LEPASKAN AKU,BOS 1

LEPASKAN AKU,BOS 1
DUA GARIS


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, Demian perlahan menjalin komunikasi yang baik dengan Irene. Demian yang memang tidak memiliki wanita dekat mulai tertarik dengan sosok Iren. Gadis Indonesia dari Kalimantan. Irene masih bekerja dii apartemen milik Eric.


“Irene aku perhatikan sekarang kau tampak berisi, apakah kau lupa diet?” Megumi melihat perubahan fisik Irene.


“Iya nona, akhir-akhir ini tuan muda Demian sering mengajakku keluar. Aku bahkan kalap ketika di traktir makan hehehe.”


“Ingat jangan terlalu gemuk, kau ini mau wisuda, jangan sampai terlihat tua di foto.”


Saran dari Megumi ada benarnya juga. Karena Irene akan wisuda jadii Demian sengaja menyempatkan diri mampir ke apartemen Eric.


“Maaf, apakah aku bisa meminjam Irene. Aku ingin membelikan hadiah wisudanya.” Demian yang sudah dipersilahkan masuk sebelumnya.


“Mau kemana?” Eric keluar dari kamar tidurnya.


“Calon adik ipar ingin mengajak Irene belanja hadiah wisuda, Demian manis juga ya.” Puji Megumi menyindir Eric.


“Kalau kau mau ikut pergilah, ini aku berikan kartu untukmu belanja.” Eric berangkat bekerja tanpa sarapan terlebih dahulu.


“Apakah aku boleh ikut dengan kalian?” Megumi bosen tidak ada kegiatan.


“Emmmbb bagaimana ya, terserah Irene saja.” Demian memutar bola matanya.


“Baiklah kita berangkat sekarang, “ Megumi mengambil tasnya lalu mengekor dari belakang.


.


.


.


Sialnya ketika berada di Mall tanpa sengaja Mei Chuan berbelanja juga.


“Hooo, kebetulan sekali ya kita bertemu disini. Demian apa kau sesantai ini ketika jam kantor?” Mei Chuan mencecar Demian.


“Aku keluar bersama dengan Megumi dan temannya. Mereka sedang mencari barang, kebetulan aku ada kolega bisnis disini.” Berbohong pada Mei Chuan.


“Oh ya bisnis apa kira-kira kalau boleh tahu? “ Mei Chuan tak mudah untuk percaya.

__ADS_1


“ Bisnis properti, aku ingin membeli beberapa unit apartemen. Lalu aku sewakan, sepertinya membeli hunian semakin mahal. Jadi aku putuskan untuk menyewakan hunian.” Demian setengah mati mencari ide agar ibunya pergi.


“Baiklah jika begitu, Megumi selamat bersenang-senang kalau begitu.” Akhirnya mak Lampir itu pergi.


“Hufftt,” ketiganya bernafas lega setelah Mei chuan pergi.


.


.


.


Demian membelanjakan banyak hadiah untuk Irene, akhir-akhir ini ukuran baju irene menjadi ketat. Demian yang sudah suka dengan Irene, berinisiatif memanjakan wanita dambaannya. Megumi hanya bisa berandai-andai seolah Eric bisa berubah romantis.


“Megumi, aku antar kau lebih dulu ya. Aku minta kau liburkan satu hari saja Irene bersamaku.” Megumi langsung paham maksut Demian.


Didalam mobil tinggal Irene saja, sepanjang perjalanan menuju asrama hanya diam. Beberapa kali Demian menghela nafas panjang, seolah dia berada di bawah tekanan.


“Irene, apakah kau keberatan jika aku menghadiri acara wisudamu nanti?” Akhirnya ini kalimat yang ditahan oleh Demian dari tadi.


Tak ada alasan untuk menolak Demian. Sebenarnya Irene juga berharap ada orang yang menyaksikan wisudanya. Tapi harapannya di dengar oleh Tuhan. Dan akhirnya hari wisuda telah tiba. Hari bersejarah bagi Irene menyelesaikan pendidikan Sarjana.


“Setelah ini kau mau kemana?” Irene tak punya banyak pilihan.


Bisnis orang tuanya sudah gulung tikar dan sedang merintis usaha baru. Orang tuan Iren pindah ke Surabaya, membuka kedai mie. Di sana usaha orang tua Irene mulai membaik. Walaupun sepenuhnya pulih, karena masih terlilit hutang Bank.


