
Pagi hari ini Marco membawakan kopi untuk Hansen sebelum memulai aktifitas padatnya. Marco menyerahkan beberapa majalah yang ada fotonya saat acara peresmian.
"Tuan apakah berniat menuntut beberapa media? Karena sudah menulis artikel kedekatan dengan Almira." Marco meletakkan majalah dimeja kerja Hansen.
"Buat apa, menurutku hal wajar seorang pria lajang dekat dengan siapapun termasuk Artis." Hansen melempae majalah itu lagi.
"Baik tuan, apa ada beberapa jadwal yang bisa saya atur sebelum saya pamit pergi."
"Aturlah jamuan makan dengan Almira & kirimkan hadiah sebelum dia kembali Ke Jakarta." Hansen menjentikkan jarinya.
***
Asisten memberitahukan kalau Dae Yoo berhalangan hadir. Javier kesal karena setting sudah diatur untuk acara pemotretan majalah edisi Valentine.
"Dasar artis besar kepala, kalau saja aku menemukan telanta baru sudah aku depak daei Agensi." Javier menendang kursi diruangan rias.
"Aw.... sakit." Diandra mengelus kakinya yang tertabrak kursi ya g ditendang Javier.
"Diandra aku pikir kau tidak akan datang, apa yang kau bawa itu? " Javier menunjuk tas kecil ya g ditenteng Diandra.
"Aku bawakan kimbab & bulgogi untuk bekal makan siangmu. Ini sebagai hadiah balasan atas kebaikanmu Oppa." Diandra mendekati Javier.
"Bisakah aku meminta tolong? Aku akan menganggap lunas semuanya." Javier mendekatkan wajahnya dengan wajah Diandra.
"Apa?" Diandra panik takut kalau Javier menciumnya karena jarak 1cm wajah merekan.
__ADS_1
"Jadilah model pemotretan, hari ini patnerku tidak datang. Aku akan mengalami kerugian kalau pemotretan ini gagal." Javier menunduk lesu.
"Aku akan berusaha, mohon bimbingannya. Selama ini Oppa sudah baik kepadaku. Tapi bila hasilnya buruk jangan menyesal." Diandra mantap berbicara demikian.
"Jangan kawatir semua sudah siap, kau hanya menyerahkan dirimu sepenuhnya pada tim." Javier mengarahkan kru yang bersiap.
Diandra memang luar biasa selama sesi pemotretan. Walaupun ini pertama kalinya dia luwes dan santai. Sebagai patner Javier diam-diam mengabil kesempatan untuk lebih dekat mengagumi Diandra.
"Kau seperti artis Korea, Cantik." Bisik Javier ditelinga Diandra.
"Lihat pipimu memerah, betapa menggemaskannya." Javier mencubit pipi Diandra.
"Auh... sakit pipiku, Konsentrasilah Oppa. Aku sudah lelah ingin pulang." Diandra merengek tidak nyaman.
Javier yang hanya tersenyum seolah tidak peduli keinginan Diandra mengakhiri sesi pemotretan.
***
"(Wah banyak sekali upah yang aku terima,bisa aku gunakan untuk tambahan beli tiket kembali ke Indonesia) Terimaksih Asisten Park."
Diandra pulang diantar Asisten Park, karena Javier masih ada syuting iklan lainnya.
***
Irene yang tengah santai memainkan ponselnya terkejut melihat foto Javier & Diandra.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah lihat, ini Tuan muda kedua & Nona Diandra. Jelas-jelas namanya Jung Ing Sung & Diandra sebagai modelnya. Tidak mungkin pasti aku salah lihat. Aku harus lacak akun sosmed Tuan muda kadua. Kalau benar Nona Diandra jadi model pasti mereka berteman." Irene bicara sendiri dengan ponselnya.
Marco yang datang tiba-tiba lalu memukul kepala Irene dengan gulungan kerta.
"Plak... Jangan main ponsel atau kubanting tau rasa kau. Serahkan laporan keuangan bulanan sekarang!" Marco berdiri didepan meja Irene.
"Hay... kau pikir kepalaku ini toples? lihatlah ini foto tuan Javier & Nona Diandra mantan kekasih Tuan Hansen. Mereka sangat serasi sekali dalam foto ini." Irene sambil menunjukkan foto-foto Javier.
Marco merebut ponsel Irene, membuat Irene geram dan mencoba merebut kembali ponsel tersebut. Ponsel tersebut terlempar tepat kaki Hansen posisi menyala. Sehingga jelas foto tersebut wajah Javier & Diandra terpampang nyata. Hansen lalu memungut ponsel tersebut. Menggeser foto-foto lainnya yang memperlihatkan pose lainnya.
Tarrr.... Seketika ponsel Irene pecah berkeping-keping dibantinh Hansen.
"Karma itu dibayar kontan bukan, sudah kukatakan tadi kejadian bukan." Marco mengikuti Hansen dari belakang.
"Ya Tuhan ponselku, sudah ada agenda ganti tapi tidak melalui jalur dibanting juga kali hiks." Irene mengumpulkan kepingan ponselnya.
Marco membukakan pintu mobil untuk Hansen.
"Tuan muda silahkan masuk, hari ini ada paketan sepeda motor sport yang dikirim oleh Tuan Ricky." Marco dengan santai mengatakannya.
"Jadi dia kesulitan keuangan ya sampai menjual motor kesayangannya. Bayar 150 juta kontan katakan sudah termasuk kado istrinya melahirkan." Hansen merebahkan tubuhnya dijog penumpang.
"Lalu bagaimana dengan ponsel Irene yang baru saja Tuan Muda hancurkan?" Tanya marco lagi.
"Katakan padanya gunakan ponsel yang Bagus agar fotonya tidak merusak mataku." Hansen sambil menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
Marco yang tersenyum geli melihat bosnya cemburu, padahal sudah jelas-jelas pendekatan dengan Almira. Padahal dia sendiri yang menyetujui pengawal mengikuti kegiatan Diandra. Foto-foto wisuda & kebersamaan lainnya juga sudah dia lihat. Tapi ekspresinya menjadi buruk ketika melihat foto untuk Valentin.