LEPASKAN AKU,BOS 1

LEPASKAN AKU,BOS 1
PESONA SANG NARA SUMBER


__ADS_3

***LANJUTAN,


Melangkah pasti keluar rumah kediaman Zhan. Tanpa basa-basi ataupun sekedar menyapa ayahnya. Pelayan membuka pintu utama & sopir sudah memarkirkan mobil yang hendak ia pakai.


“Kak Eric tunggu” Lilian mengejar saudara tirinya.


Menoleh kearah sumber suara tersebut. Padahal tangganya sudah membuka handle pintu mobil.


“Pria lajang yang tampan harus merapikan kerah kemejanya” Lilian merapikan kerah Eric.


Semua mata melihat perlakuan manis itu. Mereka hanya patung tidak boleh berekspresi tentang kehidupan majikan mereka.


“Sudah hentikan, ini hanya acara biasa tidak formal” Eric menepis tangan adiknya.


“Hemmbb tidak boleh, biar aku yang merapikan penampilanmu mulai saat ini. Kedepan biar aku yang mengurusmu. Aku lebih paham tentang hal ini. Pergilah cup” Lilian mencuri pipi Eric lewat kecupat kilat. 😘😘😘😘


“Ah... Apa ini” mengelap bekas bibir Lilian. Masih terasa krim lipstik menempal dikulitnya.


Eric langsung masuk ke mobil karena malu disaksikan orang banyak. Ia melajukan mobilnya untuk acara seminar kedokteran di Universitas Jiansu.


“Bye kak Eric, cepat kembali” melambaikan tangannya.


Melihat perlakuan Lilian yang manja dengan anak tirinya. Membuat Mei Chuan benci kepada Eric. Dia berpikir Eric tidak pantas diperlakukan dengan baik. Hanya saja ia memanfaatkan pekerjaan Eric sebagai dokter. Untuk mengurus kesehatan keluarga Zhan secara cuma-cuma. Yah sebagai imbal balik sudah pasti keuntungan yang diperhitungkan.


“Lekas lap bibirmu itu degan cairan alkohol” melemparkan botol & tisu basah ke badan Lilian.


“Huuu.... Aku tidak butuh ini semua. Lagipula aku sengaja melakukannya kenapa ibu yang repot” mengejek ibunya.


“Kau ini benar-benar anak” belum sempat melanjutkan pembicaraannya. Mark sudah berada diturunkan anak tangga.


Suaminya sudah berpakaian rapi, memakai tuxedo warna gading. Mei Chuan melihat suaminya seolah akan pergi ke suatu jamuan.


“Malam ini aku tidak akan pulang, ada acara main mahyong”.


“Kalau hanya sekedar bermain mahyong. Aku bisa menyiapkan acaranya di kasino rumah kita”.


“Acaranya ada dikapal pesiar” merapikan dasi kupu-kupu.


Mobil warna silver berhenti, turunlah seorang wanita cantik. Tubuhnya langsing & seksi, dia seperti model papan atas. Dia menyapa Mei Chuan lalu menggandeng tangan Mark mesra.


“Aku pergi dulu, perkenalkan dia pacarku yang malam ini bersamaku” memamerkan wanita cantik yang mengalungkan tangan di lengannya.


“Hallo apakabar nyonya Zhan, saya Xin Rao Wei. Malam ini saya akan menjaga & melayani tuan Mark dengan baik” melemparkan senyuman khas pelakor.

__ADS_1


Lilian menahan amarah ibunya yang terbakar cemburu. Hal ini bukanlah baru, tapi Mark memang begitu. Baik Demian maupun Lilian sudah paham watak ayahnya yang flamboyan.


“Sudahlah bu, ayo masuk buat apa marah kepada ayah. Yang penting kan nyonya Zhan masih kau pegang. Dia hanya mainannya bu, lebih baik kita bersenang-senang” Lilian merayu ibunya agar melupakan kejadian barusan.


“Sudahlah bu jangan seperti anak kecil begitu, lagipula ayah hanya berkencan. Paling lama mereka bertahan 2 minggu seperti biasanya. Lebih baik ikut denganku memilihkan mobil untuk adik cantikku” memegang daku adiknya Lilian.


“Iya...ayolah bu kita habiskan uang ayah yang banyak itu. Sebelum pacarnya tertimbun tas belanjaan” bujuk Lilian dengan motivasi.


“ Baiklah, tunggu aku sebentar mengambil tas dikamar” Mei Chuan akhirnya luluh & mau berangkat pergi bersenang-senang.


°°°Hokay my readers semuanya salam-salam nich dari Author Vitamin A. Sudahkah kalian Like? Oke ayolah bagi likenya jangan pelit. Di episode sebelumnya Author Vitamin A yang cakep ulala paripurna pancasona udah kasih Spoiler. Kalua si Eric bakalan ehem-ehem sama si Irene. YES YOU ARE emang bener bangetss. Lets baca lanjutannya ceritanya.


***ASRAMA PUTRI UNIVERSITAS JIANSU***


“Hoaamm.... Ya ampun ya ampun semalam suntuk aku menyiapkan materi bisnis masih belum selesai. Ya tuhan otakku sudah mulai tersiksa selama 3 minggu ini huff” Irene merebahkan tubuhnya diranjang.


