LEPASKAN AKU,BOS 1

LEPASKAN AKU,BOS 1
20. JANGAN SAKIT SAYANG


__ADS_3

***


Hansen tiba diPuskesmas kecil, kakinya berat melangkah hendak menemui Diandra. Didepan pintu terdapat bangsal besi berjajar-jajar. Banyak pasien yang dirawat keluarganya. Mereka bahagia walaupun menunggu beralaskan tikar seadanya. Hansen menutup hidup & mulutnya dengan sapu tangannya yang wangi. Maklum sajalah Hansen tidak nyaman aroma yang bercampur aduk. Diujung sudut ruangan seorang wanita sedang duduk menunggui pasien yang memegangi perutnya. Yah dia adalah Diandra, dengan mata terpejam menahan sakit magh yang akut. Badannya dingin dan sesekali muntah cairan bening. Hansen semakin berat langkahnya mendekat. Irene melangkah maju kedepan menyapa wanita tersebut untuk memastikan.


"Maaf apakah ini pasien atas nama Nona Diandra? "


*Iya ini Nona Diandra, saya Safira yang tadi mengangkat telpon tadi. Maaf atas kelancangan saya.* Menunduk hormat.


Hansen memberikan perintah kepada Irene agar mencari informasi tentang Diandra. Safira menceritakan semuanya, Irene lantas mengirim laporannya kepada Hansen untuk menyetujui langkah selanjutnya. Malam itu juga Hansen mengurus rujukan Rumah Sakit di Surabaya. Ambulan dari Surabaya sudah tiba & membawa Diandra ke Surabaya. Sepanjang perjalanan Hansen memegang tangan Diandra seolah tak ingin lepas. Hansen menyesal sudah mengatakan hal buruk. Seandainya Diandra yang mengangkat pasti perasaanya akan ditolak mentah-mentah. Hal terburuk ialah Diandra pergi tak akan kembali. Hansen sudah menyiapkan kamar VVIP, ranjang yang besar & fasilitas yang komplit. Hansen menginap menjaga Diandra ya g masih merintih kesakitan & badannya semakin kurus pucat. Hansen tidur disebalah Diandra. Irene masih bersama Safira menyelesaikan masalah pelunasan biaya rumah sakit, pemakaman & Puskesmas. Safira menerima kompensasi karena sudah memberikan pinjaman dari saldo tabungannya. Irene menyelesaikan tugas dari Hansen karena ia tahu konsekuensi jika bosnya kecewa.


***

__ADS_1


Pagi sudah tiba, Hansen bergegas mandi & sarapan. Ia membuka leptop menunggu Diandra siuman. Sesekali perawat datang mengecek kondisi kesehatan Diandra. Jam Delapan pagi Diandra bangun.


"Safira, bolehkan aku minta air gula? Lidahku pahit. " Dengan mata tertutup dan tangan memegangi perutnya.


Hansen yang sigap lalu mendekat menyuapi Diandra dengam sendok air madu.


"Safira, kenapa air gula ada yang seenak ini bisa mirip madu & aroma melon? Jangan boros, aku sudah tidak punya uang lagi." Diandra masih diposisi setengah sadar.


Diandra kembali tidur setelah beberapa suapan dari Hansen. Selang infus masih mengalir deras. Tubuhnya yang lemah pasti kelelahan.


***

__ADS_1


Hari sudah beranjak siang, Diandra ingin muntah.


"Safira,bolehkan aku minta tolong. Perutku sakit rasanya mual. huekkk" Seluruh cairan bening keluar dari mulut Diandra.


* Sayang, kita pindah Rumah Sakit di Singapura hari ini ya? Keadaanmu semakin memburuk.* Hansen dengan nada kawatir.


"Tu...tuan muda kapan kembali,kenapa aku sudah ada disini. Bagaimana aku membayar tagihannya. Tuan bawa aku kembali ke Puskesmas." Pinta Diandra lirih.


*Sayang, aku mohon jangan berpikir macam-macam. Ada aku disini yang akan menjagamu. Cup...cup* Hansen menciumi Diandra penuh sesal.


Petugas kebersihan datang membersihkan bekas muntahan Diandra. Hansen membersihkan tubuhnya dari noda yang menempel ditubuhnya. Perawat mengganti baju Diandra dengan yang bersih. Dokter memeriksa kondisi Diandra & menginstruksikan perawat langkah-langkah medis. Karena Hansen mengeluhkan keadaan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2