
*** ASRAMA ***
Baju sudah bersih dan rapi, aromanya juga harum. Saatnya mengemas dalam kotak kado. Lalu di simpulkan pita agar tampilannya lebih Bagus.
“Wah wah wah, mewah sekali bungkusnya seperti kado,” Irene melihat bungkusan besar berisi baju milik Eric Zhan.
“Walaupun ini hanya baju bekas dipakai dokter Eric, aku harus ekstra merawatnya. Kau mengerti tidak, ini kesempatanku bertemu secara langsung.” Zivara menegangkan kotak kado itu lalu berangkat kerja.
“Sepertinya dia sudah menemukan tambatan hati baru hemmb,” Irene melihat Zivara dari dalam jendela asrama.
***ADEGAN JASON***
Hari ini sudah resmi bekerja di keluarga Zhan. Walaupun dia sebenarnya tidak suka dengan sikap Lilian. Tapi tawaran gaji yang menggiurkan. Dia rela mengenyampingkan ego-nya.
“Mari nona, saya bantu naik ke kursi roda,” Jason mengulurkan tangannya.
Plaakkk, Lilian menolak uluran tangan Jason. Dia berusaha dengan satu kakinya saja.
“Aku bisa melakukannya sendiri, kau lihat bukan.”Melotot ke wajah Jason yanh berdiri. Kursi roda itu berjalan masuk ke Lift. Selanjutnya menuju teras menunggu mobil.
Jason sudah berada dalam mobil, menunggu Lilian masuk. Dia masih jengkel dengan ucapan dan sikap Lilian yang sombong.
“Apa kau buta, lihat ada anak tangga banyak sekali. Lalu kau pikir aku bisa masuk ke mobil hhhaaaa!”
Jason langsung turun dan membopong tubuh Lilian. Lalu memasukkannya kedalam mobil. Kursi rodanya di lipat untuk masuk ke dalam bagasi. Jason melakukannya dengan diam tak berkata sepatah katapun. Dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Hari ini Lilian akan memeriksa lukanya.
*** RUMAH SAKIT ***
Tok... Tok... Zivara mengetuk pintu ruangan kerja dokter Eric. Dia membenarkan tatanan rambutnya dan merapikan bajunya agar tetap cantik.
“Iya masuk,” Zivara berbunga-bunga mendengar suara dari dalam adalah milik Eric Zhan.
“Dokter, maaf mengganggu sebentar.” Zivara masuk membawa kotak besar dengan pita hitam.
“Oh kau ya, ternyata kau benar bekerja disini. Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, maaf ya.”
“Tidak apa-apa dokter Eric, kau kan sibuk. Sedangkan aku hanya mahasiswi magang disini,” masih mode tersipu malu-malu.
“Duduklah, kau mau minum kopi atau air putih? “ Mengambil gelas kertas yang sekali pakai-buang.
__ADS_1
“Air putih saja, karena dokter Eric sudah manis bagiku,” jiahahaha anjayyy Zivara nge-kode bos hahaha (author-nim said).
Entah apa yang dimakan Zivara pagi ini, sepertinya urat malunya perlu disambung lagi. Eric meletakkan air putih di meja. Mereka berdua menikmati minuman itu sambil duduk.
“Kenapa dokter Eric minum kopi?” Tanya Zivara.
“Karena aku tidak suka tidur.”
“Hah, mungkin dokter Eric butuh guling yang nyaman heheheh.” Pepet terus ampe kena ya hahahah (author-nim said)
“Iya kau benar, aku sudah berpikir untuk memiliki teman kencan perempuan. Apa kau punya referensi?”
SAKIT TAK BERDARAH, LUKA TAPI TAK NYATA. SAKITNYA TUH DISINI, HATI.
“A-aku juga single tapi kalau dokter Eric mencari beberapa wanita. Dirumah sakit juga banyak. Ini bajunya sudah aku cuci dan setrika. Tiba-tiba aku teringat pekerjaanku masih banyak. Selamat pagi dan bekerja dokter Eric.” Zivara menyerahkan kotak itu.
Setelah Eric menerima bungkusan kadi tersebut, tiba-tiba Lilian datang. Karena terlanjur malu dan patah hati Zivara meng-gaskeun kakinya pergi. Lilian yang tidak suka ada perempuan lain. Menatap benci Zivara yang baru pertama kali dijumpainya.
“Siapa wanita itu, dan apa ini.” Menyibak kotak kado berisi baju Eric.
“Dia mengembalikan baju bekas pakai. Kami bertemu di klub, ternyata dia bekerja di sini.” Dijawab santai oleh Eric.
