
°°°
Setelah selesai acara serah terima jabatan CEO, Hansen pergi kesebuah toko perhiasan. Rencananya Hansen akan memberikan cincin berlian. Tapi Hansen galau karena banyak pilihan bentuk. Karena Marco yang sudah kawatir keadaan bayinya maka ia menyarankan membeli 5 buah cincin untuk Diandra. Terserah mana yang akan dipilih karena Hansen sudah bingung ingin memberikan Diandra yang terbaik.
"Selamat malam Tuan Muda & Tuan Marco." Namira.
"Diman Nona Diandra?" Hansen.
"Nona Diandra berada dikamar lamanya dengan bayi Tuan Marco."
"Siapkan makan malam, Marco kau temani aku malam. Menginaplah seperti rumah kakakmu sendiri." Hansen menepuk pundak tegap Marco.
"Terimakasih mas Hansen." Marco.
Setelah mereka berdua makan malam bersama sambil berbincang-bincang keadaan Javier di Korea. Marco pergi ke kamar tidur tamu yang sudah disiapkan. Dia memeriksa beberapa perkerjaan hari ini apakah sesuai prosedur. Hansen menyusul Diandra dikamar tidur lamanya. Dia menemukan pemandangan yang lucu. Bayinya tertidur lelap dalam dekapan Diandra.
"Kau pasti lelah seharian menjaga bayi ini, dasar bayi kecil berani-beraninya merebut kekasihku seharian ini." Hansen berbicara pelan sambil memperhatikan posisi tidur Diandra.
"Sayang, maaf aku ketiduran tidak tahu kalau kau sudah pulang. Aku siapkan makan malam dulu ya." Diandra menyeka matanya.
"Aku sudah selesai makan dengan Marco tadi, malam ini dia menginap disini. Bayinya juga sudah tidur kasihan kalo malam-malam pulang." Sudah posisi membelakangi Diandra.
__ADS_1
"Tidak apa-apak menggendongku seperti bocah?"
"Mau aku gendong dari depan juga boleh hehehehe."
"Ah.... Sayang aku jadi mau lari... "
"Hai jangan lari, ini sudah malam. Memangnya mau lari kemana? "
"Lari mendekat hap." Diandra langsung nemplok dipunggung Hansen yang kekar.
"Sayang, apa kau terpaksa menerima semua ini?" Hansen.
"Aku menyuruhmu sekolah saat berada di Korea untuk bekerja, juga mengawasimu lewat CCTV yang aku pasang di Apartemen. Bahkan aku menyuruh orang untuk mengikutimu saat kau putuskan aku. Maafkan aku yang posesif ini." Hansen masih menggendong Diandra menaiki anak tangga.
"Dicintai Tuan Muda bagaikan mimpi. Dari awalnya masuk rumah ini sebagai pelayan, lalu kita jadian hingga punya hubungan intim sedekat ini. Ujian silih berganti bahkan terpisah beberapa kali. Aku sendiri tidak tahu apakah ini Cinta apa sebuah kepatuhan." Diandra meletakkan kepalanya dipundak Hansen.
"Jika kau belum bisa seutuhnya mencintaiku wajar, karena aku banyak dikelilingi wanita & gila kerja. Pasti berat bagimu menerima pria sepertiku, banyak kekawatiran bukan?"
"Benar, aku takut wanita yang pernah berhubungan denganmu menyerangku. Aku takut orangtuamu akan mengungkit jati diriku Aku takut juga Javier akan merusak hubungan kita."
"Kau tahu kan semua lelaki punya masa lalu kelam yang tidak mungkin bisa diterima sebagian perempuan. Tapi sejak aku jatuh Cinta padamu saat itulah aku mulai bertobat tidak melakukan hal hina lagi. Karena aku sudah mendapat karma dalam memperjuangkanmu. Tapi kali ini aku benar-benar takut kau mencampakkanku."
__ADS_1
"Aku tahu tapi hanya diam saja, pasti kehidupan pribadimu dulu tidak jauh berbeda. Tampak jelas dari Marco yang dingin bisa punya anak diluar nikah hahahah."
"Aku tidak sebodoh itu pula tahu!" Hansen menggoyangkan gendongannya.
"Ah sayang ampun, nanti aku jatuh."
"Aku juga tidak mempermasalahkan masalah pribadimu dulu dengan kekasihmu seperti apa. Setahuku asal kau menurut & patuh padaku itu sudah baik." Hansen berhenti sambil menoleh wajah Diandra dipundaknya.
"Jadi kau tidak mempermasalahkan tentang keperawananku?"
"Tentu saja tidak, karena aku mencintaimu bukan karena kelaminmu melainkan kau sudah jadi jodohku. Aku sendiri tidak perjaka kau sudah menerimanya. Buat apa aku egois, lagipula kalau aku mencari perawan juga akhirnya sama kan. Hanya orang bodoh yang menganggap bekas." Hansen menurunkan Diandra didepan pintu kamar.
"Tapi tradisi kita kan ups. " Mulut Diandra ditutup oleh jari telunjuk Hansen agar tidak meneruskan kalimatnya.
"Jika tidak disengaja atau terpaksa maka yang jahat adalah pasangannya. Apalagi mengancam sangat konyol. Kita sudah dewasa sayang, bukan anak remaja atau orang kolot."Hansen membuka pintu kamar.
Mereka masuk didalam kamar dengan perasaan canggung karena tidak biasanya membahas topik ini.
***
Tolong diambil hikmah baiknya, kita disini memposisikan sebagai orang yang bangkit. Jangan pernah menilai tinggi sesuatu yang telah hilang terenggut entah terpaksa atau Cinta. Labih baik kita berjuang agar kedepan lebih baik lagi. Semua manusia itu berharga, lebih baik jangan menilai jeleknya saja. Berbanggalah kalian yang masih Teguh menjaga diri. Semoga nov ini bisa memotivasi kita agar lebih menyiapkan diri jauh lebih baik untuk pasangan kelak. 💗💗💗
__ADS_1