
√ LANJUTAN,
“Aku tidak akan buka suara tentang kehamilan Irene, karena aku tahu tabiat buruk bibi Mei.” Eric menepuk bahu Demian.
Sepertinya Demian belum siap menjadi ayah, tapi karena malam itu. Semuanya sudah terlanjur basah, hatinya mulai tertarik dengan Irene. Tapi dirinya takut dengan ibunya. Demian adalah anak dibawah kendali orang tua. Dia hanya anak kecil bagi orang tua mereka. Segala keinginannya dalam dipenuhi tapi tidak dengan calon pasangannya kelak. Hanya orang tua merekalah yang menentukan layak tidaknya. Seorang wanita itu masuk kedalam keluarga Zhan. Kalau untuk bersenang-senang silahkan sampai puas. Tapi jangan harap hal yang lebih.
“Kalian tolong jaga Irene, aku mau keluar.” Demian pergi dengan kacau.
“Irene apa kau yakin dengan kandunganmu ini?”
“Maksut dokter Eric apa?” Irene tak paham dengan ucapan Eric baru saja.
“Maksut Eric ialah apa kau mau menggugurkan anak ini.” Megumi menjelaskan maksud perkataan Eric.
“Apakah benih yang tak berdosa ini tak berharga nyawany? Kalau boleh jujur, aku juga tidak mau hamil diluar nikah. Aku saja baru selesai wisuda, belum menikmati hasil kerja kerasku. Sekarang kalian dengan tega mengatakan aborsi hik hik hikssss,” meleleh juga linangan air mata Irene.
“Kami anak dari keluarga Zhan tidak memiliki pilihan lain.”
“Aku hanya menyarankan demi kebaikanmu Irene, bukannya aku tak mendukungmu. Jujur aku sangat menyukaimu, tapi calon mertuaku adalah Zhan. Mereka orang kuat di China. Melenyapkan nyawa manusia yang menjadi benalu adalah hal mudah.” Megumi menakuti Irene, tapi itulah kenyataanya.
“Jika kau ingin kabur, aku bisa menolongmu. Tapi dengan syarat jangan penah menampakkan wajahmu lagi di mana kami berada.” Eric memberi peringatan.
“Apa kalian semua akan membunuhku dan calon bayi ini,” mengusap perutnya.
“Irene kau harus paham, situasimu berbeda denganku. Maaf jika aku bicara seolah kita berbeda kasta.” Megumi tak bisa berbasa-basi.
“Benar apak kata Megumi, sebaiknya kau jangan egois. Memang aku akui, Demian menyukaimu untuk saat ini. Tapi tidak ada jaminan, jika Cinta kalian akan berjalan mulus. Sejak kecil Demian seperti pangeran keluarga Zhan. Dia tidak akan bertahan hidup kesusahan dan kesulitan. Ayah dan bibi Mei memperlakukan anak-anaknya seperti kristal.”
Irene hanya bisa menangis dengan mengusap-usap perutnya yang sudah tertanam benih Demian.
“Baiklah, kalian berbincanglah dahulu. Aku mau ke rumah sakit, setelah itu aku akan menemani ayahku kampanye di Stasiun Televisi.” Eric menitipkan Iren pada Megumi.
*
*
__ADS_1
*
××× KEDIAMAN ZHAN ×××
Baliho dan papan reklame mulai berjajar rapi untuk kegiatan kampanye. Demian pulang karena harus mempersiapkan diri. Ayahnya masih menerima tamu dari Partai Politik. Ketika hendak masuk kedalam kamarnya Demian. Lilian yang tak bergantung dengan kursi roda mencegatnya.
“Apa kau tahu dimana kak Eric tinggal?”
“Eric? Sejak kapan kau menjadi peduli padanya.” Jawab ketua Demian.
“Kau jangan berbohong padaku, ini buktinya.” Seseorang mengambil gambarnya saat di Mall bersama Eric.
“Kami hanya kebetulan bertemu, sudah jangan menghalangi jalanku.” Meminggirkan tubuh Lilian yang menghadang.
“Jawab aku, atau ku sebarkan aibmu!” Lilian mengancam Demian yang keras kepala.
“Aku adalah kakakmu bukan Jason pengawalmu, taaaaaarrrrrr.” Ponsel Lilian sudah remuk berceceran.
“Demian, kenapa kau membanting ponsel Lilian. Apa kau tidak malu membuat keributan saat ayahmu menjamu tamu politiknya.” Mei Chuan sudah bersiap menyapa para tamu Mark.
