
***
Diandra mengurus berkas-berkasnya karena domisilinya memang masih di Surabaya. Saat membuat paspor Irene bertemu dengan Diandra karena dia akan keKorea menggantikan Hansen. Diandra yang tidak menyadari kalau Irene sudah mengintainya akhirnya menculik Diandra. Beberapa pengawal yang bersama Irene langsung meringkusnya didalam mobil. Karena pengaruh obat bius yang kuat membuatnya pingsan. Irene memberitahukan kalau sudah berhasil menangkap Diandra. Hansen tersenyum sumpringah dengan kabar baik tersebut.
"Aku harus memperbaiki dulu tidak mungkin aku menakutinya dengan penampilan gembel ini. Irene terimaksih banyak kau penyelamatku. "
"Sama-sama Tuan muda, ini semua saya lakukan demi kebaikan tuan muda."
Diandra yang terikat tangan dan kakinya, mulut yang tertutup lakban. Menyadari dia berada disebuah kamar mewah yang asing. (Dimana aku? apakah aku akan dijual atau diambil organ tubuhku. Selamatkan aku!). Terdengar suara langkah kaki mendekati kamar tersebut. Lalu membuka ikatan & lakban.
"Tolong tuan-tuan lepaskan aku, sebenarnya saya ada masalah apa?"
Hansen & Irene masuk secara bersamaan. Irene membawa air didalam gelas untuk Diandra.
__ADS_1
"Maaf nona kalau sikapku lancang, minumlah dulu anda pasti haus & ketakutan. Tenang semua pengawal ini adalah staff khusus yang aku bawa." Sambil menyodorkan gelas.
"Terimaksih, Nona Irene." Mengembalikan gelas dalam keadaan kosong.
"Nona mengenai hal yang dulu ada kesalahpahaman. Sebenarnya Tuan muda dijebak mabuk oleh Nona Dae Yoo. Saat Nona Dae Yoo mengancammu dia cemburu karena tuan memanggil namamu ketika mabuk. Oleh karena itu dia mengancam akan membunuh nona. Dae Yoo mengalami gangguan kejiwaan, maaf sudah menyulitkan posisi Nona."
Setelah merasa cukup memberikan penjelasan, Irene beserta pengawal pergi keluar. Meninggalkan Hansen & Diandra berdua dalam kamar.
"Tuan muda, rambutmu sudah panjang besok pangkaslah rambutmu."
"Baik sayang selama kau yang memintanya. "
"Aku dengar dari pelayan bahwa Dae Yoo menuntutmu untuk bertanggungjawab apakah itu benar? "
__ADS_1
"Iya, tapi aku tidak menyentuhnya. Dalam keadaan mabuk berat orang akan tertidur pulas."
"Tubuhku terasa panas, bagian tubuhku ada yang tidak nyaman. Uuuhhh.... tolong nyalakan Acnya Tuan muda. "
" AC-nya menyala dengan baik, sudah suhu terendah pula. Aku buka jedela saja ya."
"Ah.... panas sekali ada bagian tubuhku yang berdenyut-denyut. Uh.... sangat panass...aku tidak tahan lagi ." Diandra sudah mulai terangsang oleh pengaruh obat.
Diandra membuka kancing bajunya satu persatu-satu & kancing celananya. Tubuhnya menggelinjang diatas ranjang. Bibirnya digigit-gigit gemas. Hansen yang melihat adegan erotis kekasihnya ini mulai berada dizona bahaya. Tampak indah dada milik kekasihnya itu. Tubuhnya yang ramping itu membuat mata Hansen ternoda. Diandra menarik tangan kekasihnya sambil mengatakan sejuk. Diandra kali ini diluar kendali. Dia menciumi Hansen yang pasrah dengan keadaan kaku sekian lama tak bertemu. Hansen mulai melucuti baju yang menempel ditubuhnya. Saat asik bercumbu tanpa sadar tanganya sudah membuka baju kekasihnya hingga tak bersisa apapun diantara keduanya. Ciuman & gigitan mereka gantian lakukan. Sekujur tubuh mereka berdua dipenuhi stempel tanda cinta. Hingga akhirnya Diandra mendesah karena menyentuh bagian yang asing. Surga milik kekasihnya sudah tegang seolah tau tugasnya apa. Hansen yang sudah kepalang basah mau apalagi coba kalo selain maju tanpa gentar.
"Sayang, kau yang menginginkan ini. Maafkan aku yang harus mengalah karena lelaki normal juga ada kelemahannya. Uhhh.... ahhh" Hansen mulai mendesah diatas tubuh Diandra.
Diandra hanya mendesah pasrah saat kekasihnya menguasai keadaan. Rintihan-rintihan kecil sesekali terdengar menahan sakit. Dari luar Irene sudah canggung sendiri tentang aktifitas penuh polusi.
__ADS_1