
Keluarga Zhan akan memulai sarapan bersama, saat ini Mark Zhan belum pulang. Hal ini membuat Mei Chuan kesepian, harta yang melimpah menjauhkannya dengan suaminya. Yah, lelaki yang pernah memperjuangkan dirinya mati-matian. Bahkan rela meninggalkan mantan istrinya. Demi dirinya, setelah semua didapatkan. Sepertinya yang berharga jaman dahulu manjadi biasa saja. Jason memasuki ruang makan keluarga Zhan. Dia dipersilahkan untuk duduk dan ikut sarapan bersama. Dengan sungkan Jason mengikuti perintah tuan rumah. Karena sebagai tamu, dirinya tetaplah pegawai rendahan. Lilian mulai paham apa yang dikatakan pelayan, saat tak sengaja ia menguping pujian untuk calon pengawalnya.
“Jason, perkenalkan ini Demian dan Lilian ini adalah anak-anakku. Suamiku Mark Zhan sedang berpelesir jadi lain kali aku perkenalkan” Mei Chuan menunjuk satu per satu nama yang ia sebutkan.
“Hallo, aku Jason. Senang berkenalan dengan anda semuanya” memberikan hormar kepada anggota Zhan.
“Hai Jason, aku Demian putra pertama Zhan. Senang berkenalan denganmu.”
“Lilian, jangan diam saja. Kau ingat bukan apa syarat yang aku setujui jika kau mengajukan permintaan” lirik anak perempuannya.
“Hai, aku Lilian senang berkenalan denganmu” dengan nada malas tak peduli.
“Iya nona, salam kenal” Jason menutup acara perkenalan.
Mereka menikmati sarapan menu tradisional China. Di keluarga Zhan sudah dibiasakan menyantap sarapan tradisional, agar tetap menjaga warisan budaya leluhur. Untuk pertama kalinya Jason sarapan diluar kebiasaannya. Tanpa disengaja dia tersendak.
“Uhuk, uhuk” Jason mencoba menghentikan dahakannya.
“Cih, tidak terbiasa ya” sindir Lilian.
“Ma’af, aku tidak terbiasa sarapan ini. “
“Tidak usah khawatir, aku akan menyuruh pelayan menggantinya” Mei Chuan berempati.
“Hahahah kau jangan payah Jason, disini setiap kali sarapan memang begini menunya” bela Demian.
Lilian melotot tajam, kearah kakaknya yang membela terang-terangan calon pengawalnya. Hal yang tidak disukai dari Jason ialah dia dipuji tampan. Oleh setiap orang, karena bagi Lilian yang tampan hanya Eric. Cuma Eric titik!
*
*
*
----PENTHOUSE ERIC
Masih bermalas-malasan diatas ranjang, hari bebas aturan. Bebas bertindak semaunya selama ditempatnya sendiri.
“Hoamb, tidurku nyenyak sekali arghhhh” meregangkan otot-ototnya.
Ilustrasi gambar cogans mode mager.
Sayang sekali, ranjang yang begitu luas ini aku tempati sendirian. Andai saja ada wanita yang menemaniku. Eh, kok tiba-tiba punya pikiran mengenai wanita. Seharusnya aku mulai mengencani salah satu yang cocok. Siapa tahu aku beruntung, hahaha lucu sekali aku kalau berkhayal. Guman geli Eric dipagi hari.
*
*
__ADS_1
*
“Selamat pagi tuan” sapa pengurus pribadi Eric.
“Selamat pagi paman Wang” Eric mengenakan handuk kimono berwarna hitam.
Usai mandi, pria tampan itu menikmati secangkir kopi dan biskuit. Dalam televisi muncul berita tentang pemilu. Yang membuatnya tertarik ialah kandidatnya. Adalah Mark Zhan sebagai calon terkuat pemilu tahun ini. Ayahnya memang luar biasa, tahun ini sudah berani maju pemilu.
“Paman Wang, apakah kau sudah mendapat kabar kapan Tracy kembali?”
“Nona Tracy sedang diperjalanan ke sini tuan. Dia sekarang berada di lift, lima menit lagi juga sampai disini" tutur paman Wang.
“Emmb, tidak usah. Nanti aku akan temui dia langsung saja. Siapkan beberapa stel baju, pagi ini aku akan dikantor Zenue” pinta Eric.
“Baik tuan, saya laksanakan” menuruti perintah majikannya.
“Paman Wang, bisakah kau pilihkan baju yang membuatku sedikit tampan” dengan ragu-ragu meminta tolong.
“Hehehe, tuan muda bagiku kau sudah sempurna. Hanya saja, hatimu sangat kokoh dan dingin.”
“Kokoh dan dingin, hemmb” mendecakkan kedua bahunya.
