LEPASKAN AKU,BOS 1

LEPASKAN AKU,BOS 1
64. MEMINTA RESTU


__ADS_3

***


Diandra bangun lebih awal, dia menikmati susu hangat & sepotong roti. Taman bunga yang dulu masih terawat membuatnya betah duduk diatas rumput. Seorang pelayan menghampirinya ikut menikmati suasana asri taman tersebut.


"Diandra akhirnya kau kembali juga, senang melihatmu sekarang kau sangat berubah. Aku hampir tidak mengenalimu." Ucap si pelayan.


"Yang berubah hanya wujudku, bukan jiwaku. Terimakasih sudah merawat bunga ditaman ini." Diandra melihat bunga anggrek bermekaran Indah.


"Tuan Muda berpesan untuk merawat apapun yabg berhubungan denganmu. Walaupun jarang datang kesini, dia lebih banyak tinggal di kondominium."


"Kembalilah kekamar, hari sudah mulai siang. Panas matahari bisa membakar kulitmu." Hansen memeluk Diandra dari belakang.


Pelayan itu berdiri meninggalkan majikannya.


"Kenapa tidak ada kolam ikan, akan lebih Bagus bila ada suara air ditaman ini." Diandra menunjuk sudut taman.


"Aku tidak ingin ada sarang nyamuk, kalau anak kita masih kecil sangat bahaya sayang. Nanti aku pesankan aquarium khususu. Kau mau berapa pun aku berikan." Masih memeluk Diandra erat.


"Aku tidak tahu kau memikirkan hal sejauh itu. Kau sudah sarapan?" Diandra menyodorkan roti kemulut Hansen.


"Belum, aku sedang malas makan. Ayolah kekamar lagi jangan disini. Dikamar lebih sejuk ada AC disini panas." Hansen merengek seperti anak kecil.


"Baiklah tuan muda, ayo kekamar." Diandra berjalan menuju dapur meletakkan bekas sarapannya.


Hansen mengikuti langkah Diandra dadi belakang sambil tersenyum kecil menaiki tangga.

__ADS_1


"Kau lihat apa?" Diandra merasa aneh diperhatikan.


"Aku ingin punya beberapa anak darimu." Hansen menjawab tegas.


Diandra hanya tersenyum seolah ini guyonan pria yang baru bangun tidur.


"Aku mandi dulu, apa kau tidak ingin kekantor? Aku akan ikut kalau perlu." Ancam Diandra.


"Benarkah kau mau ikut? Baiklah aku akan berangkat kekantor kalau kau ikut bersamaku. Bagaimana kalau kita mandi bersama."


"Tidak akan, itu hanya alibimu untuk berlama-lama dirumah." Diandra lantas mengunci pintu kamar mandi.


Marco menjemput Hansen dirumahnya, Diandra juga sudah bersiap dengan pakaian formalnya.


"Apakah Nona Diandra jadi karyawan baru diperusahaan Tuan Muda, ini mengkhawatirkan ketentraman umat pegawai." Marco mengelus dada.


"Ya ampun padahal sudah dikurung semalam masih kurang kebangetan hah." Marco berbisik pelan.


"Sayang, jangan mengganggu asistenmu cepat masuk mobil." Diandra menurunkan kaca mobil.


"Iya sayang aku datang." *Hansen menyusul Diandra.


"(Cih menurut sekali seperti bayi, padahal sikapnya buas seperti singa*). Gumam Marco kesal.


***

__ADS_1


Dikediaman rumah utama tampak sibuk membereskan sisa pesta. Almira menginap & pagi ini dianter kembali ke hotel oleh Javier.


"Tuan Javier sebenarnya Tuan Hansen & Nona Diandra memiliki hubungan apa?" Almira ragu-ragu.


"Entahlah,sebaiknya kau jangan terlalu berharap lebih. Aku sendiri sedang berpikir kemana dia membawa Diandra dari semalam." Javier tampak mengantuk semalam dia tidak tidur.


Almira sudah jatuh hati dengan Hansen,bahkan momen kebersamaan mereka sering dibagikan lewat aku pribadinya. Dia tidak ingin gadis lain memiliki Hansen,karena selama ini dia yakin Hansen memiliki perasaan yang sama pula.


***


Tuan Wijayakusuma menunggu Hansen dikantor pribadinya, ingin menanyakan alasan ketidak hadirannya. Hansen masuk membawa Diandra & diikuti oleh Marco paling belakang.


"Bisa kau jelaskan siapa gadis disampingmu, sepertinya bukan Almira." Tuas Wijayakusuma menerka-nerka.


"Ayah perkenalkan dia adalah calon ibu dari cucumu. Aku sudah mengencaninya sejak lama, dia baru tiba dari Korea. Jadi aku ingin mengikatnya disini untuk berkeluarga." Hansen meraih tangan Diandra.


"Apa calon ibu dari cucuku? Sudah berapa bulan. " Wajah Tuan Wijayakusuma pucat kaget.


"Maaf Tuan Besar, maksud Tuan Hansen ini calon istrinya kelak. Mungkin Tuan muda kesulitan merangkai kalimat yang tepat ehemmmb." Marco menyela pembicaraan.


"Oh aku pikir apa hahahah, duduklah mari kita bicarakan dengan baik-baik."


Mereka duduk di sofa panjang, rencananya Diandra hanya ingin menemani Hansen bekerja. Karena dia pasti akan bosan dirumah tanpa melakukan kegiatan apapun. Tapi kepalang sudah Hansen bicara tentang calon istri sudah pasti mengarah ke pernikahan.


"Ibumu pasti akan senang memiliki menantu yang cantik & pintar. Tapi wajahnya seperti familiar ya. Apakah kau artis?" Tuan Wijayakusuma bertanya.

__ADS_1


"Ayah mengenai masa lalu Diandra aku mohon jangan dibahas lagi. Kedepan biar aku yang menjawab semua tentang Diandra. Aku sudah melewati masa sulit yang panjang. Setelah menikah aku serahkan semuanya untuk mengurus perusahaan. Aku hanya minta imbalan itu berupa restu menikahi Diandra." Hansen memegang erat tangan ayahnya.


"Baiklah ayah turut senang kau akhirnya mau menikah & fokus mengelola perusahaan. Ayah sudah cukup tua ingin hidup di desa. Segera menikah & berikan aku beberapa cucu. Ketika akhir pekan kirim mereka untuk berlibur mengunjungiku." Tuan Wijayakusuma menyandarkan tubuhnya di sofa dengan santai.


__ADS_2