
*** APARTEMEN ERIC ZHAN ***
Letaknya yang strategis dan mudah di jangkau. Membuat Irene tidak perlu bersusah payah lagi. Tampang bangunan yang mengulang tinggi ke langit, dengan gaya arsitektur masa kini yang mewah. Setelah melalu tahapan pemeriksaan. Irene ternyata sudah di jemput Eric yang berada di lobi utama pintu masuk Apartemen mewah itu.
“Aku pikir kau akan berubah pikiran dan tidak datang, apa kau sudah sarapan?” Tanya Eric yang sepertinya habis lari pagi.
Keringatnya basah di leher, kulitnya yang putih memerah karena darahnya panas. Oleh aktifitas fisik di pagi hari, Irene hanya bisa melihatnya tanpa ada perasaan apapun. Di dalam Lift, Eric banyak bercerita tentang detail pekerjaannya. Akhirnya sampai di apartemen yang akan menjadi tempat bekerja sementar Irene.
Gambar ilustrasi.
“Megumi, mulai sekarang gadis ini yang akan menemanimu disini.” Eric mengenalkan Irene.
“Perkenalkan namaku Megumi, namamu siapa?” mengulurkan berjabat tangan.
“Namaku Irene, senang berkenalan dengan Nona Megumi.” Sambut Irene hangat.
“Oh jadi namamu Irene ya,” sahut keheranan Eric.
“Memang kau belum tahu siapa namanya, lalu bagaimana bisa kau membawanya kemari.” Megumi heran.
“KAMI BERTEMU DI TOILET,” jawab keduanya bersamaan.
“Haaa, Toilet.” Megumi semakin penasaran.
“Jadi begini ceritanya, aku dulu adalah nara sumber di acara seminar kesehatan di Universitas Jiansu. Dia mewakili temannya yang berhalangan hadir saat itu, karena kejadiaan naas akhirnya dia menyusup di toilet pria hahaha.” Kenang Eric di kejadian lucu dulu.
“Oh aku pikir gadis ini mengintipmu di toilet heeemmm,” Megumi lega karena Irene bukan seperti yang ia pikirkan.
“Kalian akrabkan diri dulu, aku akan mandi. Megumi, jadilah tuan rumah yang baik untuk pegawai pribadimu.” Eric berpesan sebelum meninggalkan Irene bersama Megumi.
*
*
*
__ADS_1
“Irene, bolehkah aku bertanya tentang hal yang lebih pribadi?” Megumi penasaran dengan Irene.
“Silahkan nona Megumi,” sambil duduk dan minum jus.
“Apa kau memiliki tipe pria idaman?”
“Hahahaha nona Megumi sedang bertanya. Apakah aku tertarik dengan dokter Eric? Tidak, jawabanku tidak akan.”
Wajah megumi memerah dan menarik anak rambut kebelakang telinganya. Dia malu-malu menundukkan kepalanya, karena tebakan Irene benar. Dia pikir Irene mencoba mendekati Eric Zhan tunangannya dengan menjadi pelayan.
“Sebenarnya, alasanku bekerja karena bisnis orang tuaku di Indonesia sedang buruk. Dan wisuda sebentar lagi, aku butuh biaya hidup.” Irene mengatakan motivasinya bekerja.
“Ternyata kau seorang mahasiswi ya, asistenku di rumah sakit juga mahasiswi magang yang berasal dari Indonesia. Namanya Zivara, dia juga berasala dari Indonesia.”
Irene kaget mendengar nama Zivara, dia adalah sahabatnya. Sekarang menjadi asisten dokter Megumi. Suatu kebetulan yang sudah di atur oleh Author-nim hehehehe.
“Zivara adalah temanku, dulu kami tinggal di asrama. Sekarang sudah pindah, tinggal bersama kekasihnya. Tapi aku mau bertamu sepertinya dia keberatan. Jadi aku tidak bisa memaksanya, padahal aku rindu saat kami bersama.”
“Sudahlah, jangan bersedih Irene. Sekarang kau bisa menjadi temanku, walaupun aku tinggal bersama Eric. Buktinya dia tidak pernah melarangku. Hanya saja dia tidak mau mempublikasikan hubungan kami.” Megumi menjadi sedih.
“Benarkah yang kau katakan Irene? “ Megumi kaget dengan fans berat dokter Eric.
“Mungkin dokter Eric tidak bicara langsung dengan nona Megumi takut salah paham. Sebenarnya lelaki adalah mahkluk yang sulit mengeluarkan isi hatinya. Jadi nona Megumi lebih baik menuruti perintah dokter Eric. Temanku dulunya masuk komunitas fans berat dokter Eric. Setelah memperoleh pacar, dia sudah lupa dan bahagia.” Irene menceritakan kisahnya kemaren.
