
***
Malam ini Nampin lembur karena pekerjaan banyak, oleh karena itu Diandra pulang naik bus sendiri. Hari ini Diandra ingin cepat-cepat istirahat. Sementara itu Nampin yang mulai gelisah dalam pekerjaannya iseng membeli ponsel baru untuk menyadap aktifitas suaminya. Benar saja seperti dugaan Nampin menemukan banyak chat mesra dengan banyak wanita. Bahkan ada yang mengirim foto saar berkencan. Lebih tepatnya saat Nampin tinggal terpisah di asrama. Nampin tidak tahu siapa wanita tersebut. Tapi dari sekian banyak wanita yang dia curigai kenapa mengaku bekerja diperusahaan yang sama. Dan bisa bahasa Indonesia, Nampin berpikir keras. Di asrama hanya ada 3 wanita yaitu Diandra, Rita dan Devi. Nampin harus berhati-hati dengan alibinya. Malam ini Nampin ijin tidak pulang tapi menginap beberapa hari di asrama. Oleh suaminya Nampin diperbolehkan. Akhirnya Nampin menghubungi Diandra lalu ijin menginap di apartemennya dengan alasan lupa pasword.
"Diandra, maaf malam-malam membangunkanmu. Suamiku berada luar kota urusan kantor. Tidak apa ya aku numpang tidur malam ini." Pinta Nampin.
"Masuklah kak Nampin, sudah larut bersihkan tubuhmu. Ada beberapa makanan dikulkas isilah perutmu pasti lapar. Aku tidur dulu ya hoam. " Diandra tancap gas mode tidur.
Nampin yang melihat ponsel Diandra diatas meja sebelah leptop segera disambar & dibaca diam-diam dikamar mandi. Tidak ada chat dari no suaminya, bahkan galeri foto, sosial media bersih semua. Nampin lega, besok dia akan pura-pura mengajak Diandra kerumahnya untuk mengenal suami. Untuk meyakinkan lagi.
Pagi hari sudah tiba, ketika Diandra hendak sarapan Nampin mengajaknya ke apartemennya. suami Nampin membuka pintu.
"Oh kau sudah pulang, maaf aku baru pulang jam 4 Fajar. Siapa gadis yang dibelakangmu? " Tanya Pil Gu heran.
"Oh dia Diandra teman bekerjaku, masuklah Diandra. Mari sarapan bersama, kenalkan ini suamiku Nam Pil Gu. " Nampin sambil masuk kedalam apartemen.
__ADS_1
"Hallo kak Nam Pil Gu, senang bertemu." Diandra mengucap salam sambil membungkuk sopan.
" Iya sama-sama Diandra, mari sarapan bersama. Silahkan duduk." Nam Pil Gu memberikan kursi untuk Diandra.
Mereka bertiga sarapan tidak banyak bicara, mungkin canggung karena pertama kali bertemu. Diandra yang selesai sarapan lalu pamit pulang. Setelah itu dia mandi & bergegas berangkat bekerja naik bus lagi. Nampin saat membereskan meja makan memancing pembicaraan dengan suaminya.
"Bagaimana menurutmu Diandra, cantik tidak?
"Gadis itu biasa saja, sama sekali tidak menarik. Hanya mengenakan kaos oblong & celana senam. Sama sekali bukan tipe dunia hiburan." Ucap Pil Gu santai.
Dalam hati Nampin lega karena bukan Diandra. Selanjutnya Nampin pergi bekerja, dan menyalakan ponsel hasil sadapan nomor seluler suaminya.
***
"Aku belum masuk kalian kenapa kembali? " Tanya Diandra bingung.
__ADS_1
"Rita sudah pulang, aku pulang naik bus saja. Kak Nampin terimaksih atas tumpanganmu. Diandra, aku balik ke asrama dulu ya." Devi berlalu sambil melambaikan tangannya.
Nampin hanya diam saja sambil mengendarai mobilnya. Diandra mulai melihat raut wajah temannya mencoba menghiburnya.
"Kak Nampin apa kau sedang banyak pikiran? " Tanya Diandra.
"Diandra maaf aku sudah tidak sopan kepadamu. Sebenarnya aku sudah lancang memeriksa ponselmu. Aku menemukan chat suamiku yang sering berhubungan gelap dengan wanita lain ditempat kita bekerja."
"Hah.. apa? Aku bahkan tidak mengenal suamimu kak, kemaren pagi itu pertamakalinya aku melihatnya. Soal ponsel belum aku maafkan! " Ketua Diandra.
"Maafkan aku Diandra, pikiranku kacau. Karena kau satu gedung dengan suamiku juga satu pekerjaan denganku. Hukumlah aku memang bersalah."
"Huft... kak Nampin aku bukan wanita seperti itu. Aku sudah sibuk bekerja & di akhir pekan sampai larut malam harus belajar. Kau ini harusnya berkata jujur saja dari awal." Geram Diandra.
"Sebenrnya ini rahasia jangan ceritakan pada siapapun." Pinta Nampin.
__ADS_1
"Bukankah aku yang memberikan ide menyadap ponsel suamimu. Apa aku sudah gila kalau jadi pelakunya. Aku akan membantumu kak Nampin. selama aku bisa." Diandra memberikan semangat.
Keduanya pulang sambil merencanakan pengintaian suami Nampin. Bagi Nampin kejujuran harus ia dapatkan apapun jalan & resiko terburuk dari itu. Nampin menceritakan sambil meminjamkan ponsel yang khusus menyadap nomor seluler suaminya. Diandra membaca & menganalisa aktifitas perselingkuhan tersebut.