
***
Almira keluar dari mobil bersama Hansen menuju restoran tempat mereka makan malam. Suara musik yang membawa alunan syahdu menambah keromantisan pengunjungnya. Tampak pemandangan malam Kota Jakarta yang tidak ada matinya. Suguhan demi suguhan mereka nikmati. Sampai akhirnya Hansen mengeluarkan kotak perhiasan denga pita putih terikat.
"Selamat ulang tahun Almira, terimakasih sudah menemaniku selama ini." Hansen menyerahkan kado tersebut.
"Wah.... terimaksih sayang, bolehkah aku membukanya?" Mata Almira berkaca-kaca setelah dia membuka kotak tersebut adalah kalung berlian cantik.
Hansen memasangkan kalung tersebut dileher Almira yang mulus itu.
"Kau suka?" Hansen tersenyum simpul.
"Tentu saja, ini adalah model terbaru juga banyak yang mengincarnya. Aku sangat beruntung, memilikinya terlebih dahulu benda inj dari orang yang tersayang." Almira memegangi kalung yang baru saja dipakaikan oleh Hansen.
"Seistimewa itukah kalung itu?" Tanya Hansen lagi.
"Sayang,semua gadis ingin memiliki perhiasan, baju bahkan kosmetik yang diiklankan model ini. Konon artis ini digosipkan sedang dengan Aktor Jung." Almira tersenyum polos sambil memegang tangan Hansen.
"Siapa yang kau maksud?" Hansen mengernyitkan dahinya penasaran.
__ADS_1
"Lihat cantik bukan model ini, aku sangat mengidolakannya. Bahkan aku mengoleksi produk yang ia iklankan." Almira menunjukkan foto Diandra dalam ponselnya.
"Uhukk... uhukkk... uhukk... aku harus segera kembali ke hotel besok kembali ke Surabaya. Kau pulanglah sendiri nanti sopir menjemputmu." Hansel mengelap mulutnya lalu pergi bergegas secepat mungkin.
Almira yang ditinggalkan begitu saja hanya pasrah, daripada berteriak malu. Ia lebih memilih melanjutkan hidangannya sambil menunggu sopir datang menjemputnya.
***
Pagi hari saat sarapan Marco datang menemui Hansen dikamar hotel. Marco memberitahukan kalau Javier bersedia kembali lebih awal.
"Kau sengaja mengerjaiku ya?" Hansen melemparkan sapu tangan ketubuh Marco.
"Apa yang salah padaku Tuan Muda, pria polos sepertiku ini hanya tau bekerja & menjalankan perintah saja. Mana berani aku macam-macam." Memasang wajah imutnya agar amarah bosnya tidak meledak.
"Tuan muda Javier sudah berangkat dari Korea pagi ini, jadi nanti malam tiba di Jakarta. Apakah tuan akan menjemputnya sekalian." kepala Marco melengkung ke tubuh Hansen.
"His... apaan sih kau wajahmu terlalu dekat mau menciumku ya?" Hansen membuang wajah Marco jauh-jauh.
"Ikut tidak?" Marco menawarkan ajakan.
__ADS_1
"Aku sibuk, lagipula aku sudah pamitan dengan Almira hari ini kembali ke Surabaya. Aku mau ke Mall mencari hadiah setelah rapat." Hansen berlalu meninggalkan kamar hotelnya.
"Padahal Nona Diandra ikut pulang bersama Tuan muda Javier. Sudah tiga tahun berlalu pasti Nona Diandra sangat cantik. Oh iya diakan sekarang terkenal sekalian minta foto bersama. Biar Irene cemburu dengan fotoku hahaha". Marco mengeraskan suaranya agar Hansen mendengar.
"Ayo berangkat ke Bandara setelah rapat selesai." Hansen menjewer telinga Marco.
Marco yang tersenyum membuat jengkel Hansen.
"Kau diam atau kulempar keluar?" Hansen melototi Marco yang masih berdiri.
"Pfffttt.... baik tuan." Tanganya mengunci mulutnya rapat.
Hansen & Marco sudah berada di bandara bagian penjemputan luar negeri. Hansen yang modar-mandir terlihat gugup tidak tenang. Sampai tidak menyadari kedatangan Javier yang berdiri didepannya.
"Hyung... hai aku disini kau mencari siapa?" Javier mengibaskan tangannya diwajah Hansen.
"Dimana dia?" Hansen tersadar bahwa hanya Javier seorang yang datang.
"Maksudnya Diandra? Dia sudah naik pesawat menuju Semarang. Kami berpisah didalam pesawat." Javier memberikan kopernya pada Marco.
__ADS_1
Hansen masih berdiri sedih harapannya untuk bertemu dengan Diandra pupus. Sepanjang perjalanan hanya Javier & Marco yang berbicara. Hansen hanya mendengarkan kisah Javier & Diandra selama tinggal di Korea. Rasanya ingin tuli, ketika Javier pamer kedekatannya.Bahkan mereka memiliki ponsel pasangan. Dan beberapa barang pasangan dari iklan yang mereka bintangi.
"Kalau kalian masih berisik lebih baik kembali ke Surabaya naik kereta." Hansen memutuskan pembicaraan kedua pria yang asik bercerita.