Sebenarnya Irene mudah saja bilang minta pekerjaan dari Demian. Di Wushing Grup jabatannya sudah tinggi dan tidak main-main lagi. Tapi Irene ingat betapa ngerinya ibu Demian yang ia jumpai beberapa waktu lalu. Sepertiny ibu Demian bukan orang yang ramah dengan kemiskinan dan kaum orang susah.


Jadi Irene memutuskan tetap bekerja di Apartemen Eric sampai sudah tak diperlukan lagi. Itu jauh lebih baik, dirinya bisa tinggal full. Tanpa harus memikirkan lagi biaya sewa dan kebutuhan hidup. Megumi pun tak keberatan karena Irene tidak menujukkan gejala wanita penggoda. Selama Eric tidak tergoda, posisi Irene aman.


“Kenapa menyuruhku untuk mengemasi barang-barangku? “ Tanya Irene penasaran.


“Lebih baik kau segera pindah saja, agar penghuni baru bisa menempatnya.” Akal bulus Demian.


Beberapa hari setelah Irene wisuda, Megumi menyuruhnya segera pindah. Tapi ternyata Demian sudah terlanjur membeli unit Apartemen. Yang dekat dengan Apartemen Eric. Jadi Demian akan memberikan kejutan kepada Irene. Dengan alasan kalau Megumi sudah menyuruhnya pindah ke Apartemen, kamar yang akan ditempatinya sudah siap. Padahal Demian sengaja pindah ke Apartemen, agar bisa setiap hari bertemu dengan Irene. Eric hanya bisa mendukung ide Megumi dan Demian. Dengan resiko terburuknya, Mei Chuan tahu.


“Sudahlah ikut saja denganku pergi,” menutup mata Irene dengan kain.

__ADS_1


Demian menggiring Irene masuk kedalam mobil, setelah koper dan tas milik Irene masuk kedalam bagasi mobil. Sepanjang perjalan Irene mencoba membuka penutup matanya, tapi Demian menghalanginya.


“Bersabarlah kita akan segera sampai.” Demian menyuruh tukang angkut barang membawanya.


Irene yang sudah penasaran ini ingin segera membuka matanya, karena tidak enak menjadi orang buta.


“Nah sekarag lihatlah,” Demian membuka penutup mata Irene.


Saat di buka kain penutup itu, Megumi dan Eric sedang duduk di meja makan.


“Selamat datang,” penyambutan ini dilakukan dengan sangat sederhana. Irene masiih tidak mengerti apa maksutnya ini semua.


“Demian membeli apartemen ini untuk tempat tinggal kalian, selamat ya Irene.” Megumi memberikan tepuk tangannya prok prok.


“Benarkah, tapi aku kan... “Irene melihat Demian sudah membuka kotak perhiasan berisi kalung liontin berwarna silver.


“Irene, mulai sekarang maukah kau menerimaku sebagai teman lelakimu?” Demian sulit mengatakan ‘aku Cinta kamu’ karena dia bukan tipe romantis.


“Terima, terima, terima. “ Megumi dan Eric menyoraki agar Irene menerima cinta Demian.


“Baiklah,” Irene mengatakannya tanpa ragu.


Demian akhirnya bisa memeluk Irene tanpa harus ijin sebelumnya. Mereka berempat sudah berada di meja makan. Menikmati hidangan yang sudah di siapkan sebelumnya. Saat itu tiba-tiba, Irene entah kekenyangan atau tidak cocok dengan masakannya dia mual-mual.


“Hueeeekkkkk,” Demian membantu Irene yang memuntahkan isi perutnya.


“ Tubuhmu tidak demam, apa sebaiknya kau istirahat saja?” Bujuk Demian yang khawatir.


“Aku ambil alat periksa kesehatannku dulu ya,” Megumi kembali pulang ke Apartemennya.


Di dalam kamar Megumi memeriika keadaan Irene, sedangkan Demian tidak di ijinkan masuk. Eric sudah bisa menduga apa hasil diagnosa Irene.


“Sejauh mana hubungan kalian selama ini, jujurlah kepadaku.” Eric memancing jawaban dari Demian.


“Saat pesta malam itu, aku mabuk berat. Dan terjadilah hal itu.” Tutur Demian yang menatap pintu kamar yang tertutup rapat.


“Bersiaplah menjadi ayah,” begitu kata Eric yang tak di dengar oleh. Demian.

__ADS_1


“Dua garis, selamat demian. Usia kandungan Irene sudah berjalan empat minggu.” Megumi yang keluar dari kamar langsung memamerkan alat tes kehamilan.


__ADS_2