“Oh jadi temanmu bisa jadi salah satu fans itu, untung aku tidak bilang bahwa Eric tunanganku. Ternyata menjadi tunangan seorang dokter Eric tidak mudah ya.”
Dari balik partisi pembatas ruangan, Eric mendengarkan perbincangan kedua wanita yang mulai akrab itu. Eric ternyata beruntung memilih Irene sebagai asistem rumah tangga. Jika Megumi mendapat asisten lain yang menyukainya. Pasti akan ada kesulitan lain, paman Wang sudah memeriksa data Irene sebelumnya. Oleh karena itu Eric mudah saja merekrut Irene untuk bekerja. Semoga sifat cemburu Megumi tidak meropotkan kedepannya (pikir Eric).
“Apakah sarapannya sudah siap,” suara Eric membuat percakapan kedua wanita itu berhenti.
“Ma’af kami sibuk berkenalan, jadi belum sempat memasak sarapan.”Megumi merasa bersalah dengan tindakannya.
“Kalau begitu aku sarapan di kantinrumah sakit saja, kalian lanjutkan saja ngobrolnya. Aku tinggalkan uang untuk belanja bahan makanan. Selamat pagi,” setelah meletakkan kartu kredit diatas meja dapur.
“Hati-hati dijalan,” sahut Megumi yang sudah mengambil kartu kredit.
“Nona tidak berangkat bekerja?” Tanya Irene polos.
__ADS_1
“Aku kan tidak sesibuk Eric, dia hari ini syuting di acara TV. Sedangkan aku tidak ada jadwal praktek, makanya libur. Bagaimana kalau kita pergi berbelanja? “ Megumi mengajak Irene belanja kebutuhan dapur.
“Sekarang?” Tanya Irene sekali lagi.
“Iya sekarang, ayo berangkat.” Megumi menggandeng tangan Irene untuk berbelanja.
*
*
*
× LOKASI PEMBANGUNAN RUMAH MASA DEPAN×
Pagar besi yang tinggi menutup lokasi pembangunan rumah Eric. Lokasinya berada di daerah pegunungan yang asri. Udaranya masih sejuk, karena banyak pepohonan yang rindang. Paman Wang yang sudah sibuk mengatur proses pembangunan rumah masa depan Eric. Rumah tersebut dibangun dengan gaya modern, tapi ramah lingkungan.
“Tuan muda, apakah pelayan barumu menimbulkan masalah?”
“Tidak usah khawatir paman Wang, gadis itu tidak genit pada umumnya. Dia memang terdesak kebutuhan ekonomi keluarga. Sepertinya pembangunannya sudah masuk tahap akhir ya.” Eric melihat bangunan megah rumah asa depannya bersama Tracy dan ibunya.
“Seperti yang tuan muda perintahkan, aku akan membuat klinik pribadi dan laboratorium khusus. Alat-alat medisnya sudah dikirim dari kuar negeri, termasuk dari Jepang.” Paman Wang melaporkan.
“Oh baguslah, jangan menebang pohon untuk pembangunan rumahku. Biarkan tumbuhan hijau itu tetap hidup. Mereka bermanfaat untuk kesehatan.” Eric tidak ingin merusak alam dengan pembangunan rumah masa depannya.
“Apakah tuan muda tidak ingin membuat kolam renang atau taman bermain untuk putra-putri tuan muda?”
“Aku tidak akan menikah dengan Megumi, dalam hidupku hanya ada Tracy dan ibuku. Mereka berdua adalah hartaku sebanarnya, juga paman Wang.” Eric menganggap paman Wang sudah seperti keluarga sendiri.
“Tuan muda, kau membuatku terharu,” mengusap air matanya dengan sapu tangan, karena terharu lleh ucapan manis Eric.
“Jika memang aku bisa memiliki keluarga, aku pastikan Tracy menikah dengan lelaki yang benar. Dia masih menggilai aktor Korea-nya itu. Padahal aktor Korea itu lelaki hidung belang.” Ejek Eric.
“Apakah adik tingkat tuan Eric, pemuda keturunan Korea itu masih mengirim kabar? (Hansen maksutnya)
“Sudah jarang, dia sibuk dengan perusahaan ayahnya dan adiknya. Aku lihat dia hidupnya jauh lebih baik, mungkin sudah menemukan tambatan hati.” Eric menafsirkan.
“Cinta bisa merubah gunung es menjadi lautan, hehehe.” Paman Wang menambahkan.
__ADS_1