
÷÷÷÷ RUMAH SAKIT ÷÷÷÷
Para karyawan rumah sakit, sedang bercengkrama di loker penyimpanan barang. Dari selentingan yang beredar, gosip Lilian yang berhasil masuk di kantor milik Eric menjadi trending topik di grup karyawan rumah sakit. Zivara sebagai mahasiswi magang pun ikut meramaikan dan memeriahkan. Acara pergosipan dikalangan karyawan rumah sakit.
“Tidak ku sangka, ternyata wanita secantik ini ya yang mampu menaklukkan seorang dokter Eric.” Ucap salah seorang karyawan dari staff medis.
“Benar sekali, sangat cantik. Dari atas sampai bawah yang menempel ditubuhnya barang mahal huhuhu” sendu Zivara.
“Eh kau kan mahasiswi magang disini, cobalah ajukan lamaran kerja sebagai karyawan. kuperhatikan performa kerjamu bagus,serta absensimu rajin,” sahut karyawan lain.
“Rencananya, aku akan mengajukan lamaran kerja resmiku setelah sidang wisuda-ku. Menyesal dulu aku tidak ikut seminar yang dihadiri oleh dokter Eric. “
Zivara menyesalkan kesempatan emas itu.
“Sudahlah, lagipula kau kan bisa magang disini. Dokter Eric itu orang yang sangat misterius. Kami saja yang bekerja disini bertahun-tahun hanya bisa bertemu dengannya beberapa kali saja. Beruntung sekali wanita cantik itu” karyawan rumah sakit menggerutu.
“Iya, wanita itu sangat beruntung. Sedangkan aku magang disini hampir 3 bulan belum pernah bertatap muka langsung” Zivara ikut menggerutu.
“Makanya ikut melamar pekerjaan disini musim depan. Agar kita bisa satu tim penggemar dokter Eric” bujuk karyawan rumah sakit.
“Wah ide Bagus, tapi aku sedang dekat dengan seorang pria juga sih.”
“Apakah dia tampan?” Karyawan lain ikut nimbrung percakapan Zavira.
“Nilai sendiri saja dari fotonya,” malas menyerahkan ponselnya untuk memperlihatkan foto gebetan baru Zivara.
“Waw, macho sekali Zivara” suara karyawan serempak memuji gebetan Zavira.
Karyawan rumah sakit yang antusias melihat foto gebetannya. Zavira sedikit kepikiran, takutnya ditikung. Untuk mengobati kekhawatiran dia mengajak Irene malam ini, untuk minum bir di klub. Irene menyetujuinya, mereka akan bertemu langsung di klub.
*
*
*
Kenapa ya, tadi malam ponselnya tidak aktif. Apa dia selingkuh? Pikir Zivara sambil mengerjakan pekerjaannya.
“Auh, adudududuh jariku teriris pisau uuuwh” menyadari jarinya berdarah.
__ADS_1
“Sini aku obati” suara pria entah dari mana asalnya.
Jarinya yang robek itu sudah selesai dijahit rapi.
“Lain kali kalau bekerja jangan sambil melamun, berbahaya” tutur Eric menasehati Zivara.
“Terimakasih kasih dokter, sepertinya wajah anda tidak asing?”
“Oh aku? Perkenalkan namaku dokter Eric” senyum manis Eric menyinari seperti matahari.
“Benarkah kau dokter Eric yang flamboyan itu” terkejut tapi girang.
“Hahaha kau ini ada-ada saja. Aku hanya sebagai dokter, jika kalian memberiku predikat aneh-aneh tidak masalah.”
Sungguh tak bisa dipercaya ternyata pria yang di gosipka tadi pagi. Sekarang berada didepannya, bahkan menjahit lukanya beruntung sekali anda Zivara hahahaha.
Kejadian ini tidak boleh aku ceritakan dengan karyawan rumah sakit. Bisa menjadi viral, mereka kan sangat sensitif. Jika menyangkut dokter Eric, jadi aku ceritakan saja dengan Irene nanti malam. Tekat Zivara menceritakan pengalaman pribadinya dengan dokter Eric.
××××× ADEGAN ERIC ×××××
“Ada-ada saja karyawan disini ckckckck” merapikan perkakas medisnya.
