
***
Didalam pesawat Nyonya Jung memuji Dae Yoo yang tumbuh menjadi wanita cantik & karir cemerlang. Sangat cocok bila dijodohkan dengan putranya Hansen. Tetapi hal berbeda dengan Tuan Wijayakusuma. Dia beranggapan wanita yang cocok menjadi pendamping Hansen ialah yang penurut & tau batasan diri. Sangat bertolak belakang dengan kehidupan artis yang serba glamor. Terlebih lagi sikap Hansen sangat berbeda saat bekerja maupun dirumah. Nyonya Jung terkejut dengan pernyataan suaminya. Selama ini Hansen sangat berdarah dingin terhadap saingan bisnis & kompetitif dalam urusan dagang. Anaknya sangat handal dan mumpuni dalam hal bisnis. Oleh karena itu Tuan Wijayakusuma berharap kelak Hansen memiliki istri yang menjadi rumah untuknya beristirahat. Karena beban sebagai CEO kelak akan diwariskan pada putra pertamanya. Nyonya Jung berpikir kalo yang jadi asumsi suaminya masuk akal. Ada ribuan karyawan dibawah kendalinya, bila salah memilih istri bisa menghancurkan perusahaan rintisan suaminya & masa depan putra tercintanya.
"Suamiku, maaf aku terlalu lancang menilai seseorang. Biarkan Hansen memilih wanitanya kelak. Asal memberikan efek baik selama itu tidak masalah. " Ucap nyonya Jung mengerti.
Dyarr...... suara petir diudara.
*Tuhan sudah mendengar sumpahmu istriku, kau jangan ingkar. hahahah* Sambil mencubit hidup istrinya.
__ADS_1
***
Dari zona hubungan jarak jauh setiap malam menjelang tidur Hansen memiliki ritual yaitu melakukan panggilan Video dengan Diandra. Memastikan keadaan rumah & kegiatan harinya berjalan semestinya. Perlahan perasaan Hansen semakin kuat & yakin jika Diandra layak dicintai.
"Aku kembali lebih lama lagi karena ada pembenahan sistem perkebunan. Kau tidak apa-apa kan? Ingat selalu rindukan aku. muach. " Goda Hansen membuat Diandra malu.
*Tuan muda gemar membuatku malu. *
*Ha.... yang benar saja tuan muda, satu boxs mobil berisi paket apa sajakah? *
__ADS_1
"Itu oleh-oleh dariku sayang, terimalah. "
*Terimakasih atas kemurahan hati tuan muda. Saya tidak bisa membalasnya kecuali..... eng.... eng... * *Diandra berpikir keras.
"Buatkan masakan seperti dulu & belajarlah caranya memijat. Tubuhku remuk setiap hari dilapangan & berjam-jam rapat direksi. Setelah aku kembali tunjukan performamu heheheh*. " Senyum cabul Hansen mulai terpancar.
(Ya...Tuhan....ya Tuhannnnnn.....Bosku apa yang mau kau lakukannnn sih,makin hari permintaan mu aneh-aneh. Salahku juga miskin hanya punya tubuh & tenaga huft)
Hansen mengakhiri panggilan videonya karena harus lembur memeriksa laporan anak perusahaan Wijaya Grup. Dia tidak ingin kecolongan atau percaya pada bawahannya walau 15%.
__ADS_1
***
Pagi hari ini Diandra hendak pergi berbelanja untuk menyiapkan makanan yang ingin diutarakan majikannya. Tapi sebuah kabar buruk datang dari Safira. Bahwa ayahnya masuk rumah sakit mengalami gagal ginjal. Selama ini ayahnya hidup dengan satu ginjal. Karena dulunya ibu Diandra meninggal karena kangker darah. Ayahnya mendonorkan ginjalnya agar memperoleh biaya pengobatan & hidup. Setelah mendengan kabar tersebur Diandra mengemasi kado yang dia beli untuk diserahkan kepada ayah & sahabatnya Safira. Diandra diantar sopir karena keadaan masih sangat pagi sulit mendapatkan angkutan umum kedaerah ayahnya dirawat. Sepanjang perjalanan Diandra menangisi nasibnya. Setibanya diRumah sakit ayahnya dirawat Safira sudah menunggu dipintu utama. Sahabatnya sudah bercucuran airmata. Karena pihak rumah sakit tidak bisa memberikan perawatan karena terhalang biaya. Sedangkam Diandra sendiri diketahui rumahpun tak punya apalagi asuransi untuk meringankan biaya pengobatan. Dengan tertatih Diandra dibopong sahabatnya menemui ruanh rawat ayahnya dikelas 3 (maaf untuk kalangan kurang mampu). Diandra yang berusaha tegar akhirnya kalah melihay kondisi ayahnya sudah dipenuhi selang. Tubuh ayahnya tinggal tulang dibalut kulit, warnanya sudah hitam & rambutnya sudah beruban putih. Sungguh hal yang sangat memilukan bagi seorang gadis malang baik Diandra maupun Safira yang Yatim-piatu.