“Sudah memiliki Jason jangan banyak maumu. Lagipula Jason manusia lebih baik daripada macan Afrika.” Mei Chuan dengan centil merapikan sanggulannya.
“Kali ini kau bisa lepas kak, tunggu waktu yang tepat!” Lilian memberikan ancamannya.
*** ADEGAN MEI CHUAN ***
Selagi Mark sibuk melayani tamu politiknya Mei Chuan menunggu suaminya. Ada ruangan yang tanpa CCTV, yaitu ruang kerja Mark.
“Jason, apakah warna lipstik ini sudah cocok dengan gaunku? “Mei Chuan menjepit bibir bawahnya ke wajah Jason.
“Saya tidak tahun tentang cara bersolek nyonya,” Jason mundur dan berdiri menjauh dari Mei Chuan.
“Tunggu, sepertinya kau harus mengoloskan warna ini di bibirku.” Memberikan kuas lipstik ke tangan Jason.
Perlahan dan hati-hati Jason mengoleskan kuas lipstick ke bibir Mei Chuan. Karena dia tak biasa, tangannya gemetaran dan kehilangan keseimbangan. Dia harus berjongkok kebawah, sialnya tangan Mei Chuan meraih leher Jason maka terjadilah ciuman bibir.
__ADS_1
“Nyonya,” Jason mengelap bibir bekas ciuman Mei Chuan.
“Hehehe, kenapa kau jual mahal. Aku sudah memberimu gaji yang tinggi. Apa kau tidak paham kalau aku juga sudah membelimu menjadi kekasih kecilku.” Mei Chuan ternyata selama ini mengincar Jason.
“Nyonya, anda jangan macam-macam.” Jason sudah menempel di dinding tembok.
“Aku sudah menyukaimu, itu salahmu sendiri menerima tawaran bekerja denganku. Jika kau tidak ingin kehilangan nyawa dan pekerjaan. Maka turuti semua perintahku, tanpa membantah. Apa kau paham!” Ternyata di dada Jason sudah di todongkan pistol milik Mark.
“Jika nyonya ingin menembakku sekarang, maka lakukanlah.” Jason memejamkan matanya pasrah.
Pikirnya dia akan mati di tangan nyonya Zhan. Ternyata Mei Chuan mencium bibir Jason dengan ganas. Jason hanya bisa menerima pasrah, andai dirinya perempuan sudah pasti menangis. Jason adalah pria kuat, dia tidak menikmati ciuman itu. Dalam otaknya, dia sedang makan rumput laut yang getir dan bau.
“Mulai sekarang, kau resmi menjadi kekasihku. Baik Mark atau anakku lainnya tidak boleh tahu. Sebagai imbalannya kuberikan kompensasi.” Melemparkan kartu berwarna emas.
Betapa terhinanya Jason, dia harus menyelesaikan kontrak yang sudah dia tanda tangani sampai selesai. Atau akan berujung sial.
*
*
*
××× STASIUN TV NASIONAL CHINA ×××
“Selamat datang tuan Zhan, malam ini anda akan debat dengan kandidat dari Parti lain. Semoga anda sukses.” Reporter TV menyambut kedatangan Mark Zhan dan rombongan.
Acara debat calon kandidat Pemilu sudah dimulai, adu visi dan misi di paparkan. Disiarkan secara langsung baik media dalam dan luar negeri. Mark sangar lihat dalam menjawab pertanyaan. Hingga membuat votingnya naik meroket. Dari kursi penonton, Mei Chuan menunjuk gadis yang duduk di kursi juri. Alice lin adalah Putri serikat pengusaha Asia.
“Demian, apa kau lihat gadis disana?” Mei Chuan mencoba mencomblangkan putranya.
“Iya,” sekali anggukan saja.
“Malam ini, dia akan menjadi teman berdansamu. Perlakukan dia dengan baik, ayahnya akan menjadi pendukung ayahmu maju pemilu.” Lagi-lagi Mei Chuan berhasil mengumpan mangsa besar.
“Ssstttt,” Demian menyuruh ibunya agar tenang tidak membuat keributan lagi.
__ADS_1
Dalam pikiran Demian adalah, menjadi anak penurut untuk malam ini. Urusan Irene hanya masalah waktu saja. Saat ini fokus dengan pencalonan Pemilu ayahnya. Jika Pemilu ini berhasil, keluarga Zhan akan menempati posisi puncaknya.