yang aku ingin kan itu. Jelas saja ibu mana yang rela melihat anak nya menikah dengan seorang pecandu. Jelas tidak ada yang setuju bukan?
"Apakah dia sudah benar-benar berubah? Apa mungkin dia bisa berubah?" Tanya ibu ku penuh dengan keraguan.
"Untuk masalah itu, aku belum tahu pasti buk. Tapi mungkin saja dia sudah berubah karena setiap manusia itu berhak dan mempunyai kesempatan untuk berubah demi memperbaiki kesalahannya yang lalu" Jawabku dengan lembut kepada ibuku untuk meyakinkan nya.
"Tapi, jika memang dia belum bisa meninggalkan barang itu, dan masih terjerumus di dalam nya, aku siap kok buk membimbing nya berubah demi aku" Jelas ku penuh keyakinan.
Ibu ku menghela napas berat nya.
"Fitri, kamu jangan terlalu percaya diri seperti itu dong nak. Orang yang sudah kecanduan itu, sangat sulit untuk berubah. Dan ibu yakin tidak mudah bagi mu membuat nya berubah. Ibu hanya takut dia yang tidak berubah malah kamu yang berubah mengikuti tingkah buruk nya itu" Jelas ibu ku meluahkan isi hati nya.
Aku tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh ibu ku itu.
"Buk, kita kan belum mencoba buk. Jadi belum tahu kan berhasil atau tidak nya. Oleh karena itu, aku mau mencoba nya buk. Siapa tahu berhasil" Jelas ku lagi.
__ADS_1
"Fitri, ibarat kata pepatah ya nak. Kalau sudah bertokak (bekas luka dalam bahasa melayu daerah bengkalis bekas luka itu di namakan tokak), akan sangat sulit untuk di buat bagus kembali" Ujar ibu ku.
"Nak, ibu sebenar nya tidak melarang kamu dengan pilihan mu. Tapi untuk yang satu ini ibu sangat keberatan. Ibu takut kamu nanti nya akan menderita nak"
Aku diam dan berpikir apa yang di katakan ibu ku. Jelas aku mengerti dengan ketakutan yang ada di hati ibu ku. Namun, aku ingin mencoba untuk membuat Tian berubah.
Toh mana kita tahu kita itu akan berhasil atau tidak nya jika kita belum mencoba nya bukan. Oleh karena itu aku ingin mencoba nya.
"Buk, Insha allah aku bisa buk membuat Tian berubah" Jelas ku dengan penuh percaya diri. Yah percaya bahwa aku bisa membuat laki-laki yang sudah memiliki satu anak itu berubah demi aku.
"Kamu yakin itu Fit?" Tanya ibu ku menatap ku penuh dengan keraguan.
"Tian, ku temani kau dengan bismillah" Ujar ku dalam hati.
"Semoga Allah meridhoi usaha kamu untuk berubah menjadi orang yang lebih baik lagi" Batin ku lagi.
"Bang, gimana ini?" Tanya ibu ku kepada ayah ku.
"Abang juga bingung dek mau bilang apa. Bagaimana besok malam kita akan adakan rapat keluarga saja untuk mencari jalan keluar tentang masalah ini" Jelas ayah ku mencoba mencari jalan keluar.
"Lo, bang ini kan anak mu. Kok harus adakan rapat segala sih? Abang kan bisa langsung bertindak"
__ADS_1
"Iya dek, abang tahu. Tapi jika nanti semua prasangka buruk kita itu salah gimana dek? Abang juga tidak mau nanti nya di salah kan. Abang hanya ingin membuat anak kita bahagia. Jika ini adalah kebahagiaan nya, ya kita bisa apa dek?" Jelas ayah ku penuh pengertian.
"Tapi kan bang"
"Iya abang tahu kekhawatiran di hati mu dek. Tapi kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung anak kita jika itu yang membuat nya bahagia. Dan satu-satu nya cara ya kita akan adakan rapat keluarga besok malam. Untuk meminta pendapat-pendapat dari saudara nya" Jelas ayah ku.
"Ya sudah lah bang terserah abang saja" Ibu ku tampak kesal dengan keputusan ayah ku yang tidak langsung mengambil keputusan nya saat itu juga.
"Fit, besok malam kita akan adakan rapat keluarga. Kamu tolong kabari abang-abang mu dan kakak mu di wa ya. Di grub keluarga kita bahwa ayah memanggil mereka untuk membahas tentang masalah ini. Dan besok malam juga kita akan mengada kan vote untuk mu. Siapa yang setuju dan siapa yang tidak" Jelas ayah ku lagi.
"Jika banyak yang tidak setuju, maka ayah meminta maaf kepada mu karena jelas keinginan mu itu ayah tolak" Tambah nya lagi.
"Iya ayah, aku ngerti. Aku akan terima apa pun keputusan yang terbaik dari kalian" Ujar ku dengan raut wajah yang sedih.
"Ya Allah berikan lah kemudahan untuk ku dan Tian. Jika benar dia jodoh ku,. Maka permudahkan lah urusan kami untuk bersatu. Jika tidak, maka jangan Engkau kecewakan hati ini" Ujar ku dalam hati.
"Ya sudah ayo di lanjutkan lagi makan nya" Ujar ibu ku.
Kami pun melanjutkan makan malam kami. Yah kami memang hanya tinggal bertiga saja di rumah itu. Hal itu di karenakan semua saudara ku sudah memiliki keluarga nya masing-masing. Hanya aku yang belum menikah jadi aku masih tinggal bersama ayah dan ibu ku.
Yah kami sekeluarga pindah ke kota Pekanbaru semenjak aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah ku di sini. Kebetulan ayah ku juga membuka perusahaan baru di sini. Jadi semua keluarga ku pindah ke kota ini. Dan juga di kota ini lah para saudara-saudara ku menemukan jodoh nya satu persatu. Terkecuali abang pertama ku. Dia sudah menikah saat aku masih berusia tujuh tahun. Jodoh nya orang satu kampung dengan ku.
__ADS_1