Beberapa stel baju sudah tersebar di display beserta aksesoris mahal. Eric sangat bingung harus memakai yang mana dulu. Ini pertama kalinya ia peduli dengan penampilannya. Selama ini dia hanya mengenakan baju sederhana saja. Asal nyaman dan bersih, padahal dalam penthouse miliknya banyak barang koleksinya menjadi pajangan pribadi.
Harus tampan, harus sempurna, harus menarik, harus tepat tidak boleh norak. Hemmmbb, yang mana ya. Kenapa sulit sekali sih mendandani diri sendiri. Apa aku harus memiliki seorang penata gaya dan busana ya.
“Hu’um” mengabaikan perkataan paman Wang.
Masih sibuk memadu-padankan stelan yang cocok untuk dipakainya. Karena tuan mudanya sibuk, inisiatiflah Tracy masuk di kamar display Eric.
“Wah, wah ada yang puber ya” ledek Tracy.
“Aku memiliki barang sebanyak ini tapi tidak ada satupun yang cocok untukku” mempertontonkan hasil kombinasi gaya busananya.
“Kemari, biar aku dandani kau dengan baik. Sambil aku ceritakan tentang keadaan ibu di sana” Tracy mengambi beberapa dasi dari laci kaca.
Ditempelkan di dada kakaknya, disesuaikan dengan warna kulit. Bentuk leher & perpaduan warna yang akan dipilih nanti.
“Apakah ibu sudah menerima kado yang aku berikan? “
“Sudah, dia juga membaca suratmu dengan TERHARU” mendramatisir kalimatnya.
“cih, kau ini berlebihan sekali. Apakah ibu menyukai hadiahku?”
“Kak, apa kau tak ingin kita bertiga hidup bersama seperti keluarga normal pada umumnya?”
“Belum saatnya, Mark sangat kuat butuh kekuatan besar untuk menghancurkannya. Dia ikut bursa pemilu tahun ini. Apa tindakanmu selanjutnya” desak Eric.
__ADS_1
“Aku akan memilih kandidat sebagai calon dari partai yang kita danai. Tujuanku jelas, memenangkan Mark Zhan. Biarkan dia memperoleh kemenangan agar masuk perangkap kita” tuai Tracy dengan cerdas.
“Dari Makkau apakah sudah ada kemajuan?”
“Kak Yanzy baru beberapa hari disana mencuci uang. Dia pantang pulang kalau tidak menang” jawab telak Tracy.
“Aku meninggalkan rumah kediaman Zhan. Putri mereka membuat masalah lagi” keluh Eric.
“Anak manja itu ya, sebaiknya dia bermain boneka saja” ejek Tracy.
“Kau bisa keluar, aku mau berganti pakaian dulu” perintah Eric.
Setelah memilih beberapa kombinasi yang cocok. Eric memakai setelan jas, tampak sempurna seperti patung model.
“Kak, baru saja iring-iringan mobil tahanan membawa Samuel ke rumah sakit u-untukk” Tracy terbelalak melihat penampilan beda kakanya.
“Untuk apa” sambil mengipasi wajah adiknya yang bengong.
“Kak, kau tampan sekali” puji Tracy.
“Bukannya yang paling tampan adalah aktor Jung-mu itu?”
“Eh tidakk, aku serius kau tampan juga waahh” memutari kakaknya dengan kagum.
“Kau pernah membaca berita, seorang gadis buta karena pancaran aura pria?”
“Tidaakkkk” masih mengagumi kakaknya yang berubah menjadi maskulin.
Clukk, kedua jari Eric sengaja dicolokkan kemata Tracy. Sehinga gadis itu menjerit karena kepedihan.
“Ah, ah sakiittt” menggosokkan matanya yang perih.
“Lain kali jangan lapar mata, aku ini kakak kandungmu” Eric tersenyum sinis penuh ejekan.
“Kak Eric, kau kejam! “
Paman Wang yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum saja. Dirinya sibuk membereskan ruangan yang berantakan karena ulah Eric. Tracy yang datang ingin membantu juga mengacak-acak ruang display. Benar-benar merepotkan juga jika setiap hari begini.
“Kak, kak Eric kau yakin akan ke kantor Zeneu dengan penampian seperti ini?”
“Memang kenapa? Apa aku norak?” memeriksa penampilannya di cermin.
“Maksutku kau terlalu sempurna untuk seukuran Dokter, jika langsung kerumah sakit hhheee.”
“Aku akan mengganti pakaianku setelah keluar dari Zeneu, puas. “
Cieeee, Tracy mulai protektif nih sama abangnya. Dia takut tuh kalau abangnya banyak yang naksir. Lebih tepatnya takut kehilangan perhatian abangnya.
__ADS_1