Gedubrak... Gedubrak... Suara hentakan kaki masuk dikamar Irene.


“SAODAHHHHHH (nama panggilan teman akrabnya untuk Irene)” teriak Zivara.


“Hai bisakah kau berhenti memanggilku SAODAH?” dengan kesal bangkit dari rebahan.


Zivara menaiki titian ranjang bertingkat itu. Kapalanya mendongak lalu meneruskan bicaranya.


“Tidak, aku mau menyelesaikan tesisku” membalikkan badanya lalu tidur.


“Saodah, aku mohon bantulah aku. Kau bisa memakai gaun warna lavender yang aku beli. Aku tahu kau menyukainya bukan, aku pinjamkan”.


“Benarkah? Baik katakan saja” dengan antusias Irene bangun.


“Kau bawa undangan ini untuk acara seminar kedokteran. Kau catat saja semua isi materi di buku notulen ini. Kalau perlu kau merekan video atau fotonyanya. Aku tidak bisa membatalkan kencanku.”


“Lalu aku memperoleh upahan hanya pinjaman baju itu? Ah lupakan sama sekali tidak menarik” mencoba negosiasi.


“BAIKLAH, AKU TAMBAH UANG JAJAN 1MINGGUMU!”


“Nah ini baru aturan yang benar, ada uang semua lancar” Iren akhirnya setuju.


Jarak asrama mahasiswa Indonesia dengan Universitas tidaklah jauh cukup dengan jalan kaki saja.


“Huh huh huh huh hampir telat... Semoga pintunya belum tertutup” Irene berlalu kencang mengejar waktu yang sempit.


Bruk... Irene terjatuh karena kakinya keseleo berlari tanpa pemanasan lebih dahulu.

__ADS_1


“Ya Tuhan malu sekali aku dilihatin anak mahasiswa lain” Irene menutupi wajahnya.


Dia mencari toilet wanita terdekat, namun antriannya sangat panjang. Akhirnya dia nekat masuk ke toilet khusus dosen. Sekiranya aman kondisinya sepi. Bleng masuklah dia kesalah satu bilik.


“Ah.... Lega akhirnya plong” suara lenguhan Irene dari dalam bilik.


“Nona apa kau sudah selesai didalam” ucapan suara pria dari luar bilik.


“Aduh aku lupa kalau ini toilet khusus dosen” segera dia keluar dengan merunduk seperti tikus dari got.


“Apa kau mahasiswi disini? “ tanya pria itu.


“Ah... Darimana an... “ Irene terpaku melihat wajah Eric Zhan untuk pertama kalinya.


***Yaiyalah terpaku, secara tampan, rupawan & cendikiawan. Jangankan si Irene tokoh dalam cerita novel ini. Aku aja sebagai author juga kesemsem hahaha (Author said*). 💗💗💗💗💗**


“Aku hanya nara sumber, dulunya aku alumni universitas ini. Kebetulan aku gugup jadi kesini untuk merokok” Eric Zhan menegaskan.


“Baiklah, maaf sudah membuat anda menunggu lama. Saya akan keluar” Irene berlalu begitu saja.


Jantungnya berdebar kencang, baru kali ini ia melihat boneka Madan Thousand hidup. Pengumuman sudah terdengar agar peserta segera memasuki aula. Suasana dalam aula tersebut ramai oleh mahasiswa. Mereka membicarakan soal nara sumber yang masih muda. Kebanyakan dari merka adalah para perempuan. Ternyata bukan hanya Irene yang rela datang dari fakultas berbeda. Tapi ada yang mengaku membeli undangan tersebut hanya ingin melihat nasa sumber yang ia bicarakan.


“Ya Tuhan mereka ini berisik sekali, memang seperti apasih nara sumber ini”.


“Hai, kau belum melihat di surat undanganmu siapa nara sumbernya?” teman sebelah bangku Irene manyaut.


“Tidak, paling orang tua yang beruban & botak. Begitukan perawakan profesor x profesor pada umumnya. Heboh sekali sich” menyangga dagunya karena bosan.


Penyambutan & ramah tamah yang berlangsung selama satu jam itu akhirnya selesai. Kini memasuki sesi wawancara dengan nara sumber yang dinanti-nantikan. Yaitu seorang dokter muda berbakat Eric Zhan. Gemuruh tepuk tangan menggema diseluruh aula yang besar itu.


“Wah lebih tampan dari fotonya”.


“Kak Eric jadikan aku asistenmu”.


“Dokter Eric rawat jantungku yang berdebar-debar”.


“Calon pasienmu disini Dokter Eric, periksalah aku”.


Suara bar-bar mahasiswi kedokteran itu semakin liar. Saat Eric naik diatas podium. Dengan senyum ramahnya Eric melambaikan tangannya dan memberi salam hormat.


“Hai hallo semuanya, perkenalkan namaku Eric Zhan. Dulunya aku alumni universitas Jiansu lalu pindah ke Columbia untuk pertukaran pelajar. Senang bisa menjumpai kalian semua disini”.


Begitulah Eric Zhan memberikan kalimat perkenalannya yang singkat.

__ADS_1


__ADS_2