
***
Setelah makan malam bersama mereka membantu Diandra membereskan bekas makanan. Pekerjaan menjadi cepat selesai, lalu dilanjutkan dengan duduk santai sambil minum anggur & berbincang bincang. Diandra yang polos mengira anggur itu adalah jus buah. Maka diteguklah 1gelas penuh(maafkan pemeran utama yang polos ini). Hansen lalu menggeserkan tubuhnya dekat dengan Diandra berjaga-jaga kalau koleph. Javier yang sudah mulai mabuk berat sudah ngelantur ocehannya & tertidur pulas di sofa. Hansen menepuk pundak Diandra, tidak ada penolakan. Lalu Hansen meletakkan kepala Diandra dipundakknya dan membelai lembut rambut pelayannya yang terjaga. Degub jantung Hansen mulai ya tak beraturan. Sedekat ini wajah mereka beradu, diluar kendali Hansen mencium kening, pipi dan dagu Diandra. Terasa sangat luar biasa untuk pertamakalinya. Hansen tidak meneruskan kegiatan ilegalnya. Lalu membopong Diandra kekamar tidurnya. Didalam kamar itu terpajang baju seragam, dipojokan terdapat sendal jepit yang usang, sepatu yang bolong solnya & foto diatas nakas. Selama ini Diandra tidak memakai sendal, sepatu & baju saat diMall. Hal itu membuat Hansen sedih, karena dia berpikir apakah terlalu pelit sehingga takut membelanjakannya.
Ilustrasi Hansen,
Dengan pelan-pelan Hansen meletakkan tubuh Diandra diatas ranjang kecil, menyelimutinya agar hangat. Sambil memandangi wajah Diandra, Hansen mulai membelai kedua pipi Diandra dengan lembut dan mendaratkan ciuman dibibir. Hansen mulai kehilangan kontrol karena pengaruh anggur. Dia meneruskan ciuman bibirnya dengan sedikit menggigit bibir Diandra, lalu pindah keleher membuat stempel stroberi (hiks...akupun jomblo kenapa nekat buat naskah gila ini hahahah).
"Tidurlah dengan tenang, malam ini aku biarkan kau lolos. "
__ADS_1
Hansen lalu merebahkan tubuhnya disebelah Diandra. Bukan tanpa alasan Hansen tidak meninggalkan kamar Diandra, tapi kawatir kalau Javier mengendap-endap masuk. Tahu betul tabiat mesum adiknya lebih baik Hansen berjaga-jaga. Dengan resiko besok ditampar apa ditendang Diandra pasrah.
***
Pagi yang indah, suara burung mulai bersautan memecah cakrawala. Suara hujan dari fajar membuat siapapun malas untuk beranjak bangun.
*Hoam..... sudah pagi lagi. * Diandra menggeliatkan tubuhnya yang masih terbujur diranjang.
(Tuhan... mahakarya apa yang sudah kau buat, wajah tampan, kecerdasan intelektual, kekayaan, tubuh bak model & hati yang lembut ini pastilah seorang putri konglomerat yang kelak memilikinya) Gumam sedih Diandra dalam hati. Karena dia tau hanya pelayan tak layak untuk majikannya yang berlian sedangkan dia pasir kali.
"Kau jangan berpikiran buruk, aku tidur disini agar Javier tidak menyerangmu. Sudah aku katakan dari awal kau tidak pernah aku anggap sebagai pelayan." Hansen berkata sambil mata terpejam.
__ADS_1
Diandra sigap menjaga sikap, dan mendegarkan perkataan majikannya. Lalu Hansen berkata bahwa akan bertanggungjawab bila Diandra merasa dirugikan. Diandra mulai memahani maksut baik majikannya. Setelah Hansen selesai berbicara tiba-tiba dia menindihkan tubuhnya diatas Diandra.
"Mulai sekarang & seterusnya jangan bersedih lagi, aku mau tau kenapa kau tidak memakai barang yang kau beli diMall?"
*Aku takut dicemooh karena pelayan rendahan sepertiku memakai uang tuan muda untuk kesenangan. * *Diandra terbata-bata .
Cup*... ciuman dari bibir Hansen mendarat bebas dibibir Diandra. Takkk..... sentilan dijidat Diandra.
"Dasar bodoh, kau pikir aku bekerja mati-matian hanya untuk menggaji karyawan & memperkaya diri?"
Sambil memeluk erat tubuh Diandra, Hansen berkata kalau kartu Debit itu memang disiapkan untuk keperluan Diandra diluar gaji ataupun tunjangan. Diandra terenyuh & terharu, seperti mimpi saja. Hansen tersenyum puas melihat gadis yang dipeluknya tersentuh.
__ADS_1