
***
Selama satu minggu Diandra merawat ayahnya. Safira kembali ketika pekerjaan Olshopnya selesai. Ayah Diandra sangat menyayangi Safira seperti anaknya sendiri. Safira adalah Yatim piatu. Orang tuanya meninggal 5tahun lalu karena kebakaran. Diandra yang tampak kurus itupun tak selera makan ketika ayahnya mulai muntah darah. Safira yang semakin sedih melihat kondisi ayah & anak itu. Sebenarnya Diandra hanya memakai gajinya 20% sisanya diberikan untuk ayah & modal usaha olshop Safira.
"Diandra, minumlah susu ini ,badanmu semakin kurus. Paman Haris akan sedih bila kau ikut sakit. " Pinta Safira kepada sahabatnya.
*Safira, aku terlalu banyak berhutang budi padamu hiks hiks. *
"Jangan bodoh! Kau anak yang berbakti, paman menyayangiku seperti putrinya sendiri. bahkan kau memberikan aku modal & gaji merawat paman. Aku menyayangimu Diandra, minumlah susu ini selagi hangat." Safira menyodorkan segelas susu.
__ADS_1
Keduanya tertidur diatas tikar seadanya & bantal 1buah untuk berbagi Dua kepala. Udara fajar yang menusuk tulang membuat batuk Pak Haris semakin menjadi-jadi. Diandra yang terbangun lantas memanggil perawat. Gawat nona, pasien harus masuk diruang ICU asma parahnya kambuh. Sontak Safira ikut terbangun dan pergi mengikuti Diandra yang mendorong bangsal pasien. Dalam keadaan seperti ini Safira tahu bahwa sahabatnya tidak memiliki uang sepersen pun. Safira pamit pulang untuk mandi, lalu pergi mengambil semua saldo tabungan. Benar seperti dugaan biaya pengobatan Pak Haris membengkak. Tiga hari setelah Pak Haris keluar daei ICU keadaanya mulai membaik. Pak haris sudah bisa diajak bicara yang makan tidak lewat selang lagi. Pagi ini Pak Haris memakai setelan baju yang dihadiahkan Diandra. Sambil duduk dikursi roda berhenti ditaman. Lalu Safira datang mengenakan gaun yang dihadiahkan Diandra juga. Mereka bercanda & berbagi cerita. Semua bahagia tertawa lepas. Tak lupa mereka mengabadikan foto & Video karena itu permintaan Pak Haris.
"Nak Safira terimakasih sudah merawat paman dengan baik, tolong jaga Diandra dengan baik seperti adikmu sendiri. Dari kecil dia sudah menderita karena Paman. "
*Paman jangan kawatir, Diandra akan aku perlakukan sebagai adikku sendiri. Mulai sekarang kita keluarga. *
"Diandra, ini tidak mungkin. hiks hiks hiks... "
*Apa Safira? apa?! apa yang tidak mungkin, ayahku hanya tidurkan, dy tersenyum seperti ibuku dulu (apa, tidur dan tersenyum seperti ibu).*
__ADS_1
Diandra mundur ketembok merobohkan tubuhnya yang lemah. Datanglah dokter & perawat mencoba mengecek keadaan pasien. Ditulislah riwayat pasien & kematian pasien tersebut. Perawat menutup wajah ayah Diandra dengan selimut seolah ini pertanda hari terakhir bersama ayahnya. Diandra menangis dipelikan Safira saat jenasah ayahnya masuk diruang pemulasaran. Suara sirine ambulance membawa jenasah ayah Diandra,menuju rumah Safira lalu dikebumikan. Diandra pingsan saat jenasah ayahnya masuk liang lahat. Safira mengirim Diandra ke Puskesmas untuk diberikan perawatan.
Derrttt.... derttt... suara ponsel Diandra berdering dalam genggaman Safira.
"Hallo... Diandra kau sudah berani melawan ya, sudah hampir Dua minggu kau keluyuran lupa tugasmu!!! " Suara Hansen marah besar.
*Maaf, saya mewakili Diandra bukan bermaksut lancang. Ayah diandra siang tadi meninggal dunia. Baru sore ini selesai dimakamkan. Saat ini Diandra di Puskesmas karena pingsan & magh akut. Maaf sekali lagi Tuan atas kelancangan kami. * Tutur halus Safira menenangkan.
Hansen yang awalnya akan menghukum & memaki-maki Diandra itu terdiem. Dia mengutus Irene & sopirnya untuk ikut serta menuju Puskesmas tempat Diandra dirawat. Pantas saja pesan & panggilan tidak lernah dijawab karena Diandra sibuk merawar ayahnya yang kritis. Sepanjang perjalanan Hansen mengeluh ke supir untuk melajukan kencang mobilnya. Hatinya tak tenang setelah tau Ayah Diandra meninggal & Diandra pingsan.
__ADS_1