
"Ayolah kembali kekamar, ini sudah Fajar jam 3 kau mau membunuhku karena telat bangun apa. Besok tunanganku mendarat siang hari di Halim."
"Kau ini tidak Setia kawan, suruh sopir biar tidak repot."
"Dia tunanganku jauh-jauh dari Taiwan kesini. Kami ingin memesan baju pernikahan."
"Kau akan menikah dalam waktu dekat ini ya?"
"Tentulah, kami sudah dewasa sudah cukup makan asam garam menjalin hubungan. Sudah saatnya aku berumah tangga. Tapi tetap seperti ritual aku akan buat pesta lajang."
"Dasar lelaki nakal tidak mau rugi."
"Aku punya ide menarik untuk mengundang Evelyn, kau bisa balas dendam padanya. Seolah-olah ini bukan rekayasa."
"Baiklah, jika berhasil kau kuberi hadiah voucher belanja di Mall-ku."
"Hanya voucher belanja saja? "
__ADS_1
"Kau pikir Evelyn seberharga apa? 10juta itu sudah Bagus untuk mantan yang berkhianat. Masih untung aku tidak meminta balik uangku yang sudah dirampasnya & berfoya-foya."
"Iya juga ya, sedangkan membiayai Diandra kau sangat hemat. Dasar pria pelit."😪
"Aku sudah memberikan segalanya untuk Diandra. Bahkan dia tidak meminta apapun, aku yang sering menekannya untuk menjadi seperti yang aku mau. Dia mengurusku dengan baik, selalu bisa kubanggakan kemanapun."
"Kau tidak berencana menikah dengannya? "
"Aku sudah tidak punya muka lagi dengan berbagai skandalku."🥴
"Aku akan membantumu, gunakan Marco sebagai kaki tanganmu. Dia bisa kau andalkan bukan."
"Biarkan Marco mengawasi Diandra agar tidak jatuh hati dengan Javier. Karena Javier pasti akan menggunakan kesempatan ini."
"Marco sedang menyelidiki kasusku dengan gadis di tempat hiburan Seoul."
"Berikan dia tugas lagi, dia sangat kompeten melakukan hal rumit. Kau fokuslah membuat Evelyn geram diberbagai pemberitaan. Ingat nasib karyawanmu ada ditanganmu juga."
__ADS_1
"Hembb baiklah aku mengerti, aku kembali kekamar sendiri. Kau carilah kamar sendiri, bye"
"Dasar bayi besar, seenaknya saja pergi. Aku pikir kau yanh bayar minuman ini ternyata aku juga huh. "😪
°°°
Hansen memasuki kamar dengan sempoyongan, Almira sudah tertidur pulas mengenakan kimono. Tampak jelas dadanya tak memakai bra. Pandangan mata Hansen tertuju di gundukan kenyal milik Almira tersebut.
"Astagah tak seharusnya aku melecehkannya dengan pandanganku, Almira kau gadis yang baik. Maaf saat ini kau hanya bisa menemani ragaku. Aku sudah berusaha memuaskanmu tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Tubuhku menolakmu seolah tak ingin dimiliki wanita lain. Maaf. "😔
Hansen memandangi wajah polos Almira yang terlelap tidur. Bantal disandarkannya didipan ranjang untuk bersandar punggungnya. Kantuk yang begitu berat membuatnya tidur dengan posisi terduduk. Masih mengenakan jaket & dasi yang sudah dikendorkan. Hansen benar-benar payah dalam minum-minuman beralkohol.
Pagi telah memancarkan sinarnya, temaran cahaya menembus kain penutup jendela kamar hotel. Samar-samar bayangan Hansen yang tertidur disebelahnya.
"Masih begitu dingin, padahal aku sudah memasang umpan. Dasar jual mahal,tidur dengan posisi duduk seperti ini apa tidak capek. Bahkan kau tidak mau berbagi kehangatan saat tidurpun.Baiklah karena kau tampan aku harus bersabar." Almira bangkit lalu bergegas mandi.
Selesai berdandan cantik, Almira melepaskan dasi & jas yang masih terpakai. Dengan hati-hati Almira membaringkan tubuh Hansen diranjang.Untuk membenarkan posisi tidurnya. Aroma minuman berakhohol sangat kuat.
__ADS_1
"Entah jam berapa kau kembali, tapi sepertinya tidurmu sangat lelap sekali. Hansen walaupun sekarang hanya tubuhmu yang bersamaku itu sudah cukup."Almira mendekatkan wajahnya.
Ketika hendak mencuri ciuman bibir dengan Hansen. Tubuhnya mendadak miring membelakangi Almira. Sebenarnya Hansen sudah mendengar kata-kata Almira. Tapi dia memilih untuk memejamkan matanya saja.