
***
Pagi ini Hansen sudah berangkat lebih awal ditemani Asisten dilokasi syuting iklan bertema olahraga. Diandra masih belum memperoleh Asisten pribadi yang baru. Oleh karena itu Hansen mengirim Nampin sebagai Asisten sementaranya.
"Pagi, Diandra saatnya kita berangkat untuk pembuatan iklan produk kecantikan & elektronik rumah tangga." Nampin sambil mengemasi barang & beberapa kali mengecek ponselnya.
"Jadi kak Nampin yang akan membantuku ya, badanku sangat lelah terutama pinggangku sakit sekali. Uh.. " Diandra memegang pinggang sembari meringis memegangi pinggangnya.
"Sepertinya pacarmu sangat buas diranjang." Nampin keluar kamar membawa tas koper & make up lengkap.
"Ah kak Nampin jangan bicara terlalu vulgar pagi ini." Diandra membalutkan selimut ditubuhnya menuju kamar mandi.
Dia melihat bekas gigitan di leher & dadanya. Sudah pasti itu ulah Hansen yang tidak ingin bagian tubuh terekspos. Setelah cukup lama mempersiapkan diri tiba saatnya Diandra melakukan proses pengerjaan iklan tersebut.
***
Lucifer membawa Javier & Laura keruangan dimana Javier terbaring tak sadarkan diri. Lucifer memerintahkan Laura untuk masuk ketubuh Javier.
__ADS_1
"Masuklah ketubuh Javier waktumu tinggal beberapa hitungan hari lagi. Pergunakanlah waktu itu sebaik mungkin, ingat jangan ceroboh mempergunakan tubuh Javier." Lucifer menggerakkan bola matanya sebagai isyarat.
Laura membaringkan arwahnya ditubuh Javier. Lalu menyatulah jiwa & raga yang bertukar itu. Javier menggerakkan tangannya lalu membuka kedua matanya perlahan. Laura menyadari sudah kembali hidup tapi sebagai orang lain. Melihat Nyonya Wijayakusuma yang tertidur dibibir ranjang pasien itu.
"Haus.... "Lirih kalimat keluar dari bibir Javier.
"Ha... putraku kau akhirnya sadar, ini minumlah lewat sendok biar ibu bantu." Nyonya Wijayakusuma menyuapi putranya penuh haru & linangan air mata.
"Aku panggilkan dokter & perawat mengenai kondisi Javier yang sadar." Tuan Wijayakusuma menekan tombol darurat.
Beberapa perawat iku mendampingi dokter yang memeriksa keadaan Javier yang baru tersadar dari koma.
"Oh syukurlah putraku akhirnya sadar dari komanya." Tuan Wijayakusuma mendekati putranya yang terbaring lemah.
Javier yang berada diruangan itu hanya bisa terenyuh sambil mengawasi Laura yang berada ditubuhnya.
"Liat kan ulahmu yang ceroboh itu, tubuhku yang sampurna menjadi dambaan kaum wanita kau hancurkan sekejap saja." Javier ketus pada Laura.
__ADS_1
Sedangkan Laura pura-pura tidak merespon memilih untuk tidur lagi. Dua hari berselang setelah pertukaran jiwa keadaan Laura sudah bisa beradaptasi dengan tubuh Javier.
"Bu, bolehkah aku bertemu dengan keluarga korban yang meninggal? Aku ingin menyampaikan pesanku yang terakhir."
Sontak Nyonya Wijayakusuma bercucuran airmata seolah putranya hendak berpamitan pergi selamanya. Padahal yang bicara demikian ialag Laura.
"Hari ini aku akan meminta Ayahmu agar Irene terbang ke Bali lalu menjemput keluarga korban. Bayinya masih dirumah sakit karena terlahir prematur. Mungkin dua hari suaminya bisa sampai disini. Kau mau makan apa nak biar ibu bawakan juga? Nyonya Wijayakusuma mengusap rambut putranya lembut.
***
Laura yang berada dalam tubuh Javier mulai melatih otot-ototnya, lalu melakukan serangkaian pengecekan ulang kesehatan. Laura membuka ponsel Javier untuk mengecek pesan tentang pekerjaannya. Javier terperanjak karena selama ia sakit iklan yang sudah ditanda tangani sudah dikerjakan oleh kakaknya Hansen. Wajah mereka hampir mirip dengan polesan make-up dan ubahan gaya rambut manjadi sempurna.
"Wah... ternyata kakakmu yang kejam itu sangat tampan ya, lebih maskulin auranya." Laura menggeser foto-foto iklan Hansen melalui ponsel Javier.
"Sekarang aku tahu kalau hyung lebih segalanya daripadaku. Dia mahir berbisnis & menggantikan aku selama sakit. Bahkan aku tidak tahu kapan dia bisa tidur."
"Bukankah sebelumnya kita juga pernah menguping pembicaraan dalam mobil waktu itu dengan jelas. Kau saja yang tamak ingin memiliki satu-satunya keinginan hyungmu." Laura dengan nada kesal.
__ADS_1
"Hai... penumpang gelap, jangan lupa kau pernah berjanji untuk membantuku dengan menggunakan tubuhku. Lekas selesaikan tugasmu, sangat menjengkelkan melihat kelakuanmu itu yang tidak berterimakasih."
Terdengar suara orang yang memasuki kamar, lalu mereka berdua menghentikan pertikaian. Tubuh Javier direbahkan kembali sambil membenarkan posisi selimutnya.