“Hari ini bibi Mei sudah meneleponku, dokter yang akan memeriksamu bukan aku. Ini surat rekomendasi dariku. Kau bisa kesana,” menyerahkan kertas surat rekomendasi Lilian.
“Kapan kak Eric pulang?”
“Aku tidak tahu, tapi aku nyaman tinggal di luar rumah.”
“Kak, apa karena gadis tadi kau tertarik tinggal di luar rumah?”
“Tidak, aku hanya ingin tinggal di luar. Lagi pula kamarmu masih tahap renovasi bukan. Kau bahkan pindah di kamarku.”
“Baiklah aku akan pindah di kamar yang lain. Jika kau mau pulang.”
“Lilian, aku sudah dewasa. Jadi tinggal terpisah adalah belajar mandiri. Ini adalah kehidupan yang baru untukku.”
“Tapi aku mau kau berada di rumah dan merawatku juga! “
“Tidak bisa, aku punya prinsip sendiri. Kau jadilah anak yang baik, aku anak lelaki yang sudah bekerja. Lebih mudah bagiku tinggal mandiri, kapanpun dan apapun yang aku kerjakan. Tidak ada yang mengawasi atau kritik.”
__ADS_1
“Baiklah, kalau kak Eric tidak mau pulang. Setidaknya berikan aku alamatmu yang sekarang.” Mengagungkan tangannya.
“Aku tinggal di Mess rumah sakit.” Mengambil jas di gantungan dan mengambil stetoskop. Saatnya Eric bekerja mengurus pasiennya.
“Kau mengusirku? “ Lilian melihat Eric yang akan pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
“Aku disini dibayar untuk bekerja bukan berdebat berebut kamar. Semoga kau cepat sembuh, selesaikan kuliahmu dengan baik. Selamat pagi.” Lilian pergi dan meninggalkan Eric.
---- SAMBUNGAN TELEPON ----
• Eric : Hallo, suruh bagian kebersihan datang keruanganku?
• Staff : Baik, saya akan mengirim petugas disana.
• Eric : Buang juga kotak kado yang di meja. Semprotkan desinfektan dan lalu tambahkan aroma terapi yang baru
• Staff : Baik, segera saya laksanakan.
Menjengkelkan sekali harus berurusan dengan Lilian. Yang terus-terusan menempel dengannya. Gadis itu belum berguna untuk Eric, saat ini dia ingin merasakan hidup sebagai bujangan. Bukan anak tiri dari Mei Chuan.
*** LOBI RUMAH SAKIT***
Benar-benar pilu, saat dirinya berusaha dekat dengan dokter Eric. Ternyata dia tidak bisa masuk dalam kriteria wanita ideal. Sepertinya dia harus kembali berlayar ke gebetan lamanya. Beberapa hari lalu gebetannya tak memberi kabar, kini berada di lobi. Ternyata Jason yang dia lihat, tak perlu lama-lama bersedih. Zivara lantas menghampiri Jason.
“Kau, kenapa ada disini? Siapa yang sakit.” Jason terkaget karena Zivara menyapanya.
“Aku sedang bekerja, mengantar anak majikanku. Kau sendiri sedang apa?”
“Aku kan magang di sini, lalu kenapa kau tidak menghubungiku. Seharusnya kau tidak membuatku berpikir buruk.”
“Oh mengenai itu maaf, sejak aku berpindah kerja harus mengganti nomor ponselku. Ini simpanlah nomor baruku, “ menyerahkan kartu namanya.
“Kau tampak lebih gagah dengan setelan jasmu ini.” Puji Zivara yang melihat dari atas sampai bawah penampilan Jason.
“Anak majikanku sudah selesai periksa, hubungi saja nomorku. Nanti aku balas saat senggang.” Jason melihat Lilian yang datang dari arah belakan Zivara.
Sial, pagi ini aku sudah dicampakkan dua orang lelaki sekaligus. Salah apa aku ini coba, berusaha agar tidak terlihat buruk juga percuma saja.
---------------------------------
__ADS_1
Hallo, kali ini Vitamin A sedang sibuk menggarap novel terbaru yang berjudul 'TEROR SANG PELAKOR'. Novel fiksi ini merupakan kumpulan beberapa kisah para pelaku perusak hubungan orang lain. Dimana kisah awal mulanya, sampai akhirnya insaf. Penasaran dengan trik dan tips melawan pelakor. Novel ini sudah rilis dan bisa dibaca gratis lewat web. Tanpa harus donlot APK resminya. Keterangan ada di kolom komentar ya. Yuk cus-kan