
***
Setelah selesai makan malam, Hansen mengajak ke Mall milik perusahaan Wijayakusuma. Hansen memberikan kartu Debit kepada Diandra untuk membeli keperluannya & kesalon. Dalam pesannya Hansen berkata belilah untuk Ayah & sahabatmu, jika ingin merapikan rambutmu akan lebih indah dipandang. "Ingatlah Diandra belilah seperlunya jangan berlebihan, sekalipun isi saldo kartu kredit ini senilai mobil Jerman, aku harap kau bisa menghargai kristalisasi keringatku. " Nasehat Hansen ada benarnya, karena sebagai wanita terkadang serakah ingin memiliki semua. Tapi dari inilah Hansen bisa menilai Diandra layak tidaknya ia untuk menjadi pemilik hatinya. Hansen memang kaya tapi dia tidak suka menghambur-hamburkan uangnya apalagi untuk pemborosan.
"Setelah Dua jam kita bertemu disini, aku akan ke kantor mengecek beberapa pekerjaan. Nikmatilah hari belanjamu. "
"(Ya.... Ampun.... bosku ini setengah malaikat apasih..... kartu Debit.... seumur hidupku...Terimaksih Tuhan.)" Decak kagum Diandra.
***
Setelah selesai belanja Diandra menunggu Hansen kembali. Diandra mulai mengantuk karena dari subuh sudah bangun agar pagi bisa berangkat menjenguk ayahnya. Hansen menghampirinya & mengajaknya pulang. Tak banyak yang Diandra beli, Hansen tersenyum puas Diandra menurut & patuh.
***
__ADS_1
Setibanya dirumah Diandra kerepotan membawa barang belanjaanya, Hansen dengan sigap membantu sebagian. Ada imbalan yang harus kau bayar. Tadi kau belikan aku apa? Deg, jantung Diandra lantas berdegub kencang. Dia tidak memiliki apapun kecuali tubuhnya yang paling berharga hiks.
"Maafkan aku tuan, tidak membelikan sesuatu. Sebagai gantinya besok akan aku siapkan hadiah."
*Baiklah jangan kecewakan aku, hoam aku lelah sekali besok jangan bangunkan aku. Biarkan aku rebahan dihari minggu. *
Seperti pesan Hansen untuk membiarkan tidur sampai puas, didapur Diandra sudah sibuk memasak dari jam Tiga fajar. Semuanya sudah selesai tersaji diatas meja makan saatnya Diandra mandi lalu membangunkan tuannya karena sudah jam Dua siang.
*Wah.... makanan apa ini, sepertinya nikmat. Dimulai darimana ini? Diandra sepertinya tulus memberiku kejutan.* Mata Hansen berbinar.
*Uhukkk... uhukkk.... ah.... * tersedak makanan.
Diandra melihat tingkah lucu majikannya menepuk tengkuk & punggung Hansen pelan-pelan. Diatas meja tersaji Rujak cingur, sate madura, lontong balap, tahun campur, rawon, pecel semanggi, nasi krawu, es sinom, wesan jaseling, wedang cemue, legen & dawet siwalan. Selama ini Hansen hanya makan internasional & korea, jadi wajar ini pertamakalinya antusias.
__ADS_1
"Diandra, terimakasih sudah merawatku & menemaku. Jujur sejak kau disini aku meraskan kasih sayang. Sejak kecil ibuku dikorea mengasuh Javier. Sedangkan aku disini bersama ayah sibuk mengelola perusahaan."
*Saya terharu, tuan juga sudah sangat baik & bermurah hati. Sudah sepantasnya saya memberikan yang terbaik. Kelak ketika tuan muda menikah pasti akan lebih indah. Ada anak-anak meramaikan isi rumah ini yang sunyi. * Ucap Diandra sopan.
Deg, seketika hati Hansen sakit mendengar perkataan Diandra. "Sekarang atau kelak kau harus menyiapkan hadiah ini ketika aku ulang tahun. " Hansen sudah merasa nyaman saat Diandra mengurus keperluannya. Gadis itu menurut & pekerja keras, tidak kebanyakan gadis jaman sekarang.
Sore ini Hansen benar-benar tidak berdaya karena kekenyangan. Hansen memperhatikan pelayannya yang sudah banyak berubah. Sekarang manjadi gadis yang cantik, alangkah beruntungnya kelak lelaki yang bisa memiliki Diandra. Perlahan Hansen mendekati Diandra yang membereskan dapur.
"Diandra, apakah kau sudah punya teman dekat lelaki? "
*Tidak ada tuan muda, memangnya ada apa?*
"Kalau begitu bisa aku melihat ponselmu?!"
__ADS_1
*Silahkah tuan muda.*
Hanya ada panggilan masuk dari pak Hanafi, selebihnya pesan singkat dari ayah & sahabat perempuannya. Hati Hansen lega ternyata Diandra tidak berbohong.