“Hemmb, jadi dia maju juga dalam pemilu tahun ini. Coret namaku dari daftar dokter yang memeriksanya. Berikan salinan catatan medisnya padaku, sebelum dicetak! “
Pemilu kali ini, Mark tidak main-main untuk terjung ke dunia politik. Dia ingin bisnisnya berjalan lancar dari jalur politik. Pebisnis ruang geraknya dibatasi oleh pemerintah. Pajak dan iuran gelap banyak digelontorkan demi kelancaran bisnis. Kalau Mark Zhan lolos pemilu ini, audah pasti jabatan penting yang dia incar. Posisinya sebagai taipan kaya di daratan China. Sangat mudah untuk mendulang perolehan suara terbanyak. Eric tidak boleh salah strategi, agar bisa mengalahkan Mark.
“Nanti malam kita bertemu di Klub, bawa salinan aslinya! “
“Baik, dokter Eric. Setelah semuanya siap saya akan segera menyusul anda di klub malam ini pukul 9 malam. “
Dokter yang menggantikan Eric, sudah selesai melakukan pemeriksaan kepada Mark Zhan. Kini saatnya ia mengambil berkas salinan medis itu. Lalu membawanya ke Klub untuk diserahkan Eric. Selanjutnya apa langkah yang diambil Eric? Kalian tahulah, si Eric ini memiliki laboratorium sendiri. Dia pasti akan melakukan uji coba klinis terbarunya.
*
*
*
*
__ADS_1
×××× KLUB MALAM ××××
“Sudah tahu aku sibuk tugas akhir semester, masih saja mengajakku keluar malam-malam” Irene kesal jam belajarnya terganggu.
“SAODAH, KESINI” suara cempreng Zivara yang khas membuat Irene paham dari mana asalnya.
“Iya, iya hemmmbbb. “
“Irene, sahabatku yang baik. Aku sedang sedih huhuhuhu, “ menyandarkan kepalanya di bahu Irene.
“Cup, cup anak baik, anak emak cerita sama emak nyokkk.” Timpal Irene mengacangi Zivara.
“Kau tahu tidak, gebetanku tidak menghubungiku sejak kemaren malam huhuhuhu.”
“Mungkin dia sedang sibuk memancing di Alaska. Atau dia sibuk main boneka hahahah.”
“Ehhh, tidak lucu tahu! “ Zivara kesal.
“Kalau mau lucu sana pergi ke komedi, banyak tuh pelawak-pelawak main. “ Saran Irene agar Zivara tidak menjadi budak Cinta.
“Kau tidak pernah jatuh Cinta, makanya enteng bilang begini. Irene, ketahuilah hidup ini akan hambar jika kau tak memiliki rasa. “
“Oh ya? Masa siiiihhhh.” Tolak Irene mencibir pidato Zivara.
“Cih, biasanya orang yang mencibir kisah Cinta orang. Kelak ketika jatuh cinta, maka separuh kecerdasaanya hilang” ungkap Zivara.
“Rasanya aku mau muntah, dengan kalimat-kalimat romansamu. Aku mau ke toilet.”
Suasanya yang dipenuhi pengunjung, membuat orang yang hendak melintas saling berdesakan. Orang yang berpesta pora sambil berdasarkan diiringi musik. Asap rokok dan minuman berakhohol menyatu dalam nuansa khas Klub hiburan malam.
“Permisi, permisi ma’af saya mau lewat.” Irene mencoba melindungi bagian tubuh vitalnya, dengan menutupinya pakai tangan.
Benar-benar klub anak muda, sesak ramai sampai lewat saja susah. Haduhhh, antrian kamar mandi juga panjang hisss. Sial, sudah ada diujung pertahanan. Gak mungkinlah aku ngompol, bisa habis maluku. Ah, sepertinya toilet pria kosong dan sepi. Lebih baik aku kesana, daripada menahan pipis ini.
Irene bergegas meluncur ke toilet pria lagi. Tepat seperti bayangannya, toilet sepi. Clingak-clinguk mengawasi keadaan. Setelah terkendali, saatnya wusss...
“Ah, legaaa.” Setelah melepas hajatnya tanpa hambatan.
Kreekkkk, suara pintu sebelah toilet itu terbuka. Betapa terkejutnya Irene setengah mati. Ternyata Eric Zhan lagi yang dijumpainya. Untuk kedua kalinya Irene di kejadian yang sama. Mengulang kembali adegan masuk toilet pria. Malunya bukan main lagi, rasanya ingin menghilang dari permukaan bumi. Eric Zhan menunjukkan ekspresi lebih kaget lagi. Kenapa juga dia lagi, orang yang sama saat di toilet kampus. Bertemu lagi dengannya di toilet pria apakah ini yang dinamakan jodoh?
__ADS_1