
***
Marco mengemudikan mobil melaju keluar rumah utama membawa Hansen & Diandra pergi.
"Kita akan kembali kerumahku, bagaimana pendidikanmu?" Hansen bertanya sambil memalingkan wajahnya.
"Setelah wisuda aku melanjutkan kelas tambahan ketrampilan."
"Mengapa kau menjadi model, apa kartu yang aku berikan tidak cukup untuk biaya hidupmu?" Hansen menoleh kearah Diandra.
"Aku sudah meninggalkanya di apartemen & secarik kertas. Apa Tuan tidak menerimanya?" Diandra membalikkan badannya. Mereka saling beradu pandangan.
"Itu sebabnya kau menjadi model, kau tahu aku ingin meledakkan papan reklame & menghacurkan ponsel yang ada gambarmu!" Hansen marah dengan suara suara yang menggelegar.
"Tuan muda, maaf jika kau tidak suka dengan perbuatanku. Aku akan mengurus mutasi KK,mulai sekarang & seterusnya abaikan semua tentang aku." Diandra membuka pintu lalu turun dari mobil.
Hansen mengejar Diandra dan membopong tubuh Diandra masuk kedalam rumahnya.
"Tuan muda, turunkan aku." Diandra memukul tubuh Hansen bertubi-tubi.
"Marco, kunci kami dikamar besok pagi baru buka. Aku akan menghukumnya! Tunggu apalagi, cepat kunci bodoh! Hansen membentak Marco.
"Tuan, jangan menghukumku. Aku juga sudah bertemu dengan calon tunanganmu. Tolong lepaskan aku."Diandra berlutut meminta kebebasannya.
__ADS_1
"Tunangan apa, dia hanya artis yang aku bayar tidak lebih. Terserah media memberitakan apa saja. Kalau dia berpendapat beda itu bukan urusanku, urusanku dengamu! Hansen mendekatkan wajahnya pada Diandra.
"Aku ingin kembali ke Hotel sekarang." Diandra menitikkan airmatanya.
"Sayang, terakhir aku belum sempat mengatakan kalo Dae Yoo membayar seseorang untuk memprovokasi hubungan kita. Semua diatur seolah aku menghianatimu. Ibuku tidak pernah menyetujuinya sebagai menantu karena itu dia menemui Dae Yoo. Aku sudah memberikan uang tunai kepada orang pernah dibayar Dae Yoo ini lihatlah semuanya." Hansen menyerahkan ponselnya.
Diandra sudah mengerti kenapa Dae Yoo ingin menjauhkannya. Karena obsesinya yang menutup akal sehatnya melakukan segala cara busuknya.
"Malam ini tidurlah disini, ganti bajumu itu. Sangat terbuka bagian punggungmu yang mulus. Membuat mata lelaki haus saja." Hansen membangunkan tubuh Diandra.
"Aku tidak ingin apapun lagi, aku hanya minta mutasiku. Almira gadis yang baik, aku sudah membaca artikel & akun pribadinya. Dia mencintaimu, Javier juga sudah bilang calon iparnya." Diandra berdiri didepan pintu yang masih dijaga Marco dari luar .
"Kau keluar dari kamar ini peluru ini akan menembus tubuhmu lalu tubuhku juga." Hansen mengangkat pistol dari tangannya.
"Baiklah, aku menyerah." Diandra terduduk lemas melihat kenekatan Hansen yang mangancam dengan pistol.
"Nona terimakasih, aku akan menyingkirkan pistol dari tangan muda. Selanjutnya aku serahkan padamu." Marco pergi membawa pistol itu keluar.
"Kita menikah saja, aku sudah menderita untuk waktu yang lama. Jangan dekat dengan siapapun termasuk Javier. Soal Almira besok Marco akan membereskannya." Hansen memeluk tubuh Diandra sangat erat.
Diandra mematung dengan kejadian yang mangancam jiwanya.
"Aku merindukanmu Diandra, jangan berpisah lagi. Aku sungguh tidak sanggup lagi, selama ini aku hanya berpura-pura tegar tanpamu. Tapi setelah melihatmu dengan Javier ternyata aku masih mencintaimu. Cups." Hansen menciumi Diandra yang masih mematung.
__ADS_1
Malam ini Diandra tertidur setelah lelah menangis & ketakutan semalam. Disebelahnya Hansen memeluk kuat tubuhnya seolah tak ingin berpisah lagi. Wajah Diandra dipandangi oleh Hansen seolah melepaskan rindu yabg lama.
"Bagaimana aku melepaskanmu, sedangkan aku yang membawamu berubah menjadi seindah ini." Hansen memciumi Diandra.
"Emmbb... sesak... ahhh." Diandra terbangung dari tidurnya.
"Pagi sayang." Hansen tersenyum diatas tubuh Diandra.
"Jadi semalam kau tidak tidur?" Diandra kaget melihat Hansen masih berpakian lengkap dari semalam.
"Aku terlalu senang sehingga enggan meninggalkanmu." Hansen meletakkan kepalanya diatas dada Diandra.
"Bodoh, lihat mata pandamu itu." Diandra mengelus pangkal rambut Hansen.
"Lakukan semaumu, aku sedang malas keluar kamar." Hansen seperti bayi bermanja-manja.
"Tuan muda aku bawakan sa.... ra... pan. Tidakkah bisa kalian melakukan dikamar, jangan menodai mataku yang masih suci ini." Marco membuka kunci kamar menutup matanya melihat adegan lagi ini.
"Kau pikir ini hutan! keluar kau dari kamarku, mengganggu urusan orang saja." Hansen menghentikan kegiatannya sejenak.
Diandra hanya tersenyum melihat pertengkaran majikan & asisten pribadinya.
"Jadi kalau kau marah terus kapan kita melanjutkannya?" Goda Diandra sambil membalas ciumannya.
__ADS_1
"Hari ini aku mau dikurung dikamar bersamamu, Cup." Hansen melanjutkan kegiatan